
Uh! Rasanya membosankan sekali mendengar sekumpulan ibu-ibu menggosipkan masalah orang lain. Sudah lama aku mendengarkan pembicaraan mereka namun aku sama sekali belum mendapatkan informasi siapa orang yang sudah memfitnahku.
Hampir saja aku tertidur karna mendengarkan pembicaraan mereka yang tidak ada habisnya. Mungkin juga aku tidak akan mendapatkan informasi apapun karena mereka selalu bicara ke sana dan ke mari hingga tiada ujungnya.
Karna lelah dan letih akhirnya aku pun tertidur, tidak perduli lagi gosip apa yang mereka bicarakan. Lebih baik aku memikirkan masalahku sendiri dari pada mendengarkan gosip yang tidak penting.
*. *. *.
POV Dewi
"Ya sudah ya Bu, saya pulang dulu, " pamitku.
"Iya Bu Dewi, silakan."
Aku pun berlalu pulang ke rumah karna hari sudah sore. Aku sampai lelah membicarakan Pak Surya, suami Bu Sarah yang aku lihat tengah memboceng perempuan muda saat aku pulang dari warung kemarin namun karna aku banyak akal tak ku sia-siakan kesempatan itu untuk memotret dirinya.
Langkahku terhenti ketika dari jauh aku melihat Pak surya sedang menelfon seseorang di pingir jalan, dengan mengendap-endap aku pun berusaha mencuri dengar dari pembicaraannya.
"Iya sayang, nanti aku bawakan ya."
Pasti Pak Surya ini sedang bicara pada selingkuhanya, makanya dia melefon di pinggir jalan seperti ini. Dasar laki-laki hidung belang, sudah baik punya istri cantik seperti Bu Sarah, walaupun dia sedikit gendut tapi dia tetap cantik.
"Dah sayang, tunggu aku ya, aku pasti cepat pulang"
Nah, 'kan. Pak Surya pasti akan menemui selingkuhanya lagi, Pak Surya-Pak Surya, kamu kira tidak ada yang tahu kelakuan kamu ini, bahkan aku sudah pernah melihat selingkuhannya itu.
"Aku harus memberitahu Bu Sarah, biar dia tahu kelakuan suaminya ini, " batinku sambil tersenyum senang.
Namun karena terlalu serius tidak sengaja aku menginjak ranting pohon.
Klek ... Ranting itu menimbulkan bunyi hingga membuat Pak Surya menoleh ke arahku.
"Siapa di sana?" teriak Pak Surya lalu berjalan ke balik semak tempatku bersembunyi.
Astaga tamat sudah riwayatku kalau sampai ketahuan menguping pembicara'anya.
"Hei ... Jangan bersembunyi, keluar!"
Deg! jantungku terasa mau copot, aku takut sekali Pak Surya memergokiku, bisa-bisa aku di hajar olehnya.
Aku terus berfikir bagaimana caranya kabur dari sini agar Pak Surya tak menemukanku, mataku mencari-cari alat yang dapat aku gunakan untuk mengelabui Pak Surya.
Aku mengambil sebuah batu dan melemparnya ke belakang Pak Surya hingga dia mengalihkan pandangannya dari tempatku bersembunyi.
__ADS_1
Dengan cepat aku berlari menjauh darinya.
"Hei, siapa kamu jangan lari."
Tamat sudah riwayatku kali ini.
Aku berlari dengan kencang melewati jalan setapak di belakang rumah Bu Fitri, tidak memperdulikan Pak Surya yang terus berteriak memanggilku .Aku yakin pasti Pak Surya akan terus mengejarku jika aku lewat jalan raya, apalagi dia menggunakan motornya pasti dia akan cepat menangkapku.
"Huh ... Huh ... Syukurlah dia tak mengikutiku masuk jalan sempit ini, kalau tidak sudah habis aku di hajar dia karena ketahuan menguping," ucap ku sambil mengatur nafas yang terengah-engah. Mudah-mudahan dia tak mengenaliku.
*. *. *.
POV Ani
"Nduk ... bangun Nduk, ayo antarkan Ibu dulu, " teriak Ibu dari luar.
"Hm ... " jawabku.
Aku pun menggeliat dan terbangun dari tidurku, mataku melirik jam yang ada di dinding kamar. Ternyata sudah jam lima sore, seketika aku tersadar bahwa aku harus mengantarkan Ibu membeli sayuran ke rumah Kang Jaka.
Dengan tergesa aku bangun dari tidurku dan menyambar handuk yang menggantung di balik pintu. Aku harus segera mandi sebelum Ibu terus menggerutu.
"Nduk, kamu sudah bangun belum?" teriak Ibu.
"Cepetan Nduk, ini sudah sore, " seru Ibu.
Tanpa menjawab, aku langsung bergegas mandi dan bersiap-siap mengantarkan Ibu.
"Nduk ... Jangan lama-lama." Lagi-lagi suara Ibu menginstrupsiku.
"Iya Bu, Ani sudah selesai kok, " jawabku lalu keluar dari kamar.
"Lama banget sih Nduk, itu kerudungnya betulkan dulu."
"Maaf Bu, ya sudah ayo kita berangkat sekarang, " jawabku sambil membetulkan letak kerudung yang salah.
kami pun berlalu meninggalkan rumah dengan mengendarai sepeda motor Bapak menuju rumah Kang Jaka untuk membeli sayuran.
Sepanjang perjalanan ada saja mata yang memandangku aneh, seperti mengejek dan menertawakan aku. Entah salah apa diriku ini hingga orang dengan mudahnya percaya gosip murahan yang sudah mencoreng nama baikku.
Aku merasa orang-orang dengan sengaja menjauhiku, bahkan ada yang mengacuhkanku walaupun aku berusaha ramah dan menyapa mereka.
Sakit sekali di perlakukan seperti itu, aku sudah mencoba mengabaikanya, namun tetap saja terselib rasa tidak terima di hatiku karna telah di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
"Nduk jangan ngebut terus, itu rumahnya sudah dekat, " tegur Ibu.
"Eh-mm ... Iya Bu, " jawabku gugup karna baru saja tersadar dari lamunan.
"Ibu turun di sini saja Nduk, " ujar Ibu.
Aku pun memakirkan motorku di halaman depan rumah Kang Jaka dan segera turun menyusul Ibu yang sudah lebih dulu berlalu ke rumah Kang Jaka.
"Asalamualaikum Kang."
"Walaikumsalam Bu Endang, mau beli apa?" jawab Kang Jaka.
"saya mau beli kangkung ada?" tanya Ibu.
"Ada Bu, mau berapa kangkung nya?"
"Dua ikat ya, sama tempe nya lima."
"Iya Bu. Itu kenapa Mba Ani diam saja, lagi sakit Mba?" tanya Kang Jaka padaku.
"Saya tidak apa-apa Kang. Oh ya Kang, saya mau tanya sesuatu boleh?" ujarku
"Boleh Mba, silahkan mau tanya apa. Kalau saya tahu pasti saya jawab, " jawabnya sambil tersenyum.
"Kang Jaka tahu tidak siapa orang yang sudah fitnah Ani hamil duluan?" tanyaku.
Bukan tanpa sebab aku bertanya begitu pada Kang Jaka, karna aku tahu Kang Jaka dekat dengan ibu-ibu. Dialah pedagang sayur keliling di desaku dan dia juga pasti sudah mendengar kabar bahwa aku di gosip'kan hamil duluan.
Seketika Kang Jaka terdiam menatapku, seperti hendak mengatakan sesuatu namun dia ragu, wajahnya seolah menyiratkan kebingungan dan kebimbangan. Mulut Kang Jaka terkatup dan terbuka membuatku bingung apa sebenarnya yang ingin dia ucapkan.
"Iya Kang bilang saja kalau Kang Jaka tahu sesuatu, " sambung Ibu.
Kang Jaka masih terdiam, aku yakin pasti dia tahu sesuatu tentang gosip itu.
"Iya Bu, sebenarnya saya tahu siapa yang sudah membuat gosip itu, " ungkap Kang Jaka.
"Siapa Kang, katakan saja. Ani tidak akan kasih tahu siapa-siapa kalau Kang Jaka yang memberitahukannya, " jawabku meyakinkan Kang Jaka.
"Iya Kang, cepatlah katakan saja siapa orangnya," seru Ibu.
"Baik Bu, saya akan mengatakannya."
"Sebenarnya yang sudah memfitnah Mba Ani itu adalah-"
__ADS_1
Bersambung ....