Penawaran Gila Dari Sang Primadona

Penawaran Gila Dari Sang Primadona
awkward momen


__ADS_3

Arres menarik Brisha kuat menuju kuda besinya. Wajah panik terpampang nyata pada keduanya saat menyadari gerombolan anggota geng itu mengejarnya.


"Jangan kabur woi!" teriak para remaja berpenampilan berandalan itu.


Saat keduanya sudah duduk di jok motor, Arres langsung menancap gas dan melajukan motornya ke jalan yang berbeda agar bisa menghindari kejaran pembawa maut itu.


"Kok lo lewat sini sih?! Kalo lewat jalan ini malah makin sepi, nanti seandainya kita ketangkap sama mereka, kita nggak bisa minta tolong." Arres menghembuskan napasnya berat.


"Sorry, tapi kita udah nggak bisa puter balik lagi. So, cuma ini yang bisa gue lakuin. Pegangan yang kenceng gue mau ngebut." Mendengar perintah dari Arres, mau tak mau Brisha langsung berpegangan kuat pada ujung jaket yang Arres gunakan.


"Mereka masih ngejar kita," ucap Brisha tak kuasa menahan kekhawatirannya.


"Calm down, lo cuma butuh optimis. Urusan berusaha biar jadi tanggung jawab gue." Brisha semakin mempererat cengkraman saat Arres terus menambah laju kuda besinya hingga jarak antara keduanya dengan anggota gangster itu mulai berjauhan.


Suasana malam yang sepi menjadi saksi kepanikan dua remaja itu.


"Jalannya buntu?" Arres menuruni motor sportnya begitu juga dengan Brisha. Sebuah jalan yang ditutupi oleh palang kayu terpampang jelas di depan sana.


Brisha bergegas menyingkirkan penghalang tersebut tanpa pikir panjang. Arres yang melihat langsung membantunya.


"Mau pergi ke mana lagi lo berdua?" Sebuah suara menginterupsi kesibukan dua manusia berbeda gender tersebut.


"Calm down, lo lanjutin aja dulu okay? Biar gue yang urus mereka." Arres berusaha melepaskan tangan Brisha yang menahannya.


"Tapi, mereka bawa senjata tajam," lirih Brisha sambil melihat setengah dari rombongan yang berdiri tepat di depan mereka. Sepertinya mereka memecah untuk bisa menemukan ia dan Arres.


"Ternyata beneran anak Garuda bangsa ya. Arres, kan? Siswa berprestasi yang belakangan ini pernah viral gara-gara bawa kotak bekel punya cewek, cuih. Banci ternyata, tau gitu nggak usah kita kejar banyak orang. Ini mah lawan satu orang juga pasti kalah duluan." Arres menatap datar pada pemuda yang tersenyum miring itu.


Salah seorang dari mereka menatap Brisha dengan senyum jahat.


"Wah-wah, itu cewek lo? Mukanya lumayan. Kalo nggak salah gue pernah liat wajah dia di majalah prestasi Garuda bangsa deh. Wih, ceritanya lagi nge-date ya," ejeknya sambil menatap Brisha dengan pandangan jahat.


"Gimana kalo kita bikin kesepakatan aja. kalo lo menang lo boleh pergi bebas. Tapi, kalo Lo kalah, kasih cewek lo buat kita, lumayanlah bisa digilir-"


bugh!


"si*lan lo! Serang dia." Semua pemuda itu mengarahkan senjata tajamnya pada Arres. Pertarungan tak seimbang itu tidak bisa dielakkan lagi. Arres tampak begitu lihai menghindari serangan, berbeda dengan Brisha yang tampak khawatir dengan sesekali melirik pertarungan itu sambil terus menyingkirkan penghalang.

__ADS_1


bugh!


"Res!!" teriak Brisha saat melihat Arres yang terkena bogem mentah. Saat Arres memberikan isyarat bahwa ia baik-baik saja, Brisha langsung mengambil satu buah palang kayu dan berlari mendekati kerusuhan itu.


bugh!


bugh!


Gadis tersebut berhasil memukul mundur beberapa lawan yang sudah terpukul oleh Arres setelah memberikan diri.


"Jangan ikut-ikutan Sha! Nanti lo kenapa-napa," ucap Arres sambil terus berusaha melawan sekuat tenaga.


"Lebih cepat lebih baik. Ayo buruan kita akhiri sebelum temen-temennya dateng." Arres yang tersadar itu langsung menendang lawannya.


"Res! Di belakang lo!"


bugh!


"Thanks." Arres segera menarik tangan Brisha saat melihat komplotan dari mereka mulai berdatangan dengan jumlah yang jauh lebih besar.


"Kejar! Jangan sampe mereka lepas gitu aja setelah buat anggota kita kayak gini." Mereka semua langsung berbondong-bondong menaiki kuda besi masing-masing dan mengejar Arres dan Brisha yang tampak sudah berjarak jauh.


"Tapi mereka bawa barang yang lebih berbahaya, senjata api." Brisha menjelaskan ketakutan yang menghantuinya.


ckitt!


"Kenapa berhenti?" tanya Brisha ikut turun dari motor.


"Kita cari tempat aman dulu sambil istirahat." Arres mulai masuk ke dalam hutan untuk memarkirkan motor kesayangannya. Suasana malam di hutan yang memberikan kesan horor tak membuat pemuda itu mengurungkan niatnya.


"Kita sembunyi di mana?" Tanya Brisha saat tangan dinginnya ditarik pelan oleh Arres.


"Di semak-semak," ucap Arres asal membuat Brisha menghela napas. Tidak bisakah laki-laki itu bercanda pada waktunya saja?


"Tadi ada rumah kosong, kenapa kita nggak sembunyi di sana aja?" tanya gadis itu sambil terus melangkah mengikuti Arres.


"Mereka bakal lebih mudah temuin kita. Gue tau mereka bakal langsung sadar kalo kita sembunyi karena arah jalan yang lurus dan kita yang awalnya cuma berjarak sedikit dari kejaran mereka. Pastinya mereka bakalan langsung nargetin rumah kosong itu buat nyari kita." Brisha mengangguk paham. Okay, alasannya masih bisa diterima akal.

__ADS_1


"Hah? Jadi kita beneran sembunyi di semak-semak?" tanya Brisha saat Arres menuntunnya ke arah semak-semak.


"Lo ngarepin di kuburan kah?" jawab pemuda itu kembali asal-asalan.


"Bukan gitu, gue pikir kita bakal sembunyi di balik pohon-pohon gede. Soalnya di sini ada banyak pohon gede." Gadis itu duduk sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Sama aja, mau di semak-semak ataupun pohon gede nggak bakalan bisa hilangin sifat parno Lo, pasalnya dua tempat itu nyatanya juga sama-sama digunain sebagai tempat sama para budak nafsu buat lampiasin hasrat mereka." Brisha melotot ngeri saat mendengar penjelasan Arres yang agak frontal.


"Gue nggak berpikir gitu kok," sanggah gadis tersebut saat Arres mampu membaca kemana arah pikiran durjana miliknya.


"Senyaman lo aja deh, lagian gue juga nggak bakalan ngapa-ngapain lo," celetuk Arres yang tak direspon oleh gadis tersebut karena sibuk memperhatikan keadaan sekitar yang jujur saja membuat bulu kuduk merinding seketika.


"Mereka datang," bisik Arres melihat dua motor sport melintasi keduanya.


"Itu cuma dua, yang lain kemana?" tanya Brisha setengah berbisik. Dahi gadis tersebut kembali berkeringat dingin saat melihat senjata api yang terpampang kokoh di saku celana dua pemuda di sana.


"Kemungkinan besar mereka masih nyari di rumah kosong yang kita lewati tadi, mereka pikir kita sembunyi di sana.


Brisha melihat dua motor itu berhenti dan pengemudinya yang menuruni kuda besi tersebut lalu terlihat keduanya mengotak-atik ponsel.


"Mereka mulai sadar kalo kita nggak di tempat yang udah mereka prediksi." Arres melihat dua pemuda itu yang tampak memperhatikan sekitar. Tak lama kemudian, segerombolan orang dengan jaket yang serupa datang bersamaan.


"Nggak mungkin! Jalanan ini jaraknya nggak main-main bro dan arahnya pun lurus. Nggak mungkin mereka udah lepas gitu aja. Mereka pasti sembunyi. Gue yakin itu." Brisha dan Arres bisa mendengar sayup-sayup suara percakapan mereka sambil menikmati setiap detak jantung yang memacu kuat.


"Cari mereka sampe dapet! Kalo si bos tau kita kecolongan, pasti dia bakalan marah besar, apalagi ada beberapa anggota yang luka parah tadi."


"Gini aja, ada yang balik ke rumah kosong tadi buat pastiin kalo nggak ada siapa-siapa di sana dan sebagian lagi di sini, sisanya lanjutin perjalanan sambil terus cari mereka, kalo ada info apa-apa jangan lupa langsung hubungin kita-kita." Mereka semua tampak mengangguk dan kembali berpencar.


Beberapa pemuda yang mendapatkan bagian mencari di sana juga saling memisahkan diri.


"Ada yang deketin kita," bisik Arres membuat Brisha semakin panik.


"Bahu lo kena cahaya, ada kemungkinan dia bisa liat lo dengan mudah." Brisha memperingatkan Arres untuk semakin menunduk. Tubuh Arres yang bongsor menyulitkan pemuda itu untuk semakin menunduk mengikuti bayangan semak-semak.


"Masih kelihatan, nunduk lagi sampe mirip ke wajah gue yang deket tanah." Brisha terus mengintruksi.


Arres berusaha menunduk sampai wajahnya mendekati kepala Brisha dan-

__ADS_1


Cup!


__ADS_2