
Tata POV ON
Aku mendengar suara seseorang yang sepertinya familiar, namun tak bisa ku ingat dia siapa, kenapa dia sangat mengenal keluargaku, aku ingin membuka mata melihat siapa yang berbicara, saat dia mengatakan rindu, saat dia mengatakan minta tolong, saat dia menyebut ayah dan bunda, semuanya terasa menyakitkan, itu permintaan tulus dari orang lain kepadaku.
Tak lama kudengar lagi suara bunda mengatakan aku menangis. Apa aku menangis?. Namun semua badanku terasa berat, aku tak bisa menggerakkan badanku.
Dokter, ada apa ini aku dimana, kenapa dokter.
Selama ini aku dimana, kenapa semua gelap, namun perlahan aku mendengar bunda mengadu lagi kepada seseorang tapi siapa.
Bunda aku rindu bunda, suara bunda sungguh sangat merdu kurasa saat ini, ingin aku memeluk bunda rasanya.
Ayah juga kenapa rasanya aku seperti bayangan, namun tak satu pun dapat kulihat, hanya hitam.
ingin rasanya aku menjerit, saat ayah mengatakan menghadiahkan Nani ku, apa salah motor ku kenapa ayah ingin memberikannya pada orang. Dan apa ini aku gak rela kalau ayah ganti onderdil motorku.
Aku rasanya ingin mengajak ayah berdebat sekarang juga.
Siapa Jojo, apa hubungannya denganku, tapi mendengar ayah ingin menjodohkannya kenapa hatiku sakit, aku tak kenal, bahkan tak tau siapa Jojo.
Dimana aku sebenarnya?
Pertanyaan ini terus berputar.
Aku bisa mendengar bunda sedang terisak meminta ku bangun, Bunda aku sudah bangun bunda, aku mendengar bunda, tapi disini gelap. Aku mulai takut dengan keadaan ini.
Ini terus terjadi, entah berapa pagi bunda sudah menyapaku, aku ingin menyapa bunda, namun aku tak mampu melakukan itu.
Bang Malik, Ante Niah, Ayah, Bunda, Kak Sa. Tata rindu, Tata dengar suara kalian, bantu Tata.
Kenapa aku tidur, aku sadar dan tidak tidur.
Kenapa semua memintaku bangun?
Apa aku cacat? Buta, Bisu, tapi yang jelas pendengaran ku berfungsi. Ya Allah kenapa aku?
*****
Selamat pagi juga, tapi rasanya percuma aku menjawab, ini pagi yang ke beperapa aku disapa, namun beda, ini bukan suara keluargaku, siapa dia? Kenapa menangis.
Mas? Rasanya aku tak pernah punya kenalan dengan mas - mas ini. Rindu, Sayang, Cinta. Apa ini?
Tapi kenapa aku seperti sangat istimewa dengan nya.
Apa dia sedang memegang tanganku, Bunda tolong aku di pegang orang, dia mengatakan tangan Tata kurus, kenapa bunda diam, dimana bunda kenapa membiarkannya memegang tanganku.
Aku kurus? Gak salah, ingin aku berteriak di depannya mengatakan ini body goal. Aku tak terima, kenapa rasanya seperti aku di telanjangi olehnya. Dasar lelaki mesum.
Ayah Tata ingin mengadu pada ayah, tapi ayah tak datang.
******
Lagi..
__ADS_1
Pagi keberapa ini, harusnya aku menghitung pagi saja ya, agar bisa tau ini pagi keberapa aku disapa oleh keluargaku.
Dia mengatakan akan pulang, syukurlah.
Tapi jika aku tak bangun sekarang, aku tak bisa mengadu pada bunda dan ayah tentang dia yang sepertinya menelanjangiku.
Aku harus bisa berteriak, setidaknya bunda tau. Bunda disini.
Bunda... Bunda.... Jangan biarkan dia pergi dulu bunda..
Bun... Bunda...
Iya aku berusaha agar kau tak memegang tanganku, makanya tanganku ku gerakkan.
Aku berhasil!!!
"Bun" Kenapa rasanya hanya ini suara yang keluar, aku sudah berteriak dari tadi.
"Iya sayang ,ini bunda nak, Tata sudah sadar?"
Pusing, seperti kepalaku di jatuhi oleh batu dan seperti naik Roller Coaster. Aku pusing.
Kulihat Bunda menangis, namun rasanya masih kaku menggerakkan tanganku.
Pria berjas putih, yang ku yakini dokter menanyakan keadaanku.
Aku hanya pusing, tak ada yang lain.
Ku tebak, inilah laki - laki mesum yang berapa kali mengucapkan pagi kepadaku, aku rasanya ingin marah padanya, namun melihat kondisinya kenapa sepertinya aku tak bisa marah padanya.
"Siapa ya" Karena aku memang tak mengenal wajahnya.
Kenapa bunda mengatakan dia pacarku, pacarku bang hakim lho, apa bunda sudah terjebak dengan lelaki mesum ini. Oia selama ini aku tak pernah mendengar bang hakim menyapaku.
Kutanya bang Hakim kepada bunda, namun lelaki itu langsung pergi dari hadapanku, pasti dia malu saat ini ngaku - ngaku jadi pacarku.
Akhirnya aku bisa menyapa Ayah, kak Sasa dan Bunda. Eh ada wajah baru, siapa yang disebelah kak Sa, apa pacar Kak Sa.
Aku heran, untuk apalagi dia kembali, membawa dokter dan perawat juga.
Apa dia ingin meminta pembelaan dari dokter. Tak penting rasanya dia disini, namun saat melihatnya rasanya aku senang, walau dia lelaki mesum.
Dokter mengatakan aku koma sebulan, jadi paling tidak masa liburanku saat kuliah tak berlalu begitu lama, karna rasanya aku baru saja pulang ke rumah.
2021?
Tak salahkah?
Ini tak mungkin, aku tak mungkin melewatkan begitu banyak waktu saat ini.
"Aakh" Kepalaku, seperti di jatuhi beban berton - ton.
Kenapa aku tak mengingat apa - apa, ada apa dengan ini. aku tak mungkin melupakan waktu hampir 10 tahun ini.
__ADS_1
Aku tak bisa melupakan ini begitu saja, Aku seperti ingin menghilang dari sini. Aku tak bisa seperti ini.
Kak Sa datang memelukku, rasanya nyaman, namun tetap rasa sakit di kepalaku tak bisa ku tahan.
pudar, pudar penglihatan ku kabur seiring hilangnya rasa sakit ini.
******
Saat aku bangun aku merasa berat di tanganku, ku lihat lelaki mesum ini tertidur dengan bantalan tangan kanannya, dan tangan kirinya memegang tangan kiriku.
Nyaman. Satu rasa yang kurasakan saat ini.
kubiarkan dia memegang tanganku, kulihat di Sofa ada lelaki yang berdiri di sebelah kak Sa tadi siang.
Tak ingin mengganggu mereka istirahat, ku coba lagi mengingat apa yang ku lewatkan. ku lirik meja di sebelah bad rumah sakit ini, tak ada Ponsel ku.
Ku coba untuk tidur lagi, biarkan malam ini aku merasakan nyaman darinya, jauh di lubuk hatiku aku ingin minta maaf pada bang Hakim sudah membiarkan tanganku di genggam olehnya.
"Maaf bang hakim" Bathinku.
🌫️🌫️🌫️🌫️🌫️🌫️🌫️
Bunda datang, membawa sarapan. Wanginya sampai di indera penciumanku sangat lezat, ingin ku minta namun saat ini dari rumah sakit aku sudah mendapatkan sarapan.
Ku lirik dua lelaki yang semalaman menjagaku sudah lebih segar, hanya bermodalkan cuci muka saja, ku tebak tanpa sikat gigi, namun aku langsung merasakan geli juga. Kata dokter aku udah koma sebulan, berarti selama sebulan ini aku juga gak mandi gak sikat gigi dong, wah apa jadinya saat bang Hakim datang melihat keadaanku saat ini.
Sejujurnya aku menolak untuk percaya bahwa lelaki mesum ini pacarku, karena aku sangat menyayangi bang hakim, begitu juga dengannya, dia juga sangat menyayangiku. Tak mungkin kami pisah begitu saja.
Aku harus bisa membujuk bunda untuk menghubungi bang Hakim untuk datang kesini.
Setidaknya penjelasan yang saat ini aku butuhkan.
Kurasa biarpun waktu berlalu sampai 20 tahun pun sulit untukku menghapus rasa pada bang hakim.
*****
Siang ini kulihat lelaki mesum itu pamitan pada bunda, sejujurnya aku tak rela dia meninggalkanku. Entah perasaan apa ini, di satu sisi aku masih percaya bang Hakim pasanganku.
Saat dia berjalan kearah ku, aku salah tingkah, aku gugup. Jujur saja, dia memang lebih lumayan manis di bandingkan bang Hakim. Tapi apa - apaan ini kenapa aku membandingkan bang Hakim dengannya.
Saat dia berpamitan, dia juga mengingatkan aku untuk tetap menjaga kesehatan dan jangan malas makan. Rasanya ingin ku katakan, "Sebegitu pedulinya kamu, terus kenapa harus pergi" Namun lidahku kelu, yang keluar hanya ucapan terima kasih itu pun dengan nada ketus.
Aku begitu agar dia merasa bersalah dan menunda kepergiannya.
Tak bisa kulihat kepergiannya, Dada ku sesak melepasnya.
langsung ku alihkan pandanganku ke jendela, menahan agar air mataku tak menetes melepas kepergiannya.
Kulihat pantulan cermin dia menyalami bunda, Kenapa bunda tak menahan kepergiannya.
Aku malu jika menahannya.
Kulihat di balik pintu bunda memeluknya, namun kenapa dia tak memelukku.
__ADS_1
Haruskah aku cemburu pada bunda?.
Tata POV End