
Setelah ayah mengurus administrasi perawatan Tata, ayah mengajak bunda untuk melihat kamar yang di tempati Tata, namun tak disangka Tata malah di tempatkan di Ruang ICU, bunda yang melihat ruangan Tata kembali menangis.
"Seberapa parah yah anak kita, kenapa ICU?"
Bunda bertanya lirih dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Bunda, Tata saat ini masih di observasi bun, Tata juga belum sadar, tadi dokter beritahu ayah, Tata untuk sementara harus di ICU, sebab Tata belum bisa dikatakan normal, kita harus sabar bun, harus percaya putri kita kuat."
Bunda tak mampu berucap lagi, bunda luruh ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Bun, bunda, sayang bangun bun"
Ayah yang melihat perawat langsung meminta pertolongan untuk bunda agar di bawa keruangan.
Ayah menyewa 1 kamar buat bunda istirahat malam ini, bunda juga harus di berikan infus sebab bunda dehidrasi karena kebanyakan menangis dari sore tadi.
Setelah dapat kabar Tata selesai di operasi Sasa yang saat itu sedang beberes di rumah langsung menuju rumah sakit tempat Tata di rawat, Sasa datang bersama suaminya, anaknya di titipkan di rumah bersama bik Jum dan bik Yanti.
Saat masuk ruangan Sasa heran, karena yang di brankar tertidur dengan infus adalah bunda.
"Bunda kenapa ayah? Tata mana?"
Tanya Sasa ke ayah yang saat itu tengah menggenggam tangan bunda.
"Bunda pingsan kak, Tata saat ini masih di ICU masih belum sadarkan diri, dan dokter masih mengobservasi Tata sampai besok pagi, besok mungkin kita baru bisa jenguk Tata, kamu udah makan kak?"
Ah ayah, dalam keadaan seperti ini pun masih sempat menanyakan keadaan orang di sekitarnya, betapa bahagianya anak dan istri ayah memiliki suami dan ayah yang sangat pengertian dan perhatian.
"Sudah yah, ayah sama bunda udah makan?" Tanya Sasa kembali
"Adik kamu belum sadar, bunda juga belum sadar, mana sempat ayah mikirin diri ayah nak, kalian lah yang terpenting bagi ayah saat ini dan selamanya" jawab ayah yang tersenyum teduh ke Sasa.
"Sini yah, Tata bawa makan malam dari rumah tadi, ayah makan dulu, biar Sasa yang gantian jaga bunda" Sasa menarik tangan ayah dan mendudukkan ayah di sofa.
"Ayah rasa saat ini makanan itu juga hambar sayang, biar ayah tunggu bunda kamu aja ya kak, suamimu mana?"
tanya ayah yang dari tadi tidak melihat menantunya.
"Mas Erlan masih di parkiran tadi yah, parkiran penuh. jadi Sasa duluan kesini mas Erlan nyusul yah. Ya udah ayah baring aja di sofa biar Sasa dan mas Erlan yang tungguin Bunda" Jawab Sasa.
"Terima kasih kak" Ayah membaringkan badannya dan menutup matanya, namun tak kunjung tidur malah bayangan Tata yang berputar di kepalanya.
Flashback On
__ADS_1
*Saat Tata TK
"Dek, kalau udah besar mau jadi apa?" Tanya ayah saat Tata TK.
"Hmm Tata mau jadi seperti mang Dito ayah!" jawab Tata serius.
" Kenapa mang Dito?" Tanya ayah.
"Karena mang Dito selalu bersama ayah, Tata juga kalau besar mau selalu di samping ayah, biar bisa jaga ayah" Jawab Tata lucu dan serius.
Ayah langsung menciumi wajah Tata saat itu.
*Saat Tata SMP
"Dek, kamu udah pacaran ya?"
Tanya ayah usil.
"Adek gak pacaran ayah, kalau adek pacaran adek mau pacaran sama ayah aja, ayah selalu jaga bunda, adek dan kak Sasa, jadi adek pacaran sama ayah aja, boleh?"
"Kalau adek pacaran sama ayah, bunda cemburu lho, nanti bunda gak mau masak pisang keju buat adek lagi, gimana?" Tanya ayah kembali seraya tersenyum
"Yaah!! kok gitu?. yaudah ayah sama bunda aja, tapi bilangin bunda buat tetap masakin pisang keju untuk Tata ya ayah."
Ayah yang gemes langsung menciumi wajah Tata dan mengusap rambutnya dengan sayang
"Ayah.. yah... Ganteng gak?"
Tata menunjukkan pacarnya ke ayah
"Bun, sini dulu" ayah yang memegang ponsel Tata seraya memanggil bunda.
"Iya yah, kenapa?" Tanya bunda yang masih memakai apron memasak
"Ganteng gak?" Tanya ayah sembari menunjukkan Foto di ponsel Tata
"Bolehlah, tapi jauh gantengan suami bunda kok" Jawab bunda.
"Diih apaan, udah tua juga, ganteng pacar Tata lagi, Upss"
Tata nyengir karena keceplosan soal pacar ke ayah dan bunda
"Ooh anak ayah udah besar rupanya, udah siap nikah dia bun, bentar lagi punya cucu kita" Usil ayah ke Tata.
__ADS_1
Bunda hanya tersenyum simpul ke suami dan anaknya.
"Eh enggak bun, ayah, cuma temen kok, lagian siapa yang mau nikah, Tata masih mau kuliah, mau kerja mau buatin rumah untuk ayah dan bunda kok" Tata menjawab dengan mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha Ayah kirain mau nikah dek" ayah tertawa lepas melihat respon putrinya. "Boleh kok kamu pacaran, tapi pacaran sehat ya, gak ada cerita keluar malam, ayah masih bertanggung jawab sama kamu, kalau kamu melakukan kesalahan yang malu bukan cuma kamu, tapi ayah, bunda dan kak Sasa juga malu, jadi tolong jaga marwah kamu ya nak, karena perempuan baik adalah yang mampu menjaga marwah dirinya dan juga keluarganya."
"Baik ayah, Tata akan jaga nama baik Tata dan juga nama baik keluarga. Aah Tata sayang ayah" Tata menghambur kepelukan ayahnya.
"Ayah aja bunda enggak ni?" Bunda pura - pura kecewa.
"Bunda juga dong, bunda kan malaikatnya Tata dan Ratu di rumah ini. Ya kan yah?" Tata mencari sekutu agar bunda tidak kecewa.
"Tentu sayang, kalau gak ada bunda gak sempurna hidup kita" Kata ayah memeluk istri dan putrinya.
Flashback Off
Terasa buliran air mata yang tumpah di sela mata ayah yang tertutup. Sasa yang melihatnya hanya bisa tertunduk sedih, Sasa tau Tata sangat dekat dengan ayah, namun bukan berarti Sasa tidak dekat, namun Sasa lebih menumpahkan perasaannya kepada bunda di bandingkan ayah. dan sebaliknya Tata lah yang selalu berkeluh kesah dihadapan ayah.
Jadi Sasa sangat tau bagaimana perasaan ayah saat ini.
"Assalamualaikum Dek, ayah udah makan?" Tanya Erlan yang saat itu sudah berada di kamar rawat bunda
"Belum bang, nanti kata ayah tunggu bunda sadar" Jawab Sasa lesu.
"Bunda kenapa?, pingsan?" Tanya Erlan lagi.
"Iya bang, dehidrasi kata dokter" Jawab Sasa. "Tata masih di ICU, belum bisa di jenguk, masih di observasi sama dokter sampai besok pagi. Setelahnya baru kita bisa lihat Tata bang" Lanjut Sasa kepada Erlan.
"Kamu yang kuat dan sabar ya dek, ayah bunda dan Tata perlu kamu sekarang, kamu gak usah ngurus kantor dan anak - anak, biar abang aja yang ngurus, kamu fokus ke bunda dulu saat ini" Jawab Erlan yang mengusap kepala dan bahu Sasa.
"Terimakasih bang atas pengertian kamu" Jawab Sasa yang menggenggam tangan bunda, namun perhatiannya ke Erlan dan gantian ke ayahnya.
"Ya udah kamu butuh apalagi dek? biar abang siapkan, nanti setelah ini abang pamit ya pulang, biar anak - anak abang jaga." Tanya Erlan.
"Saat ini gak ada bang. Besok pagi Sasa kabari lagi ya situasi dan kondisi di sini. Kamu pamitan ke ayah gih, biar ayah istirahat." Lanjut Sasa.
Erlan mengangguk dan berjalan ke arah sofa dimana ayah sedang berbaring.
"Yah, Erlan pamit pulang ya, anak - anak gak ada yang jaga, malam ini Sasa temani ayah dan bunda di sini, besok sebelum ke kantor Erlan mampir lagi antar sarapan buat semua" Pamit Erlan ke Ayah
Ayah membuka matanya yang merah menahan tangis.
"Terima kasih Lan, besok kalau sibuk gak perlu mampir, mana tau ada kerjaan yang gak bisa di tinggal" jawab ayah
__ADS_1
"Enggak yah, sempat kok Erlan kesini. Erlan pamit yah Assalamualaikum." Erlan menyalami ayah dan memeluk ayah guna memberi semangat kepada mertua yang terasa seperti ayah kandung baginya.
"Waalaikumsalam, hati - hati" Jawab ayah