
Area 21+
"Sayang, Mas pergi dulu ya. Kamu tunggulah di rumah Bapak," ucap Mas Andre.
"Iya Mas, pergilah. Aku tidak apa-apa menunggu di sini," jawabku.
Setelah Mas Andre pergi aku pun masuk ke dalam rumah bersama Bapak. Aku juga bicara banyak dengan Bapak tentang kabarku dan juga Mas Andre, hingga tanpa di minta Bapak menceritakan pertemuannya dengan Kang Jaka.
Bapak bilang waktu itu dua hari setelah kepergianku, Bapak pulang dari masjid bersama Kang Jaka. Melihat Bapak murung Kang Jaka pun bercerita bahwa Ani tidaklah hamil duluan, fitnah itu tersebar setelah Bu Dewi mendengarku muntah-muntah lalu menyebarkan rumor tentang aku yang tengah hamil.
"Sudahlah Pak, jangan di fikirkan lagi. Kalau benar Ani memang berzinah dengan Mas Andre dan hamil di luar nikah pasti sekarang Ani tengah mengandung Pak, tapi semua itu tidak benar, 'kan?" tanyaku.
Namun belum sempat Bapak menjawab ponselku terdengar berbunyi.
Ting! ....
Sebuah notifikasi pesan masuk dalam ponselku. "Pak Surya," gumamku.
[Mba Ani, saya sudah mendengar kabar tentang warga yang akan mencari anak Bu Sari, namun Mb Ani tenang saja karena saya sudah memindahkan anak itu dari gubuk yang ada di hutan menuju gubuk milik ibu saya, di sana pasti aman karena warga tidak akan mengiranya.]
[Saya senang Bapak bergerak cepat tapi Bapak harus berhati-hati dan terus awasi anak itu.]
[Tenang saja Mba Ani semua aman dan saya akan membuat anak itu segera hamil.]
Aku tersenyum senang melihat pesan Pak Surya, rupanya dia sudah tidak sabar menyentuh anak itu.
[Baiklah, silakan Bapak bersenang-senang,] balasku dan menutup ruang pesan.
"Ada apa Ani, apa suamimu memberi kabar?" tanya Bapak.
"Oh ... tidak Pak, ini hanya pesan dari temanku saja," jawabku santai dan melanjutkan mengobrol dengan Bapak.
POV Andre
Sekarang aku tengah duduk di rumah Pak RT, dia seolah segan bertemu denganku karena kejadian waktu itu, namun aku bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bagaimana Pak RT, saya harus mencari Ana ke mana lagi?" tanya Bu Sari.
"Sabar Bu, kita tunggu sampai sore hari, siapa tahu dia tengah main ke rumah temannya atau sedang belajar bersama," jawab Pak RT.
__ADS_1
"Tapi ponselnya tidak bisa di hubungi Pak, saya takut dia kenapa-kenapa."
Aku hanya diam saja melihat Bu Sari yang cemas memikirkan anaknya sebab memang betul apa yang di katakan Pak RT tentang kegiatan yang mungkin di lakukan anak Bu Sari.
"Sudah Bu, sebaiknya Ibu pulang dulu. Jika sampai sore Ana tidak pulang biar kami dan para warga yang akan mencarinya," ujarku.
"Iya Bu, apa yang dikatakan Pak Kades itu benar. Kita tunggu saja sampai sore hari."
Setelah sepakat akhirnya Bu Sari pun pulang ke rumahnya sedangkan aku akan pulang ke rumah Bapak untuk menjemput istriku.
Aku melajukan motorku dengan pelan melewati jalanan desa yang sepi, sebenarnya aku lelah dan ingin beristirahat sejenak di rumah dengan istri tercinta namun ada saja masalah yang terjadi di desa yang aku pimpin ini.
Saat sedang fokus mengemudi tak sengaja aku melihat Pak Surya membawa motor dengan sangat kencang tapi kenapa bajunya lusuh begitu seperti orang pulang dari kebun.
Mungkin saja memang dia dari kebun sebab ibunya memiliki kebun kopi yang luas di desa ini dan di sana juga terdapat gubuk panggung yang besar, tempat dimana ayahnya dulu berjaga agar tak ada maling yang mencuri hasil panennya.
Kini aku telah sampai di rumah Bapak mertuaku, aku sangat bersyukur akhirnya Bapak bisa tahu yang sebenarnya dan tidak menyalahkan kami lagi atas meninggalnya Ibu.
"Assalamu'alaikum" ucapku lalu masuk rumah.
"Walaikumusalam. Mas Andre sudah pulang?" tanya istriku.
"Apa sih Mas, nggak usah gombal bisa, 'kan?"
Gemas sekali melihatnya bicara begitu, apalagi kalau bibirnya sudah cemberut.
"Bukan gombal Sayang, Mas memang kangen," kataku mencubit pipi gemuknya.
"Aduh Mas, sakit tahu ... memang Mas nggak jadi mencari anak Bu Sari?" tanyanya sambil mengusap pipi.
"Nggak jadi Yang, kita akan tunggu sampai sore hari kalau belum pulang juga baru kita cari dia."
"Oh gitu ... ya sudah Mas, makan dulu ya aku ambikan. Mas, 'kan tidak jadi makan siang bareng tadi."
"Iya Sayang, tapi suapin ya ...," rengekku.
Dia pun hanya memutar bola matanya malas mendengar ku merenggek.
POV Surya
__ADS_1
Aku kembali lagi setelah mengambil makanan dari rumah Ibu untuk anak Bu Sari, aku harus pastikan dia baik-baik saja dan aku tidak perlu melukainya karna dia akan mengandung benih dariku.
"Makanlah makanan ini," ujarku menyuapinya.
"Siapa Bapak ini? Tolong lepaskan saya," rengeknya.
"Diam dan makanlah cepat kalau tidak aku akan membunuhmu sekarang juga."
"Apa salah saya Pak, kenapa Bapak menculik saya?"
"Kamu memang tidak salah, tapi Ibumulah yang sudah melakukan kesalahan dengan memfitnahku dan sekarang kamu yang akan menanggung karmanya! Ha-ha-ha" ucapku tertawa senang.
"Tolong Pak, jangan sakiti saya. Maafkan Ibu saya Pak ...."
Penutup mata anak itu terlihat basah, mungkin saja dia tengah menangis tapi aku takkan melepaskannya selain karna aku ingin membalas Sari aku juga ingin mencicipi benda berhaga anak ini sebagai ganti waktuku bersama Sarah yang sudah terbuang sia-sia.
Aku mulai menyentuh pundaknya dan mengusapnya pelan, untuk menghindari suaranya terdengar orang lain ku sumpal mulutnya menggunakan kain yang sudah aku siapkan.
Dia terlihat berontak tapi tenaganya takkan sebanding dengan kekuatanku.
Perlahan aku melucukiti pakaiannya hingga terbuka sempurna dan menyikap rok sekolah itu, semula dia ingin menendangku namun dengan sigap ku cekal kakinya dan mengikatnya di ke dua sisi ranjang hingga berbentuk seperti ayam yang siap di panggang.
Badannya sudah lemas dan tak bertenaga karena lelah memberontak. Aku tak menyangka ternyata kulitnya seputih kapas dan selembut bulu kelinci.
Rasanya sudah tidak sabar lagi untuk melakukan kegiatan itu bersamanya. Perlahan-lahan aku mulai melancarkan aksiku menerjang masuk ke dalam tempat yang selama ini sudah dia jaga untuk bisa merusak semuanya.
Dia terlihat menitikan air mata, tapi aku tak peduli aku terus melanjutkan kegiatanku terhadap dirinya.
Aku memperlakukannya sama seperti saat aku memperlakukan Sarah, semua yang membuatku senang aku lakukan dengan semangat.
"Em ... em ... em ...." Karna mulut yang tersumpal kain dia bahkan tidak mampu untuk merintih atau sekedar meminta pertolongan.
Argh! Sungguh kenikmatan tiada tara dapat melakukan kegiatan ini lagi setelah sekian hari aku tidur di rumah ibu.
Aku bangkit dari tempat tidur dan menyambar pakaianku serta mengenakannya dengan rapi.
Tak lupa aku pun membenahi pakaiannya sama dengan semula.
"Sebaiknya nanti malam aku membuangnya di pinggir jalan."
__ADS_1
Bersambung ....