
Setelah selesai berganti pakaian, maka Gibran pun pergi menemui Gisel yang telah menunggunya di sebuah ruangan untuk makan siang bersama.
Begitu keduanya duduk, Gisel langsung menatap Gibran, "makanlah," kata perempuan itu segera dijawab anggukan Gibran sehingga keduanya pun makan bersama-sama.
Sementara makan, Gisel pun berkata, "aku sudah dengar cerita tentang jasamu, aku berterima kasih banyak karena kau telah menyelamatkan uang-uang itu."
"Ahh,,, tidak perlu berterima kasih, karena kau juga menyelamatkan nyawaku, jadi apa yang kulakukan tidak sebanding dengan yang telah kau lakukan padaku," kata Gibran sembari menyuap sepotong steik yang ia ambil dari piringnya.
"Aku dengar kau berlatih bela diri selama 3 bulan ini, jadi bagaimana kalau kau ikut bersamaku untuk menjalankan sebuah misi?" Tanya Gisel.
"Misi?" Gibran bertanya balik, dia tidak mengerti misi apa yang harus ia ikuti ketika yang ada dalam pikirannya ialah membasmi para anggota geng yang telah membuatnya mengalami penderitaan.
"Ya, ini misi yang cukup mudah, hanya membasmi beberapa orang yang dari dulu harus dimusnahkan, Aku membutuhkan seorang partner kerjasama yang hebat dalam beladiri dan memiliki keberanian sepertimu," kata Gisel.
__ADS_1
"Itu,,, Aku punya sesuatu untuk dilakukan, Aku ingin membalaskan dendamku pada orang-orang yang telah membuatku menderita sampai harus terbaring di rumah sakit dalam waktu 1 bulan lamanya," ucap Gibran yang benar-benar kesal terhadap orang-orang itu, dan Karena dia sudah mengetahui tentang kekuatannya maka dia ingin memanfaatkannya sebaik-baik mungkin untuk membasmi orang-orang sialan itu.
"Ahh,, kalau begitu kebetulan sekali, misiku juga untuk membasmi mereka." Ucap Gisel langsung membuat Gibran bersemangat menatap perempuan di depannya.
"Kalau begitu aku akan ikut!!!" Tegas Gibran.
"Baiklah, kalau begitu sudah sepakat," kata Gisel sembari tersenyum.
Maka setelah makan siang itu, Gisel langsung mengajak Gibran pergi ke sebuah ruangan dan memperkenalkan pria itu pada beberapa senjata yang akan mereka gunakan.
Gibran yang menatap jam tangan itu mengerutkan keningnya, pria itu sangat antusias karena dari novel-novel yang ia baca ada banyak senjata-senjata unik, misalnya hanya sebuah cincin, Tetapi hanya dengan menyentuh bagian atas cincin itu maka akan membuat seseorang meninggal sebab cincinnya telah diolesi racun.
Sementara jam tangan yang diperlihatkan Gisel, dia begitu antusias untuk melihat Hal apa yang bisa dilakukan oleh jam tangan itu.
__ADS_1
"Meski ini terlihat seperti jam tangan biasa, tetapi sebenarnya ini bisa membunuh seseorang, ada teknik beladiri yang khusus mempelajari penggunaan jam tangan ini," kata Gisel menekan sebuah tombol di sana membuat dua mata pisau segera keluar dari jam tangan itu.
"Ini bagus untuk pertarungan jarak dekat,, bisa dikombinasikan dengan pisau seperti ini," kata Gisel mengambil sebuah pisau tajam yang terletak di atas meja lalu menyerang Gibran.
Set set set!!
Gibran sangat terkejut ketika tangan Gisel mendorong lehernya ke dinding dan pisau itu hampir menggores kulit leher Gibran.
"Pisau ini memiliki racun, sedikit goresan saja langsung membuat seseorang kehilangan nyawanya dalam 5 detik. Juga, Jangan pernah menyentuh pisaunya dengan tangan telanjang meskipun kau hanya menyentuh bagian yang tumpul, kau bisa kehilangan nyawamu hanya dalam hitungan 10 menit." Ucap Gisel menarik tangannya dari leher Gibran lalu perempuan itu pun menekan tombol pada jam tangannya Dan melepaskan jam tangannya.
Perempuan itu pun menjelaskan beberapa senjata lain yang sangat menarik bagi Gibran.
Gibran dengan antusias mempelajari satu persatu senjata, dan pria itu tidak sabar untuk pergi membasmi orang-orang yang telah melukainya dan membuat mereka merasakan penderitaan yang pernah ia rasakan.
__ADS_1
"Kalau begitu, bawa semua barang-barang ini dan pelajari dalam satu minggu, Setelah itu kita akan menjalankan misi kita," ucap Gisel menyerahkan sebuah tas yang telah lengkap berisi alat-alat yang mereka gunakan.
Gibran menganggukkan kepalanya mengambil tas itu lalu dia dan Gisel pun berpisah dengan Gibran yang merasa bersemangat dan tidak sabar untuk berlatih dengan senjata-senjata yang ada di tangannya.