PACARKU PERJAKA TULEN

PACARKU PERJAKA TULEN
Banyak Alasan


__ADS_3

"Gak tahu nih, dia bilang sama mamah diputusin, dia nangis-nangis tuh sama mamah, kasian! Katanya mau balikan aja mau ngomong katanya sama Lala."


"Gak usah kasih dia hpnya suruh pulang dia, ngapain dia di rumah? Udah gak mau Lala ketemu dia suruh siapa dia selingkuh, suruh pulang mah!"


"Lala maafin aku, jangan putusin aku, aku gak akan ulangi lagi,"


terdengar suara Ayung dari sebrang agak parau karena habis nangis, dia duduk tidak jauh dari mamahnya.


"Duh maaf ya Ayung mamah gak bisa bantu, Lala nya udah gak mau ketemu apalagi balikan! Lala kalo udah A ya A dia mah maaf ya Ayung mending pulang gih, kasian aja."


"Udah tutup teleponnya mah suruh balik Si Ayungnya, udah ah assalamualaikum," mengakhiri telepon dari mamah dan langsung tutup.


"Kirain siapa yang telepon, lagian mau ngapain coba itu Si Ayung ke rumah ngadu sama mamah kalau gue putusin, dasar beg* hadeh!"


Huft! Hela nafasnya berat.


Beranjak dan melangkahkan kakinya ke arah lemari es ambil sebotol pocari sweat dan langsung teguk habis sampai titik darah penghabisan (perang kale ah), dahaga euy! Lala menoleh ke arah sofa.


Dilihat Leny masih ngorok di sofa, tidurnya mangap Si Bogel.


"Nih bocah kagak pindah apa ke kamar? Gue kira molor di kasur yang satu lagi." pikirnya


Buat kopi, roti dua helai dengan selai kacang keju kraft dan merokok, duduk santai di sudut sofa yang lain sembari menonton tv menikmatinya. Mengumpulkan nyawa dulu yang masih berada di awang-awang dan belum terkumpul.


Ala-ala beud yak!


Habis ngerokok dua batang Leny Bogel ngelilir, mengucek kedua matanya dan menguap lebar.


"Mimpi lu ya? Bangun-bangun udah siang woy!"


"Sue lu, masih ngantuk gue semalem telepon ama laki gue sampe ketiduran,"


"Lah itu, gue kira lu molor di kamar tahunya tepar di sofa lu,"


"Ho'oh, gawe gak lu ntar malem?"


"Gawe, belum waktunya off. Kalau mau makan bikin aja yang ada di kulkas ya Bogel,"


"Gampanglah, ntar ah gue masih ngantuk. Hooaamm," dia kembali memejamkan matanya lagi di sofa.


"Ebusyet, dasar Bogel kebo! Pindah sono ke kamar,"


Dia sudah hilang ditelan bumi eh ke alam mimpi lagi.


Lumayan sih masih bisa tidur dua jam lagi sampe berangkat kerja.


Lanjutkan lagi menonton tv dan menghabiskan roti dan kopinya kemudian mandi, hari ini masih harus kerja.


Sempat teringat kejadian kemaren waktu di jalan buka ponsel Si Ayung, ia duduk di depan cermin seraya merias diri.


"Ah, udah lah jangan di-inget lagi gak ada faedahnya,"


Bogel udah bangun lagi karena tadi lakinya telepon dan sekarang lagi mandi, dia tidur ada sejam.


"La, udah makan lu? Mau roti, mie, apa bubur? Laper gue! Kalau belum sekalian gue bikinin." celoteh Bogel setelah selesai mandi.


"Gue udah tadi bikin roti, lu makan aja."

__ADS_1


Bogel makan dengan lahapnya lalu dia ngopi dan merokok di balkon.


"Wah mendung La," teriak Bogel dari balkon sambil nyeruput kopi dan menghisap rokoknya.


"Serius lu? Tadi terang ah!" sahutnya lantang dari kamar.


"Kalau hujan mager, udah gue mau kerja lagi, etdah ... Kelar!" pikirnya.


Lala melangkah ke arah jendela lalu buka tirai jendela di kamar, ia lihat di luar awan berubah menjadi gelap tidak seterang tadi.


"Yah, bener mendung! Seperti suasana hatiku saat ini eh gimana sih."


Lanjut langkahkan kakinya ke balkon, menghampiri Bogel yang tengah asik menikmati kopi hitam dan rokoknya.


"Ayo kita berangkat kerja Bogel mumpung baru mendung, lu udah rapihkan?"


"Udah sih, tapi kopi gue belum habis makanan di perut gue belom turun lagi. Gue habisin kopi gue dulu ya bentar La." pinta Bogel memelas.


"Ah banyaknya alesan lu Bogel, ya udah cepetan!"


Belum ada lima menit ia duduk di kursi balkon dan membakar rokok.


Gluduk ... Gluduk ... Air hujan turun dari langit dengan deras dan anginnya sangat kencang.


"Yah, hujan anginnya gede calon gak gawe ini mah pindah ke dalem Bogel. Gue udah rapih tinggal jalan, kelamaan sih lu Bogel ngopinya." dumelnya.


Bogel bergegas pindah ke dalam sembari bawa gelas kopinya dan menutup pintu balkon.


"Lu sih kelamaan ngopinya keburu hujan udah, kebanyakan ala-ala lu Bogel,"


Akhirnya mereka berdua nonton film dvd dan gak bisa berangkat kerja, hujan anginnya berlangsung lama dan cukup besar di luar.


Hujan reda saat tengah malam, tidak lama kemudian dateng sahabat-sahabatnya dari luar kota.


Lala ceritakan semua kejadian beberapa hari ini sampai akhirnya dia putus dengan Si Ayung, semua sahabat-sahabatnya memaki-maki Ayung saat ia ceritakan poin permasalahannya dengannya.


Besoknya sepulang kerja Lala balik dulu ke rumahnya yang berlokasi di Papanggo Tanjung Priuk Jakarta Utara.


**********


Lumayan lama juga Lala melamun dan teringat kilas balik tentang Ayung sembari memandangi air hujan yang turun di luar dari jendela.


"Dahlah, tutup buku dan kubur dalam-dalam semua tentang Ayung." batinnya.


Lalu Lala tersadar kalau ada Heri di sini, ia balikkan badannya dan matanya langsung tertuju ke sofa di mana Heri duduk, ternyata dia sudah menghilang ke alam mimpi.


"Dia tidur, pantes gak ada kedengar suaranya dari tadi."


Lala langkahkan kaki ke kamar ambil bantal dan selimut buat Heri, ia angkat kepalanya dan letakkan bantal di bawah kepalanya lalu ia selimuti badannya.


"Kasian nih bocah!" gumamnya.


Kemudia ia duduk di sofa yang tidak jauh dari posisi Heri tidur, nonton tv sambil tunggu Pizza datang.


"Masih lama sampenya tuh Pizza Pesek?"


"Udah otw katanya, udah sejam nih!"

__ADS_1


"Ya udah sabar namanya juga masih gede hujannya, jangan ditunggu kalau ditunggu kayanya lama."


"Ho'oh bener banget, kaya gue kalau lagi nunggu laki gue,"


"Si pea, Jenong gak ada suaranya," ia lirik Jenong yang lagi asik sama ponselnya, headset gak lepas dari kupingnya.


"Dia lagi asik dengan dunianya,"


"Emberan ... Biarkan saja dia asik dengan dunianya, ntar Pizza dateng paling duluan dia badognya."


"Jangan ditanya lagi, headsetnya kan sebelahnya mati itu jadi dia denger kalau orang ngomong,"


"What! Berarti gue tadi ketok-ketok pintu waktu baru dateng sama Si Heri dia denger dong, kok diem-diem bae tuh bocah? Dasar pea!"


"Dikiranya pintu sebelah kali,"


"Congean kali tuh anak!"


"Iya kali," mereka berdua tertawa terbahak-bahak hahaha.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi ... Pizza ..."


"Sebentar..."


Ceklek...


"Berapa bang?"


"Seratus delapan puluh kak,"


"Bos seratus delapan puluh,"


"Nih dua ratus kasih aja kembaliannya,"


"Nih bang maaci,"


"Kembaliannya nih kak,"


"Ambil aja bang,"


"Makasih kak,"


"Oke!"


"Pizza dateng ya?"


"Si Conge, makanan aja lu cepet!"


"Tahu lu!"


Langsung disikat tuh Pizza sama Si Pesek dan Si Jenong dengan lahapnya, Lala cuma nyengir kuda lihatin mereka berdua.


"Lu gak mau La?"


"Masih kenyang gue ntar aja, nawarinnya gak mau Si conge orang mah nawarinnya mau gak? Ini gak mau, dasar Jenong Conge!"

__ADS_1


__ADS_2