Penantian Kita

Penantian Kita
Lima Belas


__ADS_3

Tata dan Keluarganya telah sampai di pekarangan rumah.


Sasa membantu Tata berdiri dan menopang badannya keluar dari dalam mobil, perlahan Tata berjalan ke Teras rumah.


Saat telah sampai di Teras rumah, bunda mendahului mereka hendak menekan bel rumah, belum sempat bunda menekan pintu sudah terbuka. Di sana sudah ada Bang Erlan, bang Malik, Ante Niah, Kak Ratu yang sedang berbadan dua dan bang Fredy serta ada tambahan perempuan yang sedang menggendong bayi. Jangan lupakan kedua bocah anak Kak Sasa dan ada tambahan 3 bocah lagi.


"Selamat datang si rumah sayang." sambut ante Niah kepada Tata.


"Ante, makasih ante mau kesini nyambut Tata" Tata jalan perlahan di bantu Sasa untuk memeluk ante nya. "Om Roy mana Ante?" Sambung Tata.


Mereka semua diam, karena Om Roy Selaku adik kandung Ayah sudah duluan meninggalkan mereka 2 tahun yang lalu, kecelakaan pesawat saat hendak pulang dari perjalanan bisnis. Sampai sekarang Jasad om Roy belum di temukan.


"Ante Eyang Kakung kan udah sama Allah, kenapa ante tanya eyang Kakung?" Dyta anak sulung Ratu yang menjawab.


"Kata eyang Putri, Allah lebih sayang eyang Kakung, makanya Allah mau eyang Kakung bersama Allah" Sambung Dyta.


"Opa juga bilang, kalau kak Dyta bang Delon, sama Reno rindu eyang, Dyta boleh ajak Opa ke rumah baru Eyang, ante rindu Eyang? biar kita ke rumah baru eyang aja Ante" Seru Reno anak sulung bang Malik.


Tata terdiam, lidahnya kelu, kenapa dia melupakan ini. Orang terpenting di hidupnya selain Ayah adalah om Roy, yang selalu bisa menjadi pengganti sang ayah saat Tata dalam kesusahan, dan tak pernah mengeluh akan kejahilan Tata.


Tata diam, namun tiba - tiba, dia seperti mengingat sesuatu yang samar - samar. kepala Tata berdenyut, pandangannya hitam, tak sanggup Tata menopang badannya dia pun terjatuh tak sadarkan diri.


Tata!!!


Seru semua orang yang melihat Tata terjatuh di lantai, bahkan Sasa juga ikut jatuh, karena Tak siap menahan berat badan Tata yang langsung jatuh di lantai.


Malik yang melihat tata terjatuh langsung cekatan dan berteriak kepada Erlan untuk membuka kamar tamu yang ada di bawah, Malik mengangkat badan Tata dengan khawatir, takut terjadi sesuatu yang parah pada Tata.


Ayah menghubungi dokter dan mengabari kondisi Tata, Dokter mengatakan agar tak memaksa Tata mengingat sesuatu dulu dalam waktu dekat ini.


Karena jika sering Tata tak sadarkan diri akan berpengaruh pada kondisi Tata juga.


30 menit berlalu.

__ADS_1


Tata saat ini masih belum sadarkan diri, dia di temani oleh Ratu dan juga Naya.


Sebab saat di Rumah sakit hanya mereka berdua yang jarang menjenguk Tata, sebab Ratu sedang hamil Tua, dan Naya memiliki bayi, jadi sangat rentan untuk di bawa.


"Kak, gua juga dapat kabar, kalo Tata lupa sama Jojo kak, padahal kita tau kan gimana Tata sama Jojo selama ini" Naya memulai percakapan.


"Lu serius Nay? Kasian banget si Jojo, gak kebayang gua, kalo di posisi Jojo saat ini." Ratu menjawab pernyataan Naya.


"Iya kak, bahkan di depan Jojo, Naya nyariin si Hakim lagi, kebayang gak lu kak gimana jadi Jojo?" Naya menjelaskan lagi kepada Ratu.


"Moga aja si Jojo paham dan sabar ya ngadapi Tata. Tapi gua yakin sih, kalo Jojo bakalan tetap kasih support ke Tata, secara ngelihat perilaku Jojo ke Tata selama ini yakin gua, Jojo bukan mau cari kesempatan doang ke Tata." Sambung Naya.


"Iya sih" Ratu membenarkan.


"Esshhh" Tata menggerakkan badannya.


"Dek gimana?, lu mau apa? mau minum gak" tanya Naya.


" Eh em enggak kak, makasih" Jawab Tata ragu, karena dia merasa asing dengan Naya.


"Diluar mereka lagi ngobrol, lu mau apa? biar di ambilin Naya?"


"Naya?" Beo Tata lagi


"Gua Naya dek, istri abang lu, Malik." Naya memperkenalkan dirinya


"Eh iya kak, sorry ya gua sedikit lupa"


Naya mendekati Tata, memeluk dengan hangat.


"Gapapa Ta, gua paham kok, pasti lu kesusahan ya, merasa aneh dengan gua, gua dulunya kakak senior lu di kampus, Elu juga kok yang jodohin gua ke Malik, kita dekat waktu elu mau PKL Ta, dosen pembimbing Skripsi gua dosen Pembimbing akademik Elu, makanya kita deket."


Naya sedikit bercerita agar Tata tak merasa asing padanya.

__ADS_1


"Udah nanti lagi kita ceritanya sekarang lu mau apa bilang ke gua Ta" Desak Naya lagi.


"Yang lain pada kumpul di ruang keluarga, mau gabung sana gak dek?" Tanya Ratu


"Boleh deh kak" Tata diam " Bisa bantu papah gua gak kak?" Tata bertanya ke Naya.


"Bisa lah, asal jangan minta gendong aja Lu sama gua Ta, gak kuat gua" Canda Naya yang langsung dapat toyoran di keningnya dari Ratu.


"Canda aja lu saroh" Celetuk Ratu yang membuat Naya dan Tata tertawa.


"Kak lu bawa drumband kah? Gede amat tu perut, hati - hati lu jalan ntar brojol di sini siapa yang susah kan elu ya" Kini giliran Tata yang mendapat toyoran dari Ratu.


"Anak gua ini, enak aja di kira gua mau tujuh belasan"


Kembali terdengar suara tertawa dari kamar, yang membuat Sasa menghampiri mereka bertiga.


"Udah sadar lu dek, kira - kira dong kalo mau pingsan, biar gua siap sedia gitu, ni kagak main timpa aja lu, untung gua kuat" Sasa nyerocos melihat Naya sedang memapah Tata saat ini.


"Ni lagi Speaker mesjid, tiba - tiba ngomong pake tenaga penuh, kalo gua jantungan terus brojol disini siapa yang kasian? anak gua kan?" Ratu menyahuti Sasa.


"Anak lu mah tau diri dan tempat kak, mana mau dia lahir saat suasana gini, anak lu kan pemilih kayak emaknya, harus ber AC dan empuk nah baru dia brojol." Balas Sasa.


"Lagian dari cebong udah jadi sultan dia mah, ni cebong aja Made in Jerman ya" Sahut Tata kembali. seraya tangannya mengusap perut Ratu.


"Bisa gitu Made In Jerman?" Bukan Made in Toilet ini kan?" Celetuk Naya yang membuat Ratu, Sasa dan Juga Tata tertawa.


" Iya ya, anak gua jadi di sebelah mana ini, Takut gua lagi di dapur, Apes gua, cuma menang negaranya aja Jerman, tempatnya mah cuma si cebong yang tau" Seru Ratu yang membuat mereka berempat menjadi tertawa meriah.


"Mesum lu pada" Sahut Tata.


"Makanya nikah, biar lu tau gimana enaknya" Sungut Naya.


"Denger Ta, Nasihat ini! keburu pabrik lu tutup ntar, gak bisa beroperasi lagi, nyahok lu" Sahut Sasa membenarkan perkataan Naya.

__ADS_1


Tata tertawa lirih, apa - apaan saudarinya ini bicara asal bunyi doang, kan Tata pingin yaak!! Eh?


__ADS_2