
"Woilah! liat pengumuman kemaren gue udah nggak kaget kalo si Arres bakalan menang, secara dia emang pinter woi. nah! karena lo menang nih res, jadi jangan lupa buat traktir kita lho." Kevan mulai membuka percakapan setelah upacara telah usai. berbeda dari upacara sebelumnya, upacara kali ini ditambahi dengan apresiasi untuk beberapa peserta olimpiade yang berhasil meraih prestasi gemilang dan mengharumkan nama sekolah. Sekarang, mereka berempat sedang berjalan menuju kelas untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar.
"Dih! udah gue duga! Lo pasti bakalan modus kan ujung-ujungnya, tapi ya nggak papa juga sih." Kevin ikut menimpali.
"The real beban." celetuk Magenta membuat dua pemuda yang merasa tersindir itu tak terima.
"Sembarangan kalo ngomong, lo kalo nggak bisa bilang yang nyenengin ati mending diem aja deh. Dasar papan triplek sekalinya ngomong nyakitin ati." Kevin memandang Magenta dengan tatapan sengit.
"Tau tuh, kek kita minjem duit dia aja. padahal kan si Arres juga nggak papa ye kan!" Kevan ikut menambahi.
"Hm, lo emang pernah minjem duit gue." Magenta menjawab dengan santai sambil mengotak-atik ponselnya. Laki-laki tersebut menunjukkan roomchatnya dengan Kevan.
Kevan
ikan gurame ikan gabus
tapi yang arwana dimakan tikus
agar silaturahmi tidak terputus
pinjamin dulu dong seratus.
"waduh! parah lo Van, ternyata lo orangnya tukang ngutang ya? serem deh jadinya. Kagak mau lagi gue punya sohib kek lo." Kevin memandang temannya itu dengan tatapan kasihan.
"Govlok! gue minjem Magenta buat lo juga ege!" Kevan tampak tak terima dengan ucapan Kevin.
"Dasar! dua beban lagi saling lempar muka." Celetuk Magenta mengikuti langkah Arres menuju kelas mereka.
setelah sampai dikelas, betapa terkejut keempat pemuda tersebut melihat banyak sekali makanan yang tertata rapi di meja.
"Selamat buat kebanggaan kelas kita, sambutlah! Arres Gumilar Hanendra!" Semua anggota kelas langsung bertepuk tangan dengan meriah sambil sesekali bersiul menggoda.
__ADS_1
"Wah! nanti ada acara makan-makan nih. pas banget gue lagi laper." Celetuk Udin yang baru saja datang sambil menatap penuh nafsu pada makanan yang berjejer rapi di sana.
"Buat orang yang namanya Udin! jangan pernah sekali-kali ambil makanan yang di meja!" teriak Anna menggelegar membuat Udin seketika mengubah raut wajahnya yang semula ceria menjadi murung seketika.
"Kenapa? gue salah apa?" Tanyanya menuntut penjelasan.
Anna yang mendengar pertanyaan itu sontak melotot ngeri. "Salah apa Lo bilang?! heh! ini semua dibeli pake uang kas ya! dan lo baru bayar setengah dari tunggakan kalo lo lupa." Udin langsung menghela napas pasrah.
"Kenapa ini? bukannya harusnya pelajaran kayak biasanya ya?" Tanya Arres membuat mereka langsung paham dengan pertanyaan yang Arres lontarkan dan ekspresi tak nyaman dari prmuda tersebut. Pasalnya, seperti yang semua orang tau jika Arres adalah orang yang sangat disiplin.
"Tenang aja bro! kita rencanain kek ginian juga liat situasi ama kondisi juga kok. jadi karena emang jam pertama kosong, makanya kita bikin acaranya di jam pertama. yah, itung-itung buat rayain kemenangan lo yang udah keberapa kalinya ini yang pastinya bikin kelas kita makin dipandang kereb lah, yah meskipun ini emang kecil-kecilan." Seluruh murid mengangguk setuju atas ucapan sang ketua kelas.
"Ya udah! yok res, gabung sini dong! kita rayain bareng-bareng, masa lo sebagai bintang utamanya malah cuma ngancut doang." Anna memanggil Arres agar segera merapat, apalagi Kevan dan Kevin ternyata sudah ikut berjejer di sana dengan tampak polos bak boneka chucky.
"Oke kita fotbar dulu nih." Salah seorang murid memberikan aba-aba. Semua orang di sana langsung berpose.
setelah selesai dengan acara fotbar, mereka melanjutkan acara dengan makan-makan. Arres melihat teman-temannya yang berlalu-lalang mencicipi makanan yang tampak menggoda iman. Netranya tak sengaja melihat Udin yang hanya diam saja di pojokan kelas layaknya penunggu ruangan.
"Lo gabung aja sana." Arres menyuruh Udin sambil menunjuk pada siswa dan siswi yang tampak sibuk memanjakan lidah.
Anna yang menyadari itu langsung berdecak sebal. "Ya udah deh, Sono gabung lo." Udin yang mendengar itupun langsung berbinar cerah. Laki-laki itu langsung bergabung bersama teman-temannya yang lain.
Musik dangdut tiba-tiba terdengar keras di antara kerumunan orang yang sibuk dengan perut itu. Di sana sang ketua kelas tengah berdiri dengan mini sound system di sampingnya.
"Ayo! kakak-kakak dipersilahkan berjoget-joget dengan riang." Seru ketua kelas membuat sebagian murid mulai meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti irama lagu bergenre dangdut itu.
"Ihh! Lagunya bisa ganti nggak sih?! Gue kagak suka sama dangdut woi." Teriak Anna sambil menutup kupingnya dramatis.
"Ah elah, tinggal nikmatin aja apa susahnya sih." Celetuk Kevan sambil berjoget riang.
"Cikini ke Gondangdia." Kevan tiba-tiba merebut mikrofon yang semula ada ditangan ketua kelas.
__ADS_1
"Woi! Berhenti! siapa yang nyanyi nih?! Suaranya kek jelek banget, anjim!" Teriak salah seorang siswa sambil menutup telinganya.
"Ku jadi begini gara-gara dia." Kevan tampak tak peduli dengan umpatan teman-temannya dan terus menyanyi mengikuti kata hatinya.
"Cikampek Tasikmalaya." Anna langsung memencet tombol power agar penderitaan mereka semua berakhir.
"Woilah! Napa di matiin?!" Kevan tampak sewot saat sadar mikrofonnya sudah tak menyala.
"Please! Jangan nyanyi lagi. Sadar nggak sih?! Suara lo tuh, fals." Kevan langsung kembali bersama teman-temannya saat mendapatkan penolakan dari seluruh anggota kelas.
"Nggak papa bro, kalo lo diblacklist, masih ada gue yang bakalan lanjutin perjuangan lo dalam menghibur teman-teman." Udin berusaha menghibur salah seorang temannya yang murung itu.
dengan langkah penuh kepercayaan diri, Udin berjalan ke depan membuat para murid laki-laki turut menyemangatinya. dengan tekad yang sudah bulat, pemuda itu mengambil sedikit paksa mikrofon yang ada di tangan Anna. Udin langsung menghidupkan kembali sound system tersebut layaknya sebuah harapan baru bagi teman-temannya.
"Alah! Nggak usah nyanyi aja deh, kita nggak suka dangdut." Anna mengeraskan nada suara sebelum Udin menyumbangkan suara.
"Tenang bestie, gue nggak bakalan nyanyi dangdut. Gue bakal nyanyi lagunya si Mahalini yang judulnya .... Melawan restu." para laki-laki langsung bersorak mendengar ucapan Udin.
Karena melihat antusias teman-temannya, Anna yang tak setuju mau tak mau membiarkan saja.
"Mungkinkah aku meminta, kisah kita selamanya.Tak terlintas dalam benakku bila hatiku tanpamu." Udin tampak sangat menghayati peran. berbeda dengan teman-temannya yang langsung menutup telinganya mendengar suara Udin yang serak-serak banjir.
"I-ini lebih parah nih." Ucap Kevin ikut menutup telinganya. Ia pikir suara terburuk adalah milik Kevan, ternyata oh ternyata ada Udin yang belum terhitung di sini. Arres dan Magenta yang semula menikmati makanan ringan langsung menutup telinganya kuat.
"Tak terlintas dalam benakku bila hatiku tanpamu. segala cara telah ku coba. pertahankan cinta kita, selalu ku titipkan dalam doaku, tapi ku tak mampu melawan restu." Udin tampak tak peduli dengan ucapan teman-temannya.
"Siap high note?!" teriaknya membuat orang-orang di sana langsung melotot ngeri.
"J-jangann, please." Ucap mereka pasrah.
"Hoooooooh! aaaa! hoooo-"
__ADS_1
DUARR!
"Udiiiinnnn!"