OTW Jadi SUHU

OTW Jadi SUHU
28


__ADS_3

Gibran yang sedang bersembunyi bersama-sama dengan Gisel langsung berkata, "mereka sudah tahu keberadaan kita, dan meski ini gelap tetapi jumlah mereka lebih banyak. Mereka mengelilingi kita dari segala arah."


🍀🍀🍀


Gisel yang mendengarkan itu langsung tersenyum, "Kenapa kau takut?" Ucap Gisel sembari tersenyum lalu dia pun mengeluarkan bom asap dari dalam salah satu sakunya berlangsung membuat Gibran tersenyum lalu pria itu pun memasang maskernya bersama-sama dengan Gisel.


Setelah itu, keduanya melemparkan bom asap ke luar dari meja sehingga ruangan yang luas itu dipenuhi oleh asap dan membuat semua orang lari terbirit-birit.


"Ini asap beracun, cepat menghindar!!!" Teriak semua orang berpencar ke segala arah hingga membuat Gisel dan Gibran pun keluar dari bawah meja dan melihat orang-orang yang berlari meninggalkan tempat tersebut.


Kedua orang itu pun segera memberi kode satu dengan yang lainnya lalu mereka berpencar untuk membasmi satu persatu orang yang ada di sana.


Dalam kegelapan dan perpecahan orang-orang dari geng pisau, maka keduanya dengan mudah melumpuhkan mereka satu persatu, bahkan Gibran tidak takut lagi membunuh orang-orang itu, dia melakukannya dengan sangat tenang.


Buk!


Tak!


Gibran mendorong salah seorang pria yang saat itu berusaha menyalakan senter hp-nya.


Brak!


Ponsel pria itu terjatuh ke lantai sebelum senternya dinyalakan lalu Gibran pun menginjak ponsel itu sampai layarnya retak.


Sebelum melangkah pergi ke rumah Gibran menoleh ke arah pria yang tewas di bawah lantai, dan dia sedikit merinding membayangkan jika suatu saat nanti dia juga akan bernasib seperti itu.


Tetapi dia tidak bisa mundur lagi, sehingga pria itu pun melanjutkan langkahnya mencari anggota geng pisau untuk membasmi mereka satu persatu.

__ADS_1


Dia melihat seorang pria yang sudah menggunakan senter hp-nya berusaha menyenter kemana-mana karena perasaan takutnya. Meski di tangan pria itu ada pisau, tapi terlihat jelas bahwa pria itu ketakutan dan memiliki kekuatan yang lemah dari cara pria itu memegang pisau.


Selain itu, seorang perempuan dengan pakaian serba terbuka berada di belakang pria tersebut.


'sepertinya mereka sepasang kekasih, sayang sekali,,' ucap Gibran dalam hati sembari tersenyum berjalan pelan-pelan menghampiri kedua orang itu.


Begitu keduanya membelakangi Gibran, maka Gibran dengan cepat berlari ke arah mereka dan menarik lengan pria yang memegangi senter lalu membuat senter itu terjatuh ke tanah.


Sang Perempuan yang ada di sana pun segera berlari tak tentu arah meninggalkan tempat itu demi menyelamatkan dirinya.


Dia tidak peduli lagi dengan pria yang bersamanya, Yang penting dia tidak terluka, masa bodoh dengan pria yang bersamanya, mau mati atau tidak Itu bukan urusannya!!!


"Siapa kau?!!" Teriak pria itu sembari mengulurkan pisaunya ke arah Gibran, tetapi Gibran yang melihat pisau itu langsung menggunakan kekuatannya sehingga pria itu melepaskan pisaunya Karena rasa kram pada tangannya.


"Maaf," ucap Gibran membanting pria itu ke lantai lalu menimpa tubuh pria itu dengan tubuhnya dan mengeluarkan borgol.


Tak!


"Mmngg ng ngng.....!!!" Pria itu berusaha meronta-ronta dalam lemari, tetapi sayang sekali dia tidak bisa membuka lemari itu sebab bagian luarnya telah dikunci oleh Gibran.


Setelah mengurung pria itu, Gibran menoleh ke segala arah dan tidak mendapati lagi perempuan yang ada di sana, tetapi itu tidaklah penting karena perempuan itu hanya seorang perempuan penghibur.


Maka Gibran kembali melanjutkan perjalanannya hingga dia membunuh beberapa orang lagi sebelum dia bertemu dengan Gisel.


"Apa kau melihat pemimpin geng motor?" Tanya Gisel.


Gibran menggeleng dengan pelan, "tidak, Sepertinya dia bersembunyi di suatu tempat, kita harus mencarinya dan melumpuhkannya!" Ucap Gibran diangguki oleh Gisel sehingga kedua orang itu pun kembali lagi berpencar.

__ADS_1


Gibran yang berjalan ke lantai atas tempat itu mendengar sebuah barang yang jatuh dari dalam sebuah ruangan, sehingga Gibran dengan cepat menghampiri pintu tersebut dan berusaha membukanya.


Tetapi karena pintunya tidak dapat dibuka, maka Gibran menggertakkan giginya lalu dengan sekuat tenaga dia mendobrak pintu tersebut.


Buk!


Buk!


Brakk!!!


Pintu akhirnya terbuka, dan Gibran melihat beberapa pria yang ada di dalam tempat itu langsung menodongkan pisau ke arahnya sebagai identitas dari mereka menggunakan pisau dalam pertempuran mereka.


Tetapi Gibran tersenyum sembari mengeluarkan sebuah pistol dari belakangnya lalu mengarahkannya pada semua orang.


"Letakkan pisaunya ke bawah dan gunakan ini untuk mengikat satu sama lain!!!" Perintah Gibran melemparkan tali ke arah orang-orang itu langsung membuat semua orang yang ada di sana ketakutan.


Meski sudah ketakutan, tetapi mereka masih berpandangan satu sama lain hingga membuang-buang beberapa detik waktu Gibran.


Dor!


Suara tembakan yang dilesatkan Gibran ke atas langit-langit langsung membuat semua orang menjatuhkan pisau mereka dan dengan sukarela mengikat diri mereka masing-masing.


Melihat semua orang terikat, maka Gibran pun mengambil bom asap bius dari dalam sakunya lalu melemparkannya ke lantai.


Asap langsung mengepung di tempat itu hingga membius semua orang yang ada di sana.


Gibran pun menutup pintu itu dan segera berjalan ke tempat lain untuk mencari orang lain..

__ADS_1


__ADS_2