
Setelah memasuki pusat perbelanjaan, Gisel memilih mengisi perut mereka terlebih dahulu sehingga mereka memasuki sebuah restoran penjual ayam yang terkenal di kota itu.
Sembari makan, keduanya mengawasi tempat sekitar dan Gibran memberi kode pada Gisel ketika dia melihat seorang pria yang datang ke restoran itu.
"Dia adalah salah satu anggota geng pisau, dia selalu bertugas untuk mendapatkan makanan dari luar. Sepertinya dia melakukan take away," ucap Gibran dengan suara yang sangat pelan namun tetap didengar oleh Gisel karena mereka mempunyai alat komunikasi pada tubuh mereka.
"Kalau begitu setelah ini kita pergi," ucap Gisel sembari mengambil satu paha ayam dan memakannya dengan lahap.
Gibran yang melihat itu menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal, karena dia merasa bahwa terlalu banyak makan akan membuat mereka mengalami kesulitan dalam pergerakan mereka sebab panggilan alam yang secara tiba-tiba bisa membuat misi mereka terhambat dan bahkan sampai gagal.
Tetapi pria itu tidak mengatakan apapun dan dia hanya menoleh ke arah anggota geng pisau yang sedang berdiri mengantri mengambil pesanannya.
Setelah beberapa saat, pria itu akhirnya meninggalkan pusat perbelanjaan dengan Gisel dan Gibran yang mengikuti nya.
Sesuai dengan arahan dari Tuan Mario bahwa di salah satu parkiran pusat perbelanjaan itu sudah ada dua buah motor yang disediakan untuk mereka, Maka keduanya segera mengambil motor tersebut dan mengendarai motornya menyusul anggota geng pisau yang juga menaiki motor.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, anggota geng pisau itu tiba di markas mereka dengan Gibran dan Gisel yang memarkirkan motor mereka tak jauh dari tempat itu.
Gisel menatap Gibran, "Di mana jalan masuknya?" Tanya Gisel.
"Ada tiga, yang pertama yang ada di depan kita saat ini, yang kedua dari sisi timur dan yang terakhir dari sisi Selatan tetapi ada terowongan bawah tanah yang bisa menjangkaunya. Kita lewat di terowongan bawa tanah supaya lebih mudah," kata Gibran langsung diangguki oleh Gisel lalu kedua orang itu pun segera melihat peta yang diberikan pada mereka dan mengendarai motor mereka menuju sebuah saluran terowongan bawah tanah.
Berada di saluran terowongan bawah tanah, keduanya membicarakan strategi mereka dengan pengetahuan yang dimiliki oleh Gibran sebelum mereka pun menyusup ke dalam markas geng motor.
Di dalam markas tersebut, sedang terjadi pesta besar-besaran karena sesuai dengan informasi yang mereka dapatkan bahwa geng pisau baru saja memenangkan pertempuran mereka dengan salah satu geng mafia yang membuat mereka mendapatkan banyak sekali amunisi dan juga uang tunai.
Gibran yang mendengarkan itu segera teringat akan sebuah novel yang pernah ia baca tentang peredaran narkoba berkedok restoran ayam.
"Mungkin saja dia tidak benar-benar membeli ayam, tapi membeli narkoba," ucap Gibran.
Gisel yang mendengarkan itu mengerutkan keningnya, di pusat perbelanjaan terbesar di ibukota seseorang mengedarkan narkoba??
__ADS_1
Tetapi ketika dia memikirkannya lagi, justru tempat-tempat yang tidak disangka akan terjadi kejahatan besarlah yang sering menjadi tempat kejadian besar itu terjadi.
Oleh sebab itu, Gisel tidak mempertanyakannya lagi dan mereka hanya berjalan sembari bersembunyi dan menghindari orang-orang melihat mereka.
Sembari menyusup, mereka melumpuhkan satu persatu orang yang berjaga agar memperlancar perjalanan mereka.
Set!!
Krak!!
Gibran mengiringis melihat seorang pria yang baru saja ia patahkan lehernya, Tetapi dia hanya beberapa detik menatap pria tersebut sebelum melangkahkan kakinya dengan perasaan agak aneh sebab itu pertama kalinya ia membunuh seseorang.
Tetapi saat ia melihat Giselle membunuh tiga orang secara berturut-turut tanpa rasa bersalah, maka dia benar-benar tercengang di tempatnya.
'Ini hanya novel ini hanya novel!!!' ucap Gibran dalam hati menenangkan kegelisahannya meski dia menyadari bahwa meskipun dia berada dalam dunia novel, tetapi orang-orang di sana benar-benar nyata, darah, kesakitan dan juga kematian!!!
__ADS_1