
Matanya terpejam erat. Jantungnya berdetak 2 kali lipat, Brisha terkejut saat mengetahui ada bola yang melaju kencang ke arahnya.
Belum reda dengan keterkejutannya , ia di kejutkan kembali dengan dada bidang seseorang setelah membuka mata dan ternyata bola tersebut tidak mengenai dirinya tetapi, mengenai sang penolong tadi. Pantas saja tidak merasakan sakit di salah satu anggota tubuhnya.
"Sorry, gue nggak sengaja, maafin gue sha." Ucap bara, pemain basket yang secara tidak sengaja melempar bola keluar sampai hampir mengenai Brisha.
"Nggak papa."
"Thanks." Ucap Brisha memecah keheningan setelah bara pamit pergi dan di balas deheman singkat oleh orang tersebut.
"Gue temenin." Ucap orang tersebut setelah lama terdiam
"Nggak perlu, lagian Lo nggak tau-"
"Ruang osis." Jawab orang tersebut membuat Brisha langsung terdiam.
"Oke." Final Brisha setelah berfikir kemudian ia melangkah mengikuti orang tersebut.
Perjalanan keduanya benar benar diisi oleh keheningan, membuat suasana menjadi canggung. Tidak ada pembicaraan yang berlangsung di antara mereka kecuali sorakan kecil dari siswi kelas sepuluh saat keduanya melewati kelas mereka.
Setelah melalui suasana canggung akhirnya mereka sampai di depan ruang osis .
"Eh Arres, Brisha, ayo masuk kita bicara di dalam." Ucap Pak Gama setelah mengetahui siapa yang datang. Kemudian keduanya memilih masuk dan mendapati beberapa murid yang sudah berada di sana.
"Oke, sudah lengkap mari kita mulai sekarang. Jadi, tujuan kalian dikumpulkan disini untuk memberitahu kalian tentang akan diadakannya perlombaan di bidang akademik maupun non akademik. Kami, para guru juga sudah beberapa dari siswa dan siswi yang berpotensi mewakili sekolah ... " jelas Pak Gama panjang lebar. Sedangkan para murid yang berada di sana fokus mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
"Saya rasa cukup pertemuan kali ini, apabila terdapat informasi terbaru bapak akan memberitahukan kepada kalian. Untuk sekarang, kalian bisa kembali ke kelas masing-masing karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." Tutup Pak Gama Setelah dirasa cukup atas penyampaian informasinya.
Para murid pun bergegas keluar untuk kembali ke kelas masing-masing, berbeda dengan Brisha dan Arres yang masih duduk di tempatnya karena malas berdesak-desakan.
Setelah di rasa agak sepi Brisha memilih berdiri dan beranjak keluar.
"Nanti malem gue jemput." Ucap Arres tanpa basa-basi membuat langkah Brisha terhenti untuk kemudian berbalik
"Gue nggak bisa. Gue kerja." Jujur Brisha karena memang kenyataannya ia benar-benar sibuk bekerja.
__ADS_1
"Cuman bentar, nanti ada dinner bareng keluarga Tavisha." Jelas Arres membuat Brisha terdiam sejenak.
"Ya udah." Putus gadis tersebut kemudian memilih melanjutkan langkahnya lalu segera memakai sepatu dan bergegas pergi ke kelas meninggalkan Arres yang terus memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Setelah sampai di kelasnya Brisha langsung masuk karena Bu Ranti sudah duduk di bangku guru dan langsung duduk setelah mendapat izin dari guru tersebut.
"Eh tadi Lo kumpul bareng calon peserta olimpiade kan? berarti otomatis Lo ketemu Arres dong!, ciee, ketemu ayang nih ye." Seloroh Gina setengah berbisik yang langsung membuat Brisha menghela nafas lelah.
"Ceritain dong tadi lo-"
"Yang dibelakang kalau tidak mau ikut pelajaran saya silahkan keluar!" Potong Bu Ranti yang sedang menulis di papan tulis setelah mendengar suara bisik bisik dari bangku belakang. Karena hal tersebut, atensi satu kelas mengarah kepada gadis sejuta warna yang di balas senyum kaku dari gadis tersebut.
"Ihhh, Bu Ranti bikin gue malu aja, gue kan cuma bisik bisik doang nggak teriak teriak." Sebal Gina setelah semua berjalan kembali normal.
"Salah mah salah aja, nggak usah banyak alesan." Timpal gadis yang berada di belakang Brisha Membuat Gina mendengus sebal karena masih dendam dengan gadis tersebut perihal marah untuk hal sepele.
*****
"Sha, tolong anterin di meja nomor 08!" Perintah seorang cowok yang umurnya berkisar 20-an sembari menyodorkan makanan yang telah dipesan oleh pelanggan.
Hari ini pelanggan memang lumayan banyak seperti biasa. Kedai tua nan besar yang menjadi salah satu tempat bekerja selama dua tahun terakhir ini memang selalu ramai. Yah mungkin karena kedai ini sudah berdiri sejak puluhan tahun silam dan makanan disini memang memiliki rasa yang khas.
Tentu saja hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. Apalagi bentuk dan konsep bangunan ini masih terjaga dari dulu hingga sekarang. Membuat kedai ini banyak dikunjungi pelanggan dari berbagai kalangan mulai dari karena nostalgia, atau sekedar menyicipi hidangan disini. Bahkan banyak dari mereka memanfaatkan sebagai background foto untuk kemudian di upload di sosial media.
Sebentar lagi waktu kerjanya akan berakhir.
Karena teringat akan janji tadi siang membuat gadis itu bergegas merapikan semua peralatan yang sudah menjadi tugasnya sebagai pegawai disini.
"Bang gue balik duluan." Pamit Brisha kepada Saga, lelaki yang menyuruhnya beberapa waktu lalu.
"Yoi, baek baek pulangnya." Jawab lelaki tersebut sembari memasak menu pesanan
*****
"Makasih Pak." Ucap Brisha sambil memberikan helm kepada tukang ojek.
__ADS_1
"Sama sama neng." Balas tukang ojek tersebut sembari pamit dan pergi meninggalkan Brisha untuk kembali mencari pundi-pundi rupiah.
"Balik kerja?" Seseorang dibelakang Brisha membuat gadis tersebut sedikit tersentak tetapi kemudian wajahnya kembali datar. Lalu ia berbalik menghadap orang tersebut dan ternyata adalah Arres yang sedang berdiri di depan rumahnya dengan wajah datar. Bukanya menjawab pertanyaan Arres, Brisha lebih memilih membuka pintu rumahnya yang terkunci kemudian masuk dan diikuti oleh Arres.
"Ngapain kesini?" Tanya Brisha setelah lama terdiam.
"Lo lupa?, gue tadi siang ngomong apa?" Tanya Arres balik dengan dengusan sebal.
"Inget, gue telat?" Tanya Brisha lagi sembari menyodorkan minuman kepada Arres.
"Belum, cepetan siap siap!" Jawab Arres. bersamaan dengan tangannya yang terulur memberikan sebuah paper bag dan di terima baik oleh Brisha.
Seperti yang dikatakan Arres, Brisha pun mematuhi dan melangkah pergi untuk bersiap. Sedangkan Arres sendiri memilih berdiam di ruang tamu. Mengamati ruangan yang di dindingnya terdapat banyak foto yang terpasang rapi. Meskipun sudah beberapa kali datang ke sini, tetapi ia selalu menyempatkan diri untuk melihat lihat ruang minimalis ini.
Rumah yang tidak terlalu besar juga tidak bisa disebut kecil ini sangat terasa nyaman. Apalagi dengan adanya Beberapa pohon yang di tanam di persekitaran rumah membuat atmosfer di rumah ini terasa sejuk. Sebagai seorang yang menyukai ketenangan dan kesan simpel, rumah ini benar-benar masuk ke dalam salah satu jajaran rumah idaman.
Setelah beberapa menit, Arres menyudahi acara mengamatinya karena pemilik rumah sudah siap dengan pakaian yang ia bawakan. Dress selutut berwarna biru laut di tambah dengan sepatu kets putih yang memberikan kesan anggun sekaligus rasa nyaman bagi sang pemakai. Yah Arres cukup tahu bahwa Brisha tidak suka menggunakan sandal/sepatu ber-hak.
"Udah siap." Ucap Brisha yang di barengi dengan langkahnya keluar rumah dan mengunci pintu setelah Arres keluar.
"Udah tau." Jawab Arres membuat Brisha mendengus sebal.
Keduanya segera masuk kedalam mobil SUV yang sudah yang sudah terparkir indah di depan rumahnya dan langsung melaju meninggalkan kawasan perumahan membelah kerumunan jalan raya.
Disepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara. Brisha yang memilih mengamati jalanan dari jendela mobil dan Arres yang fokus menyetir membuat suasana menjadi canggung. Untuk itu Arres memilih menyetel musik pop untuk mengisi ruang lenggang di antara keduanya.
Setelah beberapa kali musik berganti, akhirnya mobil yang ditumpangi keduanya berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih tulang. Arres turun dan diikuti oleh Brisha setelah melepas seatbelt-nya. Memilih langsung masuk karena melihat mobil keluarga Tavisha sudah terparkir di sana. Samar samar terdengar obrolan ringan dari kedua keluarga yang suaranya semakin jelas karena langkah keduanya semakin dekat menuju arah ruang makan.
"Eh! Kakak udah nyampe, ayo kesini!" Seru Widya setelah mengetahui putra sulungnya baru saja sampai.
Arres pun mengangguk, digenggamnya tangan Brisha kemudian melangkah mendekat dan menyalami tangan Widya dan Mira.
"Papa sama om Bima lagi di atas ngebahas masalah perusahaan." Jelas Widya seakan tau apa yang Arres fikirkan dan di balas anggukan oleh sang putra.
Setelah itu Arres menarik salah satu kursi dan mempersilahkan Brisha untuk duduk di sana dan yang di balas dengan senyuman tipis dari gadis tersebut.
__ADS_1
"Manja banget kek orang buntung aja."