
Surya ke luar dari kamar tempat di mana anak Bu Sari berada, dia terus berjaga-jaga dan memantau keadaan sekeliling agar saat membuang anak Bu Sari tidak ada orang yang melihatnya.
Sedangkan Ana hanya bisa menangis terisak-isak tanpa suara sebab kehormatannya kini sudah hilang di rampas oleh seorang pria paruh baya.
Anak kesal, dia benci jika mengingat kejadian yang menimpanya sebab kesalahan ibunya sendiri. Dia ingin berontak tapi sayang dia tidak kuasa melakukan apa pun.
"Hiks ... hiks ... hiks...," suara tangis Ana terdengar oleh Surya hingga dia merasa risih.
"Hei bocah! Diamlah, apa yang kau tanggisi hingga seperti itu?" gertak Surya.
Namun Ana tak bersuara, sebenarnya dia sudah menahan tangisnya tapi tubuhnya seolah tak terima hingga terus mengeluarkan isakkan.
"Apa kau kesal padaku? Jika benar maka kau salah. Seharusnya Ibumu itulah yang patut kau benci, sebab karna dia rumah tanggaku hancur dan hancur jugalah masa depanmu," ungkap Surya mengeluarkan pendapatnya.
Mendengar itu Ana pun berfikir demikian, andaikan ibunya tak membuat masalah dengan orang lain pastilah dia tidak akan menjadi korbannya.
Sekarang sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan kembali seperti semula.
Hari sudah mulai petang, sayup-sayup suara azan Maghrib mulai menggema di seluruh penjuru Desa Sinar Maju.
Surya bergegas bersiap-siap membawa Ana pergi ke luar hutan ini dan meninggalkannya di jalan.
"Cepatlah! Jangan membuang waktuku," ucap Surya sambil menyeret tangan Ana.
"Saya mau di bawa kemana Pak? Tolong jangan sakiti saya," rintih Ana.
Surya tak bergeming dia tetep menyeret Ana menuju luar hutan hingga mereka tiba di tepi jalan raya.
"Kamu diamlah di sini, karna sebentar lagi pasti akan ada warga yang mencarimu."
Setelah mengatakan itu Surya pun hendak pergi namun dia melihat segerombolan bapak-bapak tengah berkeliling mencari Ana.
"Sebaiknya Aku segera bersembunyi, sebelum mereka menyadari keberadaanku," ujar Surya bergegas pergi meninggalkan Ana yang masih terikat dengan mata tertutup.
"Ana!"
"Ana!"
"Ana! Kamu di mana?"
Para warga bersorak menyebut nama anak Bu Sari itu, mendengar itu Ana pun segera berteriak agar mereka dapat menemukannya.
"Tolong!"
"Tolong saya Pak, saya di sini."
"Tolong saya!" teriak Ana.
"Hah? Sepertinya saya mendengar suara minta tolong Pak Kades," ucap seorang warga.
__ADS_1
"Tolong Pak, saya di sini!"
Para warga pun dengan serempak menghampiri arah sumber suara di mana Anak berada.
"Astofirullah ... Ana?" para warga terkejut melihat penampilan Ana yang tengah terduduk lusuh di pinggir jalan.
"Di mana anakku?"
"Di mana Anak?"
Dari ke jauhkan Bu Sari sudah berteriak-teriak mencari Ana, hingga dia menerobos kerumunan para bapak-bapak yang tengah menolong Ana.
"Ana, ya Tuhan anakku. Kamu tidak apa-apa, 'kan Nak?" seru Sari histeris memeluk Ana.
"Ibu diam! Jangan dekat-dekat Ana."
"Ana benci sama Ibu," teriak Ana.
"Kamu kenapa Ana, apa salah Ibu sama kamu?"
"Anak benci sama Ibu, ini semua gara-gara Ibu. Ibu yang sudah membuat hidup Anda hancur," suaranya bergetar saat mengatakan itu.
"Kamu bicara apa Ana, Ibu sayang sama kamu," jawab Sari heran dengan tingkah Ana.
"Ana sudah di perkosa Bu, dan ini semua karena kesalahan Ibu!"
Deg! Bagaikan tersengat arus listrik aliran darah Sari membeku seketika. Bagaimana bisa anak gadisnya telah di perkosa dan ini semua akibat kesalahannya.
Akan tetapi dengan cepat Ana menepis tangan Sari dan berlari pergi meninggalkan Sari bersama kerumunan para warga yang menatapnya terpaku.
Brug!
Sari jatuh pingsan setelah melihat ke pergian anaknya, dia syok tidak tahu harus berbuat apa. Anak gadis satu-satunya kini telah membenci dirinya akibat kesalahan yang sudah dia perbuat.
"Pak ayo Pak, kita bawa Bu Sari pulang ke rumahnya," ujar Pak Kades menghimbau para warga agar membatu Bu Sari.
Mereka pun membawa Sari yang sudah lemas tak berdaya.
Tampa mereka sadari ada seseorang yang tengah tersenyum senang melihat kejadian ini di balik pohon besar.
"Itulah akibatnya jika berani mengganggu hidupku, sekarang tanggunglah malu itu seumur hidupmu Sari."
Siluet hitam itu pun menghilang setelah menampakkan seringai kejamnya.
Sedangkan kini Sari belum juga bangun dari pingsannya, tubuhnya mendingin dan menggeluarkan keringat sebesar biji-biji jagung.
"Sar, Sari bangun Sar," kata Dewi menepuk pipi Sari.
Sari belum juga mau bangun padahal Dewi sudah memberinya minyak angin, menepuk-nepuk pipi Sari, bahkan menggusapkan air ke wajahnya namun Sari belum juga tersadar.
__ADS_1
Setelah hampir setengah jam akhirnya Sari tersadar juga dari pingsannya.
"Argh! ...," suara rintihan terdengar dari mulut Sari.
"Sari, kamu sudah sadar?"
"Duduk dulu Sar, minumlah air putih ini," ucap Bu Sarah yang turut hadir di rumah Sari.
Setelah meminum air putih Sari pun mulai terlihat tenang.
"Dimana anak saya Bu Dewi?" tanya Sari.
Sarah dan Dewi saling memandang, mereka bingung karena Ana tidak ada di rumah Sari dan para warga sedang mencarinya.
"Bu, di mana anak saya?" ulang Sari.
Tok! ... Tok! ... Tok! ....
Tok! ... Tok! ... Tok! ....
Suara pintu kamar Sari terdengar di ketuk berulang kali.
"Bu Sari, buka pintunya!"
"Bu Sari, Bu, buka pintunya!"
"Cklek ...." Suara derit pintu kamar terdengar terbuka.
"Ada apa Bu Ela, kenapa-kenapa berteriak begitu?" tanya Sarah.
"Anu Bu, itu si Ana mau lompat dari jembatan. Ayo kita segera ke sana."
"Ana, anakku! Jangan lakukan itu Ana."
Mendengar itu Sari melompat dari tempat tidurnya dan menerobos ke luar kamar.
Sari berlari menuju jembatan di mana Ana berada, di sana sudah banyak warga yang berkerumun memandang Ana dengan was-was.
"Ana! Apa yang kamu lakukan Nak? Cepat turun dari situ," teriak Sari.
"Biarkan saja Bu, untuk apa Ana hidup. Hidup Ana sudah hancur Bu!"
"Ana, jangan Nak. Maafkan Ibu, maafkan Ibu, kamu turun Ana!"
Para warga bergeming melihat kejadian yang menimpa Ana, mereka berfikir apa alasan Ana membenci Ibunya secara tiba-tiba?
Bukankan dia di culik dan di perkosa oleh orang lain, tapi mereka melihat wajah Ana berubah garang dan matanya menyiratkan kebencian saat bertemu Sari.
Sebenarnya kesalahan apa yang Sari perbuat hingga Ana sangat membencinya. Tapi giliran aneh warga segera hilang saat mereka mendengar suara seperti benda jatuh.
__ADS_1
"Bruk! ...," dengan serempak wajah orang-orang menengok ke arah suara.
Bersambung ....