
POV Dewi
Kurang ajar memang si Ani, berani-beraninya dia membuatku malu di tempat umum, padahal apa yang aku katakan semuanya benar, kenapa dia tidak terima.
Kalau bukan karena suamiku sudah habis ku hajar si anak sialan itu, berani sekali dia melawanku. Dia itu bukan siapa-siapa di sini, harusnya dia tahu, aku ini istri Pak camat di desa ini.
Aku juga mendengar sediri kalau dia muntah-muntah. Waktu itu aku pulang dari masjid karna memberi tahu Bapak bahwa ada tamu di rumah, dan aku melewati jalan di samping rumah Ani.Tak sengaja aku mendengar suara wanita yang sedang muntah.
Huek ....
Huek ....
Huek ....
"Ani, Ani, kan Ibu sudah bilang kamu jangan sampai kelelahan atau telat makan, biar tidak seperti ini."
Karna penasaran aku pun mendekatkan telingaku ke arah tembok rumah Ani untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
Sayup-sayup terdengar suara wanita di dalam rumah itu.
"Ani sudah tidak apa-apa Bu, Ani cuma mau makan soto bikinan Ibu, eh ... Jadi begini, " ujar wanita yang aku yakin itu adalah Ani.
Nah sudah jelas, itu pasti Ani lagi ngidam makanya dia ingin makan soto buatan Ibunya, tapi dia justru tidak terima aku bilang hamil duluan, dasar munafik.
Gara-gara Ani aku tidak jadi berangkat pengajian, 'kan asik bisa berkumpul sama ibu-ibu, biar aku beritahu sekalian para warga, kelakuan Ani yang sebenarnya.
Suasana hatiku jadi hancur melihat wajah dan rambutku yang berantakan ulah Ani, dasar bocah edan.
"Bu, kamu ngapain ngaca terus?" tanya Pak Samsul.
"Bapak tidak lihat apa? Ibu kaya gini gara-gara Ani Pak, kenapa sih Bapak tidak biarkan Ibu hajar dia?" Heranku.
"Bu, Ibu tidak malu apa di lihat sama warga kampung, sudahlah Bu, jangan ikut campur masalah orang lain."
"Ibu tidak ikut campur Pak, 'kan memang benar itu kenyataanya, Ani itu hamil duluan Pak," jawabku.
"Sudah lah Bu, capek Bapak ngomong sama Ibu, " jawabnya dan berlalu pergih.
Ih dasar Suami aneh, di kasih tau kenyataanya palah pergih, untung aku sayang kalau tidak sudah ku tendang ke Mekah sana biar naik haji sekalian. Karna sudah lelah memandang wajahku yang acak-acakan di cermin, aku putuskan untuk mengganti baju dengan baju favoritku, ya apalagi kalau bukan daster bolong, karena sudah pasti aku tidak jadi pergih pengajian di kampung sebelah.
"Bu, bikinin Bapak kopi!" Suara meredu Suamiku memanggil.
__ADS_1
"Iya Pak, sebentar Ibu masih ganti baju, " jawabku sambil memakai baju.
Tak perlu menunggu lama pakaianku sudah berganti menjadi baju rumahan ala ibu-ibu, aku bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi suami tercinta, ya walaupun terkadang menyebalkan dia tetaplah suamiku.
Aku tuangkan kopi beserta gula ke dalam gelas dan menyeduhnya dengan air panas, seketika aroma kopi menguar memenuhi indra penciumanku, aroma yang kuat dan pekat membuatku ingin meminumnya juga, tapi aku sadar ada Pak suami yang sudah menunggu.
"Nih Pak kopinya, " ujarku meletakan cangkir berisi kopi di atas meja.
"Makasih Bu, " ucapnya.
Aku hanya mengagukan kepala dan bergegas keluar rumah karna melihat Sari lewat di depan rumah. Ternyata benar itu Sari. Tapi mau kemana dia dan kenapa terburu-buru.
"Sar ... Sari mau kemana?" teriakku.
"Eh ... Bu Dewi, saya mau ke warung Bu."
"Mampir dulu Sar, saya kasih tahu berita hot." Tawarku.
Eh! Sari berjalan kembali menuju rumahku, pasti dia penasaran sama berita yang aku maksud, sudah pasti dia penasaran karena dia yang paling semangat jika ada gosip baru di kampung ini.
"Ada Berita apa sih Bu Dewi, penasan aku."
Nah, 'kan benar tebakanku, kalau Sari ini ingin tahu berita hot terkini dariku.
"Biasalah Sar, itu si Ani kan gak bisa buktikan to kalau dia gak hamil, eh ... Justru dia marah sama aku pas aku tanyakan kebenaranya. Sampai menarik jilbaku segala, padahalkan aku cuma tanya Sar," ujarku mengiba.
"Astaga sampe kaya gitu ya Bu, kalau dia tidak hamil ya tidak usah marah-marah, 'kan Bu. Tapi Ibu tidak apa-apa?" tanya Sari.
"Iya Sar, mungkin dia takut ketahuan. Aku sih tidak apa-apa Sar, tapi saranku kamu bilang deh sama ibu-ibu, jangan deket-deket si Ani, takut nya kaya aku kena amukan dia, " ucapku pada Sari yang langsung di angguki kepala olehnya.
‘‘Rasakan kamu Ani, tidak akan ada yang mau berteman denganmu, salah siapa cari masalah dengan Dewi,’’ batinku senang.
"Ya sudah Bu, kalau gitu saya pergih ke warung dulu, " pamit Sari.
"Iya Sar, jangn lupa pesan saya tadi ya."
"Siap Bu, pasti saya akan sampai'kan sama ibu-ibu yang lain agar berhati-hati dengan Ani dan jangan dekat-dekat denganya," jawab Sari.
Untung ada Sari jadi aku tidak perlu repot-repot memberitahu warga kampung tentang kelakuan Ani padaku, sudah ada tangan kananku yang siap menjalankan tugasnya.
Kita lihat saja nanti, pasti dia akan kaget karena tidak ada satupun warga yang mau berteman dengannya, gadis yang tak punya sopan santun dan suka menganiaya orang, ini'lah akibatnya jika berani mencari masalah denganku.
__ADS_1
"Nikmati pembalasanku gadis kurang ajar ... " gumamku tersenyum sinis.
*. *. *. *.
POV Ani
Aku pulang dengan wajah acak-acakan karna bergulat dengan Bu Dewi, tidak perduli banyak orang yang memandang aneh penampilaku, aku tetap melajukan motorku hingga tiba di rumah.
"Asalamualaikum, " ucapku.
"Walaikumsalam Nduk, astofirulah!" Ibu melongo melihat penampilanku yang acak-acakan.
"Kenapa penampilanmu berantakan sekali Nduk, cepat sana masuk, " perintah Ibu.
"Njeh Bu, " ujarku lalu masuk kedalam rumah.
"Nduk, Ani, kamu habis jatuh atau habis dari sawah sih, jilbab merot sana-sini, itu rambut juga keluar kemana-mana, kamu bilang pergih ke puskesmas minta obat, bukanya jadi sembuh malah tambah sakit."
Uh! Ibu bisanya cuma mengomel saja, anak sendiri di bilang sakit.
"Ani itu gak sakit Bu, ini semua gara-gara Dewi, si ratu gosip, " jawabku kesal.
"Emang kenapa sama Bu Dewi, Nduk?"
"Ani berantem sama dia Bu, gara-gara Bu Dewi bilang Ani cuma bisa bikin malu kampung kita saja. "
"Padahal 'kan Ani tidak hamil duluan Bu, " sambungku dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Astofirulah, ya sudah Nduk kamu sabar ya, nanti Bapak sama Ibu akan cari solusinya."
"Iya Bu," ujarku lesu.
Sesaat aku dan Ibu terdiam dan hanyut dalam fikiran masing-masing hingga terdengar suara pintu rumah di ketuk.
Tok! Tok! Tok! ... Tok! Tok! Tok! ....
''Siapa yang datang, kalau Bapak tidak mungkin mengetuk pintu'' batinku.
Aku pun bergegas membuka pintu rumah untuk melihat siapa yang datang.
‘‘Hah! ... Kenapa dia kesini? Mau apa dia datang kemari, ’’ fikirku heran.
__ADS_1
Bersambung ....