Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
Ara and her secret


__ADS_3

"Terimakasih sudah berkunjung." Ucap Brisha sambil tersenyum ramah.


Hari ini adalah jadwalnya bekerja di toko bunga, seperti katanya bahwa ia selalu sibuk bekerja. Sebenarnya hal tersebut tidak salah ataupun berlebihan. Karena pada dasarnya ia memang benar-benar menghabiskan setiap harinya setelah sepulang sekolah dengan bekerja. Dalam satu Minggu, ia harus meluangkan waktunya untuk tiga pekerjaan sekaligus. Menjadi waiters, florist, sampai menjadi tutor anak tetangganya meskipun tidak rutin.


"Brisha." Panggil seorang wanita baya dengan senyum yang terpatri indah di wajahnya.


"Ini udah waktunya pulang, biar dilanjut sama yang lain aja, besok kan Brisha sekolah." Tutur Marta kepada gadis yang sudah dianggap sebagai cucunya.


"Masih tujuh menit lagi ma, lagian ini masih rame loh." Pungkas Brisha sambil menulis pesanan di Notebook. Setelah tugasnya selesai ia baru bisa leluasa membereskan semuanya. Dibalasnya tatapan wanita baya yang sedari tadi menatapnya. Wanita pemilik toko bunga ini dan juga kedai tempatnya bekerja, wanita yang saat mereka pertama kali bertemu meminta untuk dipanggil 'Oma'.


"Kamu tuh kayak Nilam ya? Rajin banget kerjanya," Goda Martha sambil mencubit ujung hidung Brisha membuat gadis itu terkekeh geli. "Mata kamu juga mirip banget sama Nilam." Sambungnya tersenyum teduh. Kemudian diambilnya tas Brisha dan memberikannya kepada sang empu. Setelah itu menuntunnya untuk keluar toko dan memegang pundak gadis itu.


"Jangan malem-malem tidurnya, besok masih sekolah, belajar yang giat biar jadi anak pinter." Nasihat Martha sambil memeluk gadis tersebut. Kemudian melambaikan tangan saat gadis itu berjalan menjauh. Tatapannya berubah sendu.


Tapi, Oma harap nasibmu nggak mirip kayak nasib ibumu.


*****


"Lo tau? Kemaren kita semua kabur gara gara di ajak dangdutan." Seru Kevin membuka obrolan.


"Tapi bukannya lo juga suka dangdutan ya?" Tanya Kevan sambil menyeruput es jeruk di sampingnya. Membuat sang pemilik mendengus.


"Kalo tau bakal diajak dangdutan gue juga nggak kabur kali, Tapi si Genta noh malah kabur duluan, ya otomatis gue ikut-ikutan lah. Lagian om Arga ngajak dangdutan kek ngajak gelud." Sungut Kevan sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher.


"Gimana mau ngembat nyokapnya Arres? Baru diajak dangdutan lu udah kabur." Ungkit Genta mengingat ucapan Kevan semalam. Kevan melotot ngeri.


Kalo ngomong liat sikon dulu ege! Ada anaknya noh.


Dasar Magenta. Orang jarang bicara, sekalinya bicara menimbulkan perpecahan.


"Ngomong doang gampang, nggak inget kemaren siapa yang kabur duluan? Lagian kalo nggak bisa kemaren, besok juga bisa." Sahut Kevin menimpali membuat Kevan semakin melotot ngeri.


Lo berdua bangsat! maki Kevan pada teman laknatnya.

__ADS_1


Arres yang ingat dengan ucapan Kevan semalam pun langsung menatapnya sengit, ditambah dukungan yang dilontarkan Kevin semakin membuatnya kebakaran jenggot. "Kalian semua nggak usah main ke rumah gue lagi." Tukasnya dengan perasaan dongkol.


"Gue juga?" Tanya Magenta sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Semuanya." Jawab Arres sembari menyeruput minumannya. Suasana kantin sekolah yang ramai membuat telinganya sakit, ditambah dengan perasaan dongkol karena ulah temannya membuat tubuhnya panas minta didinginkan dengan minuman segar.


"Nggak papa Van, nggak bisa ke rumah. Lo tetep bisa ketemu, di pasar contohnya. Atau nggak di tempat arisan, nyokap kita kan temenan." Ucap Kevin menguatkan yang di balas cubitan keras di pahanya. Yakin setelah ini warnanya akan ungu.


"Gue kemaren bercanda kok," Jelas Kevan yang di acuhkan oleh Arres. Matanya mengedar ke penjuru kantin dimana para murid sibuk makan sambil sesekali bercanda ria, banyak dari mereka mencuri curi pandang ke meja mereka.


"Res..." Panggil Kevan yang hanya dibalas dehaman singkat oleh sang empu.


"Btw kemaren lo trending di akun medsos kita gara gara kotak bekel, mana followers nya bukan murid sini aja lo, ada yang dari sekolah lain, otomatis Lo terkenal di sekolah lain dong." Papar Kevan membuat ketiga orang yang tadinya sibuk sendiri langsung menatapnya serius.


"Coba aja gue yang bawa kotak bekelnya gue juga pengen viral kek Arres." Khayal Kevin sambil membayangkan saat ia terkenal. Hah, indahnya dunia mimpi.


"Iya Sih tapi Lo viral nya bukan gara gara keliatan gemesin kek Arres, tapi-"


Sedangkan Kevin langsung memandang sengit ketiga temannya yang masih asik tertawa. Ingatkan dia untuk meng-unfriends Magenta dan Kevan karena telah meledek nya juga Arres karena telah ikut menertawakannya.


*****


"Ma..." Panggil Arres setelah sampai di dapur. Mendapati mamanya tengah berkutat dengan bahan, bumbu serta peralatan memasak. Kakinya melangkah untuk mendekat.


"Loh, kakak kok pulang?" Tanya Widya sambil menumis bumbu.


"Jadi mama ngusir kakak?" Tanya Arres balik sambil membuka kulkas dan mengambil air dari dalam.


"Mba Lia, tolong sayurnya itu dipotong," instruksi Widya sambil mondar-mandir mencari bubuk merica. "Nggak gitu, ini kan biasanya kakak tidur di apart, jadi mama bingung, kok kakak pulang? Padahal kalo nggak pulang mama mau kirim makanan ke sana." Jelas Widya sembari menuangkan setengah sendok teh merica ke dalam kuah sup nya.


"Kok yang lain nggak ada? Biasanya malem-malem gini kan pada nunggu di meja makan." Tanya Arres setelah menutup kulkas.


"Papa lagi di ruang kerja, kalo Ara tadi mama suruh ke rumah Tavisha, nganter kue buatan mama." Papar Widya sambil melepaskan celemek yang melekat di badannya. Melihat mamanya kesusahan meraih tali membuat Arres maju dan membantu melepaskannya.

__ADS_1


"Makasih." Ucap Widya sambil tersenyum manis yang dibalas senyum lebar oleh sang putra. Keduanya berjalan menuju ruang makan, Arres duduk di salah satu kursi.


"Mama panggil papa dulu." Pamit Widya kepada Arres yang diangguki sang empu. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Widya dan Arga turun dengan bergandengan tangan. Melihat hal tersebut Arres mendengus, papanya memang pandai mencari cari kesempatan.


"Ara belom pulang?" Tanya Arga setelah duduk di salah satu kursi.


"Belom, kok lama ya." Ucap Widya menimpali.


"biar kakak jemput." Saran Arres bersiap berdiri.


"Nggak usah, itu orangnya udah pulang." Ucap Arga sambil menunjuk ke arah dimana putrinya datang. Arres menoleh mendapati adiknya datang, tapi matanya menangkap ekspresi suram di wajah adiknya.


"Kok lama banget dek?" Tanya Widya sambil mengambilkan nasi untuk suaminya.


"Iya ma, tadi masih ngobrol bentar sama kak Visha." Jawab Ara sambil duduk di kursi yang sudah kakaknya siapkan. Ini yang dia sangat suka dari kakaknya, meskipun hanya diam tapi Arres selalu memastikan yang terbaik untuknya, bukan dengan janji palsu, melainkan dengan bukti nyata.


Akhirnya mereka makan dengan khidmat.


"Kak..." Panggil Ara setelah selesai dengan acara makan malamnya.


"Soal perjodohan sama kan Visha, kakak beneran nggak mau pertimbangin lagi?" Tanya Ara Berharap kali ini jawabannya sesuai ekspektasi.


"Ra..., kemaren kita udah bahas ini bareng bareng kan? Udah ada Brisha juga malah. Tapi kenapa malah bahas lagi?" Tanya Arres sambil menatap dalam netra adiknya, mencari sesuatu yang Arres yakini telah disembunyikan adiknya dari semua orang.


"Tapi kali ini gue serius, lagian kakak nggak akan nyesel kalo sama kak Visha, dia juga punya banyak kelebihan. emang apa sih kelebihan kak Brisha?" Tukas Ara membuat Arres mendesis.


"Jelas banyak dan yang paling penting itu nggak di miliki Tavisha." Papar Arres sambil tersenyum.


"Itu bukan cinta, cinta itu tanpa alasan." Terang Ara dengan senyum miring.


"Cinta atau nggak itu bukan urusan lo, lagian simpel aja, lo tanya, gue jawab. Gue pikir pikir lo terlalu jauh ngurusi hidup gue, Lo tau privasi kan?" Tukas Arres dengan tatapan datar sebelum akhirnya pergi dari sana.


Gimana cara gue ngasih tau lo, kak?

__ADS_1


__ADS_2