
"Apa benar Mas Bapak ingin bertemu denganku?"
"Iya Sayang, masa Mas bohong sih," jawab Mas Andre.
Mendengar itu aku termenung sesaat, "apakah Bapak sudah memaaf'kanku?" batinku bertanya-tanya.
Aku senang akhirnya Bapak mau menemuiku setelah hampir sepekan aku pergih dari rumah.
"Jadi gimana Yang, kamu mau, 'kan jenguk Bapak?" tanya Mas Andre.
"Iya Mas, aku mau kok jenguk Bapak. Aku juga sudah kangen sama Bapak Mas," jawabku senang.
"Tapi besok saja ya Yang, sekarang sudah sore. Mas juga sudah lelah pulang dari kerja."
"Iya Mas, tidak apa-apa. Kita ke rumah Bapak besok saja," ujarku
Sebenarnya aku senang karena Bapak sudah mau bertemu denganku tapi aku sedikit merasa aneh dengan sikap Bapak yang tiba-tiba ini.
Tapi aku harus berfikir positif, mungkin Bapak memang sudah memaafkanku dan ingin bertemu denganku, ini juga akan menjadi kesempatan untukku agar bisa memperbaiki hubunganku dengan Bapak dan meluruskan kesalah pahaman ini.
"Sayang kamu masak apa di rumah? Mas lapar sekali," ucap Mas Andre.
"Ya sudah Mas lebih cepat lagi bawa motornya, aku sudah masak semur ayam di rumah," jawabku.
"Wah ... Sepertinya enak. Ya sudah Mas akan lebih cepat lagi bawa motornya biar cepat sampai rumah."
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Mas Andre. Kenapa dia seperti anak kecil saat bersamaku, bukankah dia seorang Kades?
Rasanya hatiku bahagia bila bersamanya, apalagi jika kita mempunyai anak nantinya, pasti akan terasa sempurna. Sayangnya Ibu sudah tidak ada lagi di sini, andaikan saja ibu ada di sini pasti dia yang akan mengajariku banyak hal terutama tentang menjadi istri dan ibu yang baik.
Ini semua ulah dua ular sialan itu, mereka sudah membuat Ibuku salah faham hingga Ibu harus terkena serangan jantung. Aku tidak akan melupakan kejadian itu dan tidak akan pernah memaafkan mereka.
*. *. *. *.
POV Surya
__ADS_1
Hari ini aku akan menjalankan misi yang sudah di berikan Mba Ani. Aku memang ingin membalas dendam pada Sari dan membantu Mba Ani membalaskan dendamnya juga. Aku tahu bagaimana sakitnya di fitnah karna aku juga mendengar gosip dari warga desa bahwa Mba Ani telah berzinah dan hamil duluan.
Begitu pula denganku yang sudah di tuduh berselingkuh padahal wanita itu adalah adik kandungku sendiri. Hingga kini Sarah tidak mau lagi menerima telfonku serta mengabaikan pesan dariku, andai saja dia tahu aku sangat merindukannya. Namun biarlah, akan ku buktikan bahwa aku tidak selingkuh.
Aku sudah mendapat pesan dari Mba Ani bahwa aku harus menculik anak Bu Sarah saat dia pulang sekolah nanti.
Sekarang aku sedang menunggunya di depan sekolah sambil mengintai tempat dan situasi di sekitar sekolah itu. Aku tidak tahu rencana apa yang akan Mba Ani lakukan dengan menculik anak ini, namun aku tetep mengikuti perintahnya.
Srek! ....
Suara gerbang sekolah terdengar berderit saat di buka, ternyata ini sudah waktunya mereka pulang. Aku harus waspada dan terus mengawasi anak Bu Sari.
Dia terlihat pulang berjalan kaki sendirian, ini kesempatan yang bagus untukku agar bisa menculiknya.
Sebenarnya anak Bu Sari ini masih sekolah menengah pertama tapi badannya sedikit berisi dan lebih besar dari teman sebayanya.
Saat dia sudah berada tak jauh dari perbatasan desa aku segera menepikan motorku ke pinggir jalan dan mengendap-endap mendekati anak itu dan-
"Em! ... Em! .... "
Mataku memeriksa kondisi sekitar agar tak ada orang yang melihatku, dengan segera ku gendong tubuh anak itu menuju gubuk di hutan ini sambil berlari. Aku harus segera tiba di sana sebelum ada warga yang melihatku.
Setelah sampai di dalam gubuk itu aku segera menutup mata serta mulutnya dengan kain agar dia tidak menimbulkan suara.
Mataku memandangnya sesaat, aku sedikit kasihan melihatnya namun rasa kasihan itu seketika lenyap saat Sarah melintas di ingatanku. Ibunyalah yang sudah membuat rumah tanggaku menjadi seperti ini.
Jika Ibunya tak menganggu hidupku maka aku pun tak akan melakukan perbuatan sejauh ini hingga harus menculik anak Bu Sari.
Saat aku hendak keluar dari kamar dan meninggalkan anak Bu Sari, aku teringat sesuatu bahwa aku belum memeriksa tasnya siapa tahu dia membawa alat yang dapat digunakan untuk membebaskan diri dari sini.
Aku bergegas memeriksa tas anak itu dan tidak menemukan apa pun selain buku sekolahnya.
Namun ada sesuatu yang menonjol di saku rok anak itu, "mungkin itu ponsel miliknya" batinku.
Aku segera mencari tahu benda apa itu, akan tetapi saat tengah memeriksa tak sengaja rok anak itu tersingkap hingga memperlihatkan pahanya yang putih bersih.
__ADS_1
Mataku tak bisa beralih dari paha anak itu yang terlihat mulus dan halus. Apalagi aku lelaki yang sudah menikah dan membutuhkan hak biologis seperti ini. Perlahan aku meraba-raba paha mulus itu dan mengelusnya namun saat aku hendak tiba ke inti anak tersebut ponselnya berbunyi hingga mengagetkanku.
"Sial!" Rutuku.
Dengan cepat aku mengambil ponsel anak itu dari saku roknya dan menon aktifkan ponselnya.
Aku begegas keluar dari gubuk itu dan segera pergih setelah memastikan semuanya aman dan terkunci rapat.
Aku tidak boleh bertindak ceroboh dan membahayakan ke adaan.
Kring!
Kring!
Kring!
Ponselku tiba-tiba saja berbunyi, dan saat aku melihatnya ternyata itu dari Mba Ani.
Bagaimana ini, apa aku harus menjawab telfonnya. Tapi aku harus segera pergih dari sini sebelum ada yang melihatku. Aku menjadi bingung harus berbuat apa.
Aku putuskan untuk cepat pergih dari sini aku takut ada warga yang curiga. Akan tetapi saat aku hendak melangkah terdengar suara seseorang memanggilku.
"Hei, tunggu!" teriaknya
Celaka, siapa dia? Apakah dia sudah ada di sini sejak lama. Mudah-mudahan dia tidak mengetahui apa yang sudah aku lakukan di sini.
"Sedang apa Bapak di sini? Apakah Bapak asli warga desa ini?"
"Pak, apakah Bapak bisa membantu saya?" sambungnya.
Aku masih terdiam memperhatikan pria yang kini ada di hadapanku, aku pikir akan lebih baik jika aku membawanya menjauh dari sini agar dia tidak tahu bahwa ada gubuk di hutan ini .
"Lebih baik Akang ikut saya dulu keluar dari hutan ini. Nanti akan saya bantu jika saya bisa," ajakku
Bersambung ....
__ADS_1