Pembalasan Dendam Anindita

Pembalasan Dendam Anindita
Part 12


__ADS_3

[Baik Mba, saya akan membaca pesan Mba Ani dengan baik,] balas Pak Surya.


[Jadi begini Pak Surya, saya mau Bapak menculik anak gadis Bu Sari.]


[Loh ... Kenapa kita harus menculik anaknya Mba, Kenapa tidak Sari saja?]


[Lebih baik Bapak ikuti perintah saya jika Bapak ingin membalas dendam pada Sari, karna saya sudah menyiapkan rencana yang mengejut'kan dan sudah pasti akan menyakit'kan bagi Sari,] jawabku.


[Ya sudah kalau begitu, besok saya akan menjalankan perintah dari Mba Ani.]


[Bagus ... Nanti saya akan mengirim pesan pada Bapak di mana kita akan menyembunyikan anak si Sari itu,]


Aktifitas di ponselku pun berhenti karna Pak Surya hanya melihat tanpa membalas pesan dariku. Tapi tidak apa-apa, setidaknya aku sudah punya patner untuk menghancur'kan dua ular penyebar fitnah itu.


Aku yakin rencanaku pasti akan berhasil membuat Bu Sari tergoncang, karna yang aku tuju memang orang-orang yang dia sayangi dan tanpa dia sadari dia akan hancur dengan sendirinya.


Hari ini aku harus keluar mencari tempat persembunyian yang aman untuk anak Bu Sari. Lihat saja kau Sari, kamu akan merasakan apa yang sudah aku rasakan. Ini akan menjadi hukuman seumur hidup untukmu.


Aku keluar rumah menuju hutan yang ada di pinggir desa ini, dulu aku pernah masuk ke dalam hutan itu untuk mencari kayu bakar bersama Ibu. Hutan itu cukup jauh karna ada di perbatasan desa.


Saat itu aku pernah beristirahat bersama Ibu di sebuah gubuk kayu yang ada di dalam hutan itu dan aku berencana akan membawa anak Bu Sari ke sana. Aku yakin tempat itu akan aman karena jarang sekali orang masuk ke hutan itu.


Aku hampir sampai ke pinggiran hutan tapi karna lelah berlari aku putus'kan untuk istirahat sejenak. Sengaja aku berpura-pura olahraga agar tidak ada warga yang curiga saat melihatku ke arah perbatasan desa.


"Huh! Sebaiknya aku segera periksa gubuk itu, apakah masih bisa di gunakan atau tidak. Aku tidak mau jika sampai bertemu warga, pasti mereka akan curiga padaku," monologku.


Akhirnya aku pun masuk ke dalam hutan itu dan berjalan menyusuri jalan setapak yang dulu pernah aku lalui bersama Ibu.


Setelah sedikit lama aku berjalan akhirnya aku sudah melihat bangunan yang aku tuju. Ternyata gubuk itu masih kokoh berdiri hanya saja banyak rumput liar yang menutupi halaman depan gubuk hingga sebatas dada orang dewasa.


Tentu saja ini akan menguntung'kan bagiku karna gubuk ini akan sulit terlihat orang. Aku berjalan memasuki semak dan berhenti tepat di depan gubuk.


"Bagus'lah ... Aku yakin tempat ini akan aman untuk menyembunyikan anak Bu Sari," ucapku.


Setelah berkeliling dan masuk ke dalam gubuk akhirnya aku pun memotretnya dan mengirimkan foto itu pada Pak Surya.


[Kita akan sembunyikan anak itu di sini,] pesanku pada Pak Surya.

__ADS_1


[Baiklah, itu bisa di atur.]


Aku tersenyum miring menerima balasan dari Pak Surya, aku yakin dia pun akan senang jika tahu apa rencana yang sudah aku siapkan untuk anak Bu Sari.


Srek!


Srek!


Srek!


Terdengar suara dari luar gubuk. Aku yang panik segera bersembunyi di salah satu ruangan yang ada di gubuk ini.


Srek ....


Karna suara itu terus terdengar aku putuskan untuk mengintipnya dari balik tembok kayu gubuk ini. Aku sedikit bernafas lega karena itu hanyalah orang yang sedang mencari rumput untuk ternaknya.


Tak kehabisan akal aku pun membuat suara-suara agar dia takut dan segera pergih dari sini. Aku tak mau jika dia sampai tahu ada orang di gubuk ini.


"Hiks ... Hiks ... Tolong!"


"Tolong saya bang!"


"Siapa di sana?" teriaknya.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Saya Bang, saya ada di sini," ujarku menakutinya.


"Siapa kamu, jangan ganggu saya!"


"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Tolong saya Bang, saya lapar," ujarku sambil melempar batu ke arah lain.


"Se-setan ... Hua ... Jangan ganggu saya!" Jawabnya sambil berlari karna tak menemukan orang di sekitarnya.


Akhirnya kabur juga dia. Aman, sekarang tidak ada lagi orang yang akan mendekati gubuk ini. Huh! Dasar, kenapa dia penakut sekali andaikan tadi itu orang yang membutuh'kan pertolongan apa dia akan kabur juga?


Hari sudah semakin sore sebaiknya aku segera pulang sebelum Mas Andre pulang. Aku menoleh ke kanan dan kiri memeriksa ke adaan agar bisa tetap aman dan tidak di curiga orang.


Setibanya di jalan raya aku langsung berlari kecil seolah tengah berolah raga walaupun aku sudah kelelahan karena masuk ke hutan tadi.

__ADS_1


"Eh Mb Ani, dari mana Mba?" Sapa tetanggaku yang kebetulan lewat.


"Dari olah raga saja Bu, Bu Intan dari mana?"


"Oh gitu, saya dari kampung sebelah Mba. Katanya Bapak Mba Ani sakit, kenapa Mba Ani tidak menjenguk?" heran Bu Intan.


Astaga, jadi Bapak sakit. Bagaimana ini? sebenarnya aku ingin menjenguk Bapak tapi apa Bapak mau menerima kehadiranku, sedangkan Bapak saja masih marah padaku dan juga Mas Andre.


"Iya Bu, mungkin nanti sore saya akan kesana bersama Mas Andre. Ya sudah Bu, kalau gitu saya pulang dulu. Permisi," jawabku.


Aku kembali berlari kecil untuk pulang ke rumah namun fikiranku menjadi tidak fokus karna mendengar Bapak sedang sakit.


"Sayang!"


Hah? Itu seperti suara Mas Andre. Aku berhenti dan mencari sumber suara. Ternyata Mas Andre, mungkin dia baru pulang bekerja.


"Eh Mas Andre, kamu baru pulang Mas?" tanyaku basa-basi.


"Iya, kamu dari mana? Sudah ayo cepat naik motor saja biar cepat sampai rumah," perintah Mas Andre.


"Aku olahraga saja Mas."


Setelah menjawab aku pun bergegas naik motor bersama Mas Andre untuk pulang ke rumah.


"Kamu jangan sampai kelelahan Yang, Mas pengen kita cepat punya baby."


Astaga, apa-apa'an suamiku ini. Bisa-bisanya dia bilang begitu, padahal kami baru saja menikah tapi dia sudah ingin punya anak.


"Iya Mas, aku tidak akan kelelahan. Oh ya, apa bisa secepat itu Mas? Kita'kan baru saja menikah," heranku.


"Bisa dong, makanya kita harus berusaha terus Yang biar cepat di kasih he-he-he."


"Itu mah, maunya kamu Mas," ucapku sambil mencubit pingganya.


"Aduh sayang, sakit tahu ... Oh ya Yang tadi Mas ke rumah Bapak," ujar Mas Andre sambil menggenggam tanganku yang tadi mencubitnya.


"Bapak ingin bertemu kamu Yang,"

__ADS_1


Hah! Benarkah itu?


Bersambung ....


__ADS_2