
Tiba - tiba gua teringat lagu yang menurut gua mewakili perasaan gua ke Tata.
Gua mulai mainin lagi gitarnya dan mulai nyanyi.
Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti hidupmu
Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu
Untuk itu 'kan kupersembahkan, Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku, di aku, dan kamu
Pasti kan kau melihat aku
Saat ku gapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi sekarang
Kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi bayangkan aku
Untuk itu 'kan kupersembahkan, Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku, di aku, dan kamu
Pasti kan kau melihat aku
Saat ku gapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
__ADS_1
Maliq D'essentials - Himalaya
Tata yang berada di sebelah gua tersenyum hangat setelah lagu itu gua selesaiin gua coba senyum ke arahnya
dia mendekatkan tubuhnya ke gua
"Mulai malam ini akan ku bayangkan" Bisiknya ke telinga gua, gua langsung natap matanya, 'Indah' Satu kata buat mata nya.
"Hmm hmm Bakalan jadi ini" Celetuk Indra pada kami berdua
"Apaan sih lu Ndra" Ucap gua acuh padahal gua sedang menetralkan kegugupan gua karena perbuatan tata dan karena pandangan matanya.
Setelahnya Indra mengambil alih gitar dari tangan gua
"Udah elu anteng aja, biar gua yang mainin gitarnya buat kalian malam ini" Goda Indra lagi padaku dan Tata.
"Bisa Lu?" Tanya Tata sepele
"Jangankan Himalaya kak, Sekarang ke Kutub Utara juga gua ayokin dah kalo elu mau mah Hahaha" Goda Indra lagi pada Tata
Dimas tertawa renyah di sebelah gua.
"Hati - hati senior pindah hati" Bisik Indra.
"Apaan sih elo" Gua sikut pelan perut Dimas
Indra tertawa bahagia, gua tebak Indra dan Dimas gak tau tentang perasaan gua ke Tata, mereka pasti mau godain gua karena acara makan malam romantis tadi.
"Yakin elu gak mau, biar gua aja" Bisik Dimas lagi.
Gua hanya memicingkan mata ke Dimas, "Sial" Bathin gua
Gua jalan ke dapur umum untuk minta air panas dan pinjam gelas, namun sialnya hanya ada 1 cangkir besar dan 2 gelas kecil, gua buat kopi Instan yang gua bawa dari kos - kosan kemarin,
Gua berjalan balik ke tenda untuk membawakan kopinya
"Sorry guys gelasnya sisa 2" Gua bilang ke Dimas dan Indra
Peka terhadap situasi Dimas bangun langsung berjalan kearah Tata
"Kak elu bangun, gua disebelah Indra, noh elu disebelah si yayang" Dimas lagi - lagi menggoda gua dan Tata.
"Yah udah PW gua, elu aja noh yang pindah" Tata menyuruh Indra bangun.
"Sini lu, jangan gangguin emak sama bapak lagi kasmaran" Ajak Indra pada Dimas yang langsung berpindah mengisi tempat gua duduk tadi. Posisi sekarang Tata, gua, Indra dan di ujung ada Dimas, sebenarnya posisinya sedikit melingkar, karena api unggun ada di tengah kami.
"Silakan papa, mama udah haus" Jahil Dimas lagi membungkukkan badannya seolah memberi penghormatan kepada tuannya.
"Sial" Bathin gua
Tata tersenyum sangat bahkan semakin manis, gua luluh, gua kalah. Gua akui Tata malam ini buat hati gua bergetar hebat di sebelahnya.
Gua tuang kopi ke dalam kedua gelas yang gua bawa tadi. satunya gua kasih ke Tata, satunya lagi gua pegang.
"Pinter bener elu, sengaja bawa dua kan ya, biar gua bareng Indra elu bareng mama" Lagi - lagi entah keberapa kali Dimas malam ini buat gua mati kutu di hadapan Tata.
"Dih buat apa, noh di dapur kagak ada gelas lagi, ini juga modal gua cuci dulu ya" Gua membela diri sendiri.
"Ya gua bareng elu jugalah, biasanya juga kita segelas bertiga, kenapa? tiba - tiba alergi lu pada sama gua ha?"
__ADS_1
Padahal gua seneng kalo temen gua pengertian yak.
"Dih sensitif dia" Ejek Indra padaku
"Cih" Desis gua entah didengar atau gak di telinga Tata.
"Gua sih gak punya penyakit menular ya, bareng gua juga gak apa - apa kok, biar bagi dua aja" Jawab Tata menengahi. " Lagian di kondisi gini, noh yang lain juga pada kumpul - kumpul ya pasti abis lah gelasnya, gua juga bawanya gak banyak kok, gua kan seksi peralatan" Jelas Tata kembali kepada kami.
"Makasih Jo, kopinya enak" Tata tersenyum seraya mengatakan itu.
"Ya enaklah buatnya juga pake cinta ini kak" Indra menyela di tengah kami bertatapan.
Gua coba normalin detak jantung gua, rasanya kalo gak ada Dimas dan Indra, pingin aja gua genggam tangan Tata malam ini.
Dimas POV End
Tes..
Lagi, entah yang sudah ke berapa kali Jojo mengeluarkan air matanya setibanya Jojo di ruang rawat inap Tata.
Jojo genggam tangan Tata, seraya merapalkan doa, "aku mempercayai Tata ku akan sembuh, Tata ku akan pulih." Bathin Jojo
"Jo, makan dulu nak ini bunda udah bawa makan siang"
Bunda menepuk bahuku lembut.
Aku melepaskan tanganku dari tangan Tata.
Bunda sudah dua hari ini pulang ke rumah, tiap malam Jojo yang sekarang menemani Tata, syukurnya keluarga Tata sangat mempercayai Jojo.
Terkadang Jo di temani ayah, terkadang bang Malik, namun lebih sering oleh bang Erlan.
"Makasih bunda, bunda udah makan?" tanya Jojo ke bunda
"Udah Jo, kamu makan di ruangan sebelah dulu ya nak, bunda mau panggil perawat mau gantiin bajunya Tata" Ucap bunda kemudian.
Dibalas anggukan oleh Jojo ke bunda. Jojo beranjak ke kamar sebelah tempat biasa siapapun yang menjaga Tata untuk istirahat.
Sekitar 45 menit Jojo di kamar sebelah, tak lama bunda datang menghampiri Jojo
"Jo bunda mau tanya, tapi jangan di masukkan ke dalam hati ya" Ucap bunda pelan
"Silakan bunda" jawab Jojo.
"Kamu yakin mau nungguin Tata disini, bunda tau kamu ninggalin pekerjaanmu di sana, udah 4 hari kamu gak kerja Jo." Tanya bunda hati - hati kepada Jojo
"Jo ambil libur seminggu bun, buat nemenin Tata, miris ya bun jadi Jo, saat Tata sehat Jo gak di sebelahnya, saat gini Tata gak berdaya Jo malah sibuk menemaninya, maaf Jo egois bun" Jojo menunduk menahan air matanya.
"Jo kamu di sana kerja, bunda gak bisa paksa kamu buat terus di samping anak bunda, tapi bunda bersyukur kamulah yang menjadi pasangan Tata saat ini, bahkan didalam keadaan seperti ini kamu masih mau menjaga Tata, bunda berterima kasih Jo sama kamu"
Bunda memegang tangan kanan Jojo, dan tangan kirinya mengusap bahu Jojo.
Sungguh perlakuan bunda yang seperti ini membuat Jojo merasa dihargai, Jojo merasa di perlukan saat ini.
Tak bisa lagi Jojo menahan air matanya, Jojo menangis di depan bunda, biarkan lah bunda jika menganggap Jojo cengeng.
"Hey, jangan sedih" Bunda bahkan memeluk Jojo dengan sayang dan mengusap bahu Jojo
"Maaf bunda" Hanya itu yang mampu Jojo ucapkan pada bunda
__ADS_1