Penantian Kita

Penantian Kita
Empat Belas


__ADS_3

Drama siang ini sudah berlalu, saat bunda masuk ruangan Tata, Bunda menghela nafas panjang.


"Ta sayang, makan dulu ya nak, biar kamu lekas pulih" Bujuk bunda lagi, setelah sebelumnya dibujuk bunda namun Tata keukeh ingin menemui bang Hakim.


Melihat bunda memelas, sepertinya Tata menyerah, dia makan siang dengan menu yang dibawa bunda dari rumah, pihak rumah sakit sudah mengizinkan Tata makan dari luar, karena Fisik Tata benar - benar pulih.


Waktu berlalu, saat Tata ingin mencoba meregangkan kakinya Sasa datang, dia membawa pria itu lagi dan dua anak kecil, mereka mirip Sasa dan pria itu, apa mereka sudah nikah?


"Ya Allah apa yang Aku lewatkan" Bathin Tata


"Ante" Teriak mereka.


Tata hanya tersenyum.


"Ante udah bangun, Bobby kangen ante, kapan ante ke sekolah, miss Eva selalu nanya ante" Bocah yang di taksir Tata masih berusia sekitar 7 atau 8 tahun ini terus saja berbicara.


"Ante, Oci udah bisa naik sepeda, gak jatuh lagi papa tambahin roda ke sepeda Oci, Hihi" Yossi tertawa bercerita denga Tata.


"Sayang, ante masih pusing, jangan berbicara terus" Tegur Erlan.


"Maaf ante, mau kakak pijit ante? Tanya Bobby


"Boleh?" Tanya Tata


"Boleh ante, kata mama kaki Ante harus sering di pijit, supaya ante bisa jadi pelari yang hebat" Semangat Bobby langsung memegang area tulang kering Tata.


"Oci juga, sebelah sini, mama gendong" Pinta Yossi karena dia terlalu pendek untuk menjangkau kaki Tata.


"Sini duduk di sebelah Ante aja" Tata meminta Sasa meletakkan Yossi di ranjangnya.


"Peluk ante dong" Pinta Tata pada Yossi


"Sini ante, tapi gak Gratis ya, bawain susu kesukaan Yossi, Boleh?"


Tata tertawa bahagia mendengar penuturan Yossi, seperti dirinya pada Sa, saat Sasa meminta sesuatu pasti dia juga meminta sebaliknya.


"Boleh sayang, tapi beli sama Mama ya, Ante kan masih disini, belum boleh keluar sama dokter, nanti ante di suntik kalau ante keluar." Jelas Tata.


"Mama dengar ante bilang kan, mama harus beli Oci susu, itu dari ante ma" Pinta Yossi lucu.


"Diih, yang meluk kamu siapa bocah? Ante kan, kenapa minta sama mama, minta ante dong" Sasa gak mau ngalah.


"Yaah Ante, mama gak mau, kalau ganti papa Boleh ante?"


Pinta Yossi memelas.


"Ha! Eh i.. iya boleh" Karena Tata merasa sungkan kepada suami Sasa, selama Tata sadar dia tak pernah berbicara selama ini, hanya sekedar melihat saja. Lebih banyak Sasa yang berbicara.


"Papa bayarin pelukan Ante boleh?" Yossi masih mencoba merayu


"Boleh sayang, nanti pulang dari sini kita beli ya, Adek mau berapa sayang?" Erlan berjalan ke dekat Tata sembari mengelus kepala Yossi.

__ADS_1


"Mau dua" Namun tangannya terhitung 5.


Tata kembali tertawa melihat keponakannya.


"Ayo sini sama papa, kamu tambah berat, kasihan ante" Erlan mengulurkan tangannya ke arah Yossi, namun di tahan Tata.


"Biar aja mas, disini saja" Kaku Tata berucap pada Erlan.


Khik khik khik..


Terdengar suara tertawa tertahan dari Erlan.


"Sejak kapan elu manggil gua mas dek, geli gua. Abang panggil gua abang. Emang gua Jojo, yang jadi mas - mas " Tawa Erlan Pecah seraya merusak tatanan rambut Tata.


"Isssh apaan si Elu bang" Tata merajuk.


"Diih adek gua ngambek dong" Erlan mendekat dan memeluk Tata.


"Gua kangen elu dek, cepat sehat ya, kehilangan gua gak ada yang jahilin gua lagi. Sasa juga udah kangen elu nego sama dia" Erlan mengurai pelukannya dan mencium kening Tata.


"Nah gitu tu!! udah ketemu adeknya bini nya di lupakan dong, bayar lu Ta, udah nyita laki gua, lu harus beli pecel lele depan sekolah lu ya, gak mau tau gua" Sasa berjalan ke sebelah suaminya, ikut memeluk Tata.


"Seneng gua elu udah sadar dek, serasa hilang harapan gua lihat lu koma, jangan sakit lagi Ta, gua sayang banget sama elu." Sasa masih memeluk erat badan Tata.


"Iih apasih, engap gua kak, lepas ih" Rengek Tata.


"Eeh orang lagi sedih juga" Sasa menoyor kepala Tata.


"Bunda mana dek, elu kok sendirian" Tanya Erlan pada Tata


"Eh iya ya, bunda mana?" timpal Sasa.


"Keruangan dokter, nanyain kapan gua boleh pulang, males gua disini kak, udah sehat ini kok" Jawab Tata sekenanya seraya memainkan pipi Yossi.


"Bang Hakim mana kak? Udah hampir seminggu gua sadar, dia kok gak datang ya? Ha ponsel gua lu lihat gak kak?" Tanya Tata bertubi ke Sasa.


Saat Tata ingin menjelaskan, bunda masuk keruangan dan memberi kabar, sore ini Tata udah bisa pulang ke rumah.


"Kak, mana?" Ingat Tata lagi


"Apanya yang mana dek?" Tanya bunda.


"Ponsel Tata bun, Tata mau telpon bang Hakim." Jawab Tata.


Sasa menghela nafas panjang.


"Dek, elu ingat gak kata dokter sekarang tahun berapa?"


Tanya Sasa.


"Ingat gua 2021 kan, tapi gua nelpon bang Hakim cuma mau mastiin sesuatu aja kak, bukan mau ngapa - ngapain."

__ADS_1


Bela Tata untuk dirinya.


"Udah deh, sekarang elu istirahat aja dulu, pulihin diri lu, biar sore lu lebih semangat buat pulang" Sasa memaksa Tata buat istirahat dan mengabaikan permintaannya.


"Yaudah deh, tapi elu pijit kaki gua napa kak, masih kaku ini" Pinta Tata


"Hmm iya, udah buru lu baring sana" paksa Sasa


"Males gua baring mulu, gini aja udah" Tata tetap duduk di ranjangnya.


******


Sore pun datang, saat ini Tata di jemput oleh Ayah dan Bunda, setelah seharian ini Tata di temani oleh Sasa. Siang tadi setelah menjenguk Tata, Erlan dan kedua bocah kesayangan Tata sudah duluan pulang ke rumah.


"Gadis ayah udah siap pulang?" Tanya ayah.


"Udah dong yah, pengap di sini terus, gak ada pemandangan yang bagus" Jawab Tata sekenanya.


"Elu kata lagi rekreasi pake pemandangan" Usil Sasa


"Maka dari itu gua mau keluar kak, pingin rekreasi gua" Jawab Tata.


"Udah, kok malah debat gini sih" Bunda menengahi.


"Kak Sa tu bunda yang mulai"


"Apaan Gua Dar" perkataan Sasa terpotong karena Ayah


"Nah ini kalau udah kumpul, gak ada yang mau ngalah" potong ayah.


Tata dan juga Sasa hanya cekikikan mendengar penuturan ayah.


"Kak, elu kapan nikahnya sih, tiba - tiba udah punya dua bocah aja" Tanya Tata.


" Bukan gua yang tiba - tiba nikah, tapi elu yang tiba - tiba kecelakaan. Tolong ya, jangan buat gua debat lagi sama lu dek"


Tata dan Sasa langsung tertawa.


"Udah elu naik sini biar gua dorong, mau di dorong kemana lu? Pelaminan mau?" Kembali Sasa menjahili Tata.


"Teringat pelaminan, berarti.." Tata hening sejenak.


"Wah udah 26 aja umur gua sekarang" Tata heboh dengan umurnya.


"Baru sadar lu" Sasa hanya cengengesan seraya mendorong kursi roda Tata.


Tak ada lagi jawaban dari Tata untuk celetukkan Sasa, dia merasa menjadi orang bodoh saat ini.


terbersit lagi di pikirannya, apa yang sudah terlewatkan dan di lupakannya di 9 tahun Terakhir ini.


🌫️🌫️🌫️🌫️🌫️

__ADS_1


__ADS_2