
Setelah melumpuhkan beberapa penjaga, Gibran dan Gisel akhirnya melihat sebuah pintu yang hendak mereka lalui demi memadamkan listrik di tempat itu.
Sayangnya, di sana ada dua orang yang sedang menikmati alkohol sehingga mereka tidak bisa lewat begitu saja tanpa membuat keributan, apa lagi, tak jauh dari pintu itu ada juga beberapa orang yang sedang berjudi sembari menikmati kacang yang terhambur di atas meja.
Sedikit saja keributan akan langsung menarik perhatian orang-orang itu sehingga mereka tidak bisa mengabaikan orang-orang itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Gibran sembari menatap Gisel.
Dengan kening berkerut, Gisel berkata, "bersiaplah, kita akan membuat keributan. Aku akan tinggal menghadapi mereka semua dan Kau mengambil jalan memasuki ruangan itu lalu matikan lampunya."
"Baik," jawab Gibran sembari menganggukkan kepalanya lalu kedua orang itu pun bergerak.
Gisel berlari ke arah orang-orang yang berjudi tak jauh dari mereka, sementara Gibran berlari ke arah dua orang yang sedang menikmati alkohol di samping pintu.
"Siapa kalian?!!" Teriak salah seorang pria langsung membuat semua orang berhamburan menyerbu Gisel dan Gibran.
Kedua orang yang dihampiri oleh Gibran langsung mengeluarkan pisau mereka dan mengarahkannya pada Gibran.
Set set set...!
Gibran dengan lihai menghindari pisau tersebut sembari menggugurkan tangannya menarik pisau yang tersiapkan di balik salah satu atribut pada celananya, lalu pria itu pun menghadapi kedua pria yang ada di sana.
"Ternyata kau pandai juga bermain pisau," kata salah seorang pria mencibir Gibran sebelum melompat ke Gibran dengan pisau yang terarahkan ke leher Gibran, tetapi Gibran dengan cepat menghindar sekaligus menarik tangan pria itu dan memukul tangannya sampai keram.
Tak!!
__ADS_1
Krang!!
"Akkhh!!!"
Hal itu membuat pisau yang ada di tangan pria tersebut terjatuh ke tanah dengan Gibran yang langsung membanting pria tersebut ke tanah.
Buk!!!
Brak!!
Selesai membanting, Gibran hendak berbalik menghadapi pria yang lainnya, tetapi pisau sudah berada di leher Gibran sehingga pria itu terdiam di tempatnya.
"Jatuhkan pisaumu!!" Perintah sang pria langsung diikuti oleh Gibran yang menjatuhkan pisaunya.
"Katakan siapa kau dan dari mana kau?!!" Tanya pria itu sembari melototi Gibran dengan kuda-kuda pria itu masih terpasang dengan sempurna.
Duar!!
Bang!!!!
Klang klang klang...
Gibran kembali mengambil pisaunya dan melihat ke arah Gisel yang masih sibuk menghadapi beberapa orang, Tetapi dia tidak terlalu lama menatapnya dan hanya membuka pintu yang ada di sana Lalu mematikan semua listrik.
Setelah listrik dipadamkan, Gibran menggunakan kacamata yang khusus digunakan di tempat gelap agar mereka bisa tetap melihat meskipun tidak ada cahaya, lalu pria itu pun memutuskan beberapa sambungan kabel supaya listriknya tidak bisa lagi di nyalakan.
__ADS_1
Selesai mematikan lampu, maka Gibran segera keluar dari tempat itu dan membantu Gisel menghadapi orang dengan sangat mudah, sebab orang-orang sudah tidak dapat lagi melihat sehingga mereka dengan mudah melumpuhkan mereka.
Krak!!
Tak!
Buk!
Satu persatu orang diikat satu sama lain dan dibuat tidak bisa bergerak sebelum keduanya melanjutkan pergerakannya ke arah lain di tempat itu.
"Di sini ada lebih banyak orang, apa kau siap?" Tanya Gisel.
"Ya," jawab Gibran tanpa adanya keraguan, karena saat itu kekuatannya sedang berfungsi, jadi akan mudah untuk menghadapi semua orang itu terlepas dari kekuatan bela dirinya yang sudah ia miliki.
Maka dengan cepat, kedua orang itu melesat ke arah kerumunan dan satu persatu orang dilumpuhkan dari belakang hingga membuat semua orang terkejut saat satu persatu rekan mereka menjerit kesakitan.
"Ahhkkk!!"
"Ang!!"
"Siapa itu?!!" Teriak salah seorang pria yang merupakan pemimpin geng pisau sembari menyalakan sebuah senter untuk melihat apa yang terjadi.
Begitu senternya dinyalakan, Gisel dan Gibran serentak bersembunyi di balik sebuah meja untuk menghindari cahaya senter itu.
Hal tersebut membuat semua orang semakin panik karena senter menyorot beberapa orang yang telah mati mengenaskan di lantai sementara mereka tidak melihat pelaku dari kejahatan tersebut.
__ADS_1
Orang-orang saling memandang satu sama lain dan mereka mengeluarkan pisau mereka masing-masing untuk berjaga-jaga jika mereka tiba-tiba saja diserang.
Gibran yang sedang bersembunyi bersama-sama dengan Gisel langsung berkata, "mereka sudah tahu keberadaan kita, dan meski ini, gelap tetapi jumlah mereka lebih banyak. Mereka mengelilingi kita dari segala arah."