Pembalasan Dendam Anindita

Pembalasan Dendam Anindita
Part 9 Setelah di usir dari rumah


__ADS_3

Mas Andre terdiam sesaat seperti masih memikirkan sesuatu. Aku tau mungkin dia juga memikirkan hal yang sama denganku.


"Lebih baik kamu jangan memikirkan itu dulu, terima atau tidak aku akan tetap menikahimu. Aku tahu kamu gadis baik dan aku tahu kamu masih suci jadi tidak ada alasan untuk aku menolak pernikahan ini."


Mendengar itu aku pun bangkit dari dudukku dan memeluknya erat.


"Terimakasih Mas karena sudah mau menerimaku," ujarku.


"Iya. Sudah sebaiknya kamu siap-siap sekarang karna kita akan mengantarkan Ibu ke pemakaman," jawabnya sambil mengusap punggungku.


Ibu, aku seolah mimpi jika ingat Ibu sudah tiada ... Kenapa secepat ini Ibu pergih. Aku masih sangat syok dengan kejadian ini akan tetapi Mas Andre selalu berada di sampingku dan berusaha menguatkanku agar sanggup melalui ini semua.


Pemakaman Ibu berjalan sangat singkat karena Bapak tidak mau memberi tahu tentang kejadian ini pada warga kampung sehingga hanya ada aku, Mas Andre, Bapak dan ketua RT serta beberapa pengurus jenazah yang telah di panggil ke rumah.


Namun itu semua tak akan menjamin berita ini aman karena sudah ada dua ular yang siap menyebarkan bisanya ke seluruh penjuru kampung ini apalagi kampungku terbilang cukup kecil jadi bila ada berita akan cepat tersebar luas.


Karna semua sudah selesai kami pun pulang dengan ke adaan lesu tapi Bapak tetap bersikeras akan menikahkanku malam ini juga dan tidak akan menundanya lagi.


"Bagaimana saksi sah?"


"Sah ... "


"Sah ... "


Akhirnya aku pun di persatuan dengan Mas Andre dengan suasana hati yang tak menentu. Pak RT yang semula berperan menjadi penghulu kini telah pamit bersama orang-orang yang lain.Tinggallah kami bertiga di rumah ini.


"Ani, cepat bereskan barang-barangmu sekarang juga!" seru Bapak.


"Pak, apa Bapak tidak mau mendengarkan penjelasan Ani? Ini semua hanya salah paham Pak. Ani dan Mas Andre tidak mungkin melakukan hal kotor itu," ucapku, namun Mas Andre justru mematuhi perintah Bapak untuk berbenah.


"Bapak tidak mau tahu lagi, yang Bapak tahu kamulah penyebab Ibu pergih meninggalkan Bapak."


Suara Bapak terdengar serak dan parau hingga aku tak tega melihatnya yang sudah menumpahkan air mata ke sedihan yang mengalir di wajah tuanya.


"Maafkan Ani Pak, Ani tidak bermaksud melakukan itu dan membuat Ibu pergih," ucapku lirih.

__ADS_1


Namun Bapak menggelengkan kepalanya berulangkali dan menunjuk pintu ke luar rumah ini.


"Pergih ... "


"Pergih Ani, Bapak tidak mau bertemu denganmu lagi."


Mendengar itu aku pun sudah tidak bisa berkata-kata lagi bahkan kini tubuhku terasa lemas setelah mendengar Bapak mengusirku.


Aku pun di bimbing keluar oleh Mas Andre yang sudah membereskan beberapa barang dari kamarku, aku pasti akan sangat merindukan rumah ini dan juga Ibu.


Aku pergih dari rumah yang sudah aku tempati dari kecil dengan rasa marah dan sedih. Tunggu saja aku pasti akan kembali dan membalas dendam pada orang yang sudah memfitnahku seperti ini dan akan aku buktikan pada Bapak jika aku tidak melakukan kesalahan apa pun.


"Kamu boleh bersandar di punggungku jika lelah, ini sudah larut malam mungkin sudah jam 11 malam," ujar suamiku dengan suara yang terbang di bawa angin malam karna kami tengah naik motor.


"Loh Mas ... Kita akan kemana? Ini bukan arah pulang ke rumah Mas Andre?" tanyaku.


"Kita tidak akan pulang ke sana karena keluargaku juga tidak ada di sana, mereka sudah tinggal di kota sebelah satu Minggu yang lalu."


"Jadi kita akan ke mana Mas, bukankah itu juga rumah Mas Andre?"


Aku dan Mas Andre pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah rumah kecil bercat hijau dengan bunga-bunga yang cukup asri.


Setelah sampai di halaman rumah itu Mas Andre terlihat menelfon seseorang mungkin dia pemilik rumah yang akan kami kontrak.


"Nah ini dia ketemu," ujar Mas Andre mengambil kunci rumah dari balik pot bunga.


Cklek ... Suara pintu rumah terbuka.


"Sayang, ayo masuk," ajak Mas Andre sambil merangkul pinggang ku.


Astaga! aku jadi merinding karna di panggil Mas Andre seperti itu, apa Mas Andre akan meminta haknya malam ini juga?


"Iya Mas, ayo masuk ini sudah malam," jawabku dan berlalu masuk ke dalam rumah.


Rumah ini tidak besar juga tidak kecil, sangat cocok bagi keluarga kecil karna di sini ada 3 kamar dengan satu kamar utama yang cukup luas.

__ADS_1


"Nah ini kamar kita, kamu suka, 'kan?" tanya Mas Andre.


"Kita Mas?" ujarku menunjuk pada diri sendiri.


"Iya kamar kita, bukankah kita sudah menikah jadi wajar dong kalau tidur satu kamar," jawabnya santai.


Seketika aku kesulitan menelan salivaku karna mendengar jawaban Mas Andre. Memang benar apa yang di katakan Mas Andre namun aku masih malu dan tentu belum terbiasa dengan ini semua.


"Iy-iya, iya Mas betul."


"Apa kamu gugup, kenapa berkeringat seperti itu?" tanya Mas Andre sambil menyeka keringat di keningku menggunakan tisu.


Deg! ... Deg! ... Deg! ....


Hati jadi berdetak lebih cepat dari biasanya karena berada sedekat ini dengan Mas Andre, aku benar-benar bisa melihat hidung mancungnya yang lebih tinggi dariku.


"Mas ..." tegurku tapi dia diam saja dan justru semakin mendekatkan wajahnya ke arahku dan ....


"Mas-Em ...."


Akhirnya aku hanya pasrah saat Mas Andre ******* habis bibirku hingga aku kesulitan bernafas.


Lidahnya bermain di dalam sana dengan liar dan perlahan membimbingku menuju peraduan di kamar ini.


******* demi ******* dia berikan pada bibirku dengan tangan yang sudah kesana-kemari menyisihkan semua penghalang yang ada secara kasar dan tergesa-gesa. Nafsunya kian besar dia meremas ke dua gunung kembarku bersamaan yang menimbulkan kenikmatan tiada tara.


Cumbuannya semakin turun kebawah dan meninggalkan bercak merah di mana-mana, rasanya aku sudah kehabisan kata-kata untuk menjelaskan bagaimana bernafsunya dia padaku.


"Argh ... Mas ...." jeritku tertahan karena merasakan sesuatu yang keras telah memenuhi area di bawah sana.


"Iya sayang, apakah ini sakit?" tanya Mas Andre dengan terus mendesah dan aku hanya mampu menggelengkan kepala karna sudah tidak mampu menahan sensasi yang Mas Andre berikan.


Malamku habis dengan kegiatan yang sungguh melelahkan, tapi aku bahagia setidaknya aku telah memenuhi kewajibanku sebagai istri padanya, karna semua fitnah yang di tujukan padanya sama sekali tidak benar. Bahkan inilah kali pertama kami melakukan hubungan suami-istri.


Tapi dengan teganya mereka memfitnahku macam-macam. Tunggu saja pembalasanku para wanita ular!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2