
Aying menaiki Hi menuju salah satu kota yang ditinggali keluarga penghancur Klan nya, Di sana juga terdapat kelompok pembunuh bayaran yang sangat terkenal dengan keganasannya, mereka tidak akan melepaskan mangsa yang menjadi target mereka tapi tentu saja Aying tidak takut sama sekali.
Menggunakan jubah hitamnya Aying masuk ke dalam kota di tengah malam hari, penjagaan yang tidak ketat dan lari cepat hi membuat Aying masuk ke dalam kota tanpa diketahui siapapun.
Aying mulai mengintai markas pembunuh bayaran dua tangan iblis dari kejauhan, setelah memperhatikan situasinya Aying tersenyum ternyata kesempatan datang padanya dengan sendirinya, saat ini Dewa seperti sedang membantunya.
"Auuuuuu." Hi menatap Aying yang tiba-tiba tersenyum.
"Mereka adalah mangsa, mereka semua sedang mabuk mari kita buat mereka semua sadar," ucap Aying.
"Auuuuuuuuuuuuuuuuu." teriak Hi.
Aying yang menaiki Hi berlari ke markas pembunuh bayaran dua tangan iblis. Dalam keadaan setengah mabuk para pembunuh bayaran yang melihat seorang datang sangat terkejut, salah satu pembunuh bayaran yang melihat Aying langsung berdiri dan bergegas menghampirinya.
"Kenapa hanya berdiri di situ, mari kita minum arak sampai mabuk," ucap pembunuh bayaran sambil berjalan miring-miring
"Apa kamu mengenalku?" tanya Aying.
"Tidak," sahut pembunuh bayaran dengan santai.
Whuuuuuuuuuuuussssss.
Aying memegang kepala pembunuh bayaran yang berdiri di depannya dan langsung membakarnya, pembunuh bayaran lain yang melihat rekan mereka dibakar semakin terkejut. Sudah jelas orang asing yang ada di depan mereka adalah musuh, mereka semua harus menyerangnya secara bersamaan.
"Ki kita serang dia," ucap salah satu pembunuh bayaran menunujuk Aying dengan mabuk.
"Menyerang Ku dalam keadaan seperti itu, jangan bermimpi," sahut Aying.
Lima orang yang ada di depan Aying menarik pedang masing-masing, walau terlihat sangat serius Aying bisa melihat kesadaran mereka belum pulih sepenuhnya.
Wheeeeeeeeeeessssssss.
Wheeeeeeeeeeeeeeesssssss.
Aying yang tidak ingin membuang waktu langsung mengeluarkan pedangnya, dalam kegelapan Aying mengayunkan pedangnya dengan cepat ke arah pembunuh bayaran yang ada di depannya.
Ketua Jongan yang masih sadar keluar dari markas setelah mendengar keributan cukup lama, baru membuka pintu Ketua Jongan kaget setemelihat anggotanya yang berada di luar sudah mati semua.
"Apa yang terjadi di sini!' ucap Jongan dengan suara keras tapi tidak ada jawaban dari anggotanya.
"Menurutmu," sahut Aying yang tiba-tiba berdiri di belakang Jongan.
Jongan yang memutar badannya termundur seketika, sejak kapan wanita asing tidak dikenalnya itu berdiri di belakangnya pikirnya.
Whuuuuuuuuuusssss.
__ADS_1
Auuuuuuuuuuuuuuuuu.
Hi menerjang Jong yang masih kebingungan, terjangan Hi yang sangat keras menjatuhkan Jongan membuatnya terbaring di bawah kaki Aying seketika.
"Apa kamu tidak mengingatku," ucap Aying menginjak tangan Jongan yang masih terkejut.
"Aku tidak mengenalmu bagaimana bisa aku mengingatmu," sahut Jongan.
"Benarkah, bagaimana dengan ini."
Aying menancapkan pedangnya tepat di depan mata Jongan yang terdiam. Jongan yang melihatnya langsung mengangkat kepalanya menatap Aying, Jongan menggelengkan kepalanya pemilik asli pedang itu sudah mati yang saat ini sedang menindasnya bukanlah orang itu dirinya sangat yakin.
"Kamu bukan dia," ucap Jongan.
"Benarkah, dari mana kamu yakin aku bukan orang yang kamu maksud?" tanya Aying.
"Ketua Aying sudah mati, aku menyaksikannya sendiri," ucap Jongan.
"Baguslah kalau kamu mengakuinya tapi aku memang dia,," sahut Aying.
"Ketua, apa yang terjadi." ucap suara yang berdiri di belakang Aying.
Wheeeeeeeeeeeessss.
Aying yang tidak ingin diganggu mengayunkan pedangnya menebas kepala anggota Jongan, kepala anggotanya yang terjatuh menggelinding ke arahnya membuat Jongan terlihat marah. Kesadarannya seketika kembali pulih sepenuhnya, tangannya yang diinjak oleh Aying ditariknya dan langsung melompat ke belakang.
Jongan menarik pedangnya yang berada di punggungnya, dirinya harus membalas kematian anggotanya dengan cara yang sama yaitu memenggal kepala Aying.
Jleeeeeeeeeeeb.
Belum sempat menyerang pisau logam Aying menancap ke dada Jongan Aying tidak memberi kesempatan untuk Jongan menyerangnya, setelah melihat darah mengalir dari tubuh Jongan Aying membekukan darahnya.
Jongan hanya memegangi dadanya sambil menatap Aying yang tersenyum penuh kemenangan. Darahnya yang seharusnya mengalir menjadi beku, tidak ingin mati begitu saja Jong menutup matanya.
"Jurus Halilintar," teriak Jongan.
Jeeeeeeeeeedddddaaaaar.
Jeeeeeeeeeeeeddddaaaaaar.
Halilintar menggelegar di langit bersahut-sahutan, Aying yang melihatnya hanya terdiam, dirinya tidak terkejut sama sekali, di kehidupan sebelumnya jurus Halilintar pernah dikuasainya menahan jurus Jongan sangat mudah baginya dan mengeluarkannya juga mudah baginya.
Jeeeeeeeeddddaaaaaaarrr.
Halilintar menyambar Aying membuat kilatan yang sangat terang. Jong tersenyum mengira sudah menang, Jongan berpikir setidaknya walau tidak bisa membunuh Aying dan menebas lehernya Aying bisa mati terkena sambaran dari jurus Halilintar miliknya.
__ADS_1
"Apa hanya seperti ini jurus Halilintar Mu," ucap Aying berjalan maju ke arah Jongan.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa kamu tidak mati," sahut Jongan.
"Jurus itu kamu pasti mengambilnya dari Klan Saga, biar aku tunjukkan padamu bagaimana jurus itu yang sebenarnya," ucap Aying.
Jeeeeeeeddddaaaaar.
Jeeeeeeeeedddddaaaar.
Aying mengangkat tangannya ke atas sangat tinggi, belum Aying berteriak Halilintar sudah bersahut-sahutan. Seketika Jongan menatap langit, jurus Halilintar yang seharusnya dimiliki Ketua Aying Klan Saga bagaimana bisa juga dimiliki orang seperti wanita di depannya.
"Jurus Halilintar," teriak Aying lantang.
Jeeeeeeeddddddaaaaaaaaar.
Satu sambaran Halilintar mengarah ke Jongan, Bau hangus tercium dari tubuh Jongan yang masih mengeluarkan asap.
Aying berjalan ke arah Jongan dan berjongkok di sampingnya, saat ini Jongan sudah tidak bisa bergerak, walau tidak bisa bergerak mata Jongan masih terbuka lebar bisa melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan Aying padanya.
"Seharusnya kamu tidak melakukannya dari awal, kamu semua kelompok pembunuh bayaran harus menanggung harga yang sangat mahal dengan kematian kalian semua," ucap Aying.
"Ahhhhh, aku lupa memberitahumu, kelompok pembunuh bayaran darah merah juga aku yang membunuh mereka, bagaimana apa kamu terkejut," sambung Aying sambil tersenyum.
"Kenapa diam saja, di mana sorakanmu saat melihat Klan ku kalian bantai," teriak Aying.
Jongan yang tidak bisa menjawab hanya diam, dirinya memang terkejut karena yang membunuhnya adalah orang yang sama yang membantai kelompok lainnya, tapi Jongan masih ragu ragu orang di depannya saat ini adalah orang yang sudah mati.
"Sudahlah, membiarkanmu hidup lebih lama juga tidak ada gunanya, matilah renungkan penyesalanmu di Neraka," ucap Aying.
Wheeeeeeeeeeessssss.
Aying bergegas ke markas setelah menebas leher Jongan, Aying masuk ke dalam memperhatikan seisi markas dan beberapa puluhan orang yang masih tidak sadarkan diri.
Melihat semua yang dirasa penting dan berharga langsung dimasukkan Feng ke dalam cincin ruangnya, selesai menyimpan semua Aying kembali keluar menghampiri Hi.
Tanpa memutar badannya Aying melemparkan elemen apinya membakar markas pembunuh bayaran tangan iblis beserta anggotanya, di mayat yang berada di luar lambang tengkorak tidak lupa diukir Aying menggunakan darah.
"Auuuuu," ucap hi pelan.
"Sudah selesai, mari kita pergi" sahut Aying.
Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.
Auuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.
__ADS_1
Teriak hi sebelum membawa Aying pergi meninggalkan markas pembunuh bayaran di belakangnya
Kebakaran dari markas pembunuh bayaran menarik perhatian banyak orang, para warga yang berdatangan membiarkan tempat itu terus terbakar dan tidak mencoba memadamkannya. Para warga yang ada di sana berpikir kelompok pembunuh yang samgat meresahkan pantas mendapatkan balasan dari apa yang mereka lakukan selama ini.