
Hatiku hancur mendengarnya, kenapa mereka mengaitkan gosip itu dengan kejadian ini? Ini semua tidak benar, aku tidak melakukan apa pun.
Ibu yang mendengar itu seketika pingsan sambil memegangi dadanya.
"Ibu ... Bu, bangun Bu. Ibu kenapa?" teriakku menghampiri Ibu.
"Putri, ada apa dengan ibumu?"
Aku yang panik segera meminta tolong pada Mas Andre untuk membawa Ibu masuk ke rumah.
"Mas Andre, tolong bantu aku bawa Ibu ke kamarnya," ujarku pada Mas Andre.
Kami pun membawa Ibu masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur. Aku sudah tidak mendengar lagi teriakan ibu-ibu yang ada di luar rumah, karena yang terpenting sekarang adalah Ibu.
"Terimakasih Mas karena sudah menolongku."
"Sudah Put, tidak apa-apa ini juga salahku hingga Ibumu harus begini," jawab Mas Andre.
"Kita harus bagaimana Mas untuk menghadapi ibu-ibu di luar?" tanyaku
"Sebaiknya kita-"
Belum sempat Mas Andre bicara terdengar salam dari luar rumah.
"Assalamualaikum."
Itu pasti Bapak, bagaimana aku menjelaskan ini semua pada Bapak, aku benar-benar bingung dan takut, apalagi jika Bapak tahu tentang keadaan Ibu yang seperti ini.
"Ani ada apa ini ... Ibumu kenapa Nduk, apa Ibu pingsan?" tanya Bapak kaget melihat keadaan Ibu.
"Itu Pak, Ibu ... Ibu ...."
"Ibu kenapa Ani, bicaralah yang jelas."
Aku semakin takut Bapak akan marah, karena nada bicaranya sudah berubah padaku. Biasanya jika seperti ini Ibu yang akan menjelaskan pada Bapak namun kali ini akulah yang harus mengatasinya.
"Ibu syok Pak, kar-"
"Ani ... Ani ... Buka pintunya, dasar tukang zinah. Keluar kamu."
Ucapanku terpotong karena mendengar keributan dari luar, sepertinya itu suara Bu Sari.
Bapak yang mendengar itu segera keluar dari kamar Ibu dan menuju halaman depan rumah.
"Ada apa ini Bu Sari, Pak RT, kenapa membuat keributan di rumah saya?" tanya Bapak.
Rupanya ke dua wanita itu sudah memanggil Pak RT ke rumahku.
"Begini Pak Dulah, Bu Sari dan Bu Dewi ini sudah memergoki anak Bapak sedang berciuman di garasi samping rumah ini," jawab Pak RT.
__ADS_1
Seketika Bapak melirikku dengan mata yang melotot tajam seakan hendak keluar dari tempatnya.
"Benar begitu Ani?"
"Tidak Pak, Ani tidak melakukan apa pun dengan Mas Andre," jawabku jujur.
"Bohong Pak Dulah, saya melihatnya sendiri sepulang dari masjid tadi."
Ucapan Bu Dewi seketika membuat Bapak marah dan seolah tidak percaya lagi padaku.
"Lebih baik kita nikahkan saja mereka Pak," ucap Pak RT.
Bug! ....
Kami semua pun menoleh ke arah suara yang terdengar seperti benda jatuh akan tetapi aku tertegun saat melihat Ibu sudah terbujur lemas di lantai.
"Bu ... Ibu Bagun Bu," ucapku ingin menyentuh Ibu tapi di tepis dengan kuat oleh Bapak.
"Jangan sentuh-sentuh, Ibu seperti ini gara-gara kamu Ani."
Apa? Kenapa Bapak melakukan ini padaku, apa Bapak tidak mempercayai aku lagi. Bukankah aku ini anaknya.
"Pak maafkan Ani Pak, Ani benar-benar tidak berzinah. Bapak harus percaya sama Ani Pak."
"Diam kamu, Bapak tidak butuh lagi penjelasanmu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Ibumu, jangan harap Bapak akan memaafkanmu."
"Bu, Ibu dengar Bapakkan. Bu ayo bangun."
Suara Bapak terdengar sendu di telingaku, apakah Bapak menangis?
Aku merasa bersalah sekali dengan kejadian ini. Secara tidak langsung aku lah penyebab kejadian ini, namun ini semua bukan salahku. Ini hanya salah paham, ya ini hanya salah paham.
Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, bahkan Bapak pun sudah enggan mempercayaiku, aku takut Bapak akan membenciku karena kejadian ini.
"Biar saya periksa Pak Dulah," tawar Pak RT.
Pak RT pun mendekat ke arah Ibu dan memeriksa keadaanya, semoga Ibu baik-baik saja dan segera sadar. Hanya Ibu satu-satunya orang yang percaya padaku.
"Astofirullah inalillahi, sepertinya Bu Endang sudah tiada Pak Dulah."
Deg!
Ini tidak mungkin, Ibu tidak mungkin meninggal'kanku.
"Tidak ... Ini tidak mungkin Pak RT, pasti Bapak salah, Ibu saya masih hidup," seru ku tak terima.
"Apa Mba Ani tidak percaya, saya pernah bekerja di puskesmas Mba, jadi saya tahu Bu Endang sudah meninggal atau belum."
"Sepertinya Bu Endang alami serangan jantung," sambung Pak RT.
__ADS_1
Air mataku langsung luruh membasahi wajah, aku tak menyangka Ibu akan pergih secepat ini dan dengan cara stragis Ini, Ibu maafkan aku.
"Kamu dengar Ani, ini semua gara-gara ulahmu. Jangan harap Bapak akan memaafkan kesalahanmu," geram Bapak.
"Pak maafkan Ani Pak, Ani tidak bermaksud membuat Ibu seperti ini. Sungguh"
"Sudah Ani, Bapak tidak mau lagi mendengar penjelasanmu," ucap Bapak.
"Sudah Pak RT, nikahkan saja mereka sekarang," ujar Bu Sari.
Aku memandang Bapak berharap dia menghentikan semua ini dan mau memaafkanku. Namun harapanku sia-sia Bapak tak mau memandangku bahkan menoleh pun dia sudah tak Sudi.
"Bagaimana Mas Andre, saya harap Mas Andre sudi menikahi Mba Ani secepatnya," ucap Pak RT.
"Harus, saya tidak mau mendengar penolakan. Saya mau kamu Andre, segera nikahi Ani dan bawa pergih dia dari sini secepatnya!"
Kenapa Bapak bicara seperti itu pada Mas Andre, apa Bapak mengusirku?
Apa dia sudah tak ingin melihatku lagi, aku putrinya kenapa dia tega berkata seperti itu, bukankah kematian Ibu adalah sebuah takdir. Bukan Bapak saja yang menderita. Aku pun menderita dengan fitnah ini dan ke pergian Ibu yang sangat mendadak padahal kami baru saja bercanda beberapa saat yang lalu.
"Bagaimana Andre apa kamu siap menikah dengan Ani secepatnya?" tanya Bapak.
Kenapa Mas Andre diam saja, apakah dia tidak mau menikah denganku?
Lalu bagaimana dengan nasibku ini?
"Baik saya akan menikahi putri Bapak, jika itu yang Bapak inginkan."
Akhirnya Mas Andre pun menjawab setelah beberapa saat dia terdiam, seperti ada sesuatu yang tengah di fikirkan olehnya.
"Baiklah, setelah pemakaman istri saya, saya akan menikahkan Ani denganmu dan segera bawa pergih dia dari sini karena saya sudah tidak sudi lagi melihatnya disini," ujar Bapak menunjuk wajahku.
Aku tertegun melihat Bapak memperlakulkanku seperti ini. Aku tahu aku salah tapi ini bukan sepenuhnya kesalahanku, ini fitnah.
Aku masih tak percaya kejadian seperti ini akan menimpa hidupku. Aku berlari masuk ke dalam kamar dengan berderai air mata, sedih karena telah di tinggalkan Ibu dan marah karena Bapak sudah tak mempercayaiku lagi. Ini bagaikan akhir dari perjalanan hidupku.
Tok! ... Tok! ... Tok! ... Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.
"Putri apakah aku boleh masuk," tanya Mas Andre.
Namun aku tak menjawabnya karena larut dalam suasana hatiku yang bercampur-aduk menjadi satu, marah, sedih, benci, kecewa seakan bisa meledak sewaktu-waktu jika aku sudah tak sanggup menahanya.
"Putri sudahlah jangan bersedih, aku akan menikahimu dan membawamu pergi dari sini," ucap Mas Andre yang sudah berada di hadapanku dan mengusap kepalaku yang bertumpu di atas kedua lutut.
Aku pun mendongak dan menatapnya sendu, aku memang bersyukur karena dia sudah mau menerimaku walaupun hanya karena fitnah ini, namun amarah di hatiku masih membara tentang sosok yang sudah memfitnahku hamil duluan dan dua orang wanita yang sudah menimbulkan kesalahpahaman ini.
"Iya Mas, Terimakasih karena sudah mau menerimaku setelah kejadian ini. Tapi apakah keluarga Mas Andre akan menerimaku juga?" tanyaku.
Bersambung ....
__ADS_1