
Sebuah ruangan berisi alat-alat kebersihan tampak tenang karena di dalamnya terdapat dua insan yang sedari tadi tak ada yang membuka suara.
Sudah sejak sepuluh menit lalu, keduanya terjebak. Ralat, maksudnya kedua remaja tersebut di jebak oleh temannya.
Brisha yang baru menyadari rencana Gina itu hanya bisa diam pasrah menerima nasib. Mau bagaimana lagi? Nyatanya ia memang benar-benar Tek berdaya sekarang. Ia hanya bisa menunggu Gina membukakan pintu tersebut dan sebelum itu, mau tidak mau Brisha harus berada dalam satu ruangan dengan orang yang berbeda gender dengannya itu.
"Gimana kabar lo?" tanya Arres sambil melihat-lihat peralatan kebersihan di depannya.
Mendengar ucapan pembuka dari Arres itu, secara otomatis Brisha langsung mengalihkan perhatiannya.
"Baik," singkat gadis itu sambil menatap balik manik hitam kelam di depannya itu.
Sedangkan di sisi lain, beberapa remaja tengah fokus mencuri dengar pembicaraan dua insan di gudang sana.
"Mereka ngomongin apaan sih? Kok gue kagak bisa denger ya?" tanya Gina setengah berbisik.
"Budeg kali lo," celetuk Kevin membuat Gina langsung melotot ngeri.
"Sembarangan ya lo pin, kalo ngomong. Seumpama posisi kita di ganti palingan lo juga sama kagak denger." Gina menatap pemuda itu dengan tatapan sinisnya.
"Ya udah mana gantian gue yang nguping. Minggir lo." Kevin mendekatkan indra pendengarnya ke pintu untuk membuktikan ucapannya sendiri.
"Gimana kagak denger kan?" tanya Gian tak sabaran.
"Mungkin gara-gara ini pintu terlalu tebel jadinya gue kesulitan nguping," jawab Kevin mencari aman.
"Halah! budeg mah budeg aja. Pake sok-sokan nyalahin pintu." Gina menarik kuat Kevin agar ia bisa bergabung untuk menguping bersama.
"Lo nggak ikut nguping?" tanya Kevan pada gadis yang sedari tadi hanya diam menyaksikan semua rencana itu berlangsung.
"Gue nggak minat masuk-masuk sembarangan ke privasi orang lain," jawab Lura menohok membuat Gina dan Kevin merasa tersindir.
__ADS_1
"Ye, lo mah bukan nggak mau ikut campur privasi orang lain, tapi lo tuh nggak peduli kalo liat temen sendiri sedih dan nggak fokus belajar. Dan gue sebagai barisan pelestari cinta sejati nggak akan biarin hubungan sahabat gue kandas gitu aja. ,Ya kan pin?" Kevin mengangguk setuju.
"Bukannya lo juga pengen tau masalah apa yang Brisha hadapin ya? Nyatanya kalo lo emang cuma peduli harusnya lo nggak perlu nguping segala. Bilang aja lo juga kepo," Kevan akhirnya buka suara.
"Mau ikutan nguping?" tawar Kevin pada temannya itu.
"Boleh?" tanya Kevan sambil berbinar.
"Si ege! Ternyata lo sama aja. Pake sok-sokan ceramahin orang, eh ternyata sendirinya juga pengen." Kevan menyengir lebar saat mendengar omelan dari Kevin.
"Syuttt! Kita denger bareng-bareng." Gina menengahi perdebatan kecil itu.
"Gue ...minta maaf atas kejadian itu." Suara Arres akhirnya terdengar jelas.
"Nggak papa, lupain aja. Itu bukan kejadian yang patut di," jawab Brisha membuat mereka semua bertanya-tanya.
"Tapi, gue yakin lo pasti ngerasa nggak nyaman sama kejadian itu." Mereka mendengar Arres yang terus mendesak Brisha untuk jujur.
"Kejadian? Kejadian apa yang bikin mereka renggang?" tanya Gina di sela-sela fokusnya.
"Kayaknya mereka udah baikan deh. Nggak ada suaranya dari tadi." Kevin ikut menimbrung.
"Ya udah atuh, kalo udah selesai waktunya kita buka." Gina yang sedari tadi mengantongi kunci, langsung mengeluarkan benda berharga itu dan membuka pintu setengah usang didepannya dengan kunci yang ia bawa.
Cklek!
"Ayo pergi sekarang, nanti mereka juga keluar sendiri," ajak Kevin sambil menarik pelan tangan Gina.
"Kalian?! Ngapain kalian di situ?! Mau melakukan hal yang nggak senonoh ya?!" teriakan seorang wanita membuyarkan fokus mereka, dengan spontan mereka semua mengalihkan atensi.
"E-eh Bu Bonita, hehehehe. Kita mau ngambil alat kebersihan kok. Jangan berburuk sangka kali bu. Masa kita-kita yang murid teladan ini melakukan hal tak senonoh di gudang sekolah, nggak banget tau. Lebih baik kan di hotel-"
__ADS_1
"Kevin! Mau macam-macam ya kamu, awas saya akan melakukan panggilan orang tua untuk kalian semua di sini." Gina otomatis langsung melotot ngeri mendengarnya. Oke, bagi Kevan dan Kevin mungkin ini adalah hal biasa mengingat sikap dua remaja itu yang agak brandal. Tapi dia? Oh tidak, ini tidak bisa di biarkan. Bagaimana nanti tanggapan orang-orang tentang dirinya jika sampai mengalami pemanggilan orang tua.
"Nggak bisa gitu dong Bu. Kalo mau panggil orang tua, ya panggil aja orang tua si kepan sama kepin. Orang mereka kok yang nakal. Kita mah nggak ikut-ikutan." Gina berusaha membela diri.
"Halah gin, tadi kan lo sendiri yang setuju buat rencanain ini bareng-bareng. Kita bakal lakuin bertiga-"
"Enak aja lo ngomong. Rencana kita bukan itu ya! Lo nggak usah ngadi-ngadi deh." Gina mengancam dua pemuda yang menatapnya polos itu.
"Aduhh!! sebenarnya apa yang kalian rencanakan? Kenapa ambigu sekali? Kalau kayak gini saya sudah memutuskan untuk benar-benar memanggil orang tua kalian. Sebelum itu, kalian harus menerima hukuma dari saya- Heh! mau kemana kalian?! Jangan kabur dari hukuman saya." Bu Bonita terus mengeluarkan ancaman yang tidak dipedulikan oleh mereka yang sibuk menyelamatkan diri itu.
Cklek!
"Arres? Brisha? Ngapain di dalam gudang dan berdua-duaan di sana? Kalian nggek melakukan hal yang nggak senonoh kan?" tanya Bu Bonita memastikan jika dua murid berprestasi itu tidak melakukan hal yang menghantui pikirannya.
"Kita dikunci sama mereka Bu," jawab Arres sambil menunjuk teman-temannya yang tampak lari tunggang langgang.
"Ya ampun! Awas aja mereka. Ya udah sebaiknya kalian segera kembali ke kelas masing-masing karena sebentar lagi bela akan berbunyi." Bu Bonita pergi meninggalkan keduanya yang baru saja keluar dari gudang.
"Nggak bakalan bikin rumor kan?" tanya Brisha memastikan.
"Tergantung, kalo ada yang liat kita ke gap kayak gini, anak-anak pasti langsung bikin rumor yang nggak-nggak. Dan sebelum itu lebih baik kita cepat-cepat ke kelas." Brisha mengangguk setuju dan berjalan di belakang Arres untuk kembali ke kelasnya.
"Tapi, kayaknya kita bakal kesandung rumor negatif," ungkap Brisha sambil menatap beberapa orang yang menatap keduanya sinis.
"Gaya aja sok jadi murid teladan, eh ternyata malah ke gap berduaan di gudang. Kalo mau ***-*** minimal modal lah, malu-maluin sekolah aja." Arres dan Brisha hanya bisa menghela napas lelah mendengar cibiran dari beberapa murid itu.
Sudah menjadi rahasia umum jika kejadian apapun yang terjadi di sekolah Garuda bangsa akan menyebar dengan hitungan detik dan tentunya oknum yang menyebarluaskan berita itu selalu menambahi dengan bumbu-bumbu kebohongan yang menyebabkan rumor palsu.
Arres memandang lekat papan pengumuman di depannya dengan wajah kelewat datar. Beberapa foto dirinya dan Brisha yang tampak ambigu terpampang jelas di sana dengan caption yang benar-benar menyesatkan.
Jangan lupa kita atur donasi buat mereka berdua yang nggak modal ngalakuin hal yang nggak senonoh di sekolah. Dengar-dengar si cowok anak orang kaya, tapi kok kayak orang miskin banget nggak bisa nyewa hotel sendiri?
__ADS_1
Brisha menatap gadis yang tersenyum culas di ujung sana.
"Selamat menikmati," bisik gadis tersebut yang langsung bisa Brisha pahami lewat gerakan mulutnya.