Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
sharing


__ADS_3

"Gue boleh duduk di sini?" Izinnya membuat gadis yang semula membelakanginya menoleh sekilas dan mengangguk singkat.


Tanpa berfikir panjang Arres langsung duduk di bagian kursi yang tersisa, di samping gadis tersebut. Entah kebetulan atau apa, tapi tiba-tiba saja ia dipertemukan dengan gadis tersebut setelah beberapa waktu lalu memikirkannya.


Keheningan menyergap ruang lenggang antara keduanya. Namun, setelah beberapa saat Arres berdeham. "Lo nggak takut?" Tanyanya membuat gadis yang sibuk dengan buku catatan langsung menoleh lalu mengernyit. "Takut kenapa?" Tanya gadis itu balik yang di respon helaan nafas oleh Arres.


"Dulu delapan tahun silam, tepatnya di sini. Pernah ada tragedi bunuh diri dari seorang siswi, namanya Sarah. Katanya dia milih jalan itu karena udah nggak kuat sama bully-an dari kakak kelasnya, kata anak anak sini arwahnya sering gentayangan nakutin orang orang bahkan pernah ngejar pak satpam yang lagi tugas malam." Jelas Arres panjang lebar sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Sedangkan gadis itu hanya diam sambil terus memperhatikan laki laki yang sedang menikmati semilir angin dengan mata terpejam.


"Lo kenapa?" Tanyanya setelah lama mengamati gerak gerik cowok itu, merasa aneh dengan tingkahnya belakangan ini.


"Emang gue kenapa?" Tanya Arres balik berhasil membuat gadis itu mendengus sebal.


"Lo aneh, nggak biasanya lo banyak ngomong, apalagi percaya rumor. Tapi, belakangan ini lo banyak ngomong." Jelas gadis tersebut menyuarakan isi kepalanya.


"Sebenarnya gue nggak peduli mau rumor itu bener atau nggak." Sambungnya sembari membalikkan lembaran catatannya.


"Lo nggak takut hantu?" Tanya Arres setelah membuka matanya yang terpejam.


Brisha menarik nafas pelan."Sebenernya takut, tapi sejujurnya gue lebih takut sama manusia." Pungkas Brisha dengan mata terpejam menikmati semilir angin.


"Why?" Tanya Arres lagi.


Gadis itu terlihat diam sejenak. "Karena hantu mungkin nakutin orang dengan visual wajahnya yang cenderung serem, tapi manusia, sebenarnya mereka lebih serem daripada hantu, dan semua itu ketutup sama wajah-wajah naif, hantu mungkin bikin orang gemetar atau mungkin pingsan." Ucapnya dengan tatapan yang masih sama.


"Tapi, manusia bisa bikin kita hancur dan sialnya kita nggak akan sadar. Orang brengsek bisa bersembunyi di balik wajah polos dan berkeliaran di sekitar kita. Gue tau .... Tiap Manusia emang punya sisi brengseknya masing-masing, gue pun juga punya. Kadang gue mikir, ketimbang nguji adrenalin pake film horor bukannya lebih baik uji adrenalin pake hidup kita sendiri?. Gue pikir itu uji adrenalin yang belum pernah tertandingi, sensasi saat kita mengungkap penghianat dan para penjahat di hidup kita jauh lebih mendebarkan dari pada sekedar penampakan muka hancur di layar." Cetus gadis tersebut dengan tatapan lurus menerawang jauh. Arres terus memperhatikan wajahnya yang menatap kosong ke depan.


Tidak tahukah Brisha bahwa sebenarnya Arres sama bingungnya dengan kelakuannya belakangan ini? Sebenarnya ada apa dengan gadis ini?, Gadis yang sudah enam bulan menjadi kekasihnya, gadis yang menemani dinner dengan keluarganya 3 hari lalu, gadis dengan kepribadian pendiam sekaligus tertutup.


Apa yang sudah terjadi dengannya selama ini sampai ia memiliki pemikiran mengerikan tentang manusia, meskipun apa yang diucapkan Brisha masuk akal, apakah ini sebabnya gadis itu menutup diri dari keramaian? Memilih mengabaikan pertanyaan yang bergumul di otaknya, Arres kembali menyandarkan tubuhnya di kursi taman dan memejamkan mata.


Hening menyapa kembali membuat suasana taman yang rimbun terasa menyejukkan, Arres menikmati sentuhan lembut dari semilir angin. Teringat kotak bekal yang ia bawa sejak tadi langsung menegakkan tubuhnya yang semula bersandar.

__ADS_1


Tuk!


Bunyi sesuatu diletakkan membuat Brisha menatap ke sumber suara kemudian memandangi barang bawaan Arres dengan dahi berkerut.



"Ini punya Ara, karena udah terlambat jadinya Mama cepet cepet nyiapin bekal, alhasil ngambil kotak yang ada aja." Timpal Arres cepat karena merasa perlu menjelaskan, apalagi setelah tatapan intens dari Brisha untuk kotak bekal yang ia bawa.


"Emang gue nanya?" Sahut Brisha membuat Arres diam kemudian berdehem. "Cuma ngasih tau." Singkatnya yang dibalas anggukan oleh gadis di sampingnya.


"Hampir lupa kalo bawa bekal, untung inget, kalo nggak pasti mama bakal marah karena ketahuan nggak abis." Ucap Arres sembari menyodorkan sepotong sandwich yang tampak menggoda iman.


"Gue udah sarapan, lagian Tante Widya nyuruh ngabisin bukan dibagi sama orang lain." Tolak Brisha kembali fokus pada belajarnya.


"Sarapan udah lewat beberapa jam lalu, pasti lo udah laper lagi, dan untuk alasan Lo yang kedua emang Mama gue nyuruh buat ngabisin, tapi bukan berarti nggak ngajarin buat berbagi." Cetus Arres tak terbantahkan membuat Brisha mendengus geli.


"Pemaksaan." Cibir Brisha, tapi tak ayal ia menerima sodoran sandwich dari laki laki tersebut, lagi pula ucapan Arres memang ada benarnya, ia sudah lapar lagi meskipun sempat sarapan.


Mereka berdua makan dengan khidmat, memberi asupan cacing cacing yang sudah demo sejak tadi dengan sepotong sandwich yang terlihat menggoda iman. Sesuai tebakan Brisha, bahwa rasanya memang tak kalah dengan tampilannya. Seperti makanan yang pernah dibawakan oleh Widya tempo hari saat dinner, benar benar nikmat. Arres terus melahap sambil memperhatikan gadis yang tampak asik dengan dunianya sendiri, terlihat sangat menikmati sandwich buatan sang mama.


"Nggak ada alasan buat nggak nikmatin masakan Tante Widya." Cetus Brisha sambil memandang potongan sandwich yang tersisa. Membuatnya nostalgia, kala ia bermain di taman dekat rumahnya dengan riang, kemudian datang seorang dewasa, dengan membawa makanan yang masih mengepulkan asap pertanda tingginya suhu pada makanan tersebut.


Lalu mereka dengan gembira memakanya bersama, dan setiap hari mereka selalu menghabiskan dengan melakukan hal yang sama, bereksperimen dengan bahan dan bumbu-bumbu dapur untuk menemukan resep baru, kemudian otaknya mengingat semua kilas balik saat ia menghabiskan hampir 24 jam dalam Empat belas tahun hidupnya. Sampai akhirnya "seseorang itu" pergi meninggalkan semua kenangan yang pasti tidak akan pernah terulang kembali. Seperti biasa, dadanya berdenyut nyeri setiap ia mengingat masa lalunya, sorot matanya pun tidak bisa membohongi keadaan hatinya saat ini.


"Sha... "Panggil Arres membuat gadis itu tersentak dari lamunannya. Sedangkan Arres yang memperhatikan perubahan wajah gadis itu langsung merasa tidak nyaman. Dia tidak salah bicara kan? Apalagi sangat kentara sekali perubahan wajah gadis itu, yang semula terlihat cuek berubah menyendu dengan bahunya yang sedikit bergetar seperti menahan sesak. Meskipun ucapan yang ia lontarkan adalah kalimat yang umum dan bukan termasuk ranah pribadi.


Tapi ini adalah Brisha. Gadis yang dengan sekali melihat saja, orang orang akan langsung menganggapnya memiliki banyak masalah karena sikapnya yang cuek terhadap sekitar dan terkesan menutup diri dari pergaulan. Tidak menutup ke temannya.


"Are you okay?" Tanyanya sambil memandang khawatir.


"I'm okay." Jawabnya meyakinkan. Meskipun tidak percaya Arres tetap mengangguk.


"Udah bel dari tadi, gue balik dulu." Meskipun sudah berpamitan tapi cowok itu enggan beranjak. "Gue boleh minta tolong?" Tanyanya sembari membasahi bibir, pertanda kegugupan tengah melandanya.

__ADS_1


"Minta tolong apa?" Tanya gadis itu balik sambil membereskan buku-bukunya.


"Bawain itu, nanti gue ambil di rumah lo." Jawabnya dengan tatapan menuju ke benda yang di maksud.


Brisha mengikuti arah pandang Arres kemudian mengangguk paham. Ia cukup tahu ketidaknyamanan cowok itu karena kedapatan membawa barang berwarna pink tersebut. Meskipun dulu warna ini pernah digunakan sebagai simbol kejantanan, tapi sekarang pandangan masyarakat tentang pink dan laki laki tentu sudah berbeda. Dulu, warna ini dipakai untuk menambah kesan maskulin. Sedangkan sekarang, ketika seorang laki-laki memakai warna pink orang akan memandangnya sebagai lelaki lembek atau lebih parah homo.


"Tunggu!" Tahan Brisha membuat Arres yang sudah berlalu menjauh langsung berhenti dan berbalik sambil mengernyitkan dahi.


"Lo bilang ini punya Ara." Ucap Brisha memberitahu.


"So?"


"Tapi kok ada nama Lo di sini." Jelasnya sambil menunjuk bagian samping kotak tersebut.


'Punya Arres Gumilar .H.'


*****


Suara kran hidup memenuhi bilik perempuan. Jam terakhir yang kosong mengharuskan Brisha keluar kelas mencari udara segar, sekaligus menghindari stress. Karena kelasnya sudah pasti akan ramai bak pasar Senen. Dan sialnya salah satu pelopor keramaian tersebut adalah teman dekat sekaligus partner sebangkunya. Membuat Brisha tidak fokus belajar dan memilih pergi ke toilet sekedar mencuci tangan, berharap saat kembali nanti, kelas sudah kembali kondusif.


"Enak banget ya jadi beban orang, nggak diundang dinner tiba-tiba dateng sendiri." Sindir seorang gadis yang juga sedang mencuci tangannya di wastafel, yang sejak kapan datang Brisha tidak tahu dan tidak mau tahu. Memilih fokus pada kegiatannya.


"Btw, kemaren dress Lo bagus juga, keliatan mahal lagi, pasti dibawain Arres kan?, Nggak mungkin juga kali Lo beli sendiri, Lo mana mampu."Cibir gadis itu, gadis yang tiga hari lalu bertemu dengannya di meja makan milik keluarga Harendra.


"Gue kasian deh sama Lo, bokap Lo ninggalin Lo demi wanita lain yang udah di jodohin, kalian berdua jadi buangan tau nggak, eh abis itu lo-nya di tinggal mati sama nyokap, yah jadi piatu deh." Papar Tavisha sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. Sedangkan Brisha masih di tempatnya, menahan gemuruh di dadanya, mengepalkan tangan berusaha menyalurkan luapan emosi.


"Kok diem? Marah? Jangan marahi gue dong..., Lagian semua orang udah tau beritanya dari dulu kok, yeah, siapapun bokap Lo, gue mau ngucapin selamat karena udah lepas dari jeratan lintah darat kek nyokap Lo." Terang Tavisha sambil terus memandang Brisha yang terlihat diam sambil mengepalkan tangan sampai kukunya memutih.


Tak lama kemudian Brisha tersenyum."Makasih banget udah kasihan sama gue, tapi sebenernya gue lebih kasihan ke lo, mungkin nyokap gue udah nggak ada, tapi yang terpenting gue udah ngabisin Empat belas tahun hidup sambil bikin kenangan, nggak kayak nyokap lo yang nyetir anaknya kemanapun pergi. lo juga sering nge-bully orang, segitu bangetnya ya lo caper? Kalo tangan lo bisa ngomong pasti dia udah nangis karena kebanyakan bikin dosa. Lagian dari pada kayak most wanted, Lo lebih mirip anak kurang kasih sayang." Papar Brisha kemudian berniat menjauh, tapi lengannya dicengkeram kuat oleh Tavisha sampai kuku kuku panjangnya menggores kulit.


Kemudian dengan perlahan tangan Brisha menyentuh pergelangan tangan Tavisha yang mencengkram, dilepaskannya dengan perlahan lalu membuangnya dan memilih melenggang pergi.


Saat berpas pasan dengan tiga teman dari gadis tersebut di depan pintu bilik yang berdiri dengan tampang bossy dan menatapnya tajam. Tetapi ia memilih melengos begitu saja.

__ADS_1


Brisha sialan!


__ADS_2