
"Ni ... Ani sini kamu!" pangil Pak Dulah.
"Ani ...!"
"Ada apa to Pak. Bapak kok teriak-teriak begitu, Ani tidak tuli Pak, " jawab Ani.
"Iya Bapak tahu. Sini kamu duduk dulu, Bapak mau bicara."
"Iya Pak, ada apa?" tanya Ani setelah duduk di kursi rotan.
"Kamu tidak dengar An, banyak tetangga yang menggosipkan kamu karna kamu suka muntah-muntah, " ujar Pak Dulah.
"Ani tidak tahu Pak, memang kenapa sih Pak. Ani 'kan muntah-muntah karna sakit asam lambung?" tanya Ani heran.
"Ada yang yang bilang kamu hamil duluan Ani, ini yang membuat Bapak marah. Siapa kira-kira yang sudah memfitnah kamu seperti ini?"
"Sabar Pak kita cari tahu dulu, siapa kira-kira yang sudah menyebar fitnah seperti itu. Nanti Ibu akan tanya sama tetangga kita, " jawab Bu Endang.
"Astofirullah. Ya sudah Bu, Ibu cari tau dulu, Bapak tidak terima kalau nama baik keluarga kita jadi tercoreng gara-gara ini, " geram Pak Dulah.
"Njeh Pak. Sudah Nduk kamu masuk sana lanjutin masaknya, " perintah Bu Endang pada Ani.
"Njeh Bu, " jawab Ani berlalu masuk ke dapur sambil terus begumam.
"Siapa ya kira-kira yang sudah memfitnah aku seperti ini. Kok tega sekali jadi orang. "
"Aku harus cari tahu. Awas saja kalau ketemu pasti akan ku laporkan sama Pak RT biar tahu rasa, " rutuk Ani kesal.
Ani pun melanjutkan acara memasaknya dengan kesal, karena mendengar fitnah yang di tujukan pada dirinya. Padahal semua itu bukanlah kebenaranya.
Saat tenggah memasak Ani melihat garam di dapur sudah habis. Akhirnya dia memutuskan untuk membeli garam terlebih dahulu di warung.
Ani berjalan menuju warung Bu Sarah, disana ada ibu-ibu yang sedang duduk-duduk bersantai. Tatapan ibu-ibu tersebut seolah mengintimidasi Ani. Tak jarang keluar sindiran-sindiran kecil dari mulut mereka yang di sertai tawa mengejek Ani.
"Eh ada Ani ...Tidak jadi hamil kamu An?" tanya Sari mengejek.
"Maksud Ibu apa ya. Saya tidak mengerti, " tukas Ani.
"Alah, kamu mengaku saja An, kamu, 'kan suka muntah-muntah kalau malam. Begitu saja masih cari alasan."
__ADS_1
"Maaf ya Bu, saya tidak hamil. Jangan ngomong sembarangan dong Bu, " ucap Ani membela diri
"Tidak usah banyak gaya kamu An, kalau kamu tidak hamil buktikan dong, " tantang Sari.
"Mba Sari sudah Mba, jangan seperti itu sama Ani, " tegur Bu Ela.
"Loh ... kenapa Bu, biarkan saja. Saya, 'kan cuma minta Ani untuk membuktikan bahwa dia tidak hamil. Tidak salahkan Bu, kenapa Bu Ela melarang saya?"
"Saya tidak bermaksud melarang Mba Sari, saya cuma kasihan sama Ani. Dia juga sudah bilang kalau dia tidak hamil, " ujar Bu Ela
"Untuk apa kasihan Bu, kalau dia memang tidak hamil dia pasti akan membuktikanya, kecuali kalau dia takut ketahuan hamil duluan pasti dia tidak akan mau memberikan buktinya, " ujar Sari sinis.
Bu Sarah dan Bu Ela hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sari yang terus memojokan Ani, sedangkan Ani hanya terdiam sambil terus menundukan kepalanya.
Tangan Ani terkepal kuat mendengar penuturan Sari, ada amarah yang dia pendam di hatinya karna tidak terima dengan perkataan Sari. Rasanya Ani ingin sekali menghajar Sari saat ini juga karna telah mengejeknya yang bukan-bukan, namun dia urungkan karna masih belum mempunyai bukti yang kuat bahwa dia tidak hamil di luar nikah.
"Kenapa diam saja An, bicara dong kalau perkataan saya ini tidak benar. Apa yang saya ucapkan ini benar semua hingga kamu diam saja?" tanya Sari.
Bu Sarah yang melihat kelakuan Sari semakin menjadi-jadi dengan cepat melayani Ani yang hendak membeli garam.
"Haduh ... muka Ani sudah merah sekali, pasti dia marah dan tidak terima sama kelakuan Sari, lebih baik aku cepat layani dia saja dari pada dia ribut di warungku" batin Bu Sarah was-was.
POV Ani
Aku diam saja mendengar celotehan ibu-ibu yang ada di warung Bu Sarah. Bukanya aku tidak bisa melawan tapi aku tau ibu-ibu model begini tidak akan diam jika tidak melihat buktinya sendiri bahwa aku benar-benar tidak hamil.
Aku melihat Bu Sarah mengambilkan garam dengan tergesa dan memberikanya padaku, aku tahu mungkin dia tidak mau ada keributan di warungnya ini.
"Makasih Bu Sarah, kalau gitu saya pulang dulu. Permisi, " ujaraku berpamitan.
"Iya An, sama-sama. Ya sudah kamu cepat pulang sana, pasti di tunggu Ibumu, " jawab Bu Sarah.
"Iya An. Pulang dulu sana nanti kesini lagi kalau sudah punya bukti ya, " ejek Sari di sertai senyum sinis di bibirnya.
"Tunggu saja ya Bu Sari, aku akan buktikan kalau aku itu tidak hamil, " ucapku gemas dengan Sari si tukang gosip.
"Saya tunggu ya An, " jawab Sari.
Benci sekali rasanya melihat Bu, Sari. Bisa-bisanya dia mempermalukan aku di tempat umum.
__ADS_1
Aku pun pulang dengan rasa kesal dan dongkol. Gemas dengan Bu Sari yang terus-terusan mengejekku yang bukan-bukan.
Terkadang aku berfikir, kenapa orang-orang sangat gampang mengejek dan mencela. Sedangkan itu belum jelas kejadianya. Apakah mereka tidak berfikir jika yang mereka katakan adalah salah maka itu bisa menyakiti hati orang lain dan jatuhnya menjadi fitnah.
Tunggu saja ya Bu Sari, aku pasti akan buktikan kalau aku tidak hamil. Aku harus bicarakan ini semua pada Ibu, biar Ibu bisa memberikan solusinya
"Asalamualaukum, " ucapku langsung masuk ke dalam rumah.
"Walaikumsalam Nduk. Kamu sudah pulang, mana garam nya?" tanya Ibu padaku.
"Sudah Bu. Ini garamnya."
"Kamu kenapa to Nduk kok mukanya cemberut gitu?" Heran Ibu.
"Aku kesal Bu, keluar rumah jadi bahan pembicaran dan ejekan orang-orang. Padahal aku, 'kan tidak hamil Bu, " ceritaku pada Ibu.
"Kamu yang sabar to Nduk, nanti kita cari tahu siapa yang sudah memfitnah kamu, " jawab Ibu.
"Pokoknya Ibu harus cari cara untuk membuktikan kalau Ani tidak hamil Bu, Ani malas jadi bahan pembicaraan orang terus. 'Kan malu Bu, " jawabku lalu berlalu masuk kedalam kamar.
"Iya Nduk kamu sabar dulu ya, mungkin ini ujian dari Allah."
"Nduk ... Ani kamu mau kemana, la kok tidak jadi masak to?" tanya Ibu.
"Ani malas Bu. Ibu saja yang masak, Ani mau tidur!" teriaku dari kamar.
Sebenarnya aku tidak tidur, karna ini sudah jam tiga sore. Tapi aku memikirkan bagaimana cara nya agar aku punya bukti bahwa aku tidak hamil dan mencari tahu siapa yang sudah memfitnah ku seperti ini.
Aku tidak habis fikir, bagaimana bisa aku yang gadis pendiam dan hanya bekerja sebagai buruh dan petani sayuran ini bisa mendapat fitnah yang luar biasa dan itu tidak pernah terlintas di fikiranku.
aku jarang berkumpul dengan tetangga atau ibu-ibu kampung karna jika jam 5 sore aku akan berangkat bekerja di tempat Bu Haji dan membantunya menjual nasi goreng hingga jam 10 malam.
Sedangkan paginya aku pergih ke ladang membantu Ibu menanam sayuran dan akan pulang jam 12 siang. Aku tidak tahu siapa saja orang yang suka bergosip di kampung ini, hingga memfitnah diriku hamil duluan.
Rasa nya hatiku sakit sekali mendengar perkatan para warga yang menuduhku hamil duluan. Memang benar aku suka muntah-muntah jika asam lambungku naik, tapi aku tak menyangka jika penyakitku itu akan membuat ku terfitnah seperti ini.
Aku malu, bahkan sudah malas untuk keluar rumah. Mau bagai mana lagi aku tidak punya bukti bahwa aku tidak hamil. Rasanya aku ingin pergih saja dari kampung ini, namun jika melihat Ibu dan Bapak hatiku menjadi tidak tega. Aku adalah anak satu-satunya, sudah seharusnya aku membantu mereka di sini.
"Ni ... Keluar dulu Nduk, bantuin Ibu masak ya. Kamu tidak kasian lihat Ibu masak sendiri?"
__ADS_1
Bersambung ....