
Tepat ketika subuh hari pada pukul 03.00 dini hari, Keyla dan Genta telah bersiap-siap, semua peralatan mereka telah dipasang dengan lengkap di tubuh mereka dan kedua orang itu keluar dari kamar hotel mereka.
Tanpa melakukan check out karena telah meninggalkan sejumlah uang di kamar, kedua orang itu pun pergi menuju markas geng aox.
"Markas ini jauh lebih mudah, mematikan lampunya dari bagian luar," ucap Gisel sembari memasang kacamatanya lalu mengambil sebuah pistol sebelum melangkah menuju belakang gedung dan menurunkan seluruh listrik.
Tak lupa pula perempuan itu memotong beberapa kabel supaya tak bisa lagi diperbaiki sebelum dia menyusup ke dalam tempat itu.
Gibran dan Gisel telah berjanji bahwa satu orang menyusup dari belakang sementara satu orang dari depan, sehingga Gibran yang menyusut dari depan langsung mengerutkan keningnya ketika kacamatanya mendeteksi laser berwarna merah yang diletakkan di sana.
'jadi inilah yang dimaksud oleh pria itu,, laser ini hanya bisa dilihat ketika dalam keadaan gelap,' ucap Gibran dalam hati sembari mundur beberapa langkah lalu dia pun memperhatikan sekitarnya.
SEtelah berpikir beberapa saat, Gibran kemudian berlari meninggalkan tempat itu dan dia berputar ke belakang menuju tempat di mana Gisel seharusnya masuk ke markas tersebut.
__ADS_1
"Tunggu!!! Jangan masuk dulu, ini jebakan," ucap Gibran pada alat komunikasinya dengan Gisel hingga membuat Gisel yang saat itu hendak mendobrak pintu kini menghentikan gerakannya.
Saat ia melihat ke belakang, didapatinya Gibran sedang berlari ke arahnya hingga perempuan itu pun menghampiri pria itu.
"Ada apa?" Tanya Gisel.
"Bagian depan gedung dipenuhi oleh sinar laser, sepertinya bagian belakang gedung adalah tempat jebakan," ucap Gibran langsung membuat Gisel mengerutkan keningnya, lalu perempuan itu pun mengambil sebuah batu yang terletak tak jauh dari mereka lalu dia melemparkannya ke pintu yang tadinya hendak iya buka.
Dor!!
Dor!!
Ada 10 ledakan yang terjadi menghancurkan bangunan tersebut hingga membuat Gisel dan Gibran terdiam di tempat mereka.
__ADS_1
"Untunglah aku tidak menyentuh pintunya, Kalau tidak, aku sudah habis menjadi debu," ucap Gisel.
"Kita harus pergi sekarang, sepertinya mereka akan segera datang untuk mengecek lokasinya," kata Gibran langsung diangguki oleh Gisel hingga kedua orang itu pun segera meninggalkan tempat tersebut dan mereka memilih naik ke atas sebuah gedung tinggi yang terletak beberapa puluh meter dari markas tersebut dan menggunakan teropong milik mereka memperhatikan markas itu.
Benar saja, kurang dari 5 menit beberapa kendaraan sudah memenuhi markas itu dan terlihat memeriksa Apa yang terjadi.
"Sepertinya mereka sudah tahu bahwa gedung mereka akan diserang sehingga mereka membuat jebakan itu dan mengosongkan gedungnya. Orang-orang yang ada di sana pastilah anggota Ageng aox, itulah sebabnya kita melihat salah satu anggota mereka berada di hotel karena mereka memang sepakat meninggalkan tempat itu." Ucap Gisel.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Gibran yang saat itu masih sementara mengawasi orang-orang di gedung geng aox.
"Kita akan mengikuti orang-orang itu dan menemukan markas baru mereka," ucap Gisel langsung diangguki oleh Gibran hingga kedua orang itu pun kembali meninggalkan gedung dan menggunakan kendaraan roda dua mereka mengikuti orang-orang yang segera meninggalkan markas mereka setelah mengecek bahwa keadaan di markas tersebut telah aman.
Dengan menjaga jarak efektif, keduanya mengendarai motor mereka sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gudang terbengkalai di pinggir kota.
__ADS_1