
Di tempat yang cukup jauh dari kota Aying meminta Hi sang serigala untuk berhenti, Aying menyuruh Hi untuk beristirahat sedangkan dirinya akan menguasai unsur yang terakhir yaitu unsur api.
Aying mengeluarkan batu api dari dalam cincin ruangnya, batu berwarna merah yang terlihat biasa saja itu ditaruhnya di pangkuannya, Aying langsung menyalurkan energinya ke dalam batu, tak perlu menunggu waktu lama batu bersinar terang berwarna kemerahan menyilaukan mata Aying.
Melihat batu telah bersinar Aying menutup matanya, saat ini dirinya hanya tinggal menyerap esensi dari batu api sampai selesai dan menahan semua panas yang masuk ke dalam tubuhnya.
Perlahan dari ujung kakinya Aying merasakan hawa panas yang sangat luar biasa, semakin lama hawa panas semakin terasa panas dan terasa sesuatu seperti membakar kulit.
Auuuuuuuuuuuuuu.
Suara Hi terdengar sangat dekat, Aying sadar saat ini Hi pasti sedang menghawatirkannya karena apa yang terjadi padanya untuk saat ini.
"Aku baik-baik saja," ucap Aying bertelepati pada Hi sambil menahan panas di sekujur tubuhnya.
Walau Hi hanya hewan spiritual suci mereka sudah mengikat perjanjian darah, Hi bisa mendengar telepatinya walau tidak bisa menjawabnya.
Suara Hi tidak lagi terdengar setelah Aying bertelepati, yang tersisa hanya hembusan nafasnya yang sangat berat dirasakan Aying berada di sampingnya.
Rasa seperti terbakar tidak hanya dirasakann di kulitnya, semakin lama daging, darah dan tulangnya terasa ikut terbakar.
Aying mencoba menahan menggunakan tiga unsurnya, walau tidak bisa menahan sepenuhnya ketiga unsurnya membantu meringankan sedikit rasa panas di tubuhnya.
Waktu berlalu begitu cepat dan hari berganti, bau hangus tercium di mana-mana Hi yang melihat warna kulit Aying berubah kembali berteriak.
Auuuuuuuuuuuuu.
Auuuuuuuuuuuuu.
Api keluar dari tubuh Aying tepat setelah Aying membuka matanya, saat ini unsur api sudah menyatu dengan tubuhnya, usahanya menyerap batu api berhasil walau memakan waktu yang cukup lama.
Aying langsung memutar badannya menatap Hi yang seperti merasa lega Aying bisa merasakan tubuh hi masih gemetar ketakutan hanya dengan menyentuhnya, Aying langsung mengelus kepala Hi untuk menenangkannya dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
Setelah Hi merasa tenang Aying bergegas bangkit berdiri, Aying mengeluarkan satu persatu elemen yang berhasil dikuasainya lalu mengepalkan tangannya.
Tujuanku sudah semakin dekat, kalian semua tunggu saja, akan aku buat kalian menyesal," dalam hati Aying sambil mengepalkan tangannya.
Tanpa banyak berpikir Aying mengeluarkan satu pil penempaan tulang, sebelum menelannya Aying memberitahu Hi untuk tetap tenang apapun yang terjadi dan dilihatnya.
__ADS_1
Hi.yang mengerti menganggukkan kepalanya seperti manusia, langsung saja Aying menelan pil penempaan tulang dan kembali menutup matanya.
Ttaaaaak.
Taaaaaaak.
Suara tulang-tulang patah terdengar sangat keras. Sesuai namanya pil penempaan tulang, tulang di tubuh Aying dihancurkan dan setelah hancur lebur tulangnya akan kembali ditempa menjadi tulang murni.
Walau sangat menderita Aying berusaha keras menahannya, tubuh yang saat ini digunakannya sangat lemah tulang-tulangnya dileburkan dengan cepat. Penempaan tulang Aying masih terus berlangsung, satu persatu tulangnya kembali tersusun, tulang pemilik tubuh sebelumnya yang sangat lemah berubah menjadi sangat kuat dan kokoh seperti ditambah sesuatu saat membangun rumah.
Haaaaaaah.
Aying menghela nafas panjang setelah membuka matanya, untung saja saat menguasai unsur api dan penempaan tulang tidak ada gangguan, jika ada satu saja gangguan tidak tau bagaimana dirinya saat ini.
Auuuuuuu.
Auuuuuuuu.
Aying berjongkok di depan Hi dan mengelus kepalanya, padahal hewan spiritual suci di sampingnya ini baru sebentar mengikutinya tapi begitu mengkhawatirkan dirinya, hewan saja bisa seperti itu kenapa manusia tidak ada yang seperti itu.
"Ahhhh, aku melupakanmu ya, kamu belum makan sejak terakhir memakan hati," sambung Aying yang membuat Hi menundukkan kepalanya Hi seketika kembali teringat akan ibunya.
"Tidak perlu bersedih, ibumu melakukannya untukmu," ucap Aying.
"Aku melupakan sesuatu, inti spiritual ibu Hi masih belum aku serap, sepertinya kepingan di lautan spiritual ku juga sudah mencukupi, aku serap saja keduanya bersamaan," dalam hati Aying.
"Kalau begitu sekarang bawa aku ke hutan, kamu sudah waktunya berburu mencari makan," ucap Aying.
"Auuuuuuuuu," sahut Hii yang bersiap pergi.
Dengan kecepatan penuh serigalanya Aying dan Hi tiba di hutan terlarang, hutan yang sudah lama tidak didatangi orang itu terlihat sangat sepi tidak berpenghuni, Aying bisa merasakan bahaya terus mengintainya dari dekat dan jauh.
"Ini perburuan pertamamu, buru yang lemah saja, jangan terlalu masuk ke dalam," ucap Aying yang langsung disambut anggukan kepala oleh Hi.
Aying bergegas duduk bersila, inti spiritual ibu Hi di keluarkan dari cincin ruangnya dan langsung ditelannya begitu saja.
Inti spiritual yang diserap Aying menjadi satu dengan kepingan kekuatannya, setelah menjadi satu keduanya menyebar ke seluruh tubuhnya membuat tubuh Aying melayang di udara.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti tubuh Aying kembali turun, Aying yang baru membuka mata bisa merasakan seluruh tubuhnya lebih ringan seperti biasanya, seluruh kekuatannya berkumpul di pusatnya.
"Aku kira aku bisa menerobos ke pelatihan tingkat tinggi, sayang sekali aku hanya mencapai ranah Qi bintang 3 akhir," ucap Aying berbicara sendiri.
"Tidak apa Feng, segini saja sudah cukup, bantai mereka menggunakan kecerdasan dan kelima elemen sempurna mu," ucap Aying berbicara sendiri.
Auuuuuuuuuu.
Auuuuuuuuuuuu.
Suara lolongan Hi yang terdengar sangat keras mengejutkan Aying, Aying langsung berlari ke arah hutan mengikuti asal suara Hi yang baru saja terdengar.
Dari kejauhan Aying melihat Hi yang sudah menghabisi 8 hewan spiritual level 6 ke atas, inti spiritual hewan spiritual itu juga dimakannya membuat tubuh Hi menjadi tambah besar dan terlihat sangat ganas berbeda dari sebelumnya yang masih terlihat menggemaskan.
"Kenapa kamu berteriak?" tanya Aying.
"Auuuuuuu, auuuuu, auuuuuuuuu." Sahut Hi.
Aying langsung melihat ke arah sekelilingnya, tidak jauh darinya di atas pohon seseorang yang pernah ditemuinya sedang menatap ke arahnya dan Hi.
"Kamu lagi," ucap Aying mengepalkan tangannya.
"Kita bertemu lagi, apa ini yang dinamakan takdir," sahut pria yang membawakan pedang Aying sebelumnya.
"Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu mengawasiku?" tanya Aying lagi.
"Aku tidak mengawasi mu, aku hanya menyukai serigala itu. Aku tidak tau kalau serigala itu adalah milikmu," ucap pria itu lagi.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi, semoga semua dendam mu bisa terbalaskan," sambung pria itu yang langsung menghilang.
"Bedebah itu, tunggu saja aku pasti akan mengetahui siapa kamu," ucap Aying.
Hi masih menatap Aying yang merasa sangat kesal dengan orang itu, Hi memberi isyarat pada Aying kalau yang ditemuinya tadi bukan sembarang orang, Hi berusaha menjelaskan dirinya saja langsung ketakutan seperti ditekan padahal hanya ditatap orang itu.
"Kamu tidak perlu takut, tidak peduli seberapa kuat orang itu jika dia menjadi penghalang untuk balas dendam ku dia harus menerima akibatnya," ucap Aying.
"Auuuuuuuu, auuuuuuuuu." sahut Hi.
__ADS_1