Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
nasihat bunda


__ADS_3

Atensi semua penghuni ruang BK langsung terarah untuk pemuda yang baru saja datang itu.


"Silahkan Arres, kamu mau memberikan sanggahan apa untuk membela Brisha?" Bu bobon mempersilahkan Arres duduk terlebih dahulu tepat di samping Brisha.


"Tapi ibu harap kamu benar-benar mengungkapkan yang sebenarnya bukan hanya karena Brisha punya hubungan dekat dengan kamu dan kamu membela dia karena itu." interupsi Bu bobon sebelum Arres membuka mulut. Arres yang mendengar itu hanya mengangguk patuh.


"Sebelumnya apakah tadi Brisha sudah bercerita kronologi menurut versinya? Jika belum lebih baik biarkan dia mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


"Oh iya, dia sudah menceritakan kronologi kejadian menurut versi dia sendiri, dan yah terjadi sedikit perdebatan kecil sampai akhirnya kamu datang. Jadi Sekarang giliran kamu yang mendapatkan kesempatan untuk membela Brisha, dan jangan lupa untuk menyertakan bukti." Arres lagi-lagi menganggukkan kepalanya patuh.


"Seperti yang semua orang tau, kalau Brisha tadi ikut di lapangan untuk menerima hukuman, yah selama itu mungkin saja sedang terjadi pembullyan itu. Dia tidak tahu menahu tentang pembullyan itu bahkan-"


"Maling nggak akan pernah ngaku res. Kalo seandainya dia ngaku, udah pasti bakal langsung kena hukuman kan?" Potong Tavisha secara spontan.


"Kalo gitu kasih gue bukti, nggak perlu banyak-banyak deh. Satu bukti kuat aja kalo lo nggak mampu kasih yang lebih." Jawab Arres dengan wajah kelewat santainya.


"Ini! Ini jepitan yang lo kasih ke dia kan? Nggak mungkin dong, kalo lo lupa sama barang pemberian sendiri. Gue dapetin ini waktu dia bully gue. liat! di sini bahkan masih ada sisa-sisa helai rambut dia." Arres tampak mendengus geli kala mendengar ucapan Tavisha.


Pemuda tersebut mengeluarkan sebuah benda aksesoris yang mirip dengan jepitan yang di bawa Tavisha.


"Sayangnya tebakan lo salah, jepitan itu bukan punya Brisha sekalipun mirip seratus persen, yah lagian itu jepitan juga agak pasaran, siapa emangnya yang bakalan langsung ngenalin kalo itu punya Brisha atau nggak, sedangkan kalo lo ke mall aja langsung bisa temuin jepitan ini. Ini jepitan yang gue kasih ke dia waktu itu, yang hilang waktu jam olahraga. So, bukti lo nggak cukup kuat buat nyatain kalo Brisha bersalah." Brisha, Bu Bonita dan Bu Ratna hanya diam sambil menyimak perdebatan yang sedikit kolot itu.

__ADS_1


"Oke, begini saja. Lebih baik kita cari tau dulu siapa sebenarnya yang sudah mem-bully kamu Tavisha, dan selama pelakunya belum ditemukan, kamu tidak bisa menuduh Brisha begitu saja. Dan sekarang lebih baik kalian kembali ke kelas masing-masing karena masalah perselisihan antara kalian sudah selesai. Sekarang kita fokus sebenarnya siapa yang sudah mem-bully Tavisha. Untuk Brisha, nanti biar ada yang mengumumkan kalau kamu buka pelaku pembullyan itu agar tidak ada kesalahpahaman." Putus Bu Bonita membuat Brisha langsung bangkit dari duduknya untuk segera kembali ke kelasnya.


Saat berada di pintu keluar, betapa terkejutnya gadis tersebut melihat teman-temannya tengah berjejer rapi sambil menampilkan gestur menguping.


"Kalian ngapain di sini?" Tanya gadis tersebut membuat teman-temannya langsung terlonjak kaget.


"E-eh, hehehehe. Brisha, udah selesai aja. sok atuh, kalo mau ke kelas. Kita mah ada urusan sama Bu bobon." Ucap Gina sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Tanpa mempedulikan tingkah absurb teman-temannya, Brisha langsung melanjutkan langkahnya untuk ke kelas. Gadis tersebut berjalan di koridor sekolah melewati beberapa kelas yang penghuninya langsung memandang ia dengan tatapan penasaran, pasalnya sudah menjadi rahasia umum jika Tavisha adalah orang bermuka dua, mereka tentu penasaran dengan apa yang terjadi pada Brisha seusai gadis tersebut mendapatkan panggilan dari guru BK.


Tiba-tiba tanpa di rencanakan, Brisha merasakan tarikan kuat dari seseorang yang menuntunnya ke roof top. Gadis tersebut sedikit memberontak kala melihat sang pelaku.


"Lepas." Ujarnya datar saat mereka berduaan sampai di tempat tujuan. Entah apa yang di rencanakan Arres sampai menariknya ke mari, tapi yang jelas ia sedang malas berbicara dengan siapapun.


Arres tak menjawab pertanyaan Brisha. Pemuda itu lebih memilih menarik tangan Brisha dan berdiri tepat di belakang gadis tersebut. Tanpa berpikir panjang lelaki itu menarik pelan rambut Brisha yang terurai bebas terombang-ambing oleh angin roof top yang agak kencang.


Arres menyatukan helaian rambut hitam segelap malam itu kemudian menjepit dengan jepitan jedai yang semula ada di tangannya.


"Jangan sampe hilang lagi, sialnya gue nggak punya serep lagi kalo ada yang nuduh ke kayak tadi." Ujar Arres membuat Brisha mengernyit heran.


"Lagi? Jadi maksud lo jepitan ini buka punya gue yang hilang waktu itu?" Tanyanya mengutarakan kebingungan.

__ADS_1


"Gue waktu itu beli jepitan ini tiga buah. Satu buat mama, yang satunya buat Ara dan yang terakhir buat lo. Sekarang, jepitan yang lo pake ini bagian yang awalnya gue niatin buat mama." Brisha semakin bingung kala mendengar penjelasan Arres.


"Jadi jepit yang tadi dibawa sama Tavisha itu beneran punya gue? Dan jepit ini yang bukan punya gue gitu?" Brisha tak tahan untuk terus menggali informasi.


"Hm, maybe. Tapi apapun itu akhirnya lo bisa bebas dari tuduhan itu kan?" Ucap pemuda itu sambil menyampirkan anak rambut Brisha yang tampak menutupi wajah gadis tersebut.


"Tapi, lo sama aja curang res. Kan Bu bobon sendiri juga bilang buat lo jujur dan jangan karena kita punya hubungan lo jadi bela gue." Ucap Brisha dengan nada sedikit tak senang.


"Oke, kalo begitu jawab pertanyaan gue, siapa yang bully Tavisha?" Tanya Arres lugas membuat Brisha menghela napas lelah.


"Gue nggak tau, lo sendiri juga liat kan? Dari jam pelajaran pertama aja kita bersih-bersih lapangan abis itu ke kantin dan berita pembullyan itu tiba-tiba aja muncul buat heboh semua orang." Brisha menjelaskan tanpa menutup-nutupi sesuatu. Toh, memang itu kebenarannya.


"Jadi bukan lo yang bully dia?" Arres kembali bertanya.


"Gue nggak segabut itu sampe bully dia segala. Apalagi tadi posisi gue lagi capek-capeknya." Arres tersenyum miring kala jawaban yang Brisha berikan sesuai dengan apa yang ia harapkan.


pemuda itu berjalan untuk semakin dekat dengan Brisha. Sebaliknya, Brisha semakin memundurkan langkahnya agar menjauh dari jangkauan Arres yang semakin lama semakin mendekatinya.


"Lo tau apa kelemahan lo? Kalo lo berhadapan sama orang jahat, lo nggak bisa ngimbangin permainan licik mereka, lo bilang gue curang karena kasih bukti palsu. Tanpa lo sadari seandainya kalo gue nggak tolongin lo, pasti tadi lo langsung kena hukuman, skorsing maybe?" Brisha terdiam sambil mencerna ucapan pemuda tersebut yang memang sangat valid.


"Brisha shakayla. Gue tau kita semua punya sisi baik masing-masing, but menurut gue lo terlalu baik dalam hal mengasihani, sampe lo kadang nggak mikirin keadaan diri lo sendiri. Tavisha itu duta perundung, dan lo selalu jadi sasaran utama dia. Gue nggak habis pikir sama lo yang selalu liat orang dari sisi baiknya aja. please! Kalo ada yang nyakitin lo, harusnya sekali-kali lo balas dengan setimpal. Gue-"

__ADS_1


"Asal lo tau res, gue bahkan udah nggak peduli lagi kalo seandainya ada orang yang ngatain gue bodoh karena terlalu mengasihani orang jahat, it's okay. Gue nggak bakalan tersinggung kok. Mereka yang ngatain gue kayak gitu nggak tau betapa berharganya nasihat bunda gue yang selalu bilang buat selalu memaafkan kesalahan orang. Gue nggak mau bikin bunda kecewa karena nggak menjalankan nasihatnya dengan baik."


__ADS_2