Penantian Kita

Penantian Kita
Lima


__ADS_3

Malam ini semua terasa berat bagi ayah dan Sasa, dimana kedua orang tersayang mereka masih belum sadar.


Ayah yang hanya berdiam diri sembari membaringkan badannya di sofa hanya mampu menangis dalam diam, ujian di keluarga saat ini sungguh berat bagi ayah.


Tak berapa lama terasa gerakan di tangan Sasa.


"Bunda udah sadar, bunda apanya yang sakit bun?" Tanya Sasa


Ayah yang mendengar bunda sadar langsung berdiri dan menghampiri bunda.


"Kamu udah sadar bun, apanya yang sakit, perlu ayah panggilkan dokter?" Tanya ayah cemas.


"Tata yah, Tata gimana?" Hal pertama di dalam benak bunda adalah anaknya.


"Tata belum sadar bun, besok pagi baru bisa kita lihat, bunda makan dulu ya, tadi Sasa bawa makan malam biat kita, ayah sengaja tunggu bunda, ayok kita makan dulu bun." Ajak ayah yang saat ini ingin istrinya tetap kuat disampingnya.


"Bunda gak lapar yah, bunda mau lihat Tata dulu, baru bunda bisa tenang" Jawab bunda.


"Sasa udah bawain dari rumah lho ini, kalau gak dimakan kasian Sasa nya, makan dikit aja ya bun, kalau bunda gak makan, gimana mau kuat jenguk Tata besok" Bujuk ayah


"Yaudah bunda makan, ayah juga makan ya, ayah belum makan juga kan?" Tanya bunda


"Iya ayah juga makan" Final ayah.


Sasa yang melihat cara ayah membujuk bunda sangat tersanjung, sebab tidak ada lelaki yang mampu berdiri seimbang jika belahan jiwanya terkena masalah dan sakit.


Sasa menyiapkan makan malam ayah dan bunda, sementara ayah makan sendiri, Sasa langsung menyuapi bunda. Namun bunda tak menghabiskan makanannya dan ayah tidak melarang,sebab saat ini bunda juga sudah di Infus, setidaknya malam ini bunda akan dapat sedikit tenaga dari cairan itu.


"Bunda istirahat saja, nanti Sasa minta ke perawatnya buat tambah bad disini untuk ayah, Sasa bisa di sofa, Sasa keluar dulu ya bun" Izin Sasa ke Bunda.


"Iya nak, kamu juga istirahat ya" Jawab bunda


Sasa menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan itu untuk menemui perawat yang berjaga.


Seorang perawat masuk kedalam membawa brankar 1 lagi di letakkan di sebelah brankar bunda.


"Ayah istirahat disini aja, biar Sasa di Sofa" Bujuk Sasa ke ayahnya.


"Enggak kak, kamu aja di situ biar ayah disini, badanmu bisa sakit besok pagi jika disini." Final ayah.

__ADS_1


"Baiklah yah, kalau perlu sesuatu jangan sungkan bangunkan Sasa ya yah" Balas Sasa.


Ayah mengangguk dan tersenyum ke putrinya tersebut.


🌫️🌫️🌫️🌫️🌫️🌫️


Cahaya yang tembus dari balik tirai rumah sakit membangunkan Bunda yang saat itu tangannya masih di infus. Bunda melihat sekelilingnya dan langsung ingat bahwa mereka di Rumah Sakit.


Perlahan bunda turun dari brankar seraya mengangkat infusnya berjalan ke arah ayah.


"Yah bangun, udah pagi, Tata gimana pagi ini kira - kira?"


tanya bunda.


Ayah melihat bunda yang turun dari brankar langsung duduk dan mengajak bunda duduk di sebelahnya.


"Kenapa bangun sendiri bukan bangunin ayah bun?" Tanya ayah yang mengambil alih infus dari tangan bunda.


"Udah enakkan yah, ini juga sepertinya udah bisa di lepas" jawab bunda menunjukkan tangannya yang terinfus pada ayah.


"Bunda balik dulu ke sana biar ayah panggilkan perawat buat cabut ini ya" ayah menunjuk brankar yang digunakan bunda tadi malam.


Ayah menuju kamar mandi guna bebersih diri setelahnya ayah menuju brankar Sasa.


"Nak, Sasa bangun sayang"


"Eh maaf ayah, Sasa terlalu lelap." Jawab Sasa


"Tak apa sayang, ini ayah mau ke depan panggil perawat buat tanya keadaan bunda, bunda udah pingin lepas infusnya" jawab ayah.


"Baik ayah, Sasa jaga bunda disini."


Ayah berlalu keluar ruangan menuju ke ruangan perawat


tak berapa lama ayah masuk lagi di ikuti dokter jaga dan juga perawat


"Bagaimana perasaan ibu, udah enakkan atau masih ada keluhan pagi ini" Dokter bertanya sembari melihat keadaan bunda dan infusnya.


"Sudah enakkan dokter, saya merasa jauh lebih bertenaga dari semalam, apakah bisa infusnya di lepas saja dok, saya merasa sudah lebih kuat sekarang " Jawab bunda

__ADS_1


Dokter tersenyum dan memberi kode kepada perawat agar melepaskan infus yang ada di tangan bunda.


"Baiklah bu, jaga kesehatannya ya, saya tinggal, semoga ibu semakin membaik dan putri ibu lekas pulih" Doa dari dokter.


"Terima kasih dokter, atas perhatiannya. Oia dok, kira - kira jam berapa hasil observasi putri saya keluar dokter?" Tanya ayah mewakili bunda.


"Kita tunggu dokter spesialis nya dulu ya pak, untuk menjelaskan, karena bukan di bawah wewenang saya untuk menjelaskan dan memberi jawaban kepada bapak, maaf sebelumnya pak" Sopan dokter


"Tidak apa - apa dok, saya mengerti, sekali lagi terima kasih dokter" Final ayah.


Dokter itupun berlalu meninggalkan ruangan bunda. Bunda yang masih belum tenang karena keadaan Tata mendesak ayah agar menelepon Dokternya, namun ayah berfikir lain, ayah berusaha meyakinkan bunda jika saat ini Tata memang butuh lebih banyak penanganan dari dokter untuk pemulihannya.


******


Sekitar jam 8 pagi ayah dan bunda serta Sasa sudah berdiri di depan Ruang ICU, menunggu dokter yang baru masuk untuk melihat keadaan Tata pagi ini, setelah kemarin sore di Operasi.


45 menit mereka menunggu dokter keluar dan mengajak ayah untuk berbicara ke ruangannya


"Silakan duduk pak, biar saya jelaskan keadaan putri bapak saat ini" Dokter mempersilakan ayah duduk di kursi tamu yang ada di depan meja kerjanya.


Ayah menunggu dokter yang akan berucap dengan was - was takut terjadi di luar ekspektasinya tentang keadaan Tata.


"Benturan yang terjadi di kepala putri bapak sangat rentan, kami sudah berhasil mengoperasinya kemarin, namun sampai saat ini tidak ada tanda - tanda putri bapak akan siuman, jika melihat prediksi kami seharusnya tadi sekitar jam 5 atau jam 6 subuh efek dari obat biusnya sudah habis, namun tak kunjung putri bapak menunjukkan kesadarannya, kami tim dokter berpendapat bahwa saat ini putri bapak mengalami koma. Kami belum bisa memastikan kapan dia akan bangun dari komanya, namun selaku dokter kami akan usahakan yang terbaik untuk pengobatannya." Ucap dokter perlahan takut mempengaruhi emosi Ayah


Namun Ayah hanya dapat diam mencerna setiap kata - kata yang keluar dari mulut dokter tersebut.


"Selanjutnya pasien bisa di pindahkan keruangan inap biasa, jika pihak keluarga ingin lebih leluasa menjenguk dan memperhatikan pasien. Dan kami pun berharap dukungan dari keluarga saat ini agar pemulihan pasien lebih efektif, biarpun beliau dalam keadaan Koma, tapi pendengarannya tetap aktif, jadi kami mohon agar memberikan dorongan yang positif guna membuat pasien ada semangat dalam penyembuhan ini."


"Baik dokter lakukan yang terbaik untuk putri saya, kami juga akan berusaha memberikan dukungan padanya agar dia memiliki semangat untuk hidup dan sehat kembali seperti semula. Terima kasih banyak dokter" Ayah mengulurkan tangannya ke arah dokter untuk bersalaman.


"Sudah tugas kami pak untuk menolong pasien" Dokter pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ayah.


"Pindahkan keruangan Istri saya saja ya dok, Terima kasih sekali lagi" Ayah bangun dari duduknya dan pergi dari ruangan dokter.


******


"Apa kata dokternya yah, gimana keadaan Tata saat ini?" Tanya bunda khawatir


" Tata koma bun saat ini, selanjutnya tata akan di pindahkan keruangan bunda tadi malam, agar kita dapat leluasa menjaga Tata, doakan putri kita bun, bunda juga jaga kesehatan, ayah gak mau bunda seperti tadi malam, kita harus kuat demi putri kita" Bujuk ayah kepada bunda yang sudah mengeluarkan air mata pilu sebab mendapatkan kabar bahwa Tata koma saat ini.

__ADS_1


"Iya yah, bunda janji bunda akan sehat dan kuat demi Tata" Isak tangis bunda semakin mengiris hati ayah, bunda berusaha tegar walau bunda tak mampu melakukan itu.


__ADS_2