
Semua murid yang menyaksikan kejadian itu di toilet baik dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas menatap Brisha dengan tatapan intimidasi. Bisik-bisik itu bahkan bisa terdengar oleh Brisha, bisikan yang berisi cemoohan untuknya atas tuduhan tak berdasar.
"Kurang ajar! Si Tavisha bisa-bisanya nuduh lo yang enggak-enggak, dan yang lebih parahnya dia malah pingsan gitu aja. Nggak bisa dibiarin, kita harus buktiin kalo lo nggak bersalah Sha." Gina menatap penuh permusuhan pada Tavisha yang tampak di bawa menuju UKS.
"Udah biarin aja, selagi gue nggak dipanggil sama guru BK dan tuduhan itu nggak ada buktinya nggak perlu kasih pembelaan, itu malah terkesan kalo gue bersalah dengan cari pembenaran, kalo emang gue nggak salah, pasti ada jalan." Ujar Brisha sambil berlalu ke arah kelas meninggalkan dua temannya yang menatapnya dengan penuh kebingungan.
"Tapi feeling gue, lo bakal dimintai keterangan sama guru BK deh. it's okay kalo sampe itu kejadian, nanti kita bakalan temenin lo buat ngomong yang sebenarnya." Gina mengikuti langkah Brisha ke kelas untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar.
Baru saja keduanya sampai di bangku masing-masing tiba-tiba seorang siswi datang dengan membawa mandat dari guru BK.
"Maaf sebelumnya, Bu bobon suruh aku buat panggil kak Brisha pergi ke ruang BK." Ucapan tersebut sontak direspon kegaduhan oleh murid-murid di kelas.
"Yang bener nih, masa cuma gara-gara omongan si tukang bully yang nggak ada buktinya, Brisha jadi langsung dipanggil kayak gini." Ucap seorang siswi sambil menunjukkan wajah paniknya.
"Iya noh, pokoknya kita harus kasih pembelaan nih, orang dari tadi aja si Brisha ngikut kita bersih-bersih lapangan, abis itu bukanya dia langsung ke kantin." Ucap lainnya dengan menggebu-gebu.
"Nah betul, enak aja main tuduh-tuduh nggak jelas, kalo dia bisa ngomong kek gitu, kita juga bisa serang balik pake bukti, biarin noh kita keluarin semua kebenaran-kebenaran kalo dia bukan cuma ngebully sekali dua kali, tapi berkali-kali. Kalo perlu kita ajak deh semua korban buat ke sana kasih kesaksian! Betul?!" Gina berseru dengan tekad yang bulat.
"Betul!" Seru lainnya membuat orang yang dimandati oleh guru BK itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum paksa.
__ADS_1
"I-iya udah kak, saya cuma dititipi amanah buat sampaikan ini, permisi kak." Pamit siswi tersebut langsung berlalu keluar dari kelas yang terkenal agak bar-bar itu.
Brisha memijit kepalanya yang pening. Gadis tersebut berulang kali menghela napas melihat ke-bar-baran teman-teman.
"Udah guys! Gue bisa ke sana sendiri, kalian nggak usah repot-repot. Kalo seandainya gue nggak mampu pasti bakal minta tolong kalian kok." Brisha berujar sambil bangkit dan berjalan keluar jelas untuk memenuhi panggilan guru BK.
Saat di perjalanan menuju ruang BK, banyak pasang mata mengarahkan atensinya kepada Brisha dengan rasa keingintahuan mereka tentang apa yang akan terjadi pada gadis tersebut.
Setelah menarik napas dalam-dalam, Brisha masuk ke ruang terkutuk bagi para murid-murid nakal tersebut. Di sana, terdapat Bu Bonita yang sepertinya tengah menunggu kedatangan Brisha, gadis tersebut langsung duduk saat Bu Bonita mempersilakannya.
"Oke Brisha, kamu pasti tau alasan saya memberikan mandat ke salah satu siswi untuk disampaikan ke kamu." Bu Bonita memulai pembicaraan serius itu. Sebagai responnya Brisha mengangguk paham.
Brisha menatap lekat jepit rambut jedai dengan beberapa helaian rambut rontok menempel di sana. Melihat aksesoris tersebut mengingatkannya pada jepit rambutnya yang hilang beberapa hari lalu dan juga sangat mirip dengan benda ini. Kala itu ia dan Arres tengah belajar bersama untuk persiapan olimpiade, karena mereka belajar di ruang terbuka membuat rambut Brisha yang tidak diikat menjadi terombang-ambing oleh angin. Arres memberikan benda tersebut pada Brisha agar tidak menggangu acara belajar keduanya. tidak sampai beberapa hari, jepit rambut itu hilang entah kemana saat gadis tersebut aktif pada jam olahraga.
"Ini dari Tavisha. sekarang dia tidak bisa memberikan kronologi jelasnya di sini karena kondisinya masih belum sembuh total, dia cuma bicara waktu di UKS tadi, Tavisha memberikan kejelasan kalau kamu adalah orang yang sudah mem-bully dia dengan bukti jepit rambut ini. dan setelah saya bertanya kepada beberapa orang saksi, katanya memang benar jika ini jepit rambut kamu karena mereka pernah melihat kamu pakai jepit rambut ini." Brisha mengambil jepit rambut itu dan mengamatinya. Jujur saja, ia tidak tau persis secara spesifik jepit rambut itu, meskipun ini mirip, tapi Brisha tak mungkin langsung mengklaim benda ini miliknya.
"Saya memang pernah pakai jepit seperti ini, hanya saja saya tidak yakin kalau jepit ini milik saya, apalagi jepit saya memang hilang beberapa hari lalu." Jawab Brisha lugas.
"memangnya ibu tidak ada niatan ingin melihat langsung saja CCTV yang ada di dekat toilet, siapa tau ada kesalahpahaman yang membuat Tavisha bilang jika saya pelaku perundungan itu." Saran Brisha yang direspon helaan napas dari bu Bonita.
__ADS_1
"Itulah, saya sudah mengecek CCTV toilet putri, tapi ternyata di sana saya tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Begini saja, saya akan panggil Tavisha kemari untuk menjelaskan kronologi versinya dan kamu tentunya juga akan menjelaskan versi kamu sendiri." Putus guru BK yang bertubuh gempal itu sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
"Bu Bonita? Kenapa malah suruh Tavisha ke sini, tadi katanya disuruh istirahat." Tanya seorang wanita paruh baya dengan seragam khas gurunya yang baru saja tiba bersama dengan seorang gadis berpenampilan menyedihkan.
"Ada yang perlu diselesaikan dengan baik-baik di sini, maka dari itu saya suruh Bu Ratna buat bawa Tavisha kemari biar tidak ada kesalahpahaman." Jawab wanita paruh baya yang berprofesi sebagai guru tersebut.
"Oh, oke kalau begitu. Ayo Tavisha silahkan duduk." Ajak Bu Ratna sambil menarik kan kursi untuk gadis yang tampak lemah itu.
"Baik, sekarang kedua belah pihak pelapor dan terlapor sudah ada di sini, jadi adanya kalian di sini untuk menjelaskan kronologi secara rinci. Karena di sini sang pelapor adalah Tavisha maka, silahkan Tavisha menjelaskan kronologi rincinya sampai kamu mengaku jika Brisha adalah orang yang mem-bully kamu" Bu Bonita mempersilakan gadis yang duduk di samping Bu Ratna.
Tavisha tampak diam sejenak. "Awalnya, saya di toilet untuk menuntaskan hajat, tapi tiba-tiba saat saya keluar dari toilet ada yang menarik rambut saya kuat sampai dahi saya terbentur wastafel." Ucap Tavisha sambil terisak pilu dan sembari menunjuk dahinya yang memar. "Setelah itu, saya dijambak, dipukul dan ditampar dengan membabi-buta." Sambungnya dengan tangis yang semakin deras.
"Baik, sekarang saya butuh penjelasan dari versi Brisha." Bu Bonita mempersilakan Brisha untuk berbicara.
"Seperti yang ibu lihat sendiri, saat jam pertama kelas saya rame karena berniat merayakan kemenangan olimpiade saya, dan akibatnya satu kelas harus menerima konsekuensi dari anda sendiri untuk membersihkan lapangan seperti halnya dengan kelas XII MIPA². Jadi saya juga ikut membersihkan lapangan layaknya teman-teman yang lain. Saat hukuman selesai, saya dan Lura langsung ke kantin karena bertepatan dengan waktu istirahat. Gina menjadi pengecualian karena dia mendapatkan hukuman tambahan sampai akhirnya dia juga menyusul ke kantin dan kita menghabiskan hampir seluruh waktu istirahat di kantin. saat bel masuk akan berbunyi, kita bergegas ke kelas untuk kegiatan belajar mengajar dan saat itulah semua orang berlarian ke toilet untuk melihat Tavisha yang katanya menjadi korban perundungan." Jelas Brisha tanpa menutup-nutupi apapun.
"Bohong! Dia bahkan ke toilet untuk merundung saya. Buktinya saya membawa jepit-"
"Brisha tidak bersalah! Saya datang untuk bersaksi dan menangkis tuduhan yang hanya berdasarkan dari jepit rambut saja." Ucap seorang pemuda yang baru saja datang dan memotong ucapan Tavisha.
__ADS_1
TBC