PACARKU PERJAKA TULEN

PACARKU PERJAKA TULEN
Ancaman Dan Interogasi


__ADS_3

Heri senyum-senyum aja lihat Lala makan basonya rusuh.


"Pelan-pelan makannya cantik."


"Takut gak keburu, ntar malah telat lagi kita nontonnya."


"Masih setengah jam lagi santai aja cantik."


"Eh iya, gak ada yang mau kamu omongin gitu sama aku?"


"Biar dia nyatain cintanya langsung sama diriku, jangan beraninya lewat hp aja. Tapi dia gak peka sepertinya." pikirnya.


"Mau ngomongin apa ya? Gak ada cantik."


"Au ah, gak peka! Ya sudahlah." gerutunya.


Lala memajukan moncongnya sampe manyun, badmood melanda.


Disanggah dagunya dengan sebelah tangan, hisap rokok dan melirik ke arah Heri yang tengah sibuk juga dengan rokoknya.


Memandangmu... Aku terpesona...


"Bibirnya merah amat Heri kalau makan yang pedes, demen liatnya. Merahnya merah alami tuh bibir bukan sulaman atau pake lipstik, mungkin efek dari warna kulitnya yang kuning bersih. Masa iya tuh bibir tidak pernah tersentuh? Gak mungkin! Hush hush hush ... Jauh-jauh kau omes [otak mesum] dari kepalaku, alih-alih kualihkan pandanganku dari Heri seraya tepok jidat. Edan eling lu Lala." pikirnya.


"Udah kelar kan makannya? Ayo ntar telat lagi nontonnya."


"Udah cantik, kemon!"


Tidak nunggu lama mereka berdua udah di dalam bioskop, untung pas dateng pas pemberitahuan kalau film mau dimulai penonton dipersilahkan masuk bioskop. Kalau telat kan gak afdhol nontonnya, ada rasa seperti ada yang kurang.


Apalagi kalau tidak ada dirimu di hidupku eeeaaa, eh gimana sih. Lol.


"Mau beli popcornnya gak Lala cantik?"


"Ebuset, masih kenyang banget aku beli minum aja."


"Oke cantik!"


Ketika sedang nonton dan lagi seru-serunya tuh film tiba-tiba kepala Heri berada di pundaknya, tentu saja spontan menoleh.


"Yah dia molor mangap pula tuh mulut pantes dipanggil nganga, lucunya. Tadi kurang tidur kayanya nih bocah, ini sih sama aja bodong gue nonton sendiri judulnya yang ngajak nontonnya ngorok." batinnya.


Satu jam kemudian...


"Her, Her bangun, filmnya udah kelar."


"Eh, udahan ya filmnya?"


"Hmmm, duduk aja dulu kumpulin nyawa keluarnya belakangan aja," seraya tarik tangan Heri biar dia duduk.


"Yuk, udah gak ada orang. Udah ngumpulkan nyawanya? Aku ketoilet dulu."


"Ayo, aku juga mau pipis sekalian cuci muka."


Pipisnya bentar antrinya yang lama, Hadeh!


"Halo, lagi apa lu Pesek? mau nitip apa gue mau balik nih."


"Halo bos, lagi nonton tv aja nih. Mau Pizza lah."

__ADS_1


"Ya udah jangan molor lu."


"Ngeledek sia mah ka aing, baru pada bangun ini juga."


"ya udah bye!"


"Kita mampir ke Pizza nanti ya Her, bocah-bocah nitip Pizza."


Heri hanya menganggukan kepala karena sedang mengendarai motor


Gluduk ... Gluduk ... Taarr! Beberapa kali sekelebat sinar petir terlihat di langit, suara petirnya mengejutkan Lala.


Deg!


"Anying, gluduk petirnya serem amat!" gerutunya.


Pantas aja malem ini gerah banget ternyata mau hujan karena udah masuk bulan-bulan hujan, Heri bawa motornya ngebut banget sampai aku harus peluk dia erat.


"Dingin-dingin empuk."


"Berenti-berenti!" teriak ke kuping Heri sambil tepuk-tepuk pahanya.


Cekiittttt...!


"Ada apa cantik?"


"Kita langsung ke apart aja, nanti Pizzanya deliver aja udah gerimis nih."


"86 cantik!"


Tok! tok! tok!


"Pada kemana emang?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tau aku seharian sama dirimu, dasar konyol! Duh mules lagi, pada kemana lagi nih bocah dua?"


Sambil memegangi perut dengan wajah meringis nahan sakit perut, Heri nyengir pasang muka tanpa dosa sambil garuk kepalanya yang padahal gak gatel.


"Menyebalkan! dasar nganga." batinnya.


Ceklek...


Lala angsung terobos masuk apart berjalan cepat ke kamar mandi, sampai lupa mempersilahkan Heri masuk. Diliriknya Jenong lagi di sofa rebahan sambil main hp dan di kupingnya pakai headset.


"Pantes dia gak denger gue ketok pintu dari tadi dasar Jenong!" pikirnya.


"Lama banget lu buka pintunya Pesek, mules gue. Lagian tumben amat lu kunci atasnya, percuma gue bawa kunci juga pea,"


"Tadi lagi boker gue,"


"Eh Si Empo ikut, masuk-masuk sini. Jangan berdiri aja di pintu, maaf kita gak terima sumbangan" ledek Megalomen.


"Asalamualaikum...."


"Walaikum salam...."


Heri langsung duduk di sofa celingak-celinguk lihat sekeliling apart dan sesekali senyum.


Pesek sama Jenong langsung nanya-nanyain Heri, bikin aku senyum-senyum sendiri dengernya dari kamar mandi. Kena introgasi aja Heri ceritanya.

__ADS_1


Secara ya kan Lala baru putus sama Ayung karena diselingkuhin, Pesek dan Jenong gak mau sahabatnya yang cantik, imut, baik hati dan tidak sombong tersakiti lagi.


"Pacaran ya sama Si Bos? Awas sampe nyakitin tak sobek-sobek!" ancam Pesek.


"Iya, awas lu sampe Lala kenapa-kenapa! Apalagi kalau lu nyakitin dia, bikin dia nangis lu berhadapan sama kita orang, ngerti lo!" Jenong dengan nada tinggi.


Lala terhura eh terharu guys dengar sahabat-sahabatnya bicara seperti itu.


"Tenang, gue gak akan nyakitin sahabat lo Si Lala!" jelas si Heri dengan mimik serius.


"Kita pegang omongan lo ya Her,"


"Iya bener, awas lo Empo macem-macem!"


"SUWER!" Heri sembari angkat tangan kanannya ke atas lalu jari telunjuk dan jari tengahnya diacungkan, dua jari untuk melambangkan simbol janji.


"Ada apa sih lu orang berdua pada, kasian anak orang lu ancam, lu introgasi woy!"


"Ah! Itu lah lo La, gampang banget kasiannya sama orang biarpun baru kenal, greget gue ama lu!"


"Ya udah jangan berteman kalian! Dia ke sini anterin gue, bukan buat lo orang ocehin kasian aja, kan monyong,"


Lala menyudahi introgasi mereka sembari duduk di sofa tak jauh dari Heri.


Auto Pesek dan Jenong langsung manyun, Jenong langsung pake headsetnya dan rebahan lagi di sudut sofa yang lain, Pesek sibuk dengan ponselnya sambil nonton tv.


"Maaf ya Her, kalau sahabat-sahabatku ngomongnya keterlaluan, jangan diambil hati ya ambil ampelanya aja,"


"Nyantai aja cantik, aku ngerti kok gimana yang namanya sahabat."


"Syukurlah, huft ... Btw anggap aja rumah sendiri ya Her, jangan malu-malu ntar malu-maluin jadinya."


"Bisa ae cantik."


Lala perhatikan wajah Heri dengan seksama, ada perasaan gak tega lihatnya.


"Kasian amat Heri abis diintrogasi sama bocah pada." batinnya.


"Mana Pizzanya bos?"


"Deliver aja, tadi udah gerimis jadi gue langsung balik,"


"Baiklah, mau pesen apa aja nih?"


"Pesen yang big box aja sekalian,"


"Oke."


Lala berjalan ke arah jendela, buka tirainya dan ternyata hujannya udah makin deras dan gluduk petirnya masih gede-gede.


"Hujannya deres Pesek, gimana mau delivernya coba kasian kurirnya keles,"


"Terus gimana dong? Baru mau gue telepon Pizzanya,"


"Emang lu mau banget tuh Pizza? Kalau mau banget ya pesen aja,"


"Ya udah sih, lagian kan resiko kurirnya kali mau panas mau hujan mau salju!"


"I know, terserah lu!"

__ADS_1


Diteleponnya Pizza sama Pesek. Lala masih berdiri terpaku di jendela memandangi air hujan dan membuatnya teringat seseorang yang baru saja mematahkan hatinya.


__ADS_2