
Dengan menjaga jarak efektif, keduanya mengendarai motor mereka sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gudang terbengkalai di pinggir kota.
Begitu menghentikan motor mereka, Gisel langsung menatap jam di tangannya yang menunjukkan bahwa sebentar lagi pagi akan menjelang dan mereka harus menyelesaikan misi mereka hari ini dengan cepat.
"Bagaimana?" Tanya Gibran yang saat itu juga melihat jam pada jam tangannya.
"Mereka seharusnya semakin berhati-hati, Oleh sebab itu, tingkat kehati-hatian jauh lebih tinggi," ucap geser sembari mengeluarkan beberapa bom dari tasnya lalu berkata," kita akan mendekat dan menempelkan bom ini di setiap sudut tempat itu.
Gibran menganggukkan kepalanya, lalu dia menggunakan teropongnya mengamati keadaan di sekitar di mana setiap sudut tempat itu dijaga oleh setidaknya dua atau tiga orang yang terus berjaga-jaga.
"Sulit untuk tidak membuat keributan, keamanan mereka sangat diperketat," ucap Gibran.
"Kita akan mengorbankan satu motor kita," ucap Gisel langsung membuat Gibran mengerutkan keningnya, Tetapi dia tidak mengatakan apapun ketika perempuan itu sudah memasang sendal senjatanya pada satu motornya dan membawa motornya meninggalkan Gibran.
Gibran tidak tahu apa yang dilakukan perempuan itu, namun dia tetap diam di tempatnya sambil bersiap untuk berlari ke arah gedung saat aba-aba dari Gisel telah diberikan.
Sembari diam di tempatnya, Gibran memperhatikan motor yang dibawa oleh Gisel, lalu pria itu melototkan matanya ketika tiba-tiba saja Gisel membuat motor itu melaju dengan sendirinya dengan sebuah pistol dilekatkan pada body motor tersebut.
__ADS_1
Dor!! Dor! Dor!!
Dor!! Dor! Dor!!
Dor!! Dor! Dor!!
Tembakan itu terarah ke arah gedung dan bahkan mengenai beberapa orang yang membuat keributan.
Maka tanpa menunggu lebih lama, Gibran berlari dari arah berseberangan dengan motor ketika dia melihat para penjaga telah berlari cepat ke arah motor yang terus menembaki mereka.
"He he,,, aku memang memiliki ide yang bagus, Sekarang giliranmu untuk mematikan listriknya , jangan lupa 2 meter dari ujung gedung sebelah kanan ada pintu kamar pasang sebuah bom di sana!!" Jawab Gisel dari sebarang alat komunikasi mereka.
"Baik!" Kata Gibran sembari terus berlari, lalu pria itu pun menembaki meteran listrik yang sudah tak jauh darinya hingga meteran itu pun terbakar dan meledak.
Setelah lampu mati, maka Gibran berlari ke arah ujung gedung di sebelah barat lalu mengelemparkan sebuah bom ke arah pintu tersebut.
Duar!!!!!
__ADS_1
Boomm!!!
Boom!!
Boom!!
Gibran mengerutkan rekeningnya, ia tidak menduga bom lain akan meledak di dalam gedung tersebut yang membuat semua orang kalang kabut meninggalkan gedung itu, tetapi Gisel dengan siaga menembaki mereka hingga tidak ada satupun yang bisa menyelamatkan nyawanya.
Sementara Gibran yang terus berlari, dia akhirnya tiba di sebuah tempat aman dan menyetel senjatanya lalu menembaki beberapa orang yang masih tersisa.
Dor dor dor!
Pembasmian sudah selesai hanya dalam beberapa menit saja lalu Gibran pun duduk di atas rumput sembari menatap ke arah gedung yang kini dipenuhi dengan nyala api.
"Bagaimana kau tahu jika aku meledakkan pintu di sebelah barat maka akan ada ledakan susulan?" Tanya Gibran pada Gisel melalui alat komunikasi mereka.
"Tentu saja aku tahu, Apa kau tidak melihat kalau pintu itu saja yang tidak dijaga oleh mereka? Itu menandakan bahwa ada sebuah jebakan yang dipasang di sana. Sepertinya itu digunakan untuk mengelabui musuh," jawab Gisel langsung membuat Gibran menganggukkan kepalanya.
__ADS_1