
"Kesel banget tau disuruh bersihin lapangan belakang." Gerutu Gina yang baru saja datang setelah membersihkan lapangan bersama beberapa orang lain yang bernasib sama sepertinya.
"Udah selesai?" Tanya Brisha tidak mengindahkan gerutuan Gina.
"Bentar lagi, tapi gue kabur." Jawab Gina dengan senyum cerah seterang kepala pak Banu.
"Nggak bertanggung jawab." Celetuk Lura yang sedang duduk di jok motornya.
"Nggik birtingging jiwib." Ejek Gina sambil mencibir.
Kemudian datang segerombol orang dengan wajah merah menahan amarah.
"Woi ginong! Enak banget lo pergi gitu aja, nggak inget siapa yang paling berisik?" Teriak salah satu dari mereka dengan mengacungkan sapu ke arah Gina.
"Enak aja! Kalian semua nggak kalah berisik ya. Gue cuma ikut ikutan loh." Sanggahnya seakan lupa siapa yang memulai rusuh di kelas sampai setengah dari murid kelas ikutan dan berakhir dihukum berjamaah.
"Balik gak lo!" Teriak lainnya yang tidak digubris oleh sang empu karena sibuk grasak-grusuk mencari kunci mobil di tasnya.
"Kenapa rame rame di sini? Hukumannya udah selesai?" Timpal seorang cowok yang baru saja datang dengan tas yang tersampir di pundaknya bersiap untuk pulang, tidak lupa juga rotan yang mengacung dari tangannya.
Keadaan yang semula ricuh menjadi hening seketika, kecuali seorang gadis yang masih saja mengobrak-abrik isi tasnya mencari keberadaan kunci mobil, terlihat tidak sadar akan kedatangan seseorang.
"Si ginong mau lari dari tanggung jawab." Sahut seorang siswi, salah satu dari gerombolan tersebut. Sontak saja Gina mengangkat kepalanya karena merasa dipanggil, kemudian melotot karena sadar akan kehadiran ketos plontos idaman boneka chucky.
"Lo mau kabur?" Tanya Regan dengan nada rendah.
Pake nanya lagi.
Gina tidak menjawab dan memilih mengingat ingat dimana ia meletakkan kuncinya.
"Gina." Desis Regan dengan tatapan menusuk. Tapi, Gina malah asik mesam mesem karena telah menemukan kuncinya di saku baju.
"Please, gue mau nyari bahan buat tugas, kali ini aja lepasin gue," Bujuk Gina dengan menampilkan puppy eyes andalannya yang dibalas teriakan jijik dari teman temannya.
"Lihat noh udah ditunggu Brisha ama Lura." Sambungnya sambil menunjuk dua orang gadis yang berdiri didekatnya. Kontan saja mereka berdua langsung saling bertukar pandang. Entah mengapa secara spontan otak mereka mengingat kejadian enam bulan silam, dimana saat mereka berdua tidur dalam kelas dan ikut menjadi kambing hitam hingga berakhir dihukum bersama. Dan tentu saja salah satu penyebabnya adalah gadis yang sekarang tengah memohon lepas dari tanggung jawab.
__ADS_1
Tanpa direncanakan bibir mereka membentuk segaris senyum miring, seakan berbicara lewat telepati, dan mengangguk.
"Nggak papa diundur belinya." Tutur Lura membuat Gina melotot ngeri.
"Oke, lanjutin pekerjaan kalian,dan buat Lo cepet bantuin mereka sampek rampung, lebih cepet kalian gerak lebih cepet kalian balik." Usul Regan yang disetujui oleh semua orang, kecuali Gina tentunya.
"Awas Lo berdua." Bisik Gina dengan lirikan tajam yang di anggap angin lalu oleh keduanya. Gina dan para murid lainnya digiring Regan kembali ke lapangan.
"Balik bareng gue?" Tanya Lura sambil menghidupkan motornya.
"Duluan aja." Singkat Brisha yang diangguki Lura, kemudian gadis itu menjalankan Kawasaki ninjanya menjauh.
Brisha berjalan ke gerbang sekolah dan menuju pengkolan ojek. Bukan tanpa sebab ia menolak tawaran Lura, ia tahu jalan ke rumahnya dengan rumah gadis itu tidak searah, meskipun bukan masalah bagi seorang Lura yang kaya raya menghabiskan bensinnya demi mengantarkan teman, tapi masalahnya ada di Brisha. Beberapa tahun hidup sendiri membuatnya mandiri dan terkesan bersikap tidak enakan.
Bruk!
"Maaf." Sesal Brisha karena tidak sengaja menabrak seorang pria paruh baya yang terlihat buru buru dan membawa sebuah map. Diambilnya map tersebut dan diberikan kepada pemiliknya. Setelah itu Brisha pamit. Sedangkan pria paruh baya tersebut terus memandang intens gadis yang sudah berlalu.
"Kayla?"
"Kakak bukannya tadi bawa bekal ya? Kok kotak bekalnya nggak ada bunda cariin?" Tanya Widya yang tiba-tiba datang dengan menggunakan celemek dan membawa spatula ke ruang keluarga dimana sang anak tengah bersantai bersama teman temannya.
"Oh jadi bekal tadi itu dari Tante ya?" Tanya seseorang sembari asik makan kacang.
"Iya Vin, tapi tadi di habisin kan sama Arres? Soalnya kalo di bawain bekal Arres tuh sering lupa." Keluh Widya dengan memonyongkan bibirnya, terlihat menggemaskan.
"Gemesin banget sih, kalo belum nikah udah gue embat dah nyokapnya si Arres." Bisik Kevan pada Kevin yang langsung dihadiahi tatapan bengis dari Arres.
"Nggak usah ngarep, muke lu aje kek boneka Mampang, sok sokan mau ngembat spek bidadari. Mak nya Arres mana mau Ama elu." Bisik Kevin menusuk relung hati Kevan, membuat ekspresi cowok tersebut berubah suram merealisasikan ucapan Kevin yang katanya seperti boneka Mampang. Belum hilang kesedihannya ia malah mendapatkan timpukan bantal dari Arres.
"Kotak bekal tadi punya Arres ya Tan?" Tanya Kevin mengabaikan temannya yang terlihat kesakitan yang tentu saja dibuat buat.
"Mama Nyari kotaknya kan?, Yaudah kakak kasih tau." Timpal Arres menengahi pembicaraan membuat ketiga temannya menatap curiga.
Arres tampak mengacuhkan tatapan tersebut dan memilih berjalan meninggalkan ruang keluarga menuju dapur untuk menjelaskan sesuatu.
__ADS_1
"Jadi...?" Tanya Widya meminta penjelasan.
"Itukan cuma kotak bekal, kenapa mama sampe segitunya nyari?, Kita bisa beli lagi." Tukas Arres membuat Widya memelototinya.
"Cuma kakak bilang?! Kakak lupa udah berapa kotak yang kakak ilangin, alasan inilah, itulah. Lagian itu kotak udah dari kakak SMP loh, bukan masalah mampu nggak nya, tapi kalo kita masih bisa gunain kenapa harus ngehamburin uang? Dan dalam masalah ini, yang mama lihat bukan kotak makanya, tapi gimana kakak menjalankan tanggung jawab dan menjaga kepercayaan orang lain." Tutur Widya membuat Arres diam sambil terus mencerna setiap ucapannya.
"Kakak paham," ungkap Arres. "Sebenernya, kotaknya nggak ilang kok, tapi kakak titipin sama Brisha, nanti Kakak bakal ambil lagi." Sambung Arres yang direspon kernyitan alis Widya pertanda kebingungan yang mendominasi otaknya.
"Kok bisa sama Brisha?" Tanya Widya sambil membuka oven dan mengambil loyang berisi cake yang sudah matang sempurna.
"Tadi ketemu sama Brisha di taman, terus kita makan sandwich buatan mama bareng. Abis itu Arres titip kotak itu." Jelas Arres dengan tatapan tak lepas dari cake yang terlihat menggoda. Ah, mamanya memang terbaik!.
"Lain kali, jangan nyusahin orang ya? Kalo Brisha punya urusan lain gimana? Nggak semua orang bisa ungkapin apa yang dia mau, kadang beberapa dari mereka punya sifat nggak enakan." Nasihat Widya yang diangguki Arres.
"Ya udah, ayo balik, pasti temen temen Kakak pada nungguin." Ajak Widya sambil membawa piring berisi cake untuk menambah suguhan.
Setibanya di ruang keluarga bukannya bertemu dengan teman temannya Arres malah mendapati ayahnya tengah duduk santai sendirian di sana.
"Loh, temennya kakak pada kemana pa?" Tanya Widya menyuarakan isi pikiran Arres.
"Siapa?, tiga curut yang duduk di sini tadi?" Tanya Arga sambil mencomot cake buatan istrinya.
"Mereka punya nama." Protes Arres yang sedari tadi hanya diam.
"Kenapa? Kamu mau ikut ikutan jadi curut juga? Jangan temenan sama anak anak nggak ada akhlak, nanti kamu jadi kayak mereka, masa papa ngajakin main malah pada kabur." Gerutu Arga sebelum akhirnya melahap cake yang dari tadi belum di makan.
"Nggak mungkin mereka kabur gitu aja, pasti papa apa apain mereka kan?" Selidik Arres dengan mata memicing.
"Nah kan, kamu jadi ikut ikutan nggak sopan. Dasar anak Jumadi sama Handoyo, cuma bawa pengaruh buruk buat kamu, tapi kalo anaknya Yudhistira sih baik, pinter juga, eh tapi dia juga ikut kabur, pertama kali malah. Udahlah paling bener kamu nggak usah temen temenan kek gitu." Tukas Arga yang direspon tatapan tidak terima oleh Arres.
"Udah deh kalian tuh jangan berantem mulu, mama pusing tau dengernya." Lerai Widya membuat keduanya terdiam dan memilih menikmati makanan yang seharusnya menjadi suguhan untuk ketiga teman Arres.
"Emang papa ngajakin mereka ngapain?" Tanya Widya penasaran.
"Dangdutan."
__ADS_1