
"Eh ... Bu Endang, Beli apa Bu, " ujar Mba Lilis, memotong ucapan Kang Jaka.
Hampir saja aku tahu siapa pelakunya tapi Mba Lilis keburu datang. Aku diam saja tidak melanjutkan pertanyaanku pada Kang Jaka, aku merasa tidak enak karna ada Mba Lilis di sini.
"Ini Mba Lilis, saya beli kangkung sama tempe untuk makan malam nanti, " ujar Ibu menjawab pertanyaan istri Kang Jaka ini.
"Aduh Bu Endang, kenapa tidak beli ikan atau daging Ayam saja, 'kan Ani sudah bekerja. Pasti banyak uang." Matanya melirikku sesaat.
"Tidak apa-apa Mba Lilis lainkali saja, " jawab Ibu.
Sepertinya Mba Lilis ini orang yang suka berkomentar, terlihat dari cara bicaranya yang ceplas-ceplos dan suka menilai orang lain.
Karna enggan berlama-lama di sini akhirnya aku pun memberi kode pada Ibu agar segera pulang. Ibu yang menyadari kode dariku segera paham dan berpamitan pada Kang Jaka.
"Ya sudah Kang, saya pulang dulu ya," pamit Ibu.
"Ya Bu Endang, jangan lupa mampir lagi ya, " seru Mba Lilis.
" Iya Mba Lilis, permisi," jawabku
Hari ini aku gagal mencari tahu siapa pelaku yang sudah menyebar gosip itu tapi lain kali aku tak akan gagal lagi. Aku pastikan akan segera tahu siapa pelaku sebenarnya.
Sudah tak sabar rasanya membalas rasa sakit hati yang sudah aku dan keluargaku terima.
Lain waktu aku akan menemui Kang Jaka lagi dan menanyakan padanya siapa orang yang sudah memfitnah diriku ini.
"Mba Ani tunggu! ... " suara Kang Jaka berteriak yang seketika membuatku dan Ibu berbalik menatapnya
Huduh, kenapa ya Kang Jaka memanggil kami?
Apa dia akan memberi tahu siapa pelaku penyebar gosip itu?
"Ada apa Kang?" tanyaku.
"Ini kembaliannya Mba, ketinggalan," ujarnya.
Astaga ku kira dia akan memberitahukan hal yang penting padaku, ternyata hanya kembalian saja.
"Kembali sepuluh ribu ya Mba," ujarnya menyodorkan satu lembar uang.
"Iya Kang terimakasih," ucap Ibu.
__ADS_1
Aku dan Ibu pun segera pulang karena hari sudah sore dan kami belum memasak.
Jalanan kampung terlihat ramai. Jika sore hari banyak anak muda yang berkeliling desa dengan motornya ada juga ibu-ibu yang asik duduk di pinggir jalan sambil bercengkrama.
"Nduk, hari ini kamu belum masuk kerja lagi ya?" tanya Ibu.
"Belum Bu, waktu asam lambung Ani kumat Ani sudah izin Bu Haji untuk libur tiga hari."
"Ya Nduk, nanti kalau kamu sudah benar-benar pulih segera berangkat ya, kasihan Bu Haji kerepotan," ujar Ibu.
"Ya Bu," jawabku kembali fokus mengemudi.
Saat tengah asik mengendarai motor, tiba-tiba mataku menyipit melihat pemandangan aneh. Aku melihat Bu Dewi jalan dengan tergesa-gesa menuju rumahnya.
"Bu, itu Bu Dewi kenapa aneh gitu ya jalannya? Seperti di kejar setan saja," ujarku sambil tertawa kecil.
"Eh ... Iya Nduk, Ibu juga lihat. Kenapa dia seperti itu ya? Atau mungkin karena sudah sore Nduk ,makanya jadi terburu-buru," jawab Ibu.
Benar juga apa yang di katakan Ibu, mungkin dia terburu-buru karena sudah sore. Tapi untuk apa juga aku memikirkan nya itu, 'kan bukan urusanku.
Mataku kembali fokus ke jalan agar cepat sampai di rumah, aku takut Bapak akan marah-marah jika kami pulang terlambat.
Akan tetapi ketika aku sudah sampai di depan rumah ternyata ada Mas Andre berdiri di dekat motornya dan dia seperti orang yang kebingungan.
"Eh Mba Ani, ini motor saya habis bensin tapi penjualnya masih jauh dari sini," ungkapnya.
"Astofirullah ... ya sudah Mas, masuk dulu ke rumah saya. Ini sudah petang tidak baik berada di luar sendirian," tawarku.
"Tidak usah repot-repot Mba, tidak apa-apa saya di sini saja."
"Sudah Nak, ayo masuk saja tidak akan merepotkan kok." Rayu Ibu.
Akhirnya dia pun menuruti perintah Ibu, kasihan juga jika dia harus mendorong motornya sendirian padahal hari sudah petang.
"Silahkan masuk Mas Andre, Ibu tinggal masak dulu ya, Mas Andre biar di temani Ani di sini" ucap Ibu.
"Iya Bu silahkan, saya tidak apa-apa sendirian saja," jawab nya.
Ibu hanya tersenyum kemudian berbisik padaku "Nduk, buatkan minum dulu tamunya."
Aku pun berlalu ke dapur dan membuatkan minuman untuk Mas Andre. Aku lihat-lihat dia itu tampan juga dan terlihat bijaksana, tapi kenapa dia belum menikah harusnya, 'kan banyak wanita yang mau menjadi istrinya.
__ADS_1
Aku kembali ke ruang tamu dengan membawa secangkir kopi panas untuk Mas Andre dan meletakkannya di meja.
"Silahkan di minum dulu Mas kopinya," tawarku.
"Terimakasih Mba Ani."
"Jangan panggil Mba, Mas. Panggil Ani saja tidak apa-apa," ujarku canggung.
"Memang namanya Ani siapa?"
"Anindita Putri Mas, memang kenapa?" tanyaku heran.
"Tidak apa-apa. Namamu bagus, kenapa di panggil Ani, kenapa tidak Putri saja atau Dita juga bagus?" ujarnya.
Serr! Jantungku terasa bedegub tak beraturan mendapat pujian dari Mas Andre, dia bilang apa tadi? Namamu bagus, apa dia tidak sadar sudah membuat wajahku merah dan malu akibat mendengar pujian darinya.
"Eh-mm ... Aku tidak tahu Mas, tapi Bapak dan Ibu sudah terbiasa memanggilku seperti itu," jawabku gugup.
"Baiklah kalau aku tidak boleh memanggilmu Mba, aku akan memanggilmu Putri saja bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum kecil menatapku.
Dan aku, jangan di tanya lagi. Hatiku jadi berbunga-bunga di perlakukan lembut seperti itu, kupu-kupu kecil seolah menggelitik perutku. Bagaimana tidak, dia adalah laki-laki yang cerdas, tubuhnya tinggi serta mempunyai dada yang bidang, kulitnya kuning langsat dengan kumis tipis yang tersemat di atas bibirnya membuat dia semakin manis di mataku, jika di difisualkan mungkin dia mirip pemeran Danu, yang ada di stasiun televisi a*tv, Col sekali bukan.
"Iya Mas, boleh," jawabku malu.
"Ya sudah sekarang kita salat dulu, sebelum waktunya habis."
Aku pun menuruti ajakannya dan membimbing nya ke kamar mandi yang ada di rumahku. Lagi-lagi aku terpana dengan sifatnya selain tampan ternyata dia juga taat beribadah, mataku hampir tak berkedip melihat pemandangan indah di hadapanku kini, dia tengah mengibaskan rambut cepaknya karena basah terkena air wudhu.
"Kamu tidak salat, ayo aku imami," tawarnya.
Deg! ... Deg! ... Deg! ... Deg! ....
Runtuh sudah pertahananku agar tidak terbawa perasaan dengan sikapnya.
"Eh-iya, tunggu saja di ruang salat aku akan menyusul," jawabku tersadar karena terpana melihat penampilannya.
"Dimana tempat salatnya, aku tidak tahu."
"Oh iya, Masuk saja ke ruangan yang dekat dengan ruang tamu. Di sana tempat salatnya," jawabku.
Setelah itu dia pun pergih mengikuti arahanku, aku benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa begitu mempesona hingga membuatku frustasi, bisa-bisa cerita ini akan jadi kisah yang romantis jika aku terus saja berada di dekatnya.
__ADS_1
"Nduk, ayo cepat salat," tegur Ibu.
Bersambung ....