
Aku pun mengarahkan pria itu untuk keluar dari hutan ini dengan tergesa-gesa. Semoga saja dia tidak curiga padaku.
"Maaf, Akang ini dari mana ya, kenapa bisa ada di hutan ini?" tanyaku
"Perkenalkan Pak, nama saya Edi. Saya hanya kebetulan lewat di desa ini dan mampir ke hutan untuk mencari tanaman obat karna itulah saya ada di hutan ini."
"Sayangnya saya tersesat dan tidak tahu arah pulang. Untung ada Bapak," sambungnya sambil menggaruk kepala.
Aku hanya mengangguk mendengar penuturannya. Jadi begitu, pantas saja aku tidak pernah melihatnya di desa ini. Dengan langkah cepat aku membawanya ke luar dari hutan agar dia bisa segera pergi dari sini.
"Nah Kang, ini jalannya. Akan pulang ke mana?" tanyaku saat kami tiba di luar hutan.
"Saya jauh Pak, masih 2 kilometer dari desa ini."
"Ya sudah Kang, tunggu saja sebentar di sini, nanti akan ada angkutan yang lewat," ujarku.
Aku pun menemaninya menunggu angkutan lewat hingga ada seorang tukang ojek yang menghampiri kami.
"Terimakasih Pak, kalau gitu saya jalan dulu," ujar Kang Edi.
"Iya sama-sama Kang," jawabku.
Akhirnya dia pergi juga, sekarang aku harus menghubungi Mba Ani untuk membicarakan langkah selanjutnya.
Tut! ... Tut! ... Tut! .... Suara ponselku terhubung dengan Mba Ani.
"Halo Pak Surya, ada apa?"
"Halo Mba Ani, saya sudah berhasil menjalankan rencana kita." ujarku.
"Wah ... berita yang sangat bagus sekali rupanya. Baik Pak Surya nanti akan saya beritahu langkah selanjutnya," ujarnya terdengar senang.
"Baik Mba, saya tunggu kabarnya."
Setelah itu telfon pun terputus karena dia bilang akan pergih ke rumah orang tuanya.
*. *. *. *.
POV Ani
Hari ini aku akan pergih ke rumah Bapak, aku sudah memasak makanan yang Bapak sukai, aku harap Bapak akan senang hati menerima makanan pemberianku.
Angin semilir meniup wajahku saat aku tengah duduk di teras rumah. Sambil termenung aku menunggu sang suami pulang bekerja.
Sengaja aku memintanya untuk tidak makan siang terlebih dahulu agar nanti kami bisa makan bersama di rumah Bapak.
Tadinya aku cemas karena menunggu kabar dari Pak Surya yang sedang melakukan misi untuk menculik anak Bu Sari.
Namun sekarang aku sudah lega karena dia berhasil melakukannya dengan baik.
__ADS_1
Aku akan memberitahu rencanaku pada Pak Surya saat ini juga, aku tidak tahu dia akan setuju atau tidak. Yang pasti aku tidak akan mau bersaksi jika dia tidak mengikuti rencanaku.
[Saya ingin Bapak menghamili anak Bu Sari,] pesanku pada Pak Surya.
Tak butuh waktu lama ponselku kembali berdering nyaring menerima pesan dari Pak Surya.
[Tapi Mba, apa ini tidak apa-apa?]
[Terserah Bapak, jika Bapak tidak mau melakukannya saya juga tidak akan mau bersaksi atas perselingkuhan Bapak. Apa Bapak ingin rumah tangga Bapak hancur?] Ancamku.
[Baiklah, saya akan melakukannya tapi saya minta Mba Ani tetap menjadi saksi saya.]
[Setuju. Malam ini Bapak harus membuat hamil anak itu dan tinggalkan dia di pinggir jalan!]
Pak Surya tidak membalas kembali pesan dariku. Terpaksa aku memaksanya begini, aku mau Bu Sari juga merasakan apa yang sudah ibuku rasakan, rasa sakit ketika mendapat cemooh dari para warga bahwa anak gadisnya hamil di luar nikah, kalau bisa sekalian saja dia mati karna serangan jantung. Pembalasan ini memang sangatlah pantas dia terima.
Saat tengah termenung telingaku mendengar suara kendaraan bermotor mendekati teras rumah, mataku menyisir sumber suara yang kian mendekat dan ternyata suamiku telah pulang dari bekerja.
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Walaikumusalam Mas."
Aku lalu bangkit dan mencium punggung tangganya serta mengambil alih tas jinjing yang dia bawa.
"Sudah menunggu dari tadi? Maaf ya, Mas lama."
Aku dan Mas Andre pun berlalu ke kamar karna dia akan berganti pakaian sedangkan aku menyimpan peralatan kerjanya.
"Sayang, apa tidak terjadi apa pun dengan perutmu?" tanya Mas Andre tiba-tiba dengan mengusap perutku dari belakang.
"Maksud Mas, apa? Perutku tidak kenapa-kenapa," jawabku.
"Jadi, kerja kerasku belum berhasil ya?" ujarnya lesu.
Ting! ... tiba-tiba ada lampu yang menyala di atas kepalaku, sekarang aku mengerti maksud dari perkataannya. Apakah dia ingin aku segera hamil?
"Sudahlah Mas, sabar saja jangan terburu-buru. Nanti juga di kasih," jawabku menenangkannya.
"Iya sudah deh, tapi sepertinya kita harus bekerja lebih keras lagi," ungkapnya lalu mencium leherku.
"Baiklah, itu bisa diatur. Tapi sekarang aku mau Mas bersiap-siap karna kita akan ke rumah Bapak."
Setelah meladeni gombalan demi gombalan sang suami akhirnya dia siap juga untuk pergi ke rumah Bapak.
"Siap Sayang? Lets go," seru Mas Andre.
Motor kami pun melaju membelah jalanan desa yang cukup sepi hingga memasuki desaku dulu.
Mata orang-orang tak lepas menatapku mungkin mereka heran, aku yang dulu di gosipkan hamil duluan justru sekarang tak terlihat perubahannya.
__ADS_1
"Itu, 'kan Ani? kata Bu Dewi dia hamil duluan. Kenapa hingga sekarang perutnya tak membesar?"
Tak sengaja aku mendengar suara ibu-ibu yang tengah berkerumun membicarakanku
"Oh, jadi benar dugaanku. Ternyata Bu Dewi lah orang yang selama ini menyebar fitnah itu," batinku.
"Sayang, ayo turun kita sudah sampai," ujar Mas Andre.
"Iya Mas, ayo."
Aku sempat berhenti sesaat menatap rumah yang dulu aku tempati, rasa rindu kembali hadir saat mengingat gurauanku bersama Ibu, saat dia memarahiku karna kenakalanku, saat Bapak mengajariku mengaji, serta kebersamaan kami dulu.
Namun nostalgiaku tak berlangsung lama ketika suara bariton yang ku rindukan kini menyapaku lagi.
"Ani ...," panggil Bapak dengan mata berkaca-kaca.
"Ba-Bapak?" ucapku memandangnya.
Air mata luruh membasahi wajah, walaupun tanpa suara hati ini seakan berkata bahwa aku rindu sosok pahlawan itu.
Bapak berjalan mendekat ke arahku dengan perlahan tangganya merentang seolah menyambut kedatanganku.
Dengan deraian air mata aku pun mendekap tubuh tuanya sambil terus terisak, aku rindu sekali pelukan ini. Pelukan dari pahlawan untuk seorang anak perempuannya.
"Maafkan Bapak, Ani," ucap Bapak dengan mengusap rambutku.
"Bapak sudah tahu yang sebenarnya dari Jaka," sambung Bapak.
Hatiku lega seolah batu besar yang menghimpit dada ini sudah di angkat seluruhnya, walaupun sakit itu tentu masih berbekas.
"Sudah Pak, Ani sudah memaafkan Bapak," ujarku.
Tak berselang lama suara dering ponsel Mas Andre berbunyi.
Ting! ....
"Maaf Pak, Andre permisi sebentar," pamit suamiku dengan wajah yang tegang setelah membaca pesan yang tertera di ponselnya.
"Ada apa Andre, kamu mau ke mana?"
"Saya mau ke rumah Pak RT, saya dapat pesan kalau Bu Sari tengah kebingungan mencari anaknya yang tidak kunjung pulang."
Seketika aku dan Bapak pun saling berpandangan, aku fikir akan lebih baik jika rencanaku segera di jalankan.
Aku tidak mau rencanaku gagal, aku harus memberi tahu Pak Surya agar menjalankan tugasnya secepat mungkin.
"Pergilah Mas ...."
Bersambung ....
__ADS_1