
"Panas banget woi! Emang ya bener-bener tega amat Bu bobon sampe berani kasih hukuman buat kita. Padahal kan kita cuma mau party buat kemenangan Brisha. Mana gue dapet hukuman tambahan lagi. Parah banget! si Udin bisa-bisanya lari gitu aja, terus lo berdua tau apa yang bikin gue makin jengkel? si ketos pelontos nungguin gue di sana sampe hukuman rampung tanpa kabur." Gina bercerita menggebu-gebu. Gadis tersebut baru saja menyelesaikan hukuman tambahannya tanpa di temani oleh kedua temannya.
kali ini mereka bertiga sudah duduk di kantin dengan beberapa menu andalan mereka yang sudah tersaji rapi di meja.
"Hehehe Brisha, makasih loh, udah pesenin gue makanan. Tau aja lo kalo gue lagi laper-lapernya." Gina langsung melahap dengan rakus makanan yang tersaji di depannya setelah mengucapkan kalimat terima kasih.
"Itu kok lo dapet minuman kayak gitu? Belinya dimana?" Tanya Gina sambil menunjuk minuman susu kedelai yang terlihat menggoda iman.
"Dikasih Arres." Jawaban singkat dari Brisha sontak membuat Gina tersenyum miring.
"haaa~ cie, dapet minuman dari ayang nih, so sweet banget." Gina memandang Brisha sambil tersenyum dan menaikturunkan alisnya.
"Kasih tips dong. Gimana caranya bisa dapetin cowok se act of service kayak dia?" Tanya Gina lagi membuat Lura yang sedari tadi hanya diam menjadi mendengus keras. "Udah deh, lo tuh nggak usah nyari tutorial segala. Kalo lo emang lo menarik pasti bakalan ada yang suka tanpa berusaha sih." Gina menjadi naik pitam mendengar celetukan Lura yang agak menyinggungnya.
"oh hello! Maksud lo, berarti gue selama ini nggak menarik di mata cowok dengan terbuktinya kalo sama sekali nggak ada yang suka sama gue?!" Gadis tersebut menaikkan suaranya satu oktaf membuat atensi penghuni kantin langsung tertuju ke arah bangku ketiganya.
Lura mendekatkan wajahnya ke telinga Gina dan berbisik. "Nggak ada yang bilang lo nggak menarik, lo sendiri loh yang bilang kek gitu." Gina melahap bakso di depannya dengan ekspresi kesal. Benar-benar Lura ini, selalu irit bicara yang sekalinya berbicara malah membuat orang darah tinggi.
bisa nggak sih?! Lura dijodohin aja sama si Magenta, biar sekalian jadi couple bisu?! Please! Gue pengen banget nonjok mukanya, tapi yang ada malah gue yang di tonjok balik. Gina terus membatin sembari menatap Lura dengan tatapan membunuh.
"Jadi orang susah dulu, baru nanti bakal ada cowok yang kasian sama lo." Celetuk Brisha sebelum menyeruput susu kedelai pemberian dari sang kekasih tersebut.
"Lo bercanda kan? Mana mungkin Arres datengin lo dan ungkapin perasaan gara-gara liat lo susah." Brisha mengedikkan bahunya. Terserah apa yang orang bilang, kenyataannya bukankah begitu? Mengungkapkan perasaan? Pertanyaan konyol macam apa itu, Brisha bahkan tidak pernah mendengar pernyataan cinta dari Arres selaku kekasihnya. Ralat, bukankah itu memang sudah kesepakatan keduanya dari awal perjanjian?
flashback
seluruh murid SMA Garuda bangsa berhamburan keluar dari gerbang sekolah untuk melanjutkan aktivitas di rumah masing-masing karena kegiatan belajar mengajar sudah usai.
Brisha keluar bersama kedua temannya menuju gerbang sekolah, melihat banyaknya murid yang agak berdesakan membuat ketiganya berniat menunggu hingga kondisi sekolah menjadi agak lenggang.
"Hah! males banget kalo udah rame kayak gini. Bisa-bisanya mereka masih nerobos aja meskipun udah liat sendiri kondisi gerbang yang bikin pengen nangis kayak gitu." Gina melihat gerbang sekolah yang pasrah terpontang panting ke sana ke mari mengikuti arah dorongan segerombolan murid yang ingin segera keluar.
"Namanya juga udah nggak sabar, lo sendiri kalo udah nggak sabar juga gitu, cuma beda kondisi aja sih." Celetuk Lura sambil tersenyum miring.
"nye nye nye nye." Gina menimpali ucapan Lura dengan ejekan.
"Udah mulai sepi, ayo balik sekarang aja." Ajak Brisha sambil melangkah terlebih dahulu dan meninggalkan dua temannya yang tampak masih sibuk dengan masalah mereka.
__ADS_1
"Brisha! Tungguin!" Panggil Gina sambil berlari mengikuti Brisha yang sudah keluar dari gerbang sekolah.
"Lo balik bareng gue kan?" Tanya Gina memastikan sembari mengobrak-abrik isi tasnya untuk mengambil kunci mobil.
"Bukannya kemaren dia udah sama lo ya, harusnya hari ini biar gue yang anterin Brisha." Lura menyerobot kesibukan Gina yang sedang mencari kunci.
"Nggak usah ngadi-ngadi deh lo, sekarang biar Brisha sama gue aja. Lagian bukannya lo habis ini ada acara ya."
"Biar gue sama Gina aja Ra, lo pulang aja sekarang, kalo emang nanti Gina keberatan, biar gue ngojek aja. simpel." Saran Brisha sembari bercelingak-celinguk mencari ojek yang bisa ia gunakan jasanya.
"Heh! nggak usah kek gitu lo, gue aja yang anterin pulang, lo gimana sih?! Katanya lagi berusaha hemat, di kasih bantuan malah kagak mau, situ waras?" Gina menarik tangan Brisha secara paksa dan langsung mendorong temannya itu untuk masuk ke mobil.
"Gue duluan, bye!" Pamitnya pada Lura yang masih berdiri di sana.
"Gin?" Panggil Brisha pada Gina yang terlihat fokus mengemudi kereta besi tersebut.
"Hm?" Responnya dengan kefokusan yang sama.
"Gue, hari ini ada jadwal florist." Ungkap Brisha yang dibalas anggukan dari sang teman.
"Nggak perlu balik ke rumah, gue mau langsung ambil shift, baju ganti gue ada beberapa di sana." Jelas Brisha yang direspon anggukan kembali dari Gina.
"Iya deh, gue anterin langsung ke sana." Gina langsung mempercepat kecepatan mobilnya kala melihat jalanan yang lenggang.
mereka akhirnya sampai di toko bunga tempat Brisha mencari pundi-pundi rupiah itu.
"thanks Gin." Ungkap Brisha setelah turun dari mobil sahabatnya itu.
"Iya dah, gue cabut duluan, bye!" Setelah Gina hilang tertelan jarak, Brisha langsung masuk ke toko tempatnya bekerja untuk segera melaksanakan tugasnya sebagai pegawai di sana.
"Oma? Kok bunga-bunga nya di kemas semua?" Tanyanya melihat beberapa pegawai sibuk dengan acara mengemasi bunga-bunga itu.
"Eh, Brisha. Iya nih, ada yang beli bunga sampai segini banyaknya, harusnya sih ada akad pemesanan dulu lah ya biar kita bisa sesuaikan stok. Tapi nggak papa lah, yang penting kabar baiknya kita bakalan tutup toko lebih awal, kamu nggak perlu kerja hari ini." Brisha membantu para pegawai untuk mengemasi bunga-bunga tersebut.
"Nah! Sudah selesai, kamu pulang sekarang aja nggak papa kok Sha, sekalian ganti baju tuh. Masa baru sekolah langsung ke sini? istirahat dulu kali." Ucap salah satu pegawai.
"Niatnya mau langsung ke sini dan ganti baju di sini aja mbak, tapi ternyata malah toko tutup awal, ya udah deh aku pulang dulu mbak." Gadis tersebut langsung memilih pulang karena merasa butuh segera istirahat. Dengan langkah lebar Brisha keluar dari toko bunga itu dan memilih pulang tanpa membayar ongkos pulang karena jarak antara toko dan rumahnya yang tidak begitu jauh.
__ADS_1
Melewati gang rumahnya, Brisha melihat beberapa orang dengan pakaian berandalan tengah mengejar seorang laki-laki yang berseragam sama seperti dirinya. Tak lama setelahnya, ada beberapa warga yang terlihat mengancam segerombolan pemuda yang berpenampilan berandalan itu sampai akhirnya mereka semua pergi begitu saja meninggalkan laki-laki tak dengan luka memar di wajahnya.
karena rasa ingin tahunya, Brisha memutuskan mendekati mereka untuk melihat kodisi laki-laki tersebut yang tadi sempat terkena bogem mentah dari salah satu anggota berandalan yang sudah menjadi rahasia umum jika mereka adalah anak-anak dari rival SMA Garuda bangsa.
"Aduh den, itu emang beneran nggak terlalu parah kok. Cuma kalo dibiarin malah jadi infeksi atuh takutnya." Ucap salah seorang bapak-bapak karena mendengar penolakan dari sang pemuda tersebut.
"Benar-benar tidak papa pak, terima kasih karena sudah menolong saya, biar lukanya saya obati di rumah saja." Jawab laki-laki tersebut kembali menolak.
Brisha melihat lekat-lekat pemuda tersebut, meyakinkan diri jika yang terduduk mengenaskan di depannya kali ini adalah seorang pangeran SMA Garuda bangsa yang menjadi most wanted.
"Nah! Ini seragam kalian sama, berarti kalian berteman kan? Kalo begitu lebih baik biar kamu diobati sama temen kamu aja den, biar kita-kita tenang gitu." Saran bapak-bapak tadi yang diangguki oleh warga lainnya.
"Eh Brisha! Ini temen kamu kan? Dia habis dikejar berandalan sampe bonyok tuh pipinya, kamu mau kan obati dia?" Tanya lelaki paruh baya tersebut membuat semua atensi orang-orang di sana langsung mengarah pada gadis tersebut termasuk pemuda yang terluka itu.
Brisha yang ditatap oleh banyak orang dengan sedemikian rupa pun hanya mengangguk kaku.
"Nah! Kalo gini kan enak. Ya udah den, ikut aja ke rumah temennya itu, biar diobati sekalian." pemuda tersebut awalnya ingin menolak lagi, tapi kondisi wajahnya yang sudah mulai memar biru dan terasa ngilu membuatnya hanya mengangguk patuh.
Meskipun dengan hati yang setengah ikhlas, Brisha tetap menuntun pemuda rupawan yang menjadi primadona sekolahnya itu.
Setelah sampai di rumahnya, Brisha langsung mengompres luka memar tersebut, tak ada sepatah percakapan pun antara keduanya.
"Nama lo Brisha?" Tanya lelaki tersebut setelah terdiam cukup lama dan memastikan.
"Tau dari mana?" Brisha spontan langsung bertanya. Bagaimana pun, Brisha adalah tipikal orang yang tidak mudah bergaul dengan orang lain dan agak menutup diri.
"Karena lo peserta olimpiade fisika yang bisa bawa pulang piala bulan lalu." Jawab pemuda tersebut santai.
"Ada banyak peserta yang mewakili SMA Garuda bangsa, nggak mungkin lo langsung kenal gue gitu aja." Sanggah Brisha membuat pemuda itu tersenyum tipis.
"Karena lo cuma satu-satunya peserta yang berhasil, meskipun ada banyak peserta lainnya. And, yah! Selain itu lo beda dari yang lain." Jelasnya tak membuat Brisha langsung percaya begitu saja.
"Ngomong-ngomong, lo nggak mau tanya tentang gue atau-"
Brak!
"Dengan mbak Brisha shakayla. Hari ini sudah jatuh tempo angsuran hutang ibu anda. Mohon bayarkan sekarang juga!"
__ADS_1