
Aying melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tempat Pangeran Iblis Zena berada, tepat setelah masuk ke dalam tidak jauh darinya Aying melihat iblis yang mengendalikan kakinya.
Saat itu juga Aying tersenyum tipis sambil membuka tangannya, tanpa banyak bicara Aying mengeluarkan elemen Logam yang dibentuknya menjadi pisau terbang dan mengarahkannya ke sang iblis.
"Arrrrrrrrkkkkhhh, Pangeran berhati-hatilah," ucap sang iblis pelan.
Pangeran iblis Zena yang melihat bawahannya mati marah besar, Dirinya dikurung oleh seorang biksu di rumah itu bersama 4 penjaganya, saat ini penjaganya dibunuh 1 oleh Aying, itu berarti manusia yang harus menjadi korbannya akan berkurang.
"Beraninya kamu membunuh penjagaku," teriak Iblis Zena.
"Kenapa tidak, bukannya kamu yang memaksaku untuk melakukannya," ucap Aying santai sambil merenggangkan kakinya.
Geeeeeeerrrrrr.
Iblis Zena menggeram memperlihatkan wujudnya yang menyerupai manusia seketika berubah menjadi wujud aslinya, Tanduk panjang melingkar khas iblis, kuku hitam panjang menjuntai ke lantai menyempurnakan wujud asli Pangeran Iblis Zena.
Ayimg masih terlihat sangat santai tidak terlihat sedikitpun ketakutan di wajahnya, iblis Zena yang melihatnya semakin marah, baru kali ini dirinya bertemu seseorang yang tidak takut dengan wujudnya.
Wheeeeeeeessssss.
Iblis Zena mengayunkan kuku panjangnya ke arah Aying yang terlihat sangat santai, Melihat Iblis Zena mengayunkan kukunya Aying hanya menghindar, Aying sengaja ingin membiarkan Pangeran ibllis itu berbuat sesuka hatinya sebelum dirinya menghadapinya dengan serius.
Kreeeeeeeeeeeaaaaaat.
Suara kuku iblis Zena memekik telinga Aying, serangan yang difokuskan hanya dari kuku membuat Aying tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Haaaaah, ternyata seperti itu," ucap Aying.
"Apa? apa yang kamu ketahui?" sahut Wang.
"Sepertinya aray membatasi kekuatannya, sangat disayangkan bukan," ucap Aying.
"Jadi apa kamu akan mengakhirinya dengan cepat, dia masih memiliki 3 penjaga lagi yang siap menghadapi mu hanya dengan perintah pangeran iblis itu," sahut Wang.
"Kalau begitu akan ku buat dia yang bertarung dengan serius," ucap Aying sambil tersenyum penuh arti.
"Dasar lemah, apa hanya seperti ini kekuatan Pangeran iblis Zena yang namanya sering ku dengar, bahkan menyentuhku saja tidak bisa," teriak Aying.
"Apa kamu bilang, beraninya kamu mengataiku," sahut iblis Zena melotot tajam ke arah Aying.
"Kalian bertiga tunggu apa lagi, buat dia hanya berdiri di tempat itu," ucap iblis Zena memerintahkan 3 penjaganya yang bersembunyi.
Draaaaaaap.
Tubuh Aying terasa sangat berat, tanpa sadar Aying langsung berlutut di bawah kaki Pangeran iblis Zena. Walau dalam posisi berlutut mata Aying tidak tinggal diam, Aying mencari 3 iblis lainnya yang saat ini pasti bersembunyi disekitarnya.
"Aku menemukan kalian," ucap Aying pelan.
__ADS_1
"Hahahaha, Manusia sombong kamu sudah tidak bisa ke mana-mana lagi," ucap iblis Zena merasa sangat senang melihat Aying berlutut di kakinya.
Wheeeeeeesssssss.
Wheeeeeeeeeeeessssssss.
Wheeeeeeeeeeeeeeeessssss.
3 serangan ke tempat berbeda dilakukan Aying dengan cepat, 2 lemparan pisau terbang yang terbuat dari elemen logamnya dan satu tombak es menancap tepat ke jantung 3 iblis penjaga Pangeran iblis Zena.
Iblis Zena yang baru saja merasa senang melihat Aying berlutut berubah menjadi marah besar, 3 penjaganya yang menjadi perantara mendapatkan korban untuknya agar terbebas saat ini sudah mati, ketiganya bahkan mati tepat di depan matanya.
"Bukannya kalau seperti ini selesai dengan sempurna," ucap Aying.
"Kamu membunuh mereka," teriak iblis Zena.
"Kenapa? tidak terima. Kalau begitu serang aku dengan serius, ke mana kekuatan api mu yang seharusnya dimiliki para iblis," sahut Aying.
"Manusia sialan, aku akan benar-benar mencabik seluruh tubuhmu," ucap Iblis Zena.
Whuuuuuuuuusssssssssss.
Tubuh iblis Zena mengeluarkan api sesuai yang dikatakan Aying, api yang memang dimiliki setiap iblis. Aying yang ingin mengakhiri permainan dengan cepat langsung mengeluarkan pedangnya, pedang besar hitam itu sudah tidak sabar ingin diayunkannya ke arah iblis Zena.
Iblis Zena yang melihat pedang Aying melotot tak percaya, pedang seperti itu hanya ada satu dan pedang itu telah diambil seseorang sejak puluhan tahun silam, lalu bagaimana bisa pedang itu berada di manusia muda yang saat ini berada di depannya.
Pangeran iblis Zena mengarahkan kuku panjangnya ke Aying dengan cepat dan membuatnya mundur ke belakang, karena iblis Zena sangat yakin pedang di tangan Aying bukan pedang yang asli iblis Zena tidak takut jika pedang itu mengarah langsung padanya.
Aying terpojok dengan kuku iblis Zena yang hampir menusuk kulitnya, Aying mengangkat pedangnya sambil tersenyum penuh seribu arti.
Wheeeeeeeeeeeessssssss.
Kreeeeeetttttaaaaaak.
Kreeeeeettttttttaaaaaaak.
Kuku iblis Zena hancur setelah Aying mengayunkan pedangnya, kuku yang awalnya sangat panjang berubah menjadi debu setelah terjatuh ke lantai.
"Kuku ku," teriak iblis Zena.
"Itu belum berakhir," ucap Aying.
Whuuuuuuuuuuuuussssssss.
Whuuuuuuuuuuuuuuuussssssss.
Aying dengan gerakan cepat mengayunkan pedangnya ke kedua kaki iblis Zena, Pangeran iblis yang tidak memiliki kaki terjatuh ke lantai bersujud di depan Aying.
__ADS_1
"Itu akibat karena kamu membuatku berlutut untukmu, mari kita akhiri semuanya," ucap Aying.
"Tidak, kamu tidak bisa membunuhku, ayahku sang Raja iblis tidak akan membiarkanmu tetap hidup jika kamu membunuhku," sahut Iblis Zena.
"Benarkah, kalau begitu aku akan menunggunya datang padaku," ucap Aying.
"Tidak, aku mohon," sahut iblis Zena.
"Salahmu karena mencari masalah denganku," ucap Aying yang menyeringai lebih mengerikan dari iblis.
Jleeeeeeeeb.
Aying langsung menusuk jantung iblis Zena, satu tusukan darah hitam iblis Zena mengalir ke luar dari jantungnya, Aying menarik kembali pedangnya, darah hitam yang masih membasahi pedangnya bergegas dibersihkannya menggunakan unsur airnya.
"Heeeeeh, salahkan dirimu sendiri mencari masalah dengan orang yang salah," ucap Aying.
"Sekarang kamu hanya tinggal mencari cara keluar dari sini," sahut Wang.
"Aku hampir melupakan itu," ucap Aying yang langsung berjalan ke arah pintu.
Aying memajukan satu tangannya ke arah aray yang terpasang di pintu, baru saja ujung jarinya menyentuh sedikit aray tubuhnya terasa seperti tersengat.
"Jadi bagaimana?" tanya Wang.
"Sebentar, aku mencoba mengingatnya," ucap Aying.
"Mengingat apa?" tanya Wang lagi.
Aying menutup matanya mencoba mengingat kembali mantra pemecah 101 macam Aray yang dulu dikuasainya, tak butuh waktu lama samar-samar Aying mengingat mantra pemecah 101 aray.
Aying menutup matanya dan menaruh tangannya di sedikit menjauh dari Aray, mantra yang sudah diingatnya kembali bersiap diucapkannya dengan suara lantang.
Kreeeeetaaak.
Kreeeeeeetaaaaaaak.
Suara aray retak terdengar sangat keras, Aying bisa melihat aray yang ada di depannya hancur secara perlahan.
Melihat semua aray telah hancur Aying bergegas melangkah pergi, untung saja mantra itu masih diingatnya jika tidak dirinya akan terkurung di dalam rumah itu bersama mayat iblis yang dibunuhnya.
"Aku tidak tau kalau kamu juga penghafal yang baik," ucap Wang.
"Aku tidak menghafalnya, aku hanya mencoba mengingatnya," sahut Aying.
"Kira-kira apa lagi yang tidak aku tau darimu," ucap Wang lagi.
"Mungkin masih banyak," sahut Aying santai sambil berjalan pergi meninggalkan desa.
__ADS_1