Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
dihukum bareng ayang


__ADS_3

seluruh murid kelas XI MIPA ¹ mengikuti langkah guru BK dengan raut tertekuk. semua siswa-siswi sekolah melihat mereka layaknya tawanan perang karena telah membuat keributan yang menggangu kegiatan belajar mengajar mereka.


"Huuuu, ini nih kelas yang buat onar. dasar egois! nggak mau ngertiin kelas lain yang lagi belajar." Teriak seorang cowok yang diikuti orang-orang di sekitarnya untuk mem-bully kelas pembuat onar itu.


"Lo sih, gue kan udah bilang. Jangan nyanyi! liat kan?! jadi kita semua yang kena, niat buat rayain kemenangan Arres malah jadi kek gini. tanggung jawab lo." Bisik Anna pada Udin yang terlihat berjalan di belakangnya dengan kepala yang menunduk.


"Kok lo cuma nyalahin gue?! heh! yang nyanyi sebelum gue tadi nggak lo marahin? Lagian nih-"


"Yang belakangan ngapain bisik-bisik kayak gitu?! Udahlah nyusahin anak-anak yang mau belajar, nambah-nambah pekerjaan saya lagi!" Udin langsung kicep mendengar ucapan guru BK tersebut.


"Lah! Situ ngapain mau-mau aja ngurusin kita? Kan kita nggak pernah minta." Celetuk Kevan tak sadar tengah membangunkan singa yang telah lama tertidur.


"Heh! Siapa yang ngomong itu?! Anak nggak sopan! cepetan jalan!" Arres berjalan ke bagian paling depan agar teman-teman tidak grasak-grusuk dan langsung ke lapangan tempat mereka di hukum.


Sesampainya di lapangan, mereka dikejutkan oleh anak-anak XI MIPA ² yang sepertinya juga sedang dihukum.


"Lolo nggak bahaya ta? Jadi kita punya temen dari kelas lain, asyik!" Kevan berjalan dengan semangat menghampiri anak-anak yang kebanyakan raut wajahnya tertekuk sama seperti teman-teman sekelasnya.


Bruk!


"Kevan! Gila ya lo, ini sampahnya udah dibersihin ege! bisa-bisanya malah lo berantakin lagi." Gina tampak emosi dengan kelakuan Kevan, gadis tersebut spontan langsung mengangkat sapunya untuk memukul Kevan.


"Heh! Kalian berdua jangan ribut, kerjakan hukuman sekarang juga, buat Gina sama Udin, kalau sudah selesai jangan kembali dulu, ada hukuman tambahan buat kalian. Yang ini khusus untuk pembuat onar." ucapan bu Bonita langsung direspon ekspresi lesu dari keduanya.


"Sekarang! Kalian silahkan mengambil alat-alat kebersihan, kalau sampai ada yang ketahuan kabur atau nganggur, nanti ibu hukum sendiri. Dan jangan kalian pikir bisa bebas, saya akan mengutus orang untuk mengawasi kalian." Ucap Bu Bonita sebelum melangkah pergi disusul kedatangan sang ketua OSIS yang sepertinya ditugaskan untuk mengawasi mereka.


Arres mengedarkan pandangannya ke seluruh lapangan sampai akhirnya netra tajamnya menemukan sesosok gadis yang tengah kesulitan membawa plastik berisi dedaunan kering di samping lapangan. Dengan langkah yang bergegas, ia mendekati garis tersebut dan langsung membantu membawa barang bawaannya.

__ADS_1


Brisha mengernyit kala melihat siapa yang datang membantunya, pasalnya ia baru akan pergi membuang sampah dedaunan dan berhenti saat di tengah jalan untuk mengambil napas sejenak, tiba-tiba laki-laki tersebut datang dan membantunya tanpa sepatah kata pun.


"Kenapa lo di sini? Ini kan waktunya pelajaran." Heran gadis tersebut sambil ikut mengangkat sisi dari plastik dan berjalan ke tempat pembuangan sampah.


"Dihukum." Jawab Arres singkat.


"terlambat?" Tanya Brisha lagi.


"Nggak, gue dihukum sama temen-temen gara-gara ribut di kelas karena lagi rayain kemenangan olimpiade waktu jamkos. Emang lo kenapa dihukum?" Tanya Arres balik sambil membuang sampah dedaunan itu saat sudah sampai di tempat pembuangan.


"Kasusnya sama kaya lo." Jawab Brisha mulai berbalik untuk kembali menjalankan hukumannya membersihkan lapangan.


"Woi! Enak banget lo berdua, kita panas-panasan di sini sambil bersihin lapangan, lo berdua malah ngadem sekalian ngapel." Seru Gina saat menyadari Brisha kembali bersama Arres.


"Biarin dia lah! Orang pacar juga punya sendiri. Emangnya lo, suka nyinyirin orang, nggak sadar sendirinya juga jomblo." Sindir Kevin membuat Gina langsung murka seketika.


"Woi Arres, gantian sini dong! Masa lo cuma bantuin Brisha doang. Mentang-mentang ye, dihukum bareng ayang." Anna tampak kesulitan dengan barang bawaannya.


"Ya udah sini gue bantuin." Tiba-tiba Udin datang dengan niat membantunya. Anna hanya bisa pasrah kala niatnya untuk merecoki dua sejoli itu gagal.


mereka semua saling bahu-membahu membersihkan lapangan bola yang seluas jidat Udin itu meskipun dengan mulut yang berkomat-kamit menyuarakan sumpah serapah karena kondisi di bawah panas terik matahari. Apalagi hukuman harus selesai sampai lapangan benar-benar bersih.


setelah berjam-jam lamanya mereka berperang menggunakan alat-alat kebersihan, akhirnya hukuman tersebut selesai, penderitaan yang awalnya mereka buat sendiri itu akhirnya telah berakhir.


"Hah! ya Tuhan, akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang." Seru Gina sambil membuang sapu yang semula ia bawa.


"Lah? beristirahat dengan tenang? Mati dong." Celetuk Udin membuat Gina langsung memandangnya dengan tatapan permusuhan.

__ADS_1


"Apa? mau marah lo? bener kan ucapan gue?" Gina langsung bergegas menghampiri cowok tersebut dengan tangan yang sudah siap mencabik-cabik wajahnya. Udin yang menyadari niat gadis tersebut langsung berlari mencari perlindungan.


"Woi Udin Jang kabur lo!" panggil Gina ikut berlari mengejar sang mangsa.


satu persatu murid mulai meninggalkan lapangan untuk ke kantin menghilangkan penat. Tinggal Brisha dan beberapa orang di sana. Arres berjalan mendekati Brisha dan membantu gadis tersebut membereskan alat-alat kebersihan.


"Kemaren waktunya banyak angsuran?" Tanya Arres tiba-tiba membuat Brisha langsung memusatkan perhatiannya pada laki-laki tersebut.


"iya." Jawab Brisha apa adanya.


"Duit dari gue nggak kurang kan?" tanya Arres lagi memastikan sesuatu.


"Nggak, malah kelebihan." Brisha berjalan meninggalkan lapangan diikuti Arres.


"Gue udah rencanain, buat taruh nama lo di daftar kafe biar nanti tiap bulan lo langsung dapet bagian dari kafe, antisipasi kalo gue lupa." Beri tahu Arres membuat Brisha langsung mengernyit. Ada perasaan tak suka kala laki-laki tersebut cenderung bersikap berlebihan.


"Jangan berlebihan, kalo seandainya keluarga lo tau gimana?" Brisha menolak rencana Arres yang dinilai konyol itu.


"Nggak gimana-gimana, mereka udah berbasin gue buat punya pilihan sendiri asal itu bukan hal yang neko-neko, lagian itu kafe juga punya gue." Brisha dibuat kembali menghela napas dengan jawaban Arres.


"Nggak neko-neko? dengan apa yang kita sepakati ini aja itu udah kehitung neko-neko res." Arres terdiam mendengar ucapan Brisha.


"Tapi kalo seandainya mereka tahu juga nggak bakal marah kok, status lo juga pacar gua. Mereka pasti ngiranya kita lagi belajar urus keuangan."


"Mereka siapa yang lo maksud, bokap sama nyokap lo? Terus Ara gimana? Lagian angsuran almarhum nyokap gue cuma sampe tiga bulan lagi kok, selama itu juga gue bakal usahain tugas gue tuntas, setelah itu urusan kita semuanya selesai." Brisha berusaha memberikan pengertian pada pemuda tersebut.


"Nggak ada salahnya kita nyoba kan? Lagian gue udah saranin dari awal buat langsung bayar aja semuanya sekalian. Kalo kayak gini jadinya lo jadi kayak orang yang kerja, lo dibayar atas jasa lo." Arres tetap teguh pada pendiriannya.

__ADS_1


"Lo lupa? pada dasarnya gue emang lagi kerja. Lo yang tiap bulan berkewajiban bayar hutang almarhum nyokap gue, dan gue sendiri yang bertugas bikin hidup lo yang dikejar cewek-cewek itu jadi tenang. So, nggak selamanya kita bakal jadi pacar terus, ada masanya semua bakal selesai. Ingat res, hubungan kita cuma di atas kertas, kalo waktunya udah habis ya hubungannya ikut habis."


__ADS_2