
"Ya man? kali ini kamu bawa kabar apa?" Tanya seorang wanita baya dengan orang di seberang sana.
"Saya bertemu dengan orang yang wajahnya agak mirip dengan mendiang nona Nilam, jadi mungkinkah itu nona Kayla? Saya rasa kita harus mencari tahu lebih dalam untuk memastikan jika gadis yang saya temui beberapa hari lalu adalah benar-benar nona Kayla." Ucap suara berat dari seberang sana membuat binar mata wanita paruh baya itu muncul seketika.
"Tolong! Kali ini hanya kamu yang bisa saya percaya man, jadi kamu harus berusaha lebih keras lagi. Jika benar orang itu adalah Kayla langsung hubungi saya saat itu juga dan jangan lupa pastikan jika dia baik-baik saja." Pinta wanita tersebut dengan suara bergetar.
"Tentu nyonya, saya akan berusaha semaksimal mungkin. Jika ada kabar terbaru, saya akan langsung menghubungi anda. Saya permisi menutup sambungan nyonya, ada pekerjaan penting yang harus saya lakukan sekarang."
"Iya, terima kasih man, sudah mau membantu. Saya akan menunggu setiap perkembangan usaha kamu."
*****
"Jadi gimana Sha? Lo jadi ikut jalan-jalan nanti?" Gina bertanya pada Brisha yang sibuk memberesi peralatan belajarnya karena kegiatan belajar mengajar sudah usai.
"Kemungkinan besar enggak, gue ada banyak kerjaan buat besok." Jawab Brisha sambil berlalu keluar kelas.
"Yah, si Eneng! kalo urusan sibuk mah gue paham banget lo tiap hati sibuk. Gue mau ngajak lo jalan-jalan lo cuma seminggu sekali loh, masa lo nolak lagi." Brisha memandang temannya itu dengan tak enak.
"Sorry na, soalnya Minggu kemaren gue udah izin absen buat persiapan olimpiade, gue nggak enak kalo nanti izin lagi." Gina menghela napas saat mendengar ucapan final itu.
"Oke deh kalo gitu. Tapi, pokoknya Minggu depan lo harus mau jalan-jalan sama gue sekalian si Lura." Brisha tampak berpikir sejenak.
"Iya." putusnya membuat Gina langsung bersorak girang.
"Yey! maciw, muach!" Brisha mengusap pipinya dengan ekspresi jijik saat merasakan air liur Gina yang menempel di pipinya. Nertanya menatap gadis yang tampak berlari kecil menjauh darinya itu.
Ting!
dengan spontan ia mengambil benda pipih di sakunya.
Arres
nanti habis pulang kerja langsung ke rumah gue. Nyokap kangen sama lo.
*****
Suasana kedai yang ramai membuat beberapa pegawai di sana kewalahan begitu juga dengan gadis yang tampak sibuk bolak-balik mengantarkan pesanan pelanggan.
"Ampun dah! Kok jadi rame gini sih?" Kesal salah seorang pegawai membuat beberapa orang yang semula fokus pekerjaan masing-masing menjadi terkekeh geli.
"Aneh lo, bagus dong kalo rame itu artinya kita bisa pulang awal." Ucap temannya yang lain.
"Di depan udah mulai jarang yang dateng, tapi ini masih ada pesanan meskipun dikit." Ucap Brisha yang tampak baru saja tiba dari meja pelanggan.
"Ya udah deh, syukur aja. Soalnya gue cape banget." Lesu gadis tersebut sambil meracik minuman pesanan pelanggan.
__ADS_1
"Bukannya jadwal kerja lo udah habis dari setengah jam lalu ya?" Brisha menolehkan kepalanya pada sumber suara.
"Iya udah dari tadi sih. Tapi ternyata banyak banget customer yang datang ke sini. Makanya ini mau bantu-bantu dikit." Jawab Brisha sembari melepaskan pakaian pelayannya.
Di antara para pegawai lain, Brisha memang menempati posisi sebagai anggota termuda, itu sebabnya ia mendapatkan jam kerja yang tak sama dengan teman-temannya. Tapi di samping itu Brisha menerima konsekuensi jika gajinya tak setara dengan karyawan lain, hal tersebut juga membuat gadis berusia 18 tahun itu mencari job lain.
"Ya udah bang, mbak. Gue mau pulang dulu." Pamitnya pada orang yang masih setengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Iya dah! Titi DJ." Sahut gadis yang tadinya menggerutu.
"Hah? Titi DJ?" Saga mengimbuhi dengan pertanyaan.
"Hati-hati di jalan maksudnya. Ah elah, gitu doang kagak tau." Brisha tertawa kecil mendengar candaan itu. Tanpa berpikir lama, gadis tersebut meninggalkan kedai yang memilki seribu satu kenangan di sana.
Saat sampai di rumah sederhananya, gadis tersebut langsung membersihkan diri sebelum bersiap tidur setelah melakukan aktivitas-aktivitas yang membuat otaknya seperti akan meledak.
"Lo lupa? hari ini ada janji apa sama gue?" Tiba-tiba suara berat menembus jendela kamarnya membuat Brisha langsung bangun secara spontan dan mengusap dadanya yang berdetak dua kali lipat.
"Lo?! kenapa di sini? kenapa nggak ketok pintu dulu?" Brisha langsung membombardir Arres dengan banyak pertanyaan sekaligus kala melihat siapa gerangan yang menganggu niat untuk istirahatnya.
"Ck! juara satu olimpiade sekaligus spesialis ngelupain janji. Lo lupa apa yang gue kasih tau ke lo tadi siang di sekolah?" Arres melongok kan kepala dari luar jendela.
"Cepet siap-siap sekarang. Keburu malem." Tegas Arres membuat Brisha langsung melepaskan diri dari pelukan ranjang dan selimutnya.
"Masuk aja, pintu kebetulan belom gue kunci." Ucap Brisha memberikan kode agar Arres pergi dari tempat tersebut. Arres yang paham dengan usiran halus itu pun menganggukkan kepalanya singkat dan segera pergi dari sana agar Brisha bisa mengganti pakaiannya dengan tenang.
"Udah. Tapi nanti gue nggak bisa sampe malem-malem, soalnya gue mau istirahat meskipun besok Minggu." Papar gadis tersebut sambil melangkah keluar meninggalkan Arres di sana.
"Gampang, biar gue yang bilang sama nyokap."
Keduanya membelah jalanan kota dengan motor sport milik Arres.
"Kenapa pake motor?" Tanya Brisha setengah berteriak pada Arres yang fokus mengemudi.
"Lo nggak suka?" Tanya Arres balik sambil menambah laju motor kesayangannya.
"Hah?! gue nggak bisa dengar." Brisha mendekatkan bibirnya ke kepala Arres yang tertutup helm.
"Gue tadi nanya balik. Lo suka?" Arres memperjelas ucapannya.
"Oh, suka-suka aja sih, soalnya lebih seru. Tapi gue cuma heran aja kenapa tiba-tiba lo bawa motor kayak gini." Brisha mengungkapkan isi kepalanya.
"Hm, biar bisa deket sama lo." jawab Arres sambil tersenyum miring.
"Hah?! coba ulang. Sorry ya, gue nggak denger."
__ADS_1
"Gue tadi bilang biar kita bisa rasain suasana malem, soalnya mumpung cuacanya keliatan bagus banget." Arres meralat ucapan awalnya tadi.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, mereka akhirnya sampai di kediaman Arres yang tampak megah. Brisha turun terlebih dahulu sambil melepaskan helmnya.
"Masuk aja dulu, nyokap pasti udah bereksperimen di dapur." Brisha menggeleng lemah. "Nunggu lo aja, nggak sopan juga tamu masuk tanpa pemilik rumah di sampingnya." Brisha mengikuti langkah Arres menuju ruang utama, di sana sudah terdapat Arga yang tengah fokus membaca koran.
"Lho? Brisha? Waduh, tiba-tiba kedatangan calon mantu aja nih." Canda pria paruh baya itu yang dibalas senyum tipis dari gadis tersebut.
"Mama di mana pa?" Tanya Arres sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Widya.
"Dia lagi masak di dapur, nggak tau tuh mau masak apa. Katanya mau bereksperimen untuk menghasilkan resep autentik." Jawab Arga sembari mengalihkan perhatiannya ke koran.
"Udah gue duga, ya udah pa. Abang mau susul mama ke dapur dulu." Pamit Arres sambil menarik tangan Brisha pelan agar mengikuti langkahnya.
"Ya, ke sana aja." Ucap Arga sebelum perhatiannya benar-benar terenggut oleh berita yang di kemas dalam lembaran kertas itu.
"Wah! Kakak udah dateng aja, sama Brisha lagi." Widya mengulas senyum manisnya pada dua remaja berbeda gender tersebut.
"Ayo Brisha! Masak sama Tante yuk!" Sebelum menjawab, Brisha sudah merasakan tarikan dari wanita itu.
"Kenapa ada rame-rame nih?" tiba-tiba suara gadis datang dengan raut penasarannya. Saat melihat Brisha di sana gadis tersebut langsung memasang raut sinisnya.
"Ngapain lo ke sini? mau cari muka ya?" Tanyanya dengan nada mengejek.
"Hush! Adek, nggak boleh gitu. dari pada nganggur lebih baik kamu ikut masak bareng mama deh." Ara menggelengkan kepalanya pelan.
"Ara capek ma." Singkat Ara berniat pergi dari sana.
"eh, eh, eh. Nggak semudah itu dong. Masa kamu nggak mau masak sih, ayo dong jadi gadis yang produktif. Contohnya Brisha nih, dia-"
"Ck! ya udahya udah." Dengan ogah-ogahan Ara mendekati mamanya yang terlihat fokus dengan pekerjaannya.
"Nah! Yang ini kamu potong aja deh, biar Brisha yang potong yang itu. Mama keluar dulu mau nemuin papa kamu." Widya meninggalkan dua gadis berbeda usia tersebut di dapur sendirian. Brisha tampak fokus dengan proses memotongnya.
"Pisaunya nyaman dipake kan? Iya lah, soalnya itu kan belinya import. Lo mana mampu beli." Celetuk Ara yang sama sekali tak direspon oleh Brisha.
"Kalo itu sih nggak terlalu mahal lah ya, cuma gue yakin lo pasti nggak bakal bisa beli ini." Ara kembali membuka mulutnya.
"Kalo yang ini, mahal sih. Umpama pecah lo juga nggak bakal bisa ganti kan? Coba aja kita liat." Ucap Ara sambil tersenyum culas.
pyaar!
Benda yang berbahan dasar tanah liat itu pecah dengan kepingannya yang berceceran dimana-mana.
"Ya ampun Ara?! Itu tadi suara apa nak?" Widya tiba-tiba datang dengan raut khawatir.
__ADS_1
"M-maaf ma, tapi tadi yang pecahin kak Brisha."