Pembalasan Dendam Anindita

Pembalasan Dendam Anindita
Part 7 Di tuduh berzinah


__ADS_3

POV Dewi


Uh! Akhirnya aku sampai juga di rumah, rasanya lelah sekali berlarian dari tadi demi bisa menghindari Pak Surya. Mudah-mudahan dia tidak mengenaliku jadi aku tak akan ketahuan karena sudah menguping pembicaranya.


"Bu, kamu kenapa keringetan gitu?" tanya suamiku.


"Ibu tidak apa-apa kok Pak, ini hanya gerah saja."


"Kamu belum mandi mungkin Bu, jadi gerah, 'kan," tebaknya tekikik.


"He-he-he iya Pak, sebentar lagi Ibu mandi kok Pak."


"Oh ya Bu, tadi ada Pak Surya nyariin Ibu."


Deg! Mau apa dia mencariku, apa dia tahu aku telah menguping pembicaraanya? bisa gawat ini kalau itu benar terjadi.


"Memang ada perlu apa Pak, kenapa mencari Ibu?"


"Bapak tidak tahu Bu, tapi sepertinya penting," jawab suamiku.


"Dia mau apa ya kira-kira?" batinku bertanya-tanya.


Suamiku pun pergi meninggalkanku yang tengah kebingungan karena di cari-cari oleh Pak Surya. Aku takut jika Pak Surya sampai tahu kalau aku sudah menguping pembicaraanya dan dia ke sini untuk memberi peringatan padaku.


Saat sedang fokus berfikir tiba-tiba ponselku berdering dengan keras hingga membuatku kaget.


Kring! ... Kring! ... Kring! ....


"Astaga, siapa sih yang menelfon malam-malam begini," gerutuku.


Dengan cepat aku pun menyambar ponsel itu dan melihat nama yang tertera di sana. "Ada apa Bu Sarah menelfon?" fikirku.


Aku bingung kenapa Bu Sarah menelfonku malam-malam begini? Dengan hati yang berdebar-debar aku menjawab telfon itu.


[ Halo Bu Sarah, ada apa ya? ] tanyaku.


[Halo Bu Dewi, maaf ya saya mengganggu malam-malam begini. Ini saya cuma mau bilang Bu, besok arisan dan Bu Dewi belum bayar.]


[Oh gitu ... Maaf ya Bu, saya lupa. Besok saya antar ya Bu.]


[Iya Bu, tidak apa-apa. Tadi saya sudah minta suami saya mampir ke rumah Ibu, tapi Ibu tidak ada.]


[ Iya Bu, saya sedang keluar,] jawabku.


[Ya sudah Bu, kalau gitu saya tutup dulu telfonnya. Aslamualaikum.]


[Walaikumusalam,] jawabku lega.


Tadinya aku sudah ketakutan karena di cari Pak Surya, namun sekarang aku sudah lega karena Pak Surya hanya menagih uang arisan dan dia tidak tahu jika aku sudah menguping pembicaranya.

__ADS_1


"Sebaiknya aku salat ke masjid saja, pasti di sana banyak ibu-ibu lagi jamaah," batinku dan bergegas bangkit dari duduk.


"Pak, Ibu mau salat di masjid ya," pamitku.


"Iya Bu, jangan pulang malam-malam ya, bahaya."


"Iya Pak," jawabku dan melangkah menuju pintu untuk keluar rumah.


*. *. *. *. *


POV Ani


Acara makan malam pun sudah selesai karna kami langsung makan saat sudah melaksanakan salat dan kini kami tengah bersantai di ruang tamu.


"Terimakasih ya Bu Endang, Putri. Sudah menyuguhi makanan ini untuk saya," ujar Mas Andre.


"Iya sama-sama Nak Andre. Kalau Nak Andre mau pulang, pakai motor Ani saja dulu. Biarkan motor Nak Andre di sini dulu, besok baru di ambil kalau sudah beli bahan bakarnya," jawab Ibu.


Mas Andre hanya mengangguk mendengarkan saran Ibu. Sedangkan Bapak sudah pergih ke masjid lagi setelah selesai makan malam bersama.


"Kalau begitu saya pulang dulu ya Bu, besok saya akan kesini lagi dan mengambil motornya."


"Iya silahkan Mas Andre, motor Mas Andre masukan dalam garasi saja ya, ada di samping rumah," ucap Ibu.


"Nduk, bukakan pintu garasinya."


Krek ... Suara pintu garasi terbuka lebar.


"Silahkan Mas Andre, masukan saja motornya ke sini," ujarku


Dia pun mendorong motor meticnya memasuki garasi rumahku.


"Makasih ya Put, kalau gitu saya pulang dulu," pamitnya.


"Iya Mas, sama-sama. Hati-hati di jalan."


Mendengar ucapanku itu dia justru tersenyum dan membuat wajahnya terlihat berseri-seri.


"Kenapa tersenyum begitu Mas? Apa aku salah bicara?" tanyaku.


"Tidak apa-apa, kamu manis kalau tersenyum. Makasih ya sudah mengingatkan saya."


Alah Mak, gombal sekali Mas Andre ini. Bisa-bisanya dia berkata begitu pada seorang gadis, aku yang mendengar itu hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku.


"Sudah sana pulang, ini sudah malam," perintahku.


"Kamu mengusirku? Baiklah kalau begitu aku akan pulang karena kamu yang meminta," ujarnya, Masih saja menggodaku.


"Iya aku mengusirmu, sudah cepat sana pulang."

__ADS_1


"Baiklah, tapi ingat besok aku akan ke sini lagi," jawabnya.


"Iya Aku tahu."


"Baiklah, sampai jumpa."


"Hem ... eh aduh, tolong Mas mataku pedih sekali. Sepertinya kemasukan sesuatu," ujarku panik sambil mengusap dan berusaha membuka mataku namun terasa pedih sekali.


"Astaga, coba sini ku lihat."


Mas Andre pun mendekat ke arahku dan mencoba meniup mataku yang ke masukan sesuatu.


Namun aku tak menyadari bahwa di pinggir jalan ibu-ibu sedang melintas, sepertinya mereka pulang dari masjid dan melihatku bersama Mas Andre di garasi rumah hingga mereka berteriak yang membuatku dan Mas Andre terkejut.


"Hei Ani, apa-apaan kamu ini? Bisa-bisanya kamu berzinah di sini dengan Pak Andre," suara Bu Sari lantang.


Mendengar itu aku langsung mendorong Mas Andre menjauh.


"Bu-bukan begitu Bu, saya tidak berzinah," elakku dengan tergagap.


"Sudah jangan mengelak lagi Ani, kami melihat sendiri kalian sedang berciuman di sini," tukas Bu Dewi.


"Tidak Bu, itu tidak benar. Saya tidak berciuman di sini."


Mas Andre berusaha menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada ibu-ibu namun tetap saja mereka tidak percaya. Padahal mereka hanya melihat punggungku saja dan Mas Andre yang berada di hadapanku karena meniup mataku, tapi mereka tetap saja ngotot dan mengancam akan melaporkan kami pada Pak RT.


"Sudah kalian tidak usah banyak alasan lebih baik kalian ikut kami ke rumah Pak RT."


"Tapi Bu, kami tidak melakukan apa pun. Kami bisa menjelaskan semuanya,"


Terjadilah perdebatan di antara kami, karena aku yang tidak mau pergih ke rumah Pak RT, hingga mengundang Ibu untuk pergih ke luar dan melihat ke jadian ini.


"Ada apa ini Bu Sari, Bu Dewi, kenapa ribut di rumah saya?" tanya Ibu.


"Tidak usah pura-pura tidak tahu ya Bu Endang, anak Ibu, si Ani, sudah berzinah dengan Pak Andre. Kami lihat sendiri mereka sedang berciuman di garasi rumah Ibu," jawab Bu Ela.


"Apa? Itu tidak mungkin Bu, Ani tidak mungkin melakukan itu."


"Sudahlah Bu, tidak usah membela mereka. Kami sudah melihat sendiri kejadianya, lebih baik Ani dan Pak Andre ikut kami ke rumah Pak RT sekarang juga," ujar ibu-ibu.


Ibu hanya diam saja, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi bahkan kini dia sedang memegangi dadanya. Aku tahu Ibu pasti syok dan tidak menyangkan dengan kejadian ini.


"Sudah ibu-ibu jangan berkata seperti itu pada Ibu saya," ucapku.


"Kenapa tidak boleh, itu memang kenyataanya, 'kan. Bisa jadi gosip kamu hamil duluan itu memang benar dan Pak Andre inilah laki-lakinya."


Deg!


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2