Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
behavior


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang paling dibenci oleh para siswa dan siswi SMA Garuda bangsa, Khususnya kelas XII MIPA ².


Bayangkan saja mereka diharuskan berangkat lebih awal karena upacara.


Setelah itu, mereka akan dihadapkan dengan pelajaran Matematika oleh guru killer.


Belum puas sampai di situ, mereka akan bertemu dengan pelajaran bahasa Indonesia dari guru yang terkenal lemah lembutnya. Setiap tutur kata yang terucap seakan menjadi lagu pengantar tidur. Lalu dimana masalahnya? Tentu saja para murid harus berperang melawan hawa nafsu untuk tidur, agar terhindar dari hukuman Bu Ranti yang tidak main-main tentunya.


Seorang gadis berjalan di koridor sekolah yang terlihat sepi dengan seragam putih abu-abunya dalam balutan Hoodie berwarna hitam polos dan tas yang tersampir di bahu. Langkahnya memelan ketika hampir tiba di depan kelas.


"Brisha!" Panggil seorang gadis dengan jarak beberapa meter dibelakangnya, membuat langkah yang semula pelan menjadi terhenti kemudian berbalik. Melihat gadis yang semula meneriaki namanya berlari kecil ke arahnya.


"Kok lo berangkat pagi banget. Upacaranya kan masih lama." ucap gadis tersebut sembari menyamakan langkah kakinya dengan Brisha yang sudah kembali berbalik.


"Lo lupa? Hari ini gue piket." jawab Brisha kemudian langkahnya berbelok untuk memasuki kelasnya.  Kesal dengan pertanyaan tak bermutu dari gadis tersebut.


"Tapi ini kepagian sha, lo tuh terlalu rajin." sanggah gadis tersebut lalu memilih duduk di bangkunya.


"Ngaca! lo juga berangkat pagi gini, apa namanya kalo nggak rajin?" Seloroh Brisha semakin sebal, kemudian Brisha mulai menyapu kelas.


"Nah! Itu maksud gue. Kemaren gue kena hukum sama si ketos plontos bersihin toilet sekolah segitu banyaknya gara gara telat, masa gara gara terlambat hukumannya langsung berat sih, nyesel banget gue dulu milih dia, nyebelin tau, makanya gue berangkat lebih awal biar nggak terlambat lagi." Tidak ada respon dari lawan bicaranya membuat gadis itu melanjutkan gerutunya yang sudah pasti tidak didengar oleh Brisha karena gadis tersebut sibuk dengan acara piket kelasnya.


"Eh, nanti malming kita keluar yuk! " ajak gadis tersebut setelah puas menggerutu, sambil menampilkan senyum imut dan puppy eyes andalannya, berniat membujuk Brisha. Sedangkan yang dibujuk hanya mendengus malas.


"Nggak bisa na, Gue sibuk." ucap Brisha berusaha memberikan pengertian pada temannya itu sembari duduk di bangkunya karena acara bersih bersihnya sudah selesai.


"Ayo dong sha. Sekali kali kek lo malmingan. Kerja mulu lo." sungut gadis yang dipanggil 'na' oleh Brisha.

__ADS_1


"Gina..., Lo kan biasanya malmingan sama Lura, kek orang nggak ada temen aja lo." jelas Brisha dengan dengusan sebal. Berbicara panjang lebar memang sangat melelahkan apa lagi Brisha sedang malas berbicara. Ralat, sebenernya Brisha memang selalu malas berbicara.


Gadis yang di panggil Gina tersebut langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut setelah Brisha mengatakan hal demikian.


"Temen sih banyak, cuman yang beneran bestie kan lo sama Lura. Tapi, gue kan juga pengen malmingan sama lo, bosen tau tiap malmingan pasti sama Lura." jelas Gina


"Yaudah, nggak usah malmingan sama gue. Lagian, gue juga bosen tiap liat muka lo." Timpal seorang gadis yang baru saja datang kemudian meletakkan tasnya di bangku.


Wajahnya yang datar rambut pendek sebahu, dan jaket leather yang terpasang rapi di badannya benar benar memberikan kesan Badass gadis tersebut yang di ketahui bernama Lura.


"Eh, Lura, yang tadi nggak serius kok, jangan ngambek ya?" Bujuk Gina dengan menampilakan wajah imut dan puppy eyes andalannya.


Bukanya tebujuk Lura malah memasang ekspresi jijik terhadap apa yang di lakukan temannya itu dan memilih mengabaikan dan berjalan keluar kelas mengikuti Brisha karena sebentar lagi upacara akan di mulai .


"Pokoknya klean berdua harus malmingan sama gue!" Teriak Gina yang sudah tertinggal jauh oleh kedua temannya.


****


Saat ini suasana kantin sangat ramai  dipadati oleh para siswa dan siswi yang sedang beristirahat. Terlihat juga tiga gadis yang baru saja datang dengan salah satu diantaranya menampilkan raut tertekan.


Kemudian, ketiganya memilih menghampiri bangku kosong paling ujung sehingga berhadapan langsung dengan lapangan basket yang memperlihatkan club basket kebanggaan sekolah yang rata rata diisi oleh para most wanted incaran ciwi ciwi sedang berlatih.


"Huh, pusing banget pala gue, dasar Bu bobon! Materi belum di jelasin udah di suruh ngerjain aja, nyuruh ngerjain elit, ngejelasin sulit. Nggak kasian apa? Sama gue yang kapasitas otaknya minimum" jelas Gina mengebu ngebu.


"Diem!" Potong Brisha saat mengetahui bahwa Gina akan membuka mulutnya lagi, Membuat Gina kicep seketika. Kemudian, Brisha memilih menyantap bakso yang sudah ia dan kedua temannya pesan.


Mereka makan dengan khidmat tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Menikmati bakso paling enak di seantero sekolah sampai habis tak tersisa. Kemudian menyeruput es teh yang segarnya tiada tara. Benar benar perpaduan yang sempurna.

__ADS_1


Setelah makan mereka melanjutkan dengan obrolan ringan yang pastinya di mulai oleh Gina, gadis sejuta warna.


"Ya ampun...., Cowok tuh kalo lagi main basket damage-nya nggak ada obeng ya?, mana kebanyakan dari mereka most wanted sekolah lagi, beruntung banget pastinya gue kalo dapetin salah satu dari mereka." Ungkap Gina dengan mata yang menatap intens para pemain basket yang sedang fokus bermain sambil sesekali tersenyum ke arah penonton yang rata-rata adalah para siswi membuat mereka menjerit kesenangan.


Sedangkan Gina sibuk menatap mereka sampai salah satu dari mereka membalas tatapannya membuat gadis tersebut spontan mengalihkan pandangannya dan langsung salah tingkah.


"Iya, lo beruntung, tapi mereka buntung." Celetuk Lura membuat ekspresi gadis yang semula tersenyum malu langsung berubah murung.


"Ihh, lo mah, siapa tau mereka mau nerima gue apa adanya. " Sungut Gina membuat sang empu menghela napas. Katakan saja Lura adalah orang yang jahat, nyatanya ia tidak akan peduli. Meskipun ucapannya terdengar pedas dan menyakitkan, tapi di dalamnya terdapat maksud tertentu yang ketika ucapkan adalah 'jangan kebanyakan bergantung sama ekspektasi atau lo bakal sakit hati sama realita', yah..., tapi itu adalah Lura, gadis yang memiliki gengsi tinggi dan lebih memilih mengungkapkan nasihat dalam ucapan pedasnya.


Brisha yang mengetahui perubahan ekspresi dari temannya itu langsung memantik obrolan baru dengan topik lain sampai akhirnya suasana kembali kondusif.


Di tengah-tengah obrolan mereka, tiba-tiba datang seorang siswi yang membuat jeda obrolan mereka bertiga.


"Permisi kak, aku di suruh pak gama buat ngasih tau kalo kak Brisha di panggil buat ke ruang osis." ucap siswi tersebut sopan


"Ciee..., Mau ada yang ikutan lomba nih" goda Gina sambil mengguncang tubuh orang di sampingnya membuat sang empu mendengus sebal.


"Berisik!" Sentak Lura sembari melepaskan tangan Gina yang bertengger di bahunya.


Percayalah bahwa Lura dan Brisha lebih tertekan saat mendengar ocehan cempreng dari Gina dibandingkan dengan pelajaran Matematika dan bahasa Indonesia yang katanya membuat hari menjadi sial.


Saat kedua temannya bertengkar Brisha memilih berdiri dan melangkah jauh meninggalkan keduanya.


Berjalan keluar dari area kantin dan melewati beberapa kelas dan juga lapangan basket dengan tatapan datar dan lurus kedepan. Mengabaikan adik kelas yang sibuk bergosip ria, setelah mengetahui Brisha berjalan melewati mereka, seperti memiliki bahan gosip baru, mereka langsung memulai obrolan tentang kehidupan pribadi Brisha seakan sudah mengetahui semua tentang gadis tersebut, tidak peduli bahwa sang empu mendengarnya, benar benar tidak tahu malu.


Langkahnya terus bergerak sampai tidak menyadari bahwa terdapat bola basket yang melaju kencang ke arahnya

__ADS_1


"Dugh!"


__ADS_2