Pembalasan Dendam Anindita

Pembalasan Dendam Anindita
Part 4 Kedatangan Pak Kades


__ADS_3

"Selamat siang Mba Ani, Bu Endang, " sapa Pak Kades padaku dan Ibu yang sudah berdiri di belakangku.


"Selamat siang Pak Andre, silahkan masuk, " jawabku.


"Iya Mba."


Kami pun masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Ibu yang duduk di sampingku terlihat senyum-senyum sendiri memandang Pak Kades. Karna risih aku pun menegurnya.


"Bu, Ibu kenapa sih senyum-senyum sendiri dari tadi, " tegurku lirih.


"Kamu tidak lihat Nduk, Pak Kades ini ganteng juga ya. Pasti cocok kalau sama kamu, " jawab Ibu yang seketika membuatku kesal dan mencubit lenganya.


Ibu terlihat mengernyitkan dahi menahan sakit, sedangkan aku yang melihat Ibu kesakitan justru mengabaikanya dan bertanya pada Pak Kades tentang tujuanya datang kemari.


"Ada perlu apa ya Pak, kok tiba-tiba datang kemari?" tanyaku.


"Aduh ... begini Mba Ani, kedatangan saya kemari ingin menanyakan soal kebenaran gosip yang tersebar di kampung kita ini, terutama tentang Mba Ani. Mba Ani tahu sendirikan bahwa berita itu sangat heboh dan menjadi pembicaraan hangat para warga. Saya tidak mau jika ada berita yang tidak benar menjadi konsumsi warga desa ini" ujar nya seperti tidak enak padaku.


"Oh ... Iya Pak, saya juga tahu bahwa sudah tersebar gosip yang tidak enak tentang saya. Namun itu semua tidak benar Pak, saya tidak mengalami kejadian yang warga desa gosip'kan, " jawabku.


"Syukurlah kalau begitu Mba, " ucapnya sambil menatap ku.


Astaga aku merasa tatapan nya sedikit berbeda padaku, seperti senang dan lega. Ya, Pak Kades di desaku ini memang masih perjaka alias belum menikah, namun karna aku menghargainya sebagai aparat desa di sini aku memanggilnya Pak. Aku yang merasa tidak enak terus di tatap olehnya hanya menduk dan diam saja.


Karna melihatku diam saja akhirnya dia pun bertanya lagi padaku.


"Apa Mba Ani punya bukti, biar saya yang akan memberitahu'kan pada warga desa bahwa semua gosip ini tidak benar."


"Maaf Pak, saya belum punya buktinya. Jika nanti sudah ada saya akan memberitahu Bapak, " ucapku.


"Oh begitu, ya sudah Mb Ani kalau begitu saya pamit dulu Mba."


"Iya Pak silahkan."


"Jangan pangil Pak, Mba Ani. Panggil Mas saja tidak papa, " jawabnya yang seketika membuatku malu, astaga ada-ada saja.

__ADS_1


"Iya Mas, mari saya antar ke depan."


Kami pun bangkit dan menuju pintu rumah, namun saat sudah sampai di depan pintu Mas Andre ini justu berhenti dan menatapku sesaat sambil terus tersenyum.


"Kenapa Mas?" tanyaku canggung.


"Eh-em ... Apa saya boleh minta nomor ponsel Mb Ani, jadi nanti Mb Ani bisa hubungi saya kalau sudah ada buktinya " jawabnya gugup.


"Oh, tentu saja boleh Mas Andre silakan catat di ponsel Mas, " ujarku lalu menyebutkan dua belas dijit angka ponselku.


"Sudah Mba Ani terimakasih, kalau begitu saya pamit dulu. Asalamualaikum, " ucapnya.


"Iya Mas sama-sama. Walaikumsalam, " jawabku.


Aku menatap kepergihanya sambil terus berfikir, bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan bukti itu agar masalah ini cepat selesai.


"Nduk Ibu melihat Bu Dewi di samping rumah, " ucap Ibu yang tiba-tiba sudah muncul di sampingku.


"Huh! mau apa lagi dia di samping rumahku?"  Ujarku lirih.


" ayo Nduk kita intip saja, " ajak Ibu.


"Ibu saja sana, tidak usah mengajak Ani."


"Kamu ini gimana sih Nduk, Masa Ibu di suruh sendirian. Ibu juga malas'lah kalau sendirian, " sungut Ibu.


"Untuk apa aku mengintip si tukang gosip itu, lebih baik aku tidur saja, aku yakin dia pasti sedang bergosip. Tapi siapa ya kira-kira yang sedang mereka gosip'kan? " gumamku lirih.


Aku berlalu masuk ke dalam, tidak perduli jika Bu Dewi ada di samping rumahku. Aku yakin Bu Dewi pasti tengah berkumpul bersama ibu-ibu dan bergosip ria.


"Sudah Bu, tidak usah pedulikan Bu Dewi, " ucapku sambil berlalu masuk rumah.


"Kamu tidak penasaran Nduk, sama Bu Dewi?"


"Sudahlah Bu biarkan saja, pasti sekarang dia sedang bergosip sama ibu-ibu yang lain, " jawabku.


"Iya Nduk Ibu tahu, tapi apa kamu tidak mau tahu mereka menggosip'kan siapa?"

__ADS_1


"Ani ngantuk Bu, dari pada Ani memikir'kan itu lebih baik Ani tidur Bu, Bu ... " jawabku acuh.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu tidur saja Nduk, pasti badan kamu lelah, " perintah Ibu.


"Iya Bu, " jawabku. Memang itulah yang aku ingin'kan saat ini karna tubuhku memang sudah lelah dan letih.


"Iya Nduk, tapi nanti sore bangun ya. Antar Ibu ke rumah Kang Jaka, Ibu mau beli sayuran.


"Iya Bu, nanti Ibu bangun'kan Ani saja, " ujarku pada Ibu.


"Iya Nduk."


Aku pun berlalu pergih ke kamar serta merebahkan diri di sana. Badanku terasa pegal dan otot-ototku kaku semua, aku yakin ini pasti karna aku berkelahi dengan Bu Dewi.


Aku mencoba memejamkan mata untuk mengistirahat'kan tubuhku sejenak, namun sial. Suara ibu-ibu tukang gosip membahana hingga mengusik pendengaranku.


"Sebenarnya mereka membicarakan apa sih hingga seheboh itu. Menggagu orang istirahat saja" batinku.


Ingin rasanya aku menenggur ibu-ibu di samping rumahku itu, namun aku urungkan karna malas bertemu dengan Bu Dewi lagi. Aku terdiam beberapa saat untuk mendengar pembicara'an mereka, walaupun sayup-sayup, masih terdengar jelas apa yang mereka bicarakan.


"Aku dengarkan saja mereka,siapa tahu akan dapat informasi penting nanti," fikirku menemukan ide bagus.


"Bu, kemarin saya lihat Pak Surya naik motor sama wanita muda loh."


Deg!


Suara nenek lampir itu lagi, sedang membicarakan siapa dia?


Dasar tukang gosip, di mana-mana selalu saja membicarakan masalah orang lain.


Aku yang penasaran mulai serius mendengarkan obrolan mereka, mungkin saja aku bisa dapat informasi siapa orang yang sudah memfitnahku hamil duluan.


"Yang benar Bu Dewi, kamu tidak salah lihat?" suara Bu Fitri, pemilik rumah sebelah.


"Iya Bu, saya tidak salah lihat ... Kasihan ya Bu Sarah, sudah di dua'kan sama suaminya."


Astaga ... Keterlaluan sekali Bu Dewi ini. Dia'kan belum tahu siapa wanita yang bersama Pak Surya, kenapa dia bicara seolah Pak Surya sudah selingkuh dan menduakan Bu Sarah, bisa jadi itu tetangga yang menumpang motor Pak Surya atau keponakannya mungkin.

__ADS_1


Aku justru kasihan dengan Bu Sarah karna dia mempunyai teman yang tidak bisa di percaya seperti Bu Dewi, dasar si ratu gosip hanya bisa membicarakan aib orang lain. Apa dirinya itu tidak punya pekerjaan atau kesibukan lain hingga harus menggosip'kan tetangganya sendiri.


Bersambung ....


__ADS_2