
"Sudah terlambat kau mah tunggu dalam waktu 5 menit lagi kau akan bersama nasib sama dengan orang-orang yang ada di lantai 1," ucap Gibran semakin membuat Nias gemetar ketakutan.
🕋🕋🕋
Pria itu tanpa menunggu lagi langsung menarik sebuah pistol dari sakunya lalu mengarahkannya ke arah Gibran.
"Cepat berikan obat penawarnya padaku!!" Teriak pria itu dengan tatapan tajam diarahkan pada Gibran.
Gibran yang ada di sana pun mengirimkan keningnya, dan dia terkejut bahwa ternyata pria itu memiliki sebuah pistol, Padahal saya dari dulunya pria itu sama sekali tidak memiliki benda tersebut.
"Cepat berikan!!" Teriak Nias.
Salah satu bawahan hias yang ada di sana pun dengan cepat berkata, "tembak saja dia nanti biar kami yang menggeledah tubuhnya untuk mendapatkan obatnya."
Ucapan bawahannya langsung membuat hias tersenyum lalu dia pun berkata, "benar!!"
Setelah berbicara, maka Nias pun menarik pelakunya dengan gigi-giginya di katup erat.
__ADS_1
Tetapi, pria itu belum sempat menarik pelatuknya secara full ketika tiba-tiba saja sebuah peluru menembus kepala pria itu hingga membuat dua orang pria yang ada di sana sangat terkejut.
Gisel Muncul dari belakang Nias sembari melangkah mengarahkan pistolnya ke arah dua orang pria yang berdiri di dekat lemari.
Door!
Door!
Dua buah timah panas langsung menembus kepala kedua orang itu lalu mereka pun runtuh ke lantai tanpa adanya kesadaran.
"Kau sudah puas?" Tanya Gisel pada Gibran sembari menyimpan pistolnya.
Pada pagi hari, kedua orang itu menyelesaikan semua misi mereka karena mereka bermain cepat.
Keduanya pun tumbang di sebuah hotel besar yang terletak di tengah-tengah kota.
Tetapi pada tengah hari saat keduanya masih tertidur, beberapa orang pria memasuki kamar tersebut hingga Gisel yang sudah terlatih waspada langsung terbangun dan terkejut melihat orang-orang itu sudah mengarahkan pistol ke arah mereka berdua.
__ADS_1
Meski Gibran masih tidur, tapi seorang pria menghampiri Gibran dan mengambil gelas berisi air putih yang diletakkan di atas samping tempat tidur lalu menyiramkannya ke wajah Gibran.
Hal itu lantas membuat Gibran terbangun dan dia langsung mengangkat kedua tangannya saat ia melihat orang-orang bersenjata bersenjata yang mengarahkan pistol ke arah mereka.
"Siapa kalian?" Tanya Gisel dengan kening berkerut menatap para pria berpakaian Hitam yang ada di depan mereka. Dia sebenarnya sudah tahu identitas mereka Tetapi dia berpura-pura tidak tahu.
"Siapa kami? Orang-orang yang akan memenggal kepala kalian!!!" Teriak salah seorang pria sembari memberi kode pada seluruh orang-orang yang bersama dengannya lalu mereka pun memborgol kedua orang itu dan membawa keduanya pergi dari hotel.
Saat ada dalam mobil, Gisel menggerakkan giginya dan merasa kesal, 'seharusnya kami tidak menginap di hotel itu,' ucap Gisel dalam hati yang sudah tahu bahwa hotel tersebut ialah salah satu hotel yang membayar pajak pada geng mafia, Tetapi awalnya dia berpikir bahwa bersembunyi di tempat yang dekat dengan musuh tidak akan membuat mereka tertangkap, tapi Siapa yang menyangka bahwa ternyata mereka benar-benar tertangkap.
Namun mereka berdua tidak melakukan perlawanan dan hanya diam saja di sana sampai seorang pria dalam mobil menerima sebuah telepon.
"Ada apa?" Tanya pria tersebut saat panggilan teleponnya telah diangkat.
"Kami sudah menggeledah barang-barang mereka, dan memang benar mereka memiliki peralatan yang lengkap sesuai dengan jejak-jejak yang ditinggalkan di seluruh markas geng mafia yang telah dimusnahkan." Ucap seorang pria dari seberang telepon.
"Bawa barang-barang itu ke markas!" Perintah pria tersebut sembari menutup teleponnya lalu dia pun menoleh ke belakang menatap Gibran dan Gisel yang sedang duduk dengan tenang.
__ADS_1
Pria tersebut tersenyum mengejek hingga membuat Gibran dan Gisel langsung mengetahui bahwa orang-orang itu telah menemukan sesuatu.