
"Kakak! Ayo cepet turun, nanti kamu telat loh!" Seru Widya sambil menyiapkan sarapan di bantu oleh Bi sum dan Mba lia, seorang asisten rumah tangga yang sudah mengabdi selama beberapa tahun.
Setelah beberapa menit akhirnya Arres muncul dengan seragam yang rapi, menuruni anak tangga dan berjalan menuju ruang makan lalu mendekati mamanya dan mencium pipi wanita paruh baya tersebut setelah sampai, membuat Arga selaku papanya mendengus karena melihat kejadian tersebut.
Apa apaan ini, putra sulungnya itu selalu berhasil membuatnya iri, dengan mudahnya mencium pipi sang istri sedangkan dirinya? Bahkan setiap kali ingin bermesraan istrinya akan berucap 'pa..., kita tuh udah tua, udah nggak cocok lagi kayak anak ABG, lagian nggak patut juga kalo sampek nanti anak anak liat' tapi lihat lah sekarang, bukan nya marah tapi istrinya malah membalas perlakuan putranya dengan senyum lembut. Ini benar-benar tidak adil untuknya, lihat saja ia akan-
"Papa kenapa?" Bingung Widya saat melihat wajah suaminya seperti menahan kesal.
"Loh, kakak mau kemana? Kan belom sarapan." Tanya Widya membuat Arga mendengus untuk kedua kalinya. Bahkan istrinya itu masih peka terhadap putranya saat sedang khawatir kepadanya dan memilih mengabaikannya?.
"Udah telat ma, mau berangkat dulu." Jelas Arres sembari memaki sepatu untuk kemudian berangkat agar tidak terlambat.
"Tunggu bentar! Biar mama bawain bekal." Intruksi Widya dan dengan cekatan menyiapkan bekal dan berlari kecil menghampiri putranya.
"Kakak sih, tumbenan amat berangkat siangan, adek aja udah berangkat, nih pokoknya harus di makan kotaknya jangan sampai hilang!" Gerutu Widya sambil menyodorkan kotak bekal yang sudah penuh.
"Ayo diterima!" Seru Widya dan dibalas dehaman oleh sang empu yang telinganya berangsur-angsur memerah.
"Nggak ada yang lain ma?" Tanya Arres setelah melihat kotak bekal tersebut.
"Mau diganti? Kalo gitu bentar."
"Ya udah itu aja." Final cowok itu kemudian.
Dan berlalu setelah menyalami mamanya
******
"Ehehe, makasih Aa Arres!"
Seru seorang cowok yang baru saja turun dari sebuah mobil dengan cengiran lebar, yang dibalas dengan degusan malas oleh sang empu.
"Hih, kek orang miskin aja lo, pake segala numpang orang." Hina seorang cowok yang juga baru saja turun dari sebuah mobil.
"Nyindir elit, sadar diri sulit." Celetuk cowok tersebut kepada orang yang mengejeknya.
"Maksud Lo siapa? Gue? Orang Genta sendiri yang nawarin tumpangan kok." Balas cowok bername tag 'KEVAN PUTRA .H.'
"Lah, Gue juga ditawarin sama Arres kale, liat noh muka Arres cemberut gara gara tadi gue sempet nolak, dia sampe mohon mohon ke gue, berhubung gue baik hati dan tidak sombong makanya gue terima." Seloroh cowok satunya yang bernama Kevin, seakan tak mau kalah dengan sanggahan Kevan, akhirnya mereka melanjutkan perdebatan.
Sedangkan Arres dan Magenta hanya bedecak malas melihat hal tersebut.
"Dasar beban!" Sentak keduanya bersamaan lalu pergi meninggalkan dua orang yang asik berdebat tersebut.
__ADS_1
"Sukurin! Lo di katain beban sama si Genta noh." Ejek Kevin sambil tersenyum pongah .
"Goblok! Lo juga dikatain sama Arres ege!" Balas Kevan tak mau kalah.
"Woi! Lo berdua ngapain di situ? Kagak denger bel udah bunyi dari tadi?" Teriak seorang cowok bernama Regan, seorang ketua OSIS yang terkenal galak.
"Kita tuh lagi ada urusan penting banget, Saking pentingnya nggak bisa diganggu gugat." Jelas Kevin yang diangguki oleh Kevan.
"Banyak alesan! Lo pikir gue percaya?" Sentak Regan sambil tersenyum miring.
"Lah goblok! Ngapain nanya kalo nggak percaya tolol!" Balas Kevan yang hanya diam dari tadi.
"Berani ngatain gue lo?!" Desis Regan sambil mengangkat rotan yang sejak tadi ia bawa.
"Lari ege! Dia bawa senjata woi!" Teriak Kevin yang sudah berlari menjauh membuat Kevan langsung tersadar dan mengumpat.
"Asem! Gue ditinggalin!" Panik Kevan yang pada akhirnya ikut berlari menjauh sebelum terkena tepukan manja dari senjata legend tersebut.
******
"Sekian pembelajaran dari saya, untuk tugasnya jangan lupa di kerjakan minggu depan kita presentasi." Ucap seorang guru berkacamata, pengampu mata pelajaran seni budaya, panggil saja Bu Klenting, tetapi beberapa murid menjulukinya 'Bunting'
"Jangan keluar dulu!, Hari ini kas, yang punya tunggakan cepetan lunasin sekarang! Yang nggak bayar sekarang gue sumpahin pantat klean semua bisulan!" Teriak seorang siswi yang bertugas menjadi bendahara kelas. Panggil saja Anna.
Sedangkan keduanya hanya mengerutkan kening sambil sesekali menggaruk hidungnya.
"Nggak usah pura-pura amnesia lo pada, mau gue buat amnesia beneran?!" Sentak Anna membuat keduanya menyengir lebar.
"Eh Anna, Minggu depan aja ya? Hari ini kita nggak bawa uang, kita berdua aja tadi nebeng si Arres ama Genta." Yap. Dua orang tersebut adalah Kevan dan Kevin yang kerap kali di panggil '******'.
"Alah! Besok mulu dari kemaren. Katanya nggak ada duit tapi makan di kantin, lo pikir gue gampang dikibulin? Sekarang bayar!" Teriak Anna membuat suasana di kelas semakin mencekam.
"Lah kita makan di kantin juga ngutang kok." Protes Keenan membuat Anna menggeram.
"Kalo lo berdua nggak bayar sekarang, Gue laporin Bu Bobon sama Pak Banu." Ancam Anna berhasil membuat keduanya pucat pasi dan dengan buru buru mengeluarkan uang sakunya dan memberikan pada sang bendahara yang langsung di terima secara spontan.
"Nah gini dong." Ucap Anna membuat para murid lega.
"Tapi jangan seneng dulu, masih banyak ya dari klean yang nunggak." Timpal Anna sambil menghitung uang membuat beberapa murid yang merasa punya tunggakan jadi panas dingin.
"Udin!!" Panggil Anna dengan suara lantang membuat seorang lelaki bertubuh bongsor tersentak.
"Buat apa sih harus bayar kas?" Tanya Udin membuat para murid menatapnya horor, wah! Keberanian Udin memang patut dia acungi celurit.
__ADS_1
"Buat apa Lo bilang?! Ya buat keperluan kelas lah ege! Udah tau namanya kas kelas. Sekarang, keluarin duit lo!" Jawab Anna tak terbantahkan membuat cowok tersebut mau tak mau mengeluarkan uang dari sakunya.
"Mana cukup segini! Lo udah nunggak tiga bulan woi, ini mah cuma buat satu bulan doang." Seloroh Anna.
"Na, kalo gue bayarin semua nanti makan bayar pake apa?" Tanya Udin bermaksud memberikan pengertian kepada Anna.
"Gue nggak peduli, siapa suruh nggak mau bayar tepat waktu, pokoknya Lo har- Udin!! Woi jangan kabur lo, gue tandain ya muka lo!" Teriak Anna saat Udin sudah menjauh dari jangkauannya. Kemudian gadis tersebut melanjutkan aktivitasnya.
Para murid banyak yang bercanda ria, sambil menunggu bel istirahat berbunyi, karena Bu klenting menyelesaikan kegiatan mengajarnya sebelum bel berbunyi yang mengharuskan mereka untuk menunggu. Bukan karena mereka anak rajin, tetapi karena mereka sedang menghindar dari hukuman. Yah, kelas samping sedang diajar oleh guru matematika terkiller. Maka dari itu banyak dari mereka memilih menunggu.
Seorang lelaki yang sedang menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang dimana Magenta sibuk membaca buku sedangkan Kevan dan Kevin sibuk bermain game kemudian berbalik kembali dan mengambil lembaran soal yang beberapa hari ini menemaninya belajar.
Ia membolak-balikkan lembaran tersebut hingga kegiatannya terhenti dan tercenung sejenak karena teringat seseorang.
Kemudian tatapannya tertuju pada tas sekolah yang volumenya terlihat lebih besar daripada hari hari sebelumnya. Tanpa berfikir panjang ia membuka resleting tas tersebut berniat mengeluarkan barang yang membuat tasnya terlihat terisi penuh.
"Si ege! Lo kalo liat komuknya Regan tadi gue jamin pasti lo bakal ng-"
Hening...,
Kelas yang tadinya ramai bak pasar malam sekarang sunyi bak kuburan.
Atensi para murid langsung tertuju pada Arres dengan berbagai reaksi mulai dari melotot sampai melongo beberapa dari mereka juga langsung mengabadikan momen tersebut untuk kemudian disebarkan melalui akun gosip sekolah.
"Itu tadi Arres?" Tanya Anna dengan wajah cengonya.
"Demi apa?!!" Teriak siswi lain yang membuat kelas kembali heboh. Sedangkan Kevan, Kevin dan Magenta hanya terdiam bak patung di bangkunya sambil terus memandang kepergian Arres.
Arres yang berjalan di koridor sekolah menjadi pusat perhatian seluruh murid sekolah dan mereka juga menunjukkan reaksi sama seperti teman nya.
"Ya ampun lucu banget!" Histeris para siswi yang melihatnya.
Sedangkan sang empu hanya berdehem pelan untuk meminimalisir rasa malunya, kemudian mempercepat langkah agar terbebas dari tatapan intens dari para murid.
Saat melewati taman barat sekolah langkahnya terhenti untuk kemudian berfikir sejenak.
Jika ia melanjutkan langkahnya ke kantin pasti akan terjadi kehebohan yang sama atau mungkin lebih besar, jadi bukankah lebih baik ia menghindar dari tempat ramai seperti kantin contohnya.
Memandang barang bawaannya dan tanpa ba-bi-bu langsung menuju area taman sekolah. Taman barat yang jarang di kunjungi barbeda dengan taman selatan sekolah yang selalu ramai, karena adanya desas desus bahwa tempat tersebut angker. bukan tanpa sebab para murid menyebutnya anker karena beberapa dari mereka mendapatkan cerita bahwa taman ini pernah manjadi tempat bunuh diri seorang siswi.
Apalagi di samping batas taman ini juga terdapat sebuah kuburan yang menambah kesan horor. Membuat mereka semakin yakin bahwa hal itu benar adanya. Meskipun pihak sekolah sudah mengklarifikasi bahwa kuburan tersebut milik Seorang warga yang memang berhak atas kepemilikan tanah, tapi tidak membuat rumor yang merebak berhenti juga. Alhasil taman ini menjadi sepi meskipun tukang bersih-bersih rutin merawatnnya.
Langkahnya terhenti saat mengetahui ada orang lain yang juga berada di sana, seorang gadis dengan seragam SMA duduk membelakanginya punggung tegas yang terasa familiar membuat Arres mendekat.
__ADS_1
"Gue boleh duduk di sini?"