
Pak Surya kalut, bagaimana bisa ada orang yang tega memfitnahnya seperti ini. Namun dia juga menyadari kesalahannya karena tak memberitahu Sarah sejak awal bahwa Nita sudah pulang dari merantau dan dialah yang menjemputnya.
Andaikan saja waktu itu dia bicara pada Sarah mungkin semua ini takkan pernah terjadi. Pak Surya mengendarai motornya untuk pulang ke rumah Ibunya yang ada di kampung sebelah namun karena tidak fokus mengemudi hampir saja dia menabrak Ani yang tengah menyiram bunga yang ada di pinggir jalan depan rumahnya.
"Mba Ani awas!" Teriak Pak Surya.
Ani yang mendengar itu pun terkejut dan hanya mematung. Untung saja dengan sigap suaminya menarik dia ke dalam pelukan hingga tak sampai terserempet motor Pak Surya.
Cit! .... Suara decitan motor Pak Surya terdengar keras karena dia berhenti mendadak.
"Huh! Selamat, Mba Ani tidak apa-apa, 'kan? Maaf ya tadi saya melamun," ujar Pak Surya.
"Tidak apa-apa kok Pak, lain kali hati-hati ya Pak," jawab Ani.
"Iya Mba Ani, sekali lagi saya minta maaf."
"Memang Pak Surya mau kemana, sini mampir dulu biar saya buatkan minum," tawar Ani.
Mendengar itu Pak Surya pun memutuskan untuk mampir di rumah Ani dan sekedar menenangkan fikiranya yang kalut.
"Silahkan di minum tehnya Pak," ujar Ani meletakan teh di meja teras.
"Makasih ya Mba Ani, jadi ngerepotin."
"Tidak kok Pak, memang Bapak mau kemana?" tanya Ani.
"Saya mau ke rumah ibu saya Mba, kebetulan juga ada di kampung ini," jawab Pak Surya.
"Oh begitu, kalau saya boleh tahu kenapa Pak Surya seperti banyak fikiran begitu? Sampai tidak fokus bawa motornya."
"Iya Mba, saya memang lagi pusing. Ada yang fitnah saya sudah berselingkuh dengan wanita lain, jadilah istri saya marah dan menyuruh saya pulang," jelas Pak Surya.
"Keterlaluan sekali, kira-kira Bapak tahu siapa orangnya?" geram Mas Andre.
"Iya Mas, keterlaluan sekali. Saya sudah tahu orangnya Mas, sepertinya itu Sari karna nomor Sari yang sudah mengirim pesan fitnah itu kepada istri saya."
"Kok bisa Pak Surya tahu itu nomor Bu Sari?" Heran Ani.
"Karna dia pernah mengirim pesan juga pada saya Mba, minta untuk di carikan pekerjaan di kampung ini," jawab Pak Surya.
Mendengar nama Sari otak Ani langsung teringat akan peristiwa fitnah yang juga menimpanya, dia berniat akan mengajak Pak Surya untuk bekerja sama dan membalas dendam tanpa sepengetahuan suaminya.
"Oh ya Pak Surya, apa saya boleh meminta nomor ponsel Bapak?" tanya Ani yang seketika membuat suaminya melirik tajam.
Melihat itu Ani langsung mengusap-usap tangan suaminya yang ada di bawah meja, untuk memberi tahu bahwa dia tidak berniat macam-macam.
"Boleh Mba Ani. Silahkan di catat +862xxx."
__ADS_1
Ani tersenyum senang setelah mendapat nomor Pak Surya.
"Lihat saja kau Sari, aku akan membalas semua perbuatan yang sudah kamu lakukan padaku," batin Ani tersenyum miring.
"Ya sudah Mba Ani, kalau begitu saya pulang dulu ya. Makasih atas suguhannya," pamit Pak Surya.
"Oh ya Pak, silahkan," jawa Ani.
Akhirnya Pak Surya pun pergih dari rumah Ani, walaupun dia belum lama pergih Ani sudah bergegas mengirim pesan padanya untuk mengajaknya bekerja sama.
[Pak Surya, ini saya Ani. Saya punya tawaran yang bagus untuk Bapak.]
[Saya tidak mau berbelit-belit, saya juga korban dari fitnah Bu Sari dan Bu Dewi, mungkin juga, mereka berdualah yang sudah memfitnah Bapak. Karna di mana ada Sari pasti ada Dewi dan saya ingin mengajak Bapak bekerja sama untuk membalas perbuatan mereka.]
[Jika Bapak setuju, saya akan bersedia menjadi saksi kalau Bapak tidak berselingkuh.]
Beberapa pesan telah Ani kirim ke pada Pak Surya secara beruntun. Ani tahu Pak Surya tak akan langsung membalas pesan ini karna dia sedang di jalan menuju rumah Ibunya.
Selain mengajaknya bekerjasama untuk balas dendam di sisi lain Ani juga kasihan pada Pak Surya jika rumah tangganya harus hancur ulah para ular. Sebenarnya Ani tidak tahu siapa wanita yang sudah di fitnah menjadi selingkuhan Pak Surya, namun Ani tak perduli. Ani hanya ingin membalaskan dendamnya pada dua wanita ular yang tak punya malu itu.
"Sayang, makan yuk aku lapar nih," ujar Andre.
"Eh Mas sudah lapar ya? Ya sudah yuk aku temani makan. Ini juga sudah jam 1 siang," jawab Ani lalu bangkit untuk pergih ke dapur.
"Sayang, kamu untuk apa meminta nomor Pak Surya?"
"Iya sih Yang, tapi benar tidak ada yang lain lagi?"
"Ya benar dong Mas, memangnya aku akan melakukan apa lagi? Sudah ya jangan berfikir yang tidak-tidak," ujar Ani menyakinkan suaminya.
Rupanya Andre sedikit curiga, tapi untung saja dia tidak bertanya yang lain-lain lagi.
Mereka pun makan siang bersama dengan tenang, kadang Ani berfikir andaikan saja ada Bapak mungkin kebahagiaannya akan terasa lebih sempurna. Apalagi sekarang Bapak sendirian pasti dia akan sangat ke sepian dan kerepotan mengurus diri sendiri yang sudah tua.
"Sayang, kenapa melamun?" tanya Andre.
"Eh-em ... Tidak apa-apa Mas, aku hanya teringat Bapak. Pasti Bapak kesepian sekarang," jawab Ani.
"Iya, Mas juga merasa begitu. Tapi mau bagaimana lagi, Bapak belum bisa memaafkan kita dengan kejadian kemarin."
"Iya Mas, aku tahu itu. Tapi walau bagaimanapun Bapak harus tahu kalau kita tidak melakukan kesalahan apa pun Mas. Itu hanya salah faham," ujar Ani kesal.
"Iya sayang, sudah habiskan dulu makanannya. Mas yakin dengan berjalanya waktu Bapak pasti akan memaafkan kita setelah dia mengetahui yang sebenarnya," jawab Andre.
Ya, Ani berharap mudah-mudahan Bapak bisa segera memaafkan mereka, terutama Ani karna Ani yakin pasti Bapak menjadikan Ani alasan atas meninggalnya Ibu.
Mereka kembali fokus untuk menghabiskan makan siang di atas meja. Namun fokus mereka buyar saat suara dering ponsel Ani berbunyi.
__ADS_1
Ting! ... Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ani.
Ani pun menghentikan makannya dan melihat siapa yang sudah mengirim pesan. "Pak Surya?" batin Ani.
"Dari siapa sayang, Kok kamu kaya kaget gitu?"
"Bu-bukan siapa-siapa Mas, hanya orang iseng. Sepertinya salah kirim," jawab Ani gugup.
"Oh ... Ya sudah biarkan saja. Sayang, Mas akan pergih ke kantor desa, kamu tidak apa-apa, 'kan sendirian?"
"Iya Mas, aku tidak apa-apa kok sendirian. Mas hati-hati ya di jalan," pesan Ani.
"Iya sayang, nanti malam Mas buatkan teman untukmu agar tidak kesepian. Bagaimana?" tanya Mas Andre berbisik di telinga Ani.
"Mas apa-apaan sih. Sudah sana berangkat nanti terlembat," jawab Ani tersenyum malu dan mendorong tubuh suaminya menjauh.
"Iya-iya. Kalau begitu Mas berangkat dulu ya, jangan macam-macam di rumah."
"Iya Mas, sudah sana berangkat."
Andre pun pergih ke kantor desa sebelah, tempat di mana dia bekerja.
Setelah itu dengan cepat Ani membuka pesan yang Pak Surya kirim padanya.
[Benar Mba, saya tidak terima sudah di fitnah seperti ini dan saya sudah menyadap ponsel istri saya. Ternyata benar nomor itu adalah nomor yang sama dengan nomor Sari.]
[Baik Mba, saya setuju. Asalkan Mba Ani mau menjadi saksi bahwa saya tidak selingkuh dan wanita itu adalah Nita Mba, adik kandung saya,]
"Wah! ... Ternyata seperti itu kejadianya," batin Ani miris.
"Ternyata wanita itu adalah adik kandung Pak Surya sendiri. Bisa-bisanya si ular itu memfitnah Pak Surya selingkuh dengan adik kandungnya sendiri. Apa mereka tidak mengetahuinya?" gumam Ani.
"Dasar ular bisanya hanya membuat masalah dalam hidup orang lain saja, apa mereka tidak punya urusan atau ke sibukan sendiri hingga mencampuri urusan orang lain. Semoga di desa ini aku tidak menemui tetangga yang model begini, suka fitnah sana-sini padahal tidak tahu kebenaranya."
Ani terus saja menggerutu karna kesal membaca pesan Pak Surya.
Ting! ... Suara notifikasi pesan kembali masuk dalam ponsel Ani.
Ternyata Pak Surya kembali mengirim pesan padanya padahal pesan sebelumnya pun belum Ani balas. Sepertinya dia semangat sekali untuk melakukan misi ini.
[Bagaimana rencananya Mba Ani?]
Ani tersenyum sinis membaca pesan dari Pak Surya.
"Baiklah akan ku berikan rencana matang dan tentu saja akan membuat para ular merasakan sakit seperti yang sudah aku rasakan," ucap Ani senang.
[Baiklah baca baik-baik rencana dari saya Pak Surya,]
__ADS_1
Bersambung ....