Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
kita pacaran?


__ADS_3

Brisha langsung lemas di tempatnya kala melihat lelaki paruh baya yang tengah berdiri di tengah pintu dengan wajah tegas tersebut. Gadis yang masih menggunakan seragam sekolah itu langsung mendekati sang pria paruh baya berniat untuk bernegosiasi.


"Saya mohon, beri saya waktu pak. Saya berjanji akan langsung membayar secepatnya." pintanya dengan wajah memelas.


"Maaf mbak, ini sudah kesepakatan awal kita dengan Bu Nilam, jadi mau tidak mau anda harus membayar angsurannya sekarang juga, dari pihak kita sudah memberikan kemudahan dengan memberikan waktu. Dan sekarang saatnya Anda membayar angsuran yang sudah menjadi tanggung jawab anda sebagai anak dari Bu Nilam sendiri." ucap pria paruh baya tersebut tegas tak terbantahkan. Jujur saja, melihat wajah remaja yang ada di depannya ini membuatnya iba, tapi mau bagaimana lagi? hutang tetaplah hutang, dan itu harus di bayar. Lagi pula, posisinya disini bukanlah sang pemberi hutang yang bisa saja membebaskan remaja tersebut tanpa syarat. Posisinya di sini hanyalah seorang pekerja yang bertugas menagih hutang dan yang jelas, ia juga punya keluarga yang harus dinafkahi, sehingga pria tersebut sama tak berdayanya dengan Brisha.


"Tapi, saya tidak mempunyai uang untuk membayar pak." Brisha berucap dengan perasaan hampa.


"Biar saya saja yang bayar." Celetuk seseorang yang baru saja keluar dari ruang tamu dan berjalan mendekati Brisha juga sang debt collector yang duduk di teras rumah. Pemuda tersebut melihat tagihan yang tertulis di sebuah buku dan mengeluarkan sejumlah uang.


"Nggak usah, gue bisa sendiri. Lebih baik sekarang lo-"


"Yakin bisa sendiri? Lo aja sampe mohon-mohon kayak gitu, dan lo bilang kalo bisa sendiri?" pemuda tersebut melayangkan sebuah pertanyaan yang langsung menohok Brisha.


Karena tak mendapat respon penolakan lagi dari Brisha, akhirnya pemuda tersebut memberikan uangnya kepada debt collector sampai akhirnya pria paruh baya yang berprofesi sebagai debt collector itu pergi.


"Sekarang gue nggak ada duit buat ganti. Tolong kasih gue waktu buat ganti semua duit lo." Ucap Brisha sambil membereskan kotak P3K.


"ini kan angsuran bulanan, itu artinya lo bakal bayar lagi bulan depan. Dan lo masih mau ganti duit gue? Nggak usah deh! Gue ikhlas." Jawab Arres membuat Brisha sedikit tersinggung.


"Maksud lo? Gue nggak mampu gitu buat bayar lo?"


"Emang tadi lo mampu bayar?" Tanya pemuda tersebut sambil menampilkan senyum miring. Brisha yang mendengarnya pun merasa tertohok.


"Gue punya penawaran yang mungkin bisa lo pikirin. Gimana, kalo seandainya lo jadi cewek kontrak gue?" Brisha langsung menatap pemuda itu dengan sinis.

__ADS_1


"Gue bukan cewe murahan." Jawabnya sambil berlalu untuk menyimpan kotak yang identik dengan obat-obatan itu.


"Ada emang gue bilang kalo lo cewek murahan?" Brisha terdiam mendengar pertanyaan tersebut.


"Gue di sini mau kasih penawaran yang bisa dia belah pihak untung, dalam hal lain ini simbiosis mutualisme. Gue bakal bayar angsuran lo tiap bulannya atau mungkin bisa langsung dibayar kontan." Brisha mulai tertarik dengan pembicaraan.


"Lo, nggak mungkin nawarin ini dengan cuma-cuma kan? Kayak yang lo omong sendiri kalo ini bakalan jadi simbiosis mutualisme."


"Yes! ini yang gue maksud. Gue yang bertanggung jawab buat pastiin lo nggak dikejar-kejar lagi sama debt collector dan lo... Harus pastiin gue nggak dikejar-kejar lagi sama cewek-cewek sekolah, baik siapapun dan kapanpun." Brisha berdiri dengan pikiran yang bimbang.


"Kenapa lo milih nawarin itu ke gue di saat ada banyak banget cewek yang bisa lo kasih tawaran menggiurkan ini." Brisha bertanya pada pemuda tersebut setelah lama terdiam.


"Karena lo beda dari yang lain. Sekali dua kali gue pernah liat lo se-nggak peduli itu waktu gue pernah ada di dekat lo, dan itu jelas beda sama reaksi cewek-cewek alay di sekolah yang sering ganggu ketenangan hidup gue. Yang paling penting adalah, lo nggak bakal jatuh cinta sama gue." Jawabnya dengan nada santai.


"Tau dari mana kalo gue nggak bakal jatuh cinta sama lo?" Tanya Brisha menantang membuat pemuda tersebut langsung tersenyum miring dan mulai mendekati Brisha dengan langkah intimidasi. Brisha yang merasa terintimidasi itu langsung melangkah mundur sampai tubuhnya menabrak tembok. Dengan perlahan laki-laki itu mengurung Brisha dalam kungkungan nya.


"lo nggak perlu kenalan sama gue kan? Kalo lo nggak kenal sama gue. Kenalin, gue-"


"Arres Gumilar Hanendra, primadona SMA Garuda bangsa yang belakangan ini selalu jadi incaran cewek-cewek di sana." Potong Brisha membuat Arres tersenyum tipis.


"Oke, jadi hari ini, gue Arres Gumilar Hanendra secara resmi nembak lo buat jadi pacar kontrak gue yang bakalan jaga gue dari cewek-cewek gatel pengganggu di luar sana. Dan sebagai gantinya gue bakal bayar hutang lo yang berangsur-angsur tiap bulan." Arres menyodorkan tangannya untuk meminta salaman dengan Brisha.


"Dan gue, Brisha shakayla secara resmi nerima lo buat jadi pacar kontrak lo yang nantinya bakalan bayar semua angsuran hutang gue sampe selesai dan sebagai gantinya gue bakalan jaga lo dari cewek-cewek lintah pengganggu di luar sana." Brisha menerima uluran tangan Arres.


flashback

__ADS_1


"Sha? Brisha?!" Panggil Gina membuat Brisha tersadar dari lamunannya.


"Buset dah! Gue panggil lo dari tadi kagak nyaut-nyaut. Lo lagi lamunin apa Sha? Liat noh! Es lo sampe hampir cair loh." Gina menujuk es-nya yang sudah tak sesegar tadi. Dengan sekali tegukan Brisha menghabiskan minuman dingin nan manis itu hingga tandas.


"Gue udah selesai, lo berdua masih pengen di sini aja?" Tanya Lura pada kedua temannya.


"Ya enggak lah, tungguin Bentar dong! gue juga tau kalo ini mau bel kok, kalo gitu yok! Kita langsung ke kelas." Ajak Gina sambil menarik tangan Brisha dan Lura untuk segera keluar dari kantin yang sudah mulai sepi itu.


saat sedang berjalan berdampingan di koridor kelas, tiba-tiba semua murid tampak berlarian ke arah yang berlawanan. Karena tak tau apa yang terjadi akhirnya ketiganya terus melanjutkan langkah.


"Tunggu! kenapa pada lari-lari ke sana? Emang di sana ada apa sampe kalian keluar kelas padahal udah waktunya masuk." Gina menyetop salah seorang siswi yang dari tampangnya adalah adik kelas.


"Em, di sana ada yang dibully kak, jadi semua anak-anak pada ke sana buat lihat korbannya." Jelas siswi tersebut yang direspon dengan kernyitan dahi oleh ketiganya.


"Lah! maksudnya gimana dah? Di sini kan juga ada banyak banget kasus bullying yang ditekuni sama para sampah masyarakat salah satunya si Tavisha. Terus kenapa kalian sampe segitunya lari-lari?" Tanya Gina lagi.


"Kali ini beda kak, korbannya kali ini kak Tavisha sendiri." Jawab siswi tersebut sembari pergi setelah pamit pada ketiganya.


"What?! OMG hello! Itu berita nggak hoax kan?! Mana ada pembully yang berubah jadi korban? Nggak-nggak! Gue nggak percaya sebelum lihat sendiri. Ayo! Kita liat sendiri kebenarannya." Guna menarik kedua temannya dengan disertai langkah buru-buru membuat Brisha dan Lura ikut berlalu terseok-seok.


Setelah sampai di toilet yang dikerubungi murid-murid di sana, Gina langsung menerobos kerumunan membuat sebagian orang menyorakinya. Brisha dan Lura memilih melihat kondisi ini dari arah luar. Di sana juga ada beberapa guru yang khawatir dengan kondisi Tavisha yang terlihat mengenaskan.


"Siapa yang bully kamu sampe kayak gini nak?" Tanya seorang guru dengan tatapan iba yang diperuntukkan kepada Tavisha.


Dengan perlahan Tavisha mengangkat jarinya sampai menuju ke arah satu kerumunan. Murid-murid yang merasa tidak mem-bully itu sontak menyingkir sampai arah tunjukan itu terarah untuk Brisha yang semula ada di posisi paling belakang.

__ADS_1


"B-brisha." Lirih Tavisha sebelum hilang kesadaran.


__ADS_2