
"Manja banget, kek orang buntung aja." Cibir seorang gadis yang melihat aksi kedua sejoli itu.
"Dek! Nggak boleh gitu." Peringat Widya setelah mendengar putri kedua sekaligus anak bungsunya secara terang-terangan mengejek Brisha.
Ara dan Arres adalah dua saudara yang memiliki sifat berbanding terbalik. Ara yang suka diperhatikan dan Arres yang kurang peka salah satu contohnya. Hal tersebut membuat keduanya kadang kala kesulitan berinteraksi layaknya adik kakak yang saling menyayangi pada umumnya. Apalagi semenjak masing-masing dari keduanya mulai menginjak SMP dan SMA.
Dua kakak beradik itu sibuk dengan urusannya di dunia pendidikan. juga karena Arres sering tinggal di apartemen membuat keduanya jarang bertemu hingga semakin lama hubungan keduanya semakin renggang. Entah karena apa Ara selalu membenci Brisha bahkan sejak Brisha di kenalkan sebagai kekasihnya, Ara secara terang-terangan menunjukkan sifat agresif nya. Tidak ada yang benar-benar tahu alasan di balik semua itu.
"Eh Ara gimana sekolahnya? Tante denger kemarin habis menang basket ya?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Mira, ibu Tavisha.
"Iya Tan, tapi awalnya sempet ketinggalan jauh sih, untung kita masih bisa ngejar poin." Jawab Ara sopan sembari tersenyum hangat.
"Nggak papa keren loh mau berusaha, ngomong ngomong anak Tante kemaren dapet tawaran banyak brand kecantikan. Tapi, yah kita sih cuma bisa berharap cepet dikasih kepastian, soalnya kasian juga liat banyak brand ngantri nggak di kasih kepastian." Jelas Mira dengan senyum bangga sambil menatap anak semata wayangnya. Sedangkan sang anak hanya tersenyum malu-malu.
"Wah! Tante ikut seneng dengernya, selamat ya." Ucap Widya sambil mengelus lembut lengan Tavisha.
"Makasih Tan, doain lancar soalnya ini nanti juga bakalan dipilihin agensi. Jadi, yang terbaik aja." Jelas Tavisha dengan senyum anggun.
"Pasti! Tapi ngomong ngomong kalian kanĀ satu sekolah, jadi sering ketemu dong, Atau malah deket?" Tanya Widya antusias karena melihat sikap sehari-hari putranya membuat wanita paruh baya itu penasaran.
"Kalo Arres sering ketemu sih Tan, apalagi Arres orangnya kan famous, jadi setiap kemana mana selalu jadi pusat perhatian.
Tapi, kalo Brisha jarang banget karena Brisha anaknya tertutup, mungkin juga karena Brisha nggak terlalu terkenal, jadi aku jarang ketemu " Jawab Tavisha dengan mempertahankan senyum anggunnya.
"Ya ampun nak Brisha tertutup ya? nggak nyangka, sekali kali bergaul ya? Takut nanti lama lama jadi ansos. Mungkin kamu bisa deketin anak Tante soalnya anak Tante kan terkenal apalagi prestasinya nggak main-main. Tapi sayang banget, anak Tante nggak mau temenan sama orang sembarangan. Maaf ya." Jelas Mira sambil menampilkan wajah sendu.
"Nggak perlu deketin anak Tante Brisha udah terkenal kok, apalagi prestasinya juga nggak kalah main-main. Tapi, kalo ansos nggak juga sih, dia cuman tertutup, soalnya Brisha nggak bergaul sama orang sembarangan, takut nanti malah temenan sama tukang bully dia jadi dapet dampak negatif." Bukan Brisha yang menjawab melainkan Arres yang pada bagian akhir ia memandang seseorang yang membuat wajah sang empu menjadi pucat pasi.
Sedangkan Brisha lebih memilih memperhatikan Arres, heran dengan apa yang Arres katakan. Wow! 44 kata dalam satu kali ucapan. Bahkan selam 6 bulan menjadi kekasihnya ia tidak pernah mendengarkan kalimat sepanjang ini yang keluar dari mulutnya. Tentu saja pelajaran menjadi pengecualian.
Karena seperti yang para siswa dan siswi tahu bagaimana sangat cakap nya lelaki tersebut dalam hal pelajaran. Padahal ia bisa saja menyangkal ucapan Tante Mira tanpa bantuan dari lelaki tersebut. Apakah Arres memiliki penyakit bipolar, alter ego atau semacamnya?, Lalu haruskah Brisha mengabadikannya dalam buku rekor tahunan?.
"Udah jaman sekarang masih ada aja pembully kayak gitu?" Tanya Widya karena terkejut dengan penuturan sang putra.
"Kenapa enggak?" Jawab Naresh misterius dengan pandangan yang belum juga lepas dari orang tersebut membuat wajah sang empu semakin pucat pasi .
"Yeah apapun itu, ngomong ngomong kak Arres sama kak visha cocok nggak sih?, Prestasi mereka berdua no kaleng kaleng, yang satu dalam bidang akademik yang satunya non akademik,jadi seimbang nggak jomplang karena ahli dalam satu bidang aja, mana kak visha udah jelas bibit, bebet, bobotnya. Rugi nggak sih nyia-nyiain orang kayak kak visha cuma buat orang yang asal usulnya nggak jelas?" Timpal Ara membuat atensi seluruh orang di meja makan langsung tertuju pada gadis tersebut, sedangkan Arres hanya menahan umpatan untuk adiknya.
__ADS_1
"Ara." Ucap Widya sambil memegang pundak anaknya untuk berhenti berbicara agar tidak terjadi suasana canggung lagi.
"Wah! Udah lengkap aja nih maafin Papa sama Om ya? Keasikan bahas bisnis jadi merembet kemana-mana, dinner nya jadi telat. Kalo gitu ayo di mulai." Timpal Arga, ayah Arres yang baru saja datang setelah selesai membahas bisnis dengan Bima, membuat niat Arres untuk menjawab perkataan adiknya surut. Kemudian mereka semua makan dengan khidmat.
*****
Keluarga Tavisha sudah pulang sejak dinner selesai. Hanya tersisa keluarga Arres dan satu orang gadis di sana. Widya tampak begitu excited berbincang dengan Brisha. Membahas seputar pekerjaan rumah tangga sampai hobinya sebagai maniak bunga. Brisha yang merupakan florist tentu saja bisa dengan mudah mengimbangi, apalagi Widya memiliki aura keibuan yang membuat gadis tersebut semakin nyaman mengobrol.
"Papa tadi kok lama banget nyusulnya, ngapain aja sih." Tanya Ara membuat atensi seluruh orang di meja makan langsung tertuju padanya.
"kita lupa saking keasikan ngobrol ." Terang Arga sambil tersenyum ke arah putrinya.
"Ngobrolin apa hayo, Papa nggak ngobrolin mantan kan?" Tanya Widya dengan mata memicing.
"Ya nggak lah ma, inget nggak? kita pernah beberapa kali kumpul sama keluarganya Bima dan banyak banget kejadian lucu tiap ketemu, mulai dari Arres pernah jatuh di got bareng Tavisha, terus Arres yang lari gara gara di kejar kucing, bahkan kita pernah rencana jodohin mereka berdua, terus-"
"Wait, Kak Arres pernah di jodohin sama kak Tavisha?terus kenapa nggak di lanjutin?" Sela Ara membuat Arres menghunuskan tatapan tajamnya untuk sang adik.
"Kenapa nggak dilanjutin? Ya biar kakak milih istrinya sendiri lah, lagian kita nggak bisa seenaknya jodoh jodohin, karena kakak lebih berhak hidup bahagia atas pilihannya kan? Terus nih ya, mama dulu juga pernah di jodohin tapi batal karena mama lebih milih sama papa dan kita harus berjuang buat dapetin restu. Jadi, kita nggak mau kalian sama kayak mama yang mau nikah pun harus menghadapi kesulitan dulu." Tutur Widya sambil menatap kedua anaknya lalu merangkul bahu gadis di sampingnya, Brisha.
"Aku pengen punya ipar kayak kak Tavisha, apalagi mereka berdua juga cocok." Ungkap Ara dengan lesu.
"Ma, pa, Arres ke atas dulu sama Brisha." Timpal Arres membuat Widya langsung memicingkan matanya.
"Mau ngapain?!" Garang Widya membuat niat Arres untuk beranjak dari duduknya surut seketika.
"Mau bahas masalah olimpiade." Singkat Arres membuat Widya dan Arga menghembuskan nafas lega.
"Yaudah, tapi jangan malem-malem ya?nanti Brisha di cariin keluarganya." Tutur Widya dengan tatapan lembut yang di balas dengan senyuman kaku dari Brisha.
Kemudian mereka berdua beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke kamar Arres yang berada di lantai dua.
"Aku baru tahu, ternyata selain tertutup kak Brisha juga nggak tau malu ya?"Langkah Arres dan Brisha langsung terhenti seketika.
"Ara! siapa yang ngajarin kamu ngomong kaya gitu?!" Tanya Arga dengan tatapan tajamnya yang menghunus membuat seisi ruangan langsung senyap menyisakan atmosfer yang semakin lama terasa menyesakkan.
"Ara sekarang kamu masuk ke kamar!" Perintah Widya berusaha menengahi, karena tidak ingin terjadi pertengkaran antara anak dengan suaminya tersebut.
__ADS_1
"Sekarang Ara!" Tegas Widya sekali lagi membuat niat Ara yang akan protes surut seketika. Kemudian, gadis 16 tahun tersebut langsung meninggalkan meja makan dengan tatapan tajam yang di tujukan kepada Brisha. Sedangkan Widya hanya mengusap pelan pundak suaminya dengan maksud agar membuat suaminya tenang .
Brisha yang semula hanya diam melihat hal tersebut langsung berjalan ke atas mengikuti Ara setelah cowok itu menepuk pun bahunya untuk melanjutkan langkah.
Sampai akhirnya langkah keduanya terhenti di depan sebuah pintu bercat hitam yang Brisha tebak merupakan kamar Arres lalu memilih masuk setelah sang pemilik kamar mempersilahkan masuk. Yah, Kamar yang didominasi dengan warna gelap, apalagi barang barang yang ada di kamar ini tidak terlalu banyak tapi tersusun rapi membuat kamar ini terkesan simpel benar benar menggambarkan sifat sang pemilik.
"Sorry...," Ungkap Arres membuat atensi Brisha langsung teralihkan.
"Buat?" Tanya Brisha bingung.
"Ara." singkat Arres sembari menyodorkan lembaran soal latihan membuat gadis tersebut mengulurkan tangan untuk menerimanya.
"Nggak papa, udah biasa." Tutur Brisha sambil membolak-balikkan lembaran tersebut. sedangkan Arres hanya bisa menatap gadis tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. kalimat 'udah biasa' yang gadis tersebut ucapkan membuat sudut hatinya sedikit tersentil apalagi disertai dengan senyum simpul membuat sebagian dari dirinya merasa tidak nyaman.
"Gue mau pulang." Pamit Brisha membuat tatapan dalam Arres buyar seketika.
"Gue anterin." Singkat cowok tersebut sambil berlalu mengambil kunci kemudian keluar dan diikuti oleh Brisha.
"Brisha nya udah mau pulang?" Tanya Widya yang juga baru saja keluar dari kamar putrinya. Keduanya kompak mengangguk membuat Widya gemas sendiri.
"Sebentar! Ayo ikut Tante." Instruksi Widya sambil menarik Brisha membuat gadis tersebut mau tak mau mengikutinya, sedangkan Arres hanya melihat kedua manusia berbeda generasi tersebut berjalan menjauh.
"Tante minta maaf karena sikap Ara ke kamu tadi. Sama ini buat kamu sama keluarga kamu, bilang ke mereka buat tanda terima kasih karena ngizinin kamu dinner bareng di sini." Tutur wanita paruh baya tersebut sambil tersenyum manis.
"Makasih Tante." Ucap gadis tersebut dengan senyum simpulnya yang dibalas dengan pelukan hangat dari Widya.
"Ya udah kalian hati hati yah!" Seru Widya sambil melambaikan tangan.
******
"Thanks." Ucap Brisha bersamaan dengan ia yang turun dari mobil.
"Gue duluan." Pamit Arres yang dibalas anggukan oleh gadis tersebut. Kemudian, cowok tersebut langsung melajukan mobilnya menjauhi kawasan perumahan Brisha, mata Brisha terus menatap mobil beserta pemiliknya tersebut menjauh.
Setelah matanya tidak mampu menjangkau lagi ia memilih berbalik dan berjalan menuju rumahnya dan masuk lalu menguncinya. Tubuhnya ia sandarkan di daun pintu dengan mata terpejam erat.
'Nanti Brisha dicariin keluarganya.'
__ADS_1
Perlahan, tubuhnya luruh ke lantai begitu saja. Tangannya menyentuh dada yang terasa sesak bagaikan terhimpit bongkahan batu. Nafasnya tercekat dengan bahu bergetar.
andai, semua ini nggak terjadi, gue nggak bakalan kayak gini.