Pembalasan Dendam Anindita

Pembalasan Dendam Anindita
Part 2 Pergi ke puskesmas


__ADS_3

Fikiran ku langsung buyar mendengar suara Ibu. Aku memang gadis pendiam dan penurut jadi apa pun yang Ibu atau Bapak katakan pasti selalu aku turuti, tapi aku juga tidak bisa diam saja jika di fitnah begini, apa lagi harus menunggu Ibu atau Bapak menyelesaikanya sudah pasti akan sangat lama, aku harus mencari bukti sendiri. 


Aku bangun dari tidurku lalu bergegas keluar menemui Ibu, kasihan Ibu jika harus memasak sendirian pasti Ibu akan kelelahan.


Cklekk ... Suara pintu kamarku terbuka.


"Nduk ... Ibu tahu kamu tidak tidur, ayo bantu Ibu. Kasian nanti Bapakmu lapar belum ada makanan."


"Njeh Bu ... " jawabku dan berlalu ke dapur.


Walaupun aku memasak namun tetap saja fikiranku selalu tertuju pada kejadian di warung Bu Sarah. Aku benar-benar benci jika mengingat itu, aku sudah seperti aib bagi keluargaku sendiri padahal aku tidak melakukan perbuatan itu sama sekali.


"Aku harus cari buktinya ..." gumamku.


"Aku tidak mau nama baikku jadi tercoreng gara-gara fitnah ini, kasihan Ibu dan Bapak jika harus mendengarku di ejek atau di olok-olok warga kampung. Pasti mereka akan sedih, maafkan Ani Pak, Bu. Ani pasti akan segera menyelesaikan masalah ini, " batinku sedih.


Awas saja jika aku sampai tahu pelakunya, akan ku buat dia malu seperti yang sudah aku dan keluargaku rasakan.


*. *. *. *.


Hari ini aku akan pergih ke puskesmas untuk meminta tes peck pada tenaga kesehatan di sana. Aku tidak mungkin membeli tes peck sendiri ke apotek karna di desaku tidak ada apotek dan jika ingin membelinya harus menempuh perjalanan jauh hingga ke pusat kota.


Dengan bermodal nekat aku akan pergih ke puskesmas sendirian, ini aku lakukan demi bisa membuktikan bahwa aku tidak hamil duluan, dan membungkam mulut ibu-ibu yang sudah memfitnahku.


"Bu, Ani mau pergih ke puskesmas dulu ya, " ucapku berpamitan pada Ibu.


"Loh ... Kamu mau ngapain kesana Nduk?"


"Ani mau minta obat Bu, takut sewaktu-waktu asam lambung Ani naik, " jawabku berbohong.


"Ya sudah, kamu sama siapa Nduk. Apa mau Ibu temani?"


"Gak usah Bu, Ani sendiri saja tidak apa-apa," ujarku.


"Kamu hati-hati ya Nduk, jangan ngebut bawa motornya, " pesan Ibu.


"Njeh Bu, kalau gitu Ani berangkat dulu ya Bu. Asalamualaikum."

__ADS_1


"Walaikumsalam, " jawab Ibu.


Aku melajukan motorku menuju puskesmas, mudah-mudahan di sana aku bisa mendapatkan apa yang aku cari. Sebenarnya aku juga butuh teman untuk bertukar fikiran saat melakukan ini, namun aku tidak mau Ibu terkena marah Bapak jika aku mengajaknya pergih bersama.


Jalanan di desaku terlihat cukup sepi, aku tidak tahu kenapa, biasanya akan ramai orang lalu lalang di jalan karna setiap pagi mereka pergih ke sawah atau ke ladang.


"Kok sepi banget ya, orang-orang pada kemana?" gumamku.


Walaupun terkesan aneh, namun aku tetap melanjutkan perjalananku menuju Puskesmas. Aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan.


Gedung besar berwana putih sudah tampak di depan mata, perjalananku memang singkat. Karna aku sendirian akhirnya ku putuskan untuk ngebut saja biar cepat sampai, tapi saat tiba di sana loh .... 


"Kenapa tutup ya, bukanya ini hari kamis, " monologku.


Karna penasaran akhirnya ku putuskan untuk bertanya pada warga sekitar, mereka pasti tahu kenapa puskesmasnya tutup padahal ini hari kerja.


"Permisi Bu. Saya mau tanya kenapa puskesmasnya tutup ya?" tanyaku.


"Iya Mba, hari ini libur karna ada pengajian di kampung sebelah, " jawab si Ibu.


"Iya Mba, silahkan."


Huh! Rasanya jengkel sekali, kenapa aku bisa tidak tahu kalau ada pengajian di kampung sebelah, tahu begini aku tidak mau jauh-jauh pergih ke sini.


Dengan hati kesal dan kecewa akhirnya aku kembali pulang kerumah, sekarang aku mengerti kenapa jalanan kampung jadi sepi, mungkin warga sudah pergih pengajian, tapi kenapa aku tidak tahu, biasanya akan ada pengumuman di masjid bila ada acara seperti ini, apa cuma aku saja yang tidak di beri tahu.


Keterlaluan sekali kalau sampai benar hanya aku yang tidak di beritahu, kenapa juga mereka membeda-bedakan keluargaku dengan yang lain? Apa karna gosip murahan itu, ini membuatku sangat kesal karena baru saja melakukan pekerjaan yang sia-sia.


Aku pulang kerumah tampa hasil apa pun. Akan tetapi di tengah perjalanan aku melihat beberapa warga berkumpul di pinggir jalan, saat motorku sudah mendekati kerumunan itu aku berhenti dan melihatnya sebentar, karena penasaran apa yang sedang mereka lakukan aku pun bertanya pada Pak Samsul yang kebutulan ada di situ juga.


"Permisi Pak Samsul. Ada apa ya kok ramai begini?" tanyaku.


"Eh Ani ... Ini An, kami mau berangkat pengajian ke kampung sebelah. Kamu tidak berangkat, An?" Heran Pak Samsul.


"Orang kaya dia mah buat apa pengajian Pak, yang ada bikin malu kampung kita saja" ujar Bu Dewi menjawab pertanyaan Pak Samsul.


"Maksud Bu Dewi apa, saya tidak merasa bikin malu kampung ini, " ucapku kesal dengan jawaban Bu Dewi.

__ADS_1


"Iyalah bikin malu, kamu, 'kan hamil duluan."


Deg! Rasanya hatiku mencelos mendengar perkataanya, semula aku sabar namun kini kesabaranku sudah habis.


"Ibu jangan ngomong sembarangan ya, saya tidak hamil duluan." Emosi ku memuncak.


Mendengar itu aku turun dari motor dan menarik jilbab Bu Dewi hingga terlepas.


"Kamu nantangin saya An, sini kamu maju, " ujar Bu Dewi sambil mengangkat lengan baju nya.


Dia fikir aku takut, oh tentu saja tidak. Aku maju di hadapanya dan menarik rambutnya yang sudah di cepol tinggi, saking kuatnya hingga rambut Bu Dewi acak-acakan bagai sarang burung.


"Kurang ajar kamu Ani!" ujar Bu Dewi dengan muka yang sudah memerah padam.


Bug!


Bug!


Bug!


Akhirnya baku hantampun tak bisa di elakan lagi. Pak Samsul yang melihat kejadian itu segera menarik Bu Dewi masuk ke dalam rumah.


"Bu ... Sudah Bu malu, " ucap Pak Samsul


"Minggir Pak, biar Ibu kasih pelajaran anak kurang ajar itu, " seru Bu Dewi berteriak hingga para warga langsung menengok ke arahnya.


"Tunggu pembalasanku Ani, awas kamu ya."


"Pak lepasin Ibu ..." brontak Bu Dewi.


"Rasain." Aku menjulurkan lidah padanya.


"Makanya Bu Dewi jangan suka fitnah, " ucapku berlalu pergih dari tempat itu dan melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. 


Huh! dasar ibu-ibu bermulut bocor, aku acak-acak mukanya baru tahu rasa. Berani-beraninya dia mempermalukan aku di tempat umum, awas saja kau Bu Dewi pasti akan ku bungkam mulutmu itu dengan bukti-bukti yang akan aku dapatkan.


Bersambung .... 

__ADS_1


__ADS_2