
"Maaf yank aku gak sengaja nyenggol, kamu!"
"Jangan panggil gue yank lagi lu bukan cowok gue lagi ngerti, lu!"
"Kamu gak mau kenal aku lagi gak mau maafin aku juga yank eh, La?
"Udah lewat, basi u know! Ngapain masih lu omongin, hah?"
"Geram kali lah rasanya lihat mukanya itu kenapa harus ketemu dia sih di, sini? Bikin badmood aja merusak suasana, anying!" gerutunya.
"Heh Ayung ngapain lu di, sini? Lu ngikutin Lala, ya? Lu udah khianatin sobat gue, ya! Gue gak akan maafin lu inget lu, ye! Merusak suasana aja Si, anj**g!"
"Tahu, lu! Ngapain coba nongolin muka lu di, sini? Sok kegantengan amat lu jadi, laki! Bisa-bisanya lu selingkuhin sahabat gue yang, setia! Najis lu, pengkhianat!"
Lala cuma diem sambil lipat kedua tangannya di dada lihat dua sahbatnya mencak-mencak, marah, kesel, bete lihat Ayung, dibacotin habislah Ayung sama mereka berdua. Ayung cuma diam seribu bahasa.
Di tengah-tengah perseteruan dua sahabatnya serang Ayung, tiba-tiba ada satu cewek deketin dan panggil Ayung dengan sebutan "yank."
"Kuntilanak dari mana, ini?" batin Lala.
"Yank, ngapain kamu sama cewek-cewek ini? Eh jangan ganggu cowok gue ye jangan sok kecantikan lu pada, *****!"
"What? Ganggu cowok, lu? Hello ... Please deh ... Udah gak doyan gue sama Si, Ayung! Eh asal lu tahu ya kuntilanak lu itu dapet bekasan gue ngerti, lu? Mendingan hambus dari hadapan gue, gih! Nyampah aja lu berdua, ngent*t!"
Sinchan dan Megalomen tambah menjadi-jadi denger omongan tuh kuntilanak, kebon binatang semua keluar dari mulut mereka. Didorong pundaknya kuntilanak sama Sinchan dan Megalomen.
Langsung ditarik tangan kuntilanak sama Ayung jalan keluar dari dance floor.
Masih ngoceh Sinchan dan Megalomen walaupun Ayung sama kuntilanak itu udah jalan menjauh.
"Kalau gak ditarik sama Ayung bisa habis kuntilanak detik itu juga sama dua, sahabatku! Ah, gaswat!" pikirnya.
"Anj**g tuh Ayung sama jablay bikin gue darting aja merusak suasana, kampr*t!"
"Ho'oh! Kita sok kecantikan katanya emang kita bertiga cantik ya, kan! Emang dia jablay, buluk! Najis gue mah benci banget gue liat Ayung sama tuh Si, Buluk!"
"Udah lah jangan dipikirin jangan diambil, pusing! Gak kelar-kelar bahas orang kaya mereka mah rugi gak ada faedah, nya! Sabar Sinchan, Megalomen!"
"Bener banget tapi gue masih kesel jadi drop aja tuh mau beli ikan lagi udah, pagi!"
"Iye sama gue juga ngebetein, anying!"
"Gue juga kesel tapi mendingan kita dropin sekalian deh masih ada waktu sampe siang jam dua, belas! Gimana kalau gue pesen bir setower sama, rokok? Mau, gak?"
Mau gak mau kedua sahabatnya Lala tetap pesan tanpa babibu dia langsung nyalain mancis untuk manggil waitres.
"Mau pesen apa, bos?"
"Bir setower rokok sampoerna merah, tiga!"
"Oke, bos!"
Sembari nunggu pesenan dateng Lala ambil rokok dari bungkusnya yang tinggal sebatang, dibakar dan hisap dengan menarik nafas yang terdengar berat berulang kali. Huft!
"Maksud hati mau ilangin bete, galau, menghibur diri kenapa malah ... Ah, sudahlah!" batinnya.
__ADS_1
"Ayo, kita tos!"
"C'mon!"
"Biar gak, gila!"
Mereka bertiga kembali tertawa terbahak-bahak.
Bir tinggal setengah tower setelah sekitar sejam Lala pesen.
di cek lagi jam di tangannya sudah menunjukan tujuh lewat empat lima pagi.
"Mau balik jam berapa kita mau sampe, tutup? Udah mau jam delapan nih gue mulai, ngantuk!"
"Gue juga ngantuk ini habis kita balik, deh."
"Ya atuh habisin dulu birnya sayang ya kan dapet, beli. Gue juga sama, ngantuk."
"Ho'oh, cus lah ngebut kita minumnya hp gue juga lowbat. Kalau gak panggil waitres buat nemenin habisin, bir."
"Bentar gue cari Ardi waitres yang ganteng itu biar ke sini habisin, bir."
Hoam, yawn, udah berkali-kali nguap nih mulut. Mata udah berat banget kayanya sampe apart langsung tepar ini sih. Kepala kadang tertunduk di lipatan tangan di atas meja.
"Lala, Indah, tidur lu?"
"Hemm."
"Gue gak tidur cuma merem, aja."
"Gak usah pesen yang laen gue juga udah sedikit, tipsy! Gue pesen rokok aja ye, boleh?"
"Pesen, aja."
Lala angkat kepalanya yang tertunduk dari lipatan tangan di atas meja, celingak kanan celinguk kiri sembari rapihin rambut yang dikuncir kuda.
"Ardinya mana, Sinchan?"
"Lagi pesen rokok buat, dia."
"Suruh habisin bir nanti kasih tip buat si Ardi, nya. Terus ayo kita balik mata gue dah lima, watt."
"Ho'oh!"
Tiga puluh menit kemudian ...
Akhirnya habis juga tuh bir setower, di samping udah ngantuk mereka bertiga sibuk bolak balik toilet gantian, beser wak.
"Gue mau request lagu dulu deh satu sebelum, balik."
" Telat lu Chan dari tadi kalau mau requst lagunya, nyong! Ayo kita balik besok lagi deh kalau ke, sini."
"Iya ih hayu balik udah ngantuk, gue."
"Mau ikut ke apart apa balik kost, lu?"
__ADS_1
"Ikut ke apart dulu ntar laki gue suruh jemput di apart, aja."
"Ya udah cus lah kita, balik. Btw Ardi udah lu kasih tip belom, Sinchan?"
"Oh, iya lupa gue nih Di tip buat lu."
"Gak usah lah kaya sama sapa, aja."
"Au ah!"
Dimasukin beberapa lembar uang kertas berwarna merah ke kantong bajunya Ardi.
"Jangan ditolak kalau gak diterima gue, marah."
"Oke bos gue terima tengkiu, ya! Kalau ke sini lagi kabarin gue, ya."
"Oke!"
Di luar sinar matahari terang benderang, silau mamen. Lala pakai kacamata hitam Raybannya, mereka bertiga berjalan ke depan jalan raya di samping jalan berjejer taxi.
Ada kejadian tidak terduga saat mereka bertiga mau naek taxi.
Di sebrang jalan terlihat Ayung dan kuntilanak yang sedang mau naek motornya Ayung. Kuntilanak menoleh ke arah mereka bertiga dengan tatapan sinis dan menyeringa, lalu memeluk Ayung dengan erat dan mereka pun berlalu.
Mereka bertiga saling melirik, geleng-geleng kepala dan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kuntilanak pea.
"Edi sud rahmat katolo maksud, lo!" ucap mereka bertiga serempak.
"Dasar kuntilanak cacat gue kira udah balik dari tadi mereka au ah ra, urus!"
"Cacat akut tuh, kuntilanak!"
"Kuntilanak gelo najis, cih!"
"Pak, kita ke apart Mediterania Palace Kemayoran ya."
"Iya, non!"
Selama di perjalanan mereka bertiga ketiduran dan dibangunin pak sopir saat sampai depan apart.
Di apart gak banyak ngomong lagi mereka bertiga gantian bersihin diri, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi, ganti baju tidur dan semua langsung tepar.
Beberapa jam kemudian...
Lala kebangun pengen pipis, ia lihat Sinchan dan Megalomen masih tertidur pulas. Lala teringat ponselnya yang belum sempat dicharger, ternyata ponsel mereka pun belum ada yang dicharger juga.
Lala charger semua ponsel dan diletakkan semua di atas meja samping kasur.
Dia pergi ke ruang tengah, buka lemari es dan ambil kopi goodday kemasan botol yang rasa cappucino, cemilan kentang lays yang rumput laut. Dibakar sebatang rokok, ambil remote lalu nyalakan tv dan duduk santai di sofa.
"Enak banget ini kopi sama rokok nikmat mana lagi yang kau, dustakan." gumamnya.
Sambil utak-atik remote tv cari program acara tv kesukaan, Lala teringat kejadian dan kelakuan kuntilanak cacat itu waktu di dance floor dan di luar Exo yang menggilakan.
"Ya udah lah jangan di inget-inget lagi, masih banyak cowok di luar sana, dunia tidak selebar daun kelor, mati satu tumbuh seribu. Dah ah lebih baik nikmati kopi goodday ini, cemilan dan rokok, gak usah mikirin yang gak penting. Tarik nafas yang dalam ..." batinnya, Lala menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Huft! Ha nafasnya berat berulang kali.